ppmindonesia.com.Bekasi- – Dalam rangkaian Pelatihan Kader Dakwah Bil Hal yang diselenggarakan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sesi lokakarya menjadi ruang strategis untuk menggali gagasan, memperdalam pemahaman, dan memetakan langkah nyata para peserta dalam kiprah pemberdayaan masyarakat. Sesi ini dipandu oleh dua tokoh senior PPM, Mas Parito dan Depri Cane Nasution, yang telah lama dikenal sebagai penggerak komunitas dan penggagas gerakan dakwah sosial transformatif.
Menggali Esensi Dakwah dan Kekhalifahan
Sesi dibuka dengan pendekatan reflektif dari Depri Cane yang menggugah kesadaran peserta: “Untuk apa kita hidup di dunia ini? Untuk apa bekerja, belajar, dan menjaga kesehatan?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini memancing peserta untuk merenungi tujuan hidup dan peran mereka sebagai khalifah di muka bumi—bukan sekadar pemegang kekuasaan, tapi pemakmur bumi, pembawa keselamatan dan kedamaian, serta pelaku amal solih di tengah masyarakat.
PPM, dalam pandangan para narasumber, tidak sekadar melihat dakwah sebagai ceramah dan khutbah di mimbar, melainkan sebagai dakwah bil hal—yakni dakwah melalui aksi nyata: menciptakan perubahan sosial, membangun kemandirian ekonomi, dan menciptakan harmoni di tengah umat.
Partisipatif dan Dialogis: Menyuarakan Gagasan
Sesi ini berlangsung dinamis. Para peserta diajak aktif menyampaikan pemahaman dan cita-cita mereka. Satu per satu mereka berbagi impian—dari mendirikan usaha kecil, mengembangkan platform digital untuk penjualan produk, membentuk unit usaha milik sekolah (BUMS), hingga mendirikan pesantren yang memadukan pendidikan keislaman dan keterampilan praktis.
Beberapa sorotan ide peserta:
- Baktiar dan Basgari dari Kampung Wisata ingin mengembangkan usaha penjualan pakaian secara online yang selama ini sempat terbengkalai.
- Seorang peserta dari bidang pendidikan mengusulkan pendirian BUMS yang menyediakan katering murah untuk pelajar, serta boarding skill—program keterampilan berbasis asrama untuk memberdayakan siswa dari kalangan kurang mampu.
- Humaira Ifta (Tita) mengusulkan pendirian pesantren berbasis integrasi antara pendidikan Islam dan pelatihan pemberdayaan masyarakat, agar umat tidak stagnan secara sosial dan ekonomi.
Depri Cane memberi respon kritis sekaligus memotivasi: “Kita harus tahu kemampuan membaca masa lalu dan menatap masa depan. Jangan takut, niat baik saja tidak cukup, perlu keberanian dan strategi. Khalifah itu bukan penguasa, tapi pemikul amanah untuk memakmurkan bumi dan mengangkat martabat manusia.”
Dari Gagasan ke Tindakan: Tabel Komitmen Aksi
Mas Parito menutup sesi dengan mengarahkan peserta menyusun tabel musyawarah aksi nyata, berdasarkan asal daerah dan bidang yang diminati. Tujuannya agar setelah pelatihan, setiap peserta—baik yang datang secara individu maupun kelompok—memiliki rencana aksi konkrit yang bisa ditindaklanjuti.
Contoh rumusan yang diminta:
- Nama Komoditas atau Program: Cabai, Beras, Aquaculture, Pelatihan Keterampilan, dll.
- Lokasi/Daerah: Karawang, Depok, Sukatani, Babelan, dll.
- Skala: Luas lahan, jumlah peserta, target output
- Masalah yang dihadapi
- Rencana Solusi/Aksi lanjut
Mas Parito menekankan: “Gagasan harus diturunkan dalam bentuk rencana konkret. Dari sini kita ingin tahu, setelah pelatihan ini, Anda akan melakukan apa, di mana, dengan siapa, dan bagaimana caranya.”
Sinergi Dakwah dan Pemberdayaan
Sesi ini berhasil menjembatani antara pemahaman teologis dengan komitmen praksis. Dakwah tidak lagi dipersempit pada ruang masjid dan forum pengajian, tetapi diperluas ke ladang-ladang usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas desa. Demikian pula kekhalifahan dimaknai secara etis sebagai tanggung jawab kolektif dalam memakmurkan bumi dan menyejahterakan sesama. (acank)



























