Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Relevansi PPM Hari Ini: Dari Sejarah Panjang ke Adaptasi Digital

13
×

Relevansi PPM Hari Ini: Dari Sejarah Panjang ke Adaptasi Digital

Share this article

Penulis: acank| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndoenesia.com– Tidak semua organisasi mampu bertahan melintasi perubahan zaman. Sebagian lahir karena momentum, lalu hilang ketika konteks berubah. Namun ada pula gerakan yang tetap hidup karena memiliki nilai dasar yang melampaui zamannya. Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) termasuk dalam kategori kedua.

PPM lahir pada awal 1980-an, di tengah situasi politik yang membatasi ruang gerak mahasiswa melalui kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Ketika ruang politik formal dipersempit, sebagian aktivis memilih jalur alternatif: turun ke masyarakat dan membangun perubahan melalui kerja-kerja sosial ekonomi.

Pilihan itu melahirkan model gerakan yang berbeda. PPM tidak bertumpu pada retorika politik, melainkan pada pemberdayaan masyarakat. Pedagang kecil, petani, koperasi, dan komunitas marjinal menjadi pusat perhatian. Gerakan ini berkembang di banyak daerah dengan pendekatan partisipatif, menjadikan masyarakat bukan objek bantuan, tetapi subjek pembangunan.

Selama bertahun-tahun, PPM membangun jejak yang tidak selalu terlihat di ruang publik nasional, tetapi nyata dirasakan di lapangan. Pendampingan usaha kecil, penguatan sektor informal, pembinaan koperasi, dan berbagai inisiatif ekonomi rakyat menjadi bagian dari kiprahnya.

Kini, lebih dari empat dekade kemudian, pertanyaan mengenai relevansi PPM kembali mengemuka. Apakah gerakan yang lahir di era analog masih memiliki tempat di zaman digital?

Jawabannya bergantung pada bagaimana relevansi dimaknai. Jika hanya dilihat dari bentuk organisasinya, tentu tantangan besar menanti. Dunia telah berubah. Cara masyarakat berkomunikasi, bekerja, belajar, dan berjejaring tidak lagi sama. Teknologi digital mengubah pola relasi sosial dan ekonomi dengan kecepatan tinggi.

Namun jika dilihat dari nilai dasarnya, PPM justru tetap relevan.

Indonesia hari ini masih menghadapi persoalan yang serupa dengan masa lalu, meski dalam bentuk berbeda: ketimpangan ekonomi, lemahnya posisi usaha kecil, akses pendidikan yang belum merata, pengangguran generasi muda, hingga kesenjangan digital. Semua persoalan itu membutuhkan pendekatan pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sesaat.

Di sinilah semangat PPM menemukan konteks baru. Prinsip peranserta masyarakat, kemandirian ekonomi, dan pembangunan dari bawah tetap menjadi kebutuhan. Yang harus berubah adalah cara mewujudkannya.

Pelaku UMKM misalnya, kini tidak hanya membutuhkan modal dan pelatihan produksi, tetapi juga kemampuan masuk ke pasar digital. Petani tidak cukup dibantu dari sisi budidaya, tetapi juga akses informasi harga, distribusi, dan teknologi pertanian. Anak muda membutuhkan ruang kolaborasi yang terbuka, cepat, dan berbasis kreativitas.

Artinya, pemberdayaan masyarakat di era ini harus bergerak ke ruang digital.

PPM memiliki peluang untuk memainkan peran itu. Pengalaman panjang mendampingi masyarakat merupakan modal sosial yang berharga. Jika dikombinasikan dengan teknologi, PPM dapat menjadi penghubung antara komunitas akar rumput dan peluang ekonomi baru.

Pelatihan pemasaran digital, literasi keuangan berbasis aplikasi, penguatan koperasi modern, inkubasi wirausaha muda, hingga pengembangan platform komunitas adalah contoh adaptasi yang mungkin dilakukan. Dengan begitu, PPM tidak sekadar mempertahankan sejarahnya, tetapi memperbarui maknanya.

Tantangan lain datang dari perubahan generasi. Generasi Z tumbuh dalam budaya digital yang lebih cair dan terbuka. Mereka cenderung kritis terhadap struktur yang terlalu birokratis dan lebih tertarik pada gerakan yang nyata dampaknya. Organisasi yang ingin relevan bagi mereka harus memberi ruang partisipasi yang luas, fleksibel, dan kolaboratif.

PPM perlu membaca perubahan ini. Regenerasi tidak cukup dilakukan secara administratif, tetapi juga kultural. Bahasa komunikasi, pola kepemimpinan, hingga model kegiatan perlu menyesuaikan karakter zaman.

Meski demikian, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kedekatan dengan rakyat. Teknologi hanyalah alat. Tanpa keberpihakan pada masyarakat kecil dan pemahaman terhadap persoalan lapangan, gerakan akan kehilangan substansi.

Sejarah panjang PPM menunjukkan bahwa organisasi ini lahir dari kemampuan membaca tantangan zaman. Ketika ruang kampus dibatasi, PPM hadir di tengah masyarakat. Kini, ketika ruang digital menjadi arena baru, kemampuan membaca perubahan kembali diuji.

Relevansi PPM hari ini bukan semata soal bertahan sebagai organisasi lama. Relevansi itu terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman masa lalu menjadi jawaban bagi kebutuhan masa kini.

Jika berhasil melakukan adaptasi digital tanpa kehilangan akar sosialnya, PPM bukan hanya tetap relevan, tetapi berpotensi kembali menjadi kekuatan penting dalam membangun ekonomi rakyat Indonesia. (acank)

Example 120x600