Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Anwar Hariyono: Kader yang Menghidupkan Perjuangan

5
×

Anwar Hariyono: Kader yang Menghidupkan Perjuangan

Share this article

Penulis: mhasan| Editor: asyary

Memorial oleh M. Hasan Asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Pada tanggal 27 April 2026, dunia gerakan pemberdayaan masyarakat kehilangan salah satu kader terbaiknya. Anwar Hariyono, Sekretaris Jenderal Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional, dipanggil Allah SWT pada usia 61 tahun.

Kepergian beliau bukan sekadar kabar duka organisasi, tetapi kehilangan seorang pekerja sunyi yang sepanjang hidupnya menjadikan pengabdian sebagai jalan utama perjuangan.

Kader Lapangan Sejak Awal

Jejak pengabdian Anwar Hariyono dapat ditelusuri sejak era 1990-an. Pada masa itu, beliau dipercaya menjadi Manajer Koperasi Pedagang Grosir Keliling, sebuah lembaga yang membina pedagang kecil dan menjalin kemitraan dengan BUMN.

Di tengah perubahan ekonomi nasional, beliau hadir bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai pendamping rakyat kecil. Ia memahami bahwa ekonomi kerakyatan tidak cukup dibicarakan dalam seminar; ia harus diwujudkan melalui kerja nyata bersama masyarakat.

Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya: sederhana, pekerja lapangan, dan berorientasi pada pemberdayaan

Kesetiaan Panjang di PPM Nasional

Di lingkungan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Anwar Hariyono dikenal sebagai kader senior yang telah melewati berbagai fase organisasi. Pada awal tahun 2000-an, ia pernah menjabat sebagai Bendahara PPM Nasional, sebuah posisi yang menuntut kepercayaan dan integritas tinggi.

Namun jabatan bagi beliau bukanlah tujuan. Yang lebih penting adalah keberlangsungan gerakan.

Waktu, tenaga, moril, bahkan materi pribadi ia dedikasikan untuk menjaga PPM tetap hidup sebagai gerakan sosial masyarakat. Ia hadir ketika organisasi membutuhkan tenaga, bukan ketika organisasi berada dalam kenyamanan.

Sekretaris Jenderal yang Berkorban

Ketika dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal PPM Nasional, pengabdian Anwar Hariyono semakin nyata.

Beliau dikenal tidak segan mengeluarkan biaya pribadi demi kemajuan organisasi. Baginya, amanah organisasi adalah tanggung jawab moral yang tidak boleh ditunda oleh keterbatasan fasilitas.

Salah satu kisah penting adalah perjalanan konsolidasi organisasi ke Kalimantan Barat. Seluruh kebutuhan perjalanan dan akomodasi ditanggung secara mandiri.

Dalam perjalanan itu, ia bersama almarhum Iman Nurhidayat mendampingi pelatihan petani kelapa mengenai pengolahan Manado Coconut Oil. Di sela kegiatan tersebut, Anwar Hariyono membentuk struktur PPM wilayah dan daerah di Kalimantan Barat — sebuah langkah strategis memperluas gerakan pemberdayaan masyarakat.

Kerja itu dilakukan tanpa sorotan publik, tanpa seremoni besar, namun berdampak nyata bagi perkembangan organisasi.

Membuka Jalan PPM ke Tingkat Internasional

Komitmennya tidak berhenti di dalam negeri. Setelah konsolidasi di Kalimantan Barat, beliau melanjutkan perjalanan ke Malaysia untuk menyambung silaturahmi dengan Zulkafli Daud, tokoh yang berperan penting dalam Semiloka Melayu Antar Bangsa tahun 1996 di Jakarta.

Pertemuan tersebut melahirkan gagasan pembentukan embrio organisasi di luar negeri dengan nama PPM Madani Malaysia, sebagai upaya memperluas jejaring gerakan masyarakat berbasis nilai-nilai peradaban Melayu.

Langkah ini menunjukkan visi beliau bahwa pemberdayaan masyarakat memiliki dimensi lintas bangsa dan lintas budaya.

Organisasi sebagai Jalan Hidup

Dalam kehidupan profesionalnya, Anwar Hariyono juga menjalankan beberapa perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas. Namun menariknya, prinsip manajemen yang ia gunakan tetap berakar pada metodologi pemberdayaan yang dipelajari di PPM: partisipasi, kemitraan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Baginya, organisasi dan usaha bukan dua dunia berbeda. Keduanya adalah instrumen untuk menghadirkan manfaat sosial.

Setia Hingga Saat Terakhir

Salah satu kenangan paling mengharukan terjadi ketika beliau masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi sakit dan terbaring, Anwar Hariyono masih berdiskusi mengenai program dan perkembangan PPM Nasional.

Ia tidak berbicara tentang penderitaannya sendiri.
Yang ia pikirkan justru masa depan organisasi.

Kesetiaan seperti inilah yang jarang ditemukan: seorang kader yang tetap memikirkan perjuangan bahkan ketika fisiknya melemah.

Warisan Seorang Pejuang Sunyi

Anwar Hariyono mungkin bukan sosok yang sering tampil di panggung besar. Ia tidak mencari popularitas. Ia memilih bekerja di balik layar, memastikan roda organisasi terus bergerak.

Namun justru dari tangan orang-orang seperti inilah sebuah gerakan bertahan.

Warisan terbesar yang ia tinggalkan bukan jabatan, melainkan teladan:
bahwa perjuangan sosial membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan keberanian berkorban tanpa pamrih.

Melanjutkan Jejak Pengabdian

Kepergian beliau menjadi pengingat bagi seluruh kader PPM dan para aktivis pemberdayaan masyarakat bahwa organisasi hidup karena pengabdian kader-kadernya.

Anwar Hariyono telah menunaikan amanahnya dengan penuh kesetiaan.

Kini tugas itu berpindah kepada generasi yang ditinggalkan: menjaga api perjuangan tetap menyala, melanjutkan kerja pemberdayaan masyarakat, serta merawat nilai-nilai kebersamaan yang selama ini beliau perjuangkan.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian beliau, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di antara hamba-hamba terbaik-Nya.

Selamat jalan, Mas Anwar Hariyono.
Namamu akan tetap hidup dalam jejak perjuangan masyarakat yang engkau bangun.

Example 120x600