Scroll untuk baca artikel
Opini

Presidium atau Ketua Umum: Mana yang Lebih Sesuai bagi PPM?

4
×

Presidium atau Ketua Umum: Mana yang Lebih Sesuai bagi PPM?

Share this article

Redaksippmindoneia. Editor; asyary

OPINI PPMINDONESIA

Jangan Mengubah Sistem Hanya Karena Figur

Oleh: Redaksi PPMIndonesia


“Sistem organisasi dibangun untuk menjaga keberlanjutan gerakan, bukan untuk menyesuaikan kepentingan seseorang.”


PENAS X Bukan Sekadar Memilih Pemimpin

Kurang lebih lima bulan menjelang Pertemuan Nasional (PENAS) X Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) yang direncanakan akan diselenggarakan pada Oktober 2026 di Yogyakarta, berbagai diskusi mulai berkembang di kalangan aktivis PPM. Salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan adalah model kepemimpinan organisasi.

Haruskah PPM tetap mempertahankan kepemimpinan Presidium yang bersifat kolektif-kolegial? Ataukah sudah saatnya kembali kepada model Ketua Umum sebagai pemimpin tunggal?

Pertanyaan tersebut wajar muncul menjelang forum tertinggi organisasi. Bahkan, perbedaan pandangan merupakan tanda bahwa organisasi masih memiliki ruang demokrasi dan kebebasan berpikir.

Namun, ada satu hal yang perlu dijaga bersama. Perdebatan mengenai model kepemimpinan jangan sampai bergeser menjadi perdebatan tentang siapa yang ingin dimenangkan atau siapa yang ingin dikalahkan.

Karena sejatinya, PENAS bukan hanya memilih pemimpin, tetapi menentukan arah kelembagaan PPM untuk masa depan.

PPM Harus Belajar dari Sejarahnya Sendiri

Salah satu kelemahan banyak organisasi adalah sering mengambil keputusan berdasarkan pengalaman sesaat.

Ketika suatu kepemimpinan dianggap kurang berhasil, sistemnya yang disalahkan.

Padahal belum tentu demikian.

Dalam perjalanan sejarahnya, PPM pernah mengenal kepemimpinan Ketua Umum. Model ini telah diterapkan dalam beberapa periode awal organisasi. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa sistem tersebut tidak otomatis membuat organisasi berjalan lebih efektif.

Sebaliknya, PPM kemudian mengembangkan sistem Presidium yang bersifat kolektif-kolegial. Hingga hari ini, sistem tersebut telah berjalan kurang lebih selama enam periode kepemimpinan.

Tentu dalam pelaksanaannya tidak selalu sempurna.

Ada Presidium yang mampu bekerja secara solid dan menghasilkan banyak kemajuan organisasi.

Ada pula periode ketika komunikasi antarpersonel kurang harmonis sehingga gerak organisasi menjadi kurang optimal.

Tetapi pertanyaan yang harus dijawab adalah:

Apakah yang gagal adalah sistemnya, atau orang-orang yang menjalankan sistem tersebut?

Menyamakan kegagalan individu dengan kegagalan sistem merupakan penyederhanaan yang dapat menyesatkan.

Mengapa Presidium Dipilih?

Sistem Presidium tidak lahir secara kebetulan.

Ia merupakan hasil dari proses panjang perjalanan organisasi.

PPM sejak awal bukan dibangun sebagai organisasi yang berorientasi pada figur.

PPM lahir dari pertemuan berbagai LSM, lembaga pemberdayaan masyarakat, kelompok pendamping desa, aktivis sosial, dan organisasi pengembangan masyarakat yang memiliki kesamaan visi membangun masyarakat melalui partisipasi.

Karena itu, nilai utama yang dikembangkan bukanlah sentralisasi kekuasaan, tetapi musyawarah, pembagian tanggung jawab, dan kepemimpinan bersama.

Dengan kata lain, Presidium bukan sekadar struktur organisasi.

Presidium merupakan implementasi dari filosofi Peranserta Masyarakat itu sendiri.

Jika masyarakat diajak menjadi pelaku pembangunan, maka organisasi pun harus dibangun melalui semangat partisipasi.

Apakah Ketua Umum Lebih Efektif?

Pendukung model Ketua Umum biasanya berpendapat bahwa kepemimpinan tunggal lebih sederhana, garis komando lebih jelas, dan proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat.

Pendapat ini tentu memiliki dasar.

Namun organisasi juga harus berani melihat sisi lainnya.

Bagaimana apabila Ketua Umum tidak aktif menjalankan organisasi?

Bagaimana apabila Ketua Umum berhalangan tetap?

Bagaimana apabila seluruh keputusan bergantung pada satu orang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah bentuk pesimisme.

Justru sebaliknya, itulah bentuk kehati-hatian dalam membangun organisasi yang berumur panjang.

Dalam organisasi modern, sistem dibangun agar organisasi tidak bergantung pada siapa yang sedang memimpin.

Kelebihan Sistem Presidium

Model Presidium memiliki sejumlah kelebihan yang sering kali kurang disadari.

Pertama, keberlanjutan organisasi lebih terjamin. Apabila satu anggota Presidium berhalangan, anggota lainnya tetap dapat menjalankan fungsi organisasi.

Kedua, keputusan lahir melalui musyawarah, sehingga risiko dominasi individu menjadi lebih kecil.

Ketiga, kepemimpinan menjadi ruang kaderisasi. Setiap anggota Presidium belajar memimpin, berkomunikasi, dan membangun konsensus.

Keempat, beban organisasi terbagi, sehingga tidak bertumpu pada satu figur.

Tentu saja, semua kelebihan tersebut hanya akan berjalan apabila setiap anggota Presidium memiliki komitmen, integritas, dan budaya kerja yang baik.

Yang Perlu Dibenahi Bukan Hanya Sistem

Apabila kita jujur mengevaluasi perjalanan PPM, persoalan utama organisasi sesungguhnya bukan terletak pada bentuk kepemimpinannya.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana membangun budaya organisasi yang sehat.

Masih diperlukan penguatan dalam: komunikasi antarkader, disiplin organisasi, kaderisasi yang berkelanjutan, pembagian tugas yang jelas, kepemimpinan yang melayani, dan penghormatan terhadap konstitusi organisasi.

Tanpa pembenahan tersebut, model apa pun akan menghadapi persoalan yang sama.

Mengganti sistem tanpa memperbaiki budaya organisasi hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Jangan Mengubah Konstitusi Karena Kepentingan Sesaat

Menjelang setiap forum nasional, selalu muncul berbagai nama yang dianggap layak memimpin organisasi.

Itu merupakan dinamika yang sehat.

Namun akan menjadi preseden yang kurang baik apabila pembahasan mengenai model kepemimpinan dipengaruhi oleh kepentingan mendukung atau menolak figur tertentu.

Konstitusi organisasi tidak boleh disusun berdasarkan siapa yang sedang populer.

Konstitusi harus dibangun berdasarkan kebutuhan organisasi dalam jangka panjang.

Hari ini seseorang mungkin menjadi kandidat yang kuat.

Lima tahun mendatang situasinya bisa berbeda.

Tetapi sistem organisasi akan tetap menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Karena itu, keputusan mengenai model kepemimpinan harus bebas dari kepentingan personal maupun kelompok.

Berpikir Lima Puluh Tahun ke Depan

PENAS X Tahun 2026 bukan hanya menentukan kepengurusan lima tahun ke depan.

Forum ini sesungguhnya sedang menentukan bagaimana PPM akan berkembang dalam beberapa dekade mendatang.

Apakah PPM akan menjadi organisasi yang bertumpu pada satu figur?

Ataukah tetap menjadi gerakan kolektif yang membangun kepemimpinan melalui partisipasi dan musyawarah?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan karakter organisasi di masa depan.

Karena itu, seluruh aktivis PPM hendaknya berpikir lebih jauh daripada sekadar kepentingan periode kepengurusan.

Yang Dibutuhkan PPM adalah Sistem yang Melahirkan Pemimpin

Pada akhirnya, perdebatan mengenai Presidium atau Ketua Umum bukanlah soal menang atau kalah.

Yang lebih penting adalah bagaimana memilih sistem yang paling sesuai dengan sejarah, filosofi, dan cita-cita PPM sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat.

PPM lahir bukan untuk membangun kultus individu.

PPM lahir untuk membangun peranserta masyarakat, memperkuat kaderisasi, dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tumbuh dari proses kolektif.

Oleh karena itu, menjelang PENAS X Tahun 2026, seluruh keluarga besar PPM perlu mengedepankan kejernihan berpikir, kedewasaan berorganisasi, dan kesetiaan kepada konstitusi.

Jangan mengubah sistem hanya karena figur. Jangan mempertahankan sistem hanya karena kebiasaan. Pilihlah sistem yang paling mampu menjaga keberlangsungan gerakan, memperkuat kaderisasi, dan membawa PPM tetap relevan dalam menjawab tantangan masyarakat Indonesia di masa depan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya akan mencatat siapa yang terpilih memimpin PPM, tetapi juga apakah generasi hari ini mampu mewariskan sistem organisasi yang lebih kuat daripada yang mereka terima.(redaksi ppmindonesia)

Example 120x600