Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an dan Akal Sehat: Harmoni yang Terlupakan

3
×

Al-Qur’an dan Akal Sehat: Harmoni yang Terlupakan

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada sebuah anggapan yang tanpa sadar berkembang dalam sebagian kehidupan keberagamaan: semakin seseorang menggunakan akalnya dalam memahami agama, semakin besar pula kemungkinan ia tersesat.

Pertanyaan kritis dianggap sebagai ancaman iman. Keraguan terhadap sebuah penafsiran dianggap sebagai keraguan terhadap agama. Sementara menerima sesuatu tanpa bertanya sering kali dianggap sebagai tanda kesalehan.

Benarkah demikian?

Jika kita kembali kepada Al-Qur’an dan membiarkan ayat-ayatnya berbicara satu sama lain, gambaran yang muncul justru berbeda. Al-Qur’an tidak memusuhi akal. Al-Qur’an justru berulang kali membangunkan akal manusia.

Yang diperintahkan untuk ditinggalkan bukan akal, melainkan kesombongan, hawa nafsu, taklid buta, dan mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Di sinilah harmoni antara Al-Qur’an dan akal sehat perlu ditemukan kembali.

Akal Bukan Ancaman bagi Keimanan

Al-Qur’an berkali-kali menggunakan pertanyaan yang menggugah manusia untuk berpikir.

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka apakah kamu tidak menggunakan akal?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang meminta manusia berhenti berpikir. Justru sebaliknya, ia merupakan teguran kepada manusia yang memiliki kemampuan berpikir tetapi tidak menggunakannya.

Allah bahkan menjelaskan bahwa ayat-ayat-Nya diterangkan agar manusia menggunakan akalnya:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu menggunakan akal.”
(QS. Al-Baqarah: 242)

Jika penggunaan akal merupakan ancaman bagi iman, tentu Allah tidak akan menjadikan aktivitas berpikir sebagai tujuan dari penjelasan ayat-ayat-Nya.

Al-Qur’an Menghormati Orang yang Berpikir

Al-Qur’an mempunyai istilah khusus bagi manusia yang mampu menggunakan daya pikirnya secara mendalam: Ulul Albab.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)

Siapakah mereka?

Ayat berikutnya memberikan jawabannya:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”
(QS. Ali ‘Imran: 191)

Perhatikan rangkaiannya.

Mengingat Allah dan berpikir tidak dipertentangkan.

Dzikir dan tafakur justru berjalan bersama.

Dengan demikian, menurut Al-Qur’an, manusia yang berpikir secara mendalam tentang alam bukanlah manusia yang sedang menjauh dari Tuhan. Ia justru sedang membaca tanda-tanda kebesaran-Nya.

Alam Semesta adalah “Ayat” yang Mengajak Manusia Berpikir

Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia membaca teks. Manusia juga diperintahkan membaca alam.

Allah berfirman:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”
(QS. Yunus: 101)

Kata انْظُرُوا (unzuru) mengandung perintah untuk memperhatikan, mengamati, dan mencermati.

Artinya, agama tidak mengharuskan manusia menutup mata terhadap realitas.

Langit harus diamati.

Bumi harus dipelajari.

Kehidupan harus direnungkan.

Sejarah harus diambil pelajarannya.

Dan seluruh proses tersebut membutuhkan akal.

Al-Qur’an Menggunakan Argumentasi Rasional

Menariknya, ketika mengajak manusia beriman, Al-Qur’an tidak hanya memberikan perintah. Ia juga menghadirkan argumentasi.

Perhatikan pertanyaan Allah:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”
(QS. At-Tur: 35)

Kemudian:

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ

“Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini.”
(QS. At-Tur: 36)

Ini merupakan bentuk argumentasi yang sangat mendasar.

Manusia diajak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan secara rasional:

Jika bukan diciptakan, apakah manusia menciptakan dirinya sendiri?

Jika bukan dirinya sendiri, siapa penciptanya?

Al-Qur’an mengajak manusia sampai kepada kesimpulan melalui proses berpikir.

Yang Dikritik Al-Qur’an adalah Taklid Tanpa Ilmu

Jika akal begitu dihargai, lalu apa yang sebenarnya dikritik Al-Qur’an?

Salah satunya adalah mengikuti tradisi tanpa mempertimbangkan kebenarannya.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Kemudian Allah bertanya:

أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini memberikan pelajaran penting:

Kebenaran tidak otomatis menjadi benar hanya karena diwariskan.

Tradisi harus diuji.

Pendapat harus diperiksa.

Klaim keagamaan harus ditimbang.

Dan manusia tidak boleh menyerahkan seluruh kemampuan berpikirnya kepada manusia lain.

Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Pengetahuan

Al-Qur’an bahkan memberikan prinsip epistemologis yang sangat tegas:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan keberagamaan.

Berapa banyak informasi agama yang kita terima hanya karena seseorang mengatakan, “Ini ajaran Islam”?

Berapa banyak klaim yang diterima karena disampaikan oleh tokoh yang dihormati?

Berapa banyak keyakinan yang dipertahankan karena sudah berlangsung turun-temurun?

Al-Qur’an mengingatkan:

Jangan mengikuti sesuatu yang tidak kita memiliki pengetahuan tentangnya.

Al-Qur’an Mengajarkan Verifikasi

Dalam menerima informasi, Al-Qur’an juga memerintahkan manusia melakukan pemeriksaan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Prinsip tabayyun bukan hanya berlaku untuk berita sosial.

Semangatnya juga mengajarkan budaya intelektual: jangan menerima informasi sebelum memeriksa kebenarannya.

Dalam konteks keagamaan, prinsip ini menjadi semakin penting.

Sebab sebuah informasi yang salah tentang agama dapat memengaruhi keyakinan, ibadah, bahkan kehidupan sosial seseorang.

Al-Qur’an Bahkan Mengajak Kita Mendengar Berbagai Pendapat

Salah satu ayat yang sangat menarik adalah:

فَبَشِّرْ عِبَادِ ۝ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah Ulul Albab.”
(QS. Az-Zumar: 17–18)

Ayat ini sangat penting.

Orang yang disebut Ulul Albab bukan orang yang takut mendengar.

Mereka mendengar.

Mereka mempertimbangkan.

Mereka memilih yang terbaik.

Kemudian Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk.

Dengan demikian, keterbukaan intelektual bukan lawan dari hidayah.

Dalam perspektif Al-Qur’an, keterbukaan terhadap kebenaran justru merupakan salah satu ciri orang yang mendapat petunjuk.

Namun Akal Bukan Tuhan

Menghormati akal bukan berarti menjadikan akal sebagai Tuhan.

Ini adalah batas yang juga harus dijaga.

Akal manusia memiliki kemampuan, tetapi juga mempunyai keterbatasan.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra’: 85)

Karena itu, Al-Qur’an tidak mengajarkan dua ekstrem.

Ekstrem pertama adalah mematikan akal dan menerima semua hal tanpa berpikir.

Ekstrem kedua adalah menuhankan akal dan menganggap segala sesuatu harus tunduk kepada keterbatasan manusia.

Islam menawarkan jalan yang lebih seimbang:

Gunakan akal untuk mencari, memahami, dan menimbang kebenaran; tetapi sadari bahwa pengetahuan manusia tetap terbatas.

Wahyu Membimbing Akal

Di sinilah hubungan akal dan wahyu menjadi sangat penting.

Akal dapat membaca realitas.

Wahyu memberikan petunjuk tentang makna dan arah kehidupan.

Akal dapat menemukan berbagai kemungkinan.

Wahyu memberikan prinsip moral dan petunjuk yang menjadi pedoman.

Karena itu, keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Al-Qur’an bukan buku yang datang untuk menggantikan fungsi berpikir manusia. Ia datang sebagai petunjuk agar manusia menggunakan seluruh potensi dirinya menuju jalan yang benar.

Ketika Akal Menemukan Kebenaran

Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mempertahankan keyakinan hanya karena kepentingan pribadi.

Kebenaran harus dicari sekalipun menuntut perubahan sikap.

Allah berfirman:

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
(QS. Al-Hasyr: 2)

Berpikir dalam Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas otak.

Ia harus melahirkan i’tibar—kemampuan mengambil pelajaran dan mengubah sikap berdasarkan kebenaran yang ditemukan.

Akal yang sehat bukanlah akal yang selalu memenangkan pendapatnya sendiri.

Akal yang sehat adalah akal yang bersedia mengoreksi dirinya ketika menemukan kebenaran.

Harmoni yang Terlupakan

Mungkin persoalan terbesar umat bukanlah terlalu banyak menggunakan akal, melainkan sering kali tidak menggunakan akal pada tempat yang semestinya.

Kita dapat menjadi sangat kritis terhadap ilmu pengetahuan, tetapi menerima klaim keagamaan tanpa memeriksa sumbernya.

Kita dapat meminta bukti dalam urusan dunia, tetapi menerima berbagai informasi agama hanya karena dikatakan oleh seseorang yang memiliki gelar atau popularitas.

Kita dapat menuntut evidence dalam ilmu, tetapi lupa bahwa Al-Qur’an sendiri mengajarkan:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: Kemukakanlah bukti kalian jika kalian orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah: 111)

Inilah harmoni yang mungkin terlupakan:

akal mencari dan menimbang; wahyu membimbing dan menerangi.

Penutup: Kembali Menjadi Ulul Albab

Kajian Al-Qur’an Bil Al-Qur’an memperlihatkan sebuah pola yang konsisten.

Al-Qur’an memerintahkan manusia berpikir.

Al-Qur’an memerintahkan manusia memperhatikan alam.

Al-Qur’an memerintahkan manusia mentadabburi wahyu.

Al-Qur’an melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Al-Qur’an mengajarkan tabayyun.

Al-Qur’an mengkritik taklid buta.

Dan Al-Qur’an memberikan penghargaan kepada Ulul Albab, yaitu manusia yang menggunakan akal dan mengambil pelajaran.

Karena itu, akal sehat bukan ancaman bagi agama.

Yang menjadi ancaman adalah akal yang dikuasai hawa nafsu dan agama yang dijalankan tanpa pemahaman.

Seorang Muslim tidak perlu memilih antara akal dan wahyu.

Ia dapat menggunakan akalnya untuk memahami wahyu dan menggunakan wahyu untuk membimbing akalnya.

Sebab Al-Qur’an tidak datang untuk membuat manusia menjadi makhluk yang berhenti berpikir.

Al-Qur’an datang agar manusia berpikir dengan benar, mencari dengan jujur, dan tunduk kepada kebenaran ketika kebenaran itu telah ditemukan.

Mungkin inilah harmoni yang perlu kita temukan kembali: bukan akal melawan wahyu, melainkan akal yang tercerahkan oleh wahyu.(syahida)

Example 120x600