Scroll untuk baca artikel
BeritaEditorial

TRIAL AND ERROR: CARA MASYARAKAT MENEMUKAN MASA DEPANNYA

4
×

TRIAL AND ERROR: CARA MASYARAKAT MENEMUKAN MASA DEPANNYA

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

Editorial PPMIndonesia.com

Tidak semua perubahan harus dimulai dengan kepastian. Kadang masa depan justru ditemukan melalui keberanian untuk mencoba, mengalami kegagalan, belajar, memperbaiki, dan mencoba kembali.

JAKARTA, PPMIndonesia.com – Ada sebuah kebiasaan dalam pembangunan yang sering kita jumpai: sebelum sesuatu dilakukan, semuanya harus terlebih dahulu dirancang dengan sempurna.

  • Ada proposal.
  • Ada studi kelayakan.
  • Ada indikator.
  • Ada target.
  • Ada anggaran.
  • Ada jadwal.

Semua harus terlihat pasti.

Padahal kehidupan masyarakat tidak pernah sesederhana sebuah tabel perencanaan.

Masyarakat hidup dalam situasi yang terus berubah. Kebutuhan berubah, lingkungan berubah, teknologi berubah, ekonomi berubah, bahkan cara generasi muda memandang kehidupan juga berubah.

Dalam kondisi seperti itu, apakah kita masih dapat menemukan masa depan hanya dengan membuat perencanaan dari atas?

Ataukah masyarakat justru perlu diberi ruang untuk mencoba?

Di sinilah konsep trial and error menjadi penting.

Bukan trial and error dalam pengertian bekerja tanpa arah.

Melainkan sebuah proses belajar masyarakat melalui pengalaman nyata: mencoba, mengalami, mengevaluasi, memperbaiki, dan mencoba kembali.

Bagi PPM, proses semacam ini bukan sesuatu yang asing. Sejak awal, Pusat Peranserta Masyarakat menempatkan prakarsa, peranserta, dan swadaya masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan masyarakat.

MASYARAKAT BUKAN MESIN PELAKSANA PROGRAM

Salah satu persoalan pembangunan adalah kecenderungan melihat masyarakat sebagai pelaksana dari sesuatu yang sudah dirancang sebelumnya.

Program dibuat oleh para ahli.

  • Masyarakat menerima.
  • Pelatihan diberikan.
  • Masyarakat mengikuti.
  • Teknologi diperkenalkan.
  • Masyarakat menggunakan.

Ketika program selesai, pertanyaannya kemudian: apakah masyarakat mampu melanjutkannya?

Di sinilah persoalannya.

Sebuah program mungkin berhasil secara administratif, tetapi belum tentu berhasil sebagai gerakan masyarakat.

Sebab keberhasilan program tidak selalu sama dengan keberhasilan masyarakat.

Masyarakat baru benar-benar belajar apabila mereka terlibat dalam seluruh proses perubahan.

Mereka harus memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi persoalan.

Mencari pilihan.

Mencoba solusi.

Menghadapi kegagalan.

Menemukan perbaikan.

Dan akhirnya menentukan sendiri apa yang paling sesuai dengan kehidupannya.

Karena itu, masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima hasil pembangunan.

Mereka harus menjadi penemu jalan pembangunan itu sendiri.

KEGAGALAN BUKAN AKHIR

Dalam banyak sistem pembangunan, kegagalan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Program gagal berarti kesalahan.

Proyek tidak mencapai target berarti kegagalan.

Eksperimen tidak berhasil berarti pemborosan.

Padahal dalam proses pembelajaran, kegagalan justru dapat menjadi sumber pengetahuan.

Seorang petani yang mencoba metode baru lalu gagal sesungguhnya telah memperoleh pengetahuan: metode tersebut tidak cocok dalam kondisi tertentu.

Sebuah kelompok usaha yang mencoba produk baru dan tidak berhasil juga belajar tentang pasar.

Komunitas yang mencoba sistem pengelolaan sampah dan menemui hambatan belajar tentang perilaku warga.

Pemuda yang mencoba membangun usaha digital lalu gagal memperoleh pengalaman tentang teknologi, pasar, dan cara mengorganisasi kerja.

Semua itu adalah pengetahuan yang lahir dari pengalaman.

Karena itu, dalam gerakan masyarakat, kegagalan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai akhir.

Ia dapat menjadi bahan bakar untuk percobaan berikutnya.

TRIAL AND ERROR BUKAN BEKERJA SEMBARANGAN

Namun, ada satu hal yang perlu ditegaskan.

Trial and error bukan berarti masyarakat bekerja tanpa arah.

Bukan pula alasan untuk mengabaikan pengetahuan, data, teknologi, atau perencanaan.

Sebaliknya, trial and error adalah proses belajar yang memiliki tujuan.

Ada masalah yang ingin diselesaikan.

Ada hipotesis yang ingin diuji.

Ada tindakan yang dilakukan.

Ada hasil yang diamati.

Ada evaluasi.

Kemudian ada keputusan: dilanjutkan, diperbaiki, atau ditinggalkan.

Dengan demikian, trial and error sesungguhnya merupakan metode pembelajaran sosial.

Yang membedakan adalah siapa yang melakukan pembelajaran tersebut.

Dalam pendekatan partisipatif, masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian.

Masyarakat ikut menjadi pelaku sekaligus pembelajar.

DARI KELOMPOK KECIL, LAHIR PERUBAHAN BESAR

Perubahan sosial sering kali bermula dari tempat yang sangat kecil.

Satu kelompok.

Satu desa.

Satu komunitas.

Satu koperasi.

Satu sanggar.

Satu kelompok tani.

Satu kelompok pemuda.

Pada awalnya mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan.

Tetapi ketika sebuah praktik terbukti berhasil, ia dapat menjadi contoh.

Masyarakat lain melihat.

Masyarakat lain belajar.

Kemudian mencoba dengan versinya sendiri.

Dari sinilah perubahan mulai menyebar.

PPM menyebut pentingnya pengembangan masyarakat melalui komunitas terkecil, termasuk pendekatan qaryah thayyibah dan jaringan kerja sama antarkomunitas.

Gagasannya sederhana: perubahan tidak harus dimulai dengan mengubah seluruh masyarakat sekaligus.

Mulailah dari komunitas yang mampu belajar dan bergerak.

Biarkan keberhasilan menjadi pengalaman.

Biarkan pengalaman menjadi pengetahuan.

Biarkan pengetahuan menyebar.

SANGKERTA: CONTOH DARI RUANG KEBUDAYAAN

Dalam sejarah PPM sendiri, semangat ini dapat dilihat dari berbagai pengalaman gerakan.

Sangkerta, misalnya, tumbuh sebagai ruang kebudayaan yang lahir dari semangat peranserta. Berawal dari ruang publik dan aktivitas seni sederhana, Sangkerta kemudian berkembang menjadi ruang berkesenian, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat.

Tidak semuanya dimulai dengan fasilitas besar.

Tidak semuanya dimulai dengan institusi formal.

Justru karena tersedia ruang untuk mencoba, berkarya, berkolaborasi, dan belajar, sebuah komunitas dapat tumbuh.

Di sinilah kebudayaan menunjukkan wataknya.

Kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung kebudayaan.

Ia dapat lahir dari jalanan.

Dari komunitas.

Dari ruang publik.

Dari keberanian sekelompok orang untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

Pengalaman Sangkerta memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang pembelajaran sosial sekaligus bagian dari pemberdayaan masyarakat.

MASYARAKAT MEMILIKI PENGETAHUANNYA SENDIRI

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembangunan: masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan.

Petani mengetahui tanahnya.

Nelayan memahami lautnya.

Masyarakat desa memahami lingkungannya.

Pedagang kecil memahami konsumennya.

Seniman memahami ruang ekspresinya.

Anak muda memahami dunianya.

Pengetahuan tersebut mungkin tidak selalu tertulis dalam buku akademik.

Namun ia terbentuk melalui pengalaman.

Karena itu, pembangunan yang baik tidak datang untuk menggantikan seluruh pengetahuan masyarakat.

Pembangunan seharusnya berdialog dengan pengetahuan masyarakat.

Pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal dapat bertemu.

Teknologi modern dapat dipadukan dengan pengalaman tradisional.

Data dapat bertemu dengan intuisi masyarakat.

Di sinilah trial and error menjadi jembatan.

Masyarakat mencoba.

Ilmu pengetahuan membantu membaca hasilnya.

Teknologi membantu meningkatkan kualitasnya.

Kemudian masyarakat kembali mencoba.

Terjadi proses belajar dua arah.

DARI “PROGRAM” MENJADI “GERAKAN”

Ada perbedaan besar antara program dan gerakan.

Program memiliki awal dan akhir.

Gerakan memiliki kesinambungan.

Program memiliki target.

Gerakan memiliki kesadaran.

Program sering kali bergantung pada sumber daya tertentu.

Gerakan berusaha membangun kemampuan masyarakat untuk melanjutkan prosesnya.

Karena itu, PPM perlu terus mendorong perubahan dari budaya proyek menuju budaya gerakan.

Bukan berarti proyek tidak penting.

Proyek tetap diperlukan.

Tetapi proyek harus menjadi pemicu, bukan tujuan akhir.

Pelatihan harus menjadi awal pembelajaran.

Bantuan modal harus menjadi pemicu kemandirian.

Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan.

Pendampingan harus menghasilkan kemampuan untuk berjalan sendiri.

Dengan demikian, bantuan dari luar tidak menciptakan ketergantungan.

Sebaliknya, ia memperkuat kemampuan masyarakat.

RUANG UNTUK MENCOBA ADALAH RUANG DEMOKRASI

Masyarakat yang diberi ruang untuk mencoba sesungguhnya sedang diberi ruang untuk mengambil keputusan.

Mereka belajar menentukan pilihan.

Belajar menanggung risiko.

Belajar mempertanggungjawabkan keputusan.

Belajar menghargai hasil orang lain.

Belajar menerima kegagalan.

Dan belajar memperbaiki kesalahan.

Semua itu adalah proses demokrasi dalam bentuk yang paling nyata.

Demokrasi bukan hanya tentang memilih dalam bilik suara.

Demokrasi juga berarti masyarakat memiliki kesempatan untuk menentukan dan mengelola kehidupannya sendiri.

Karena itu, partisipasi masyarakat bukan sekadar prosedur.

Ia adalah bagian dari proses membangun manusia yang dewasa dan bertanggung jawab.

KADERISASI: MEWARISKAN KEMAMPUAN UNTUK MENCOBA

Dalam konteks PPM, trial and error juga memiliki hubungan erat dengan kaderisasi.

Kader tidak cukup hanya diwarisi nilai.

Kader harus diberi pengalaman.

Diberi ruang untuk bekerja.

Diberi kesempatan memimpin.

Diberi kesempatan mengambil keputusan.

Bahkan diberi kesempatan melakukan kesalahan.

Sebab kader yang tidak pernah diberi ruang untuk mencoba tidak akan pernah memiliki pengalaman untuk memimpin.

Kaderisasi bukan mencetak manusia yang selalu benar.

Kaderisasi adalah membangun manusia yang mampu belajar dari apa yang dilakukannya.

Inilah pentingnya memberikan ruang kepada generasi baru PPM.

Mereka boleh memiliki cara yang berbeda.

Boleh menggunakan teknologi yang berbeda.

Boleh memiliki bahasa gerakan yang berbeda.

Yang penting, mereka tetap membawa nilai dasar: peranserta, kemandirian, gotong royong, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat.

MASA DEPAN TIDAK SELALU BISA DIPREDIKSI

Kita hidup dalam zaman yang sulit diprediksi.

Perubahan teknologi sangat cepat.

Krisis lingkungan semakin kompleks.

Pola ekonomi berubah.

Dunia kerja berubah.

Generasi baru memiliki cara berpikir berbeda.

Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin semua jawaban masa depan sudah tersedia hari ini.

Karena itu, masyarakat membutuhkan bukan hanya jawaban, tetapi juga kemampuan menemukan jawaban.

Dan kemampuan menemukan jawaban hanya tumbuh apabila masyarakat terbiasa belajar.

Mencoba.

Mengevaluasi.

Beradaptasi.

Menciptakan.

Dengan kata lain, masa depan bukan hanya sesuatu yang harus diramalkan.

Masa depan harus dipelajari sambil dijalani.

PPM DAN KEBERANIAN UNTUK MEMULAI

PPM memiliki sejarah panjang sebagai organisasi kerja sama nasional yang bergerak dalam pengembangan masyarakat, dengan perhatian pada prakarsa, peranserta, dan swadaya masyarakat.

Semangat tersebut menemukan relevansinya kembali hari ini.

PPM tidak harus selalu menjadi organisasi yang datang membawa jawaban.

PPM justru dapat menjadi ruang tempat masyarakat menemukan jawabannya sendiri.

PPM dapat menjadi fasilitator.

Penghubung.

Pengorganisasi.

Pembangun jaringan.

Penyedia ruang belajar.

Dan yang paling penting: penjaga agar masyarakat tetap menjadi subjek.

Dengan posisi tersebut, PPM tidak perlu takut terhadap eksperimen.

Sebab gerakan masyarakat memang membutuhkan keberanian untuk mencoba.

Tidak semua percobaan akan berhasil.

Tidak semua gagasan akan bertahan.

Tidak semua model dapat diterapkan di semua tempat.

Tetapi dari proses itulah pengetahuan baru akan lahir.

DARI KESALAHAN MENUJU PENGETAHUAN

Ada pelajaran penting dari trial and error:

kesalahan yang dipelajari tidak pernah benar-benar sia-sia.

Kesalahan yang tidak dipelajari akan berulang.

Tetapi kesalahan yang dipelajari dapat menjadi pengetahuan.

Pengetahuan menjadi pengalaman.

Pengalaman menjadi kapasitas.

Kapasitas menjadi kemandirian.

Dan kemandirian menjadi kekuatan masyarakat.

Inilah rantai perubahan yang perlu dibangun.

Karena itu, jangan takut terhadap kelompok masyarakat yang sedang mencoba.

Jangan terlalu cepat menilai sebuah eksperimen dari hasil pertama.

Jangan mematikan sebuah gagasan hanya karena percobaan awalnya belum berhasil.

Yang perlu ditanyakan adalah:

Apa yang sudah dipelajari?

Apa yang harus diperbaiki?

Apa yang dapat dicoba kembali?

PENUTUP

Masa Depan Ditemukan oleh Mereka yang Berani Mencoba

Masa depan masyarakat tidak selalu ditemukan oleh mereka yang memiliki rencana paling sempurna.

Kadang masa depan ditemukan oleh mereka yang berani memulai.

Berani mencoba.

Berani gagal.

Berani mengevaluasi.

Berani memperbaiki.

Dan berani mencoba kembali.

Itulah semangat trial and error.

Bukan sekadar metode bekerja.

Tetapi sebuah cara masyarakat belajar menjadi dewasa dalam menentukan masa depannya.

Karena itu, gerakan pemberdayaan masyarakat tidak seharusnya bertanya:

“Bagaimana membuat masyarakat mengikuti program kita?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana menciptakan ruang agar masyarakat mampu menemukan jalan mereka sendiri?”

Di sanalah sesungguhnya makna peranserta.

Dan di sanalah PPM menemukan kembali relevansinya.

Sebab masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang selalu memiliki jawaban.

Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mencari, mencoba, menemukan, dan menciptakan jawaban atas persoalannya sendiri.

Dari satu percobaan.

Lahir pengalaman.

Dari pengalaman.

Lahir pengetahuan.

Dari pengetahuan.

Lahir kemandirian.

Dan dari kemandirian itulah sebuah masyarakat mulai menemukan masa depannya sendiri.

PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.

Example 120x600