Ketika Kehidupan Menjadi Sekolah dan Masyarakat Menjadi Ruang Belajar
OPINI PPMIndonesia.com
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Pendidikan sering kali kita bayangkan sebagai sesuatu yang berlangsung di ruang kelas. Ada guru di depan, murid di belakang. Ada buku, kurikulum, ujian, nilai, ijazah, kemudian seseorang dianggap telah selesai menempuh pendidikan.
Tetapi apakah pendidikan benar-benar selesai ketika seseorang meninggalkan sekolah?
Tentu tidak.
Manusia terus belajar sepanjang hidupnya. Ia belajar dari keluarga, lingkungan, pekerjaan, masyarakat, alam, kegagalan, keberhasilan, perjumpaan dengan orang lain, bahkan dari kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena itu, pendidikan sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekolah.
Kehidupan adalah ruang pendidikan yang tidak pernah berhenti.
Inilah yang menjadi penting ketika kita berbicara tentang pendidikan berbasis pengalaman.
Pengalaman adalah Guru yang Tidak Pernah Libur
Seorang petani mungkin tidak memiliki gelar pertanian, tetapi ia mengetahui bagaimana membaca tanda-tanda alam.
Ia mengenali tanah.
Ia memahami musim.
Ia tahu kapan harus menanam.
Ia belajar dari gagal panen.
Ia mengembangkan cara sendiri untuk menghadapi hama.
Pengetahuan tersebut tidak selalu tertulis dalam buku.
Tetapi pengetahuan itu lahir dari pengalaman.
Demikian pula seorang pedagang kecil.
Bertahun-tahun berjualan membuatnya memahami karakter pelanggan, perubahan harga, perilaku pasar, hingga bagaimana bertahan ketika kondisi ekonomi sulit.
Seorang ibu belajar mengelola rumah tangga.
Seorang nelayan belajar membaca laut.
Seorang pengrajin belajar dari bahan yang disentuhnya setiap hari.
Seorang aktivis belajar dari masyarakat yang didampinginya.
Semua itu adalah proses pendidikan.
Pengalaman melahirkan pengetahuan, dan pengetahuan yang diolah melahirkan kebijaksanaan.
Masyarakat Bukan Ruang Kosong
Dalam pendekatan pendidikan konvensional, terkadang peserta didik ditempatkan sebagai orang yang belum tahu.
Guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan.
Murid dianggap sebagai penerima.
Model tersebut memang memiliki tempat dalam proses pendidikan tertentu. Namun ketika kita berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, cara pandang seperti ini perlu diperluas.
Masyarakat bukan ruang kosong yang menunggu diisi.
Masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman hidup.
Karena itu, proses belajar bersama masyarakat seharusnya dimulai dengan mendengarkan.
Apa yang mereka ketahui?
Apa yang mereka alami?
Apa persoalan mereka?
Apa yang telah mereka lakukan?
Apa yang berhasil?
Apa yang gagal?
Dari sana proses pendidikan menjadi dialog.
Bukan sekadar transfer pengetahuan.
Belajar dari Kehidupan
Pendidikan berbasis pengalaman menempatkan kehidupan sebagai sumber pembelajaran.
Seorang kader yang turun ke desa tidak hanya datang untuk mengajarkan sesuatu.
Ia juga harus belajar.
Belajar memahami masyarakat.
Belajar memahami budaya.
Belajar memahami persoalan ekonomi.
Belajar memahami hubungan sosial.
Belajar memahami bagaimana sebuah komunitas mengambil keputusan.
Dalam proses tersebut, masyarakat dan kader sama-sama menjadi subjek pembelajaran.
Kader membawa ilmu.
Masyarakat membawa pengalaman.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah pengetahuan baru yang lebih kontekstual.
Inilah pendidikan yang hidup.
Universitas Kehidupan
Dalam perspektif gerakan pemberdayaan, kita dapat memandang kehidupan sebagai sebuah universitas yang tidak memiliki pagar.
Tidak ada batas usia untuk belajar.
Tidak ada satu gedung yang menjadi pusat seluruh pengetahuan.
Pasarnya adalah ruang belajar.
Sawah adalah ruang belajar.
Sungai adalah ruang belajar.
Desa adalah ruang belajar.
Tempat kerja adalah ruang belajar.
Organisasi adalah ruang belajar.
Bahkan kegagalan adalah ruang belajar.
Seorang kader yang mengalami kegagalan dalam sebuah program sesungguhnya sedang mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.
Ia belajar bahwa tidak semua gagasan dapat diterapkan dengan cara yang sama.
Ia belajar mendengar.
Ia belajar mengoreksi diri.
Ia belajar menghargai pengalaman masyarakat.
Ia belajar bahwa perubahan membutuhkan waktu.
Itulah pendidikan yang tidak selalu bisa diberikan oleh buku.
Dari Teori Menuju Praksis
Pendidikan akan kehilangan maknanya apabila pengetahuan hanya berhenti di kepala.
Pengetahuan harus bertemu dengan kenyataan.
Inilah pentingnya praksis.
Seorang kader mungkin memahami teori pemberdayaan masyarakat.
Tetapi ketika turun ke lapangan, ia akan menemukan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Masyarakat tidak selalu bergerak sesuai teori.
Program tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Manusia memiliki kepentingan.
Komunitas memiliki sejarah.
Setiap tempat memiliki karakter.
Maka teori harus diuji dalam kehidupan.
Dari praktik muncul pengalaman.
Dari pengalaman muncul refleksi.
Dari refleksi lahir pemahaman baru.
Kemudian pemahaman itu digunakan kembali untuk memperbaiki tindakan.
Belajar–mengalami–merefleksikan–bertindak kembali.
Siklus inilah yang membuat pendidikan menjadi proses perubahan.
Pendidikan Tidak Harus Selalu Menggurui
Gerakan pemberdayaan membutuhkan cara mendidik yang berbeda.
Seorang fasilitator bukanlah orang yang datang dengan posisi lebih tinggi.
Ia bukan manusia yang membawa seluruh jawaban.
Fasilitator adalah orang yang membantu membuka ruang agar peserta menemukan jawaban bersama.
Karena itu, dalam sebuah proses pemberdayaan, pertanyaan sering kali lebih penting daripada ceramah.
Apa masalah kita?
Mengapa masalah itu terjadi?
Apa yang sudah kita lakukan?
Apa yang bisa kita kerjakan bersama?
Apa yang kita miliki?
Apa yang belum kita miliki?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong masyarakat untuk berpikir.
Dan ketika masyarakat berpikir tentang kehidupannya sendiri, sesungguhnya proses pendidikan sedang berlangsung.
Kader PPM adalah Pembelajar Sepanjang Hayat
Bagi PPM, kaderisasi tidak seharusnya hanya menghasilkan kader yang pandai berbicara.
Kader harus menjadi manusia yang mau belajar.
Belajar dari masyarakat.
Belajar dari senior.
Belajar dari junior.
Belajar dari sesama kader.
Belajar dari pengalaman organisasi.
Belajar dari perubahan zaman.
Bahkan belajar dari kritik.
Kader yang merasa sudah paling tahu akan mudah berhenti belajar.
Sebaliknya, kader yang selalu merasa sebagai pembelajar akan terus berkembang.
Di sinilah semangat persaudaraan juga menemukan maknanya.
Senior membimbing, tetapi senior juga tetap belajar.
Junior menghormati, tetapi junior juga memiliki pengalaman yang dapat memperkaya organisasi.
Tidak ada manusia yang memiliki seluruh pengetahuan.
Karena itu, organisasi yang sehat adalah organisasi yang memungkinkan pengetahuan mengalir dari siapa saja kepada siapa saja.
Anak Muda dan Pendidikan Pengalaman
Pendekatan pendidikan berbasis pengalaman juga penting bagi generasi muda.
Anak muda jangan hanya diberikan teori tentang masyarakat.
Ajak mereka bertemu masyarakat.
Ajak mereka ke desa.
Ajak mereka melihat persoalan petani.
Ajak mereka berdialog dengan pelaku UMKM.
Ajak mereka mengelola kegiatan sosial.
Ajak mereka membangun koperasi.
Ajak mereka menjaga lingkungan.
Ajak mereka memecahkan persoalan nyata.
Karena pengalaman seperti itu akan membentuk karakter.
Anak muda akan memahami bahwa masyarakat bukan sekadar angka dalam statistik.
Di balik setiap angka kemiskinan ada manusia.
Di balik data pengangguran ada keluarga.
Di balik persoalan lingkungan ada kehidupan masyarakat.
Pengalaman membuat pengetahuan menjadi manusiawi.
Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Masyarakat
Di sinilah pendidikan berbasis pengalaman bertemu dengan filosofi PPM.
PPM tidak menempatkan masyarakat semata-mata sebagai penerima pendidikan.
Masyarakat juga merupakan sumber pendidikan.
Masyarakat memiliki pengalaman.
Masyarakat memiliki pengetahuan.
Masyarakat memiliki kearifan.
Masyarakat memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang.
Tugas gerakan pemberdayaan adalah membantu mengorganisasi pengetahuan dan pengalaman tersebut menjadi kekuatan perubahan.
Karena itu, proses pendidikan tidak berjalan satu arah.
Ia bergerak dua arah.
Dari kader kepada masyarakat.
Dari masyarakat kepada kader.
Dari pengalaman menuju pengetahuan.
Dari pengetahuan menuju tindakan.
Dari tindakan menuju perubahan.
Pendidikan yang Melahirkan Kemandirian
Tujuan akhir pendidikan bukan sekadar membuat seseorang mengetahui sesuatu.
Pendidikan harus membuat manusia mampu melakukan sesuatu.
Lebih jauh lagi, pendidikan harus membuat seseorang mampu mengambil keputusan atas kehidupannya sendiri.
Inilah hubungan pendidikan dengan pemberdayaan.
Orang yang berdaya bukan orang yang mengetahui segala hal.
Orang yang berdaya adalah orang yang memiliki kepercayaan diri untuk belajar, berpikir, mengambil keputusan, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalannya.
Maka pendidikan berbasis pengalaman harus diarahkan kepada kemandirian.
Bukan ketergantungan.
Sekolah Penting, tetapi Kehidupan Juga Sekolah
Pendidikan berbasis pengalaman bukan berarti menolak sekolah.
Sekolah tetap memiliki fungsi penting.
Guru tetap penting.
Ilmu pengetahuan tetap penting.
Perguruan tinggi tetap penting.
Buku tetap penting.
Penelitian tetap penting.
Yang perlu diperluas adalah pemahaman bahwa semua itu bukan satu-satunya sumber pendidikan.
Sekolah memberikan pengetahuan. Kehidupan menguji pengetahuan tersebut.
Keduanya harus bertemu.
Ilmu tanpa pengalaman dapat kehilangan konteks.
Pengalaman tanpa refleksi dapat kehilangan arah.
Maka pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang mampu mempertemukan ilmu, pengalaman, refleksi, dan tindakan.
Membangun Gerakan Pembelajar
PPM ke depan perlu terus mengembangkan organisasi sebagai gerakan pembelajar.
Setiap kegiatan harus meninggalkan pengetahuan.
Setiap pengalaman harus direfleksikan.
Setiap keberhasilan harus dibagikan.
Setiap kegagalan harus dipelajari.
Setiap kader harus memiliki kesempatan untuk berkembang.
Setiap masyarakat harus dihargai sebagai sumber pengetahuan.
Dengan demikian, organisasi tidak hanya menghasilkan kegiatan.
Organisasi menghasilkan manusia yang semakin matang.
Dan manusia-manusia itulah yang kemudian menjadi kekuatan gerakan.
Penutup: Hidup adalah Sekolah
Pada akhirnya, pendidikan berbasis pengalaman mengingatkan kita bahwa belajar tidak pernah selesai.
Selama manusia masih hidup, ia masih belajar.
Belajar dari orang lain.
Belajar dari alam.
Belajar dari pekerjaan.
Belajar dari masyarakat.
Belajar dari keberhasilan.
Dan belajar dari kegagalan.
Karena itu, jangan pernah meremehkan pengalaman seseorang hanya karena ia tidak memiliki gelar yang tinggi.
Jangan pula menganggap seseorang tidak memiliki pengetahuan hanya karena ia berasal dari masyarakat sederhana.
Boleh jadi, ada pengetahuan yang tidak pernah tertulis dalam buku tetapi telah teruji oleh kehidupan.
Bagi gerakan PPM, cara pandang ini penting untuk terus dipelihara.
Sebab pemberdayaan masyarakat hanya akan tumbuh ketika kita bersedia menghormati manusia sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan pengetahuan.
Kader datang bukan untuk merasa paling pintar.
Kader datang untuk belajar bersama.
Masyarakat bukan objek yang harus diubah.
Masyarakat adalah mitra yang memiliki kemampuan untuk berubah dan menentukan perubahan.
Dan pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu dari satu kepala ke kepala lainnya.
Pendidikan adalah proses manusia menemukan dirinya, memahami kehidupannya, belajar dari pengalaman, kemudian menggunakan pengetahuannya untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Di situlah pendidikan menjadi pemberdayaan.
Di situlah pengalaman menjadi pengetahuan.
Dan di situlah pengetahuan berubah menjadi gerakan.
Karena sesungguhnya, sekolah dapat berakhir, tetapi pendidikan tidak pernah selesai.
Kehidupan adalah sekolah.
Masyarakat adalah ruang belajar.
Pengalaman adalah guru.
Dan pengabdian adalah tempat pengetahuan menemukan maknanya.
PPMIndonesia.com
Meneguhkan Peranserta • Menguatkan Kaderisasi • Membangun Peradaban
OPINI | PPMIndonesia.com
Tags: Pendidikan Berbasis Pengalaman, PPM, Pemberdayaan Masyarakat, Kaderisasi, Pendidikan Masyarakat, Peranserta, Pembelajaran Sosial, Kemandirian, Gerakan Sosial, Pendidikan Sepanjang Hayat





























