EDITORIAL PPMINDONESIA.COM
“Peradaban yang memutus akar kebudayaannya mungkin tampak maju, tetapi kehilangan daya hidupnya. Sebab kebudayaan bukan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan sumber daya batin untuk membangun masa depan.”
JAKARTA. PPMIndonesia.com — Di sebuah kampung, sebuah jalan baru dibangun. Rumah-rumah diperbaiki. Lampu-lampu jalan dipasang. Internet semakin mudah diakses. Anak-anak muda mulai bekerja dengan perangkat digital. Pasar tradisional perlahan berubah menjadi ruang perdagangan yang lebih modern.
Dari kejauhan, semua tampak seperti tanda kemajuan.
Tetapi di sebuah sudut kampung, sebuah sanggar mulai sepi. Permainan tradisional tidak lagi dikenal anak-anak. Bahasa ibu semakin jarang digunakan. Tradisi gotong royong mulai tergantikan oleh hubungan yang lebih transaksional. Pengetahuan orang-orang tua tentang tanah, air, tanaman, dan kehidupan kampung perlahan kehilangan tempat.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana tetapi mendasar:
Apakah itu benar-benar kemajuan?
Pertanyaan ini bukan untuk menolak pembangunan, teknologi, modernisasi, atau perubahan. Sebaliknya, masyarakat memang harus berubah. Teknologi harus berkembang. Ekonomi harus bergerak. Infrastruktur harus dibangun.
Namun ada satu hal yang perlu dijaga: jangan membangun peradaban dengan mematikan kebudayaan.
KEMAJUAN TIDAK SELALU BERARTI MENINGGALKAN MASA LALU
Ada kecenderungan dalam memahami pembangunan bahwa masa depan harus berbeda dari masa lalu.
Yang lama dianggap tertinggal.
Yang baru dianggap maju.
Tradisi dianggap hambatan.
Teknologi dianggap pembebasan.
Kehidupan desa dianggap harus mengikuti pola kota.
Cara-cara lama dianggap harus digantikan oleh cara-cara baru.
Cara berpikir semacam ini dapat membuat perubahan menjadi kehilangan keseimbangan.
Sebab tidak semua yang lama harus ditinggalkan, sebagaimana tidak semua yang baru otomatis lebih baik.
Di dalam pengalaman masa lalu terdapat pengetahuan yang dibentuk oleh sejarah panjang masyarakat. Ada nilai kebersamaan, etika hubungan sosial, pengetahuan tentang alam, cara menyelesaikan konflik, tradisi bekerja bersama, serta berbagai bentuk pranata yang telah terbukti membantu masyarakat bertahan menghadapi perubahan.
Meninggalkan semuanya atas nama modernitas sama artinya dengan membuang modal sosial yang sebenarnya sangat berharga.
KEBUDAYAAN ADALAH ARUS BAWAH
Kebudayaan sering kali dilihat hanya sebagai kesenian dan tradisi.
Padahal kebudayaan jauh lebih dalam.
Ia adalah cara masyarakat memahami kehidupan.
Bagaimana manusia memandang sesamanya. Bagaimana manusia memperlakukan alam. Bagaimana keluarga mendidik anak. Bagaimana masyarakat menyelesaikan persoalan. Bagaimana orang bekerja sama. Bagaimana pengalaman sejarah diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, kebudayaan dapat disebut sebagai arus bawah kehidupan masyarakat.
Ia tidak selalu terlihat.
Tetapi ia menentukan arah.
Seperti akar pohon yang tidak tampak dari permukaan, kebudayaan bekerja di bawah kesadaran sehari-hari. Ketika akar itu sehat, perubahan di permukaan memiliki tempat untuk bertumbuh.
Sebaliknya, ketika akar diputus, pohon mungkin masih berdiri untuk sementara waktu. Tetapi daya hidupnya perlahan melemah.
Begitu pula masyarakat.
PERADABAN ADALAH ARUS ATAS
Peradaban adalah sesuatu yang lebih mudah dilihat.
Kita melihatnya melalui kota, teknologi, sistem ekonomi, pendidikan, transportasi, komunikasi, tata pemerintahan, pola konsumsi, arsitektur, dan berbagai bentuk kehidupan modern.
Peradaban menunjukkan bagaimana manusia mengorganisasikan kehidupan.
Tetapi peradaban bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.
Ia memiliki sumber.
Ia lahir dari nilai, pengetahuan, pengalaman, dan pilihan manusia.
Karena itu, peradaban dapat dipahami sebagai arus atas, sementara kebudayaan merupakan arus bawah.
Di antara keduanya terdapat pranata sebagai arus tengah.
Koperasi, kelompok tani, organisasi masyarakat, sanggar kebudayaan, komunitas lingkungan, lembaga pendidikan, kelompok pemuda, hingga berbagai bentuk organisasi lokal adalah ruang tempat nilai kebudayaan diterjemahkan menjadi praktik kehidupan.
Di sanalah kebudayaan bergerak menuju peradaban.
JANGAN MEMATIKAN AKAR UNTUK MENUMBUHKAN POHON
Sebuah masyarakat tentu membutuhkan pembaruan.
Pertanian perlu menggunakan teknologi baru.
Pendidikan perlu menyesuaikan perkembangan zaman.
Ekonomi rakyat perlu masuk ke ekosistem digital.
Pelayanan publik harus semakin efektif.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan baru.
Semua itu merupakan bagian dari perubahan yang tidak dapat dihindari.
Tetapi pembaruan tidak harus berarti penghancuran.
Petani dapat menggunakan teknologi digital tanpa kehilangan pengetahuan lokal tentang tanah dan musim.
Koperasi dapat menggunakan platform digital tanpa kehilangan prinsip kebersamaan.
Sekolah dapat menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Komunitas dapat masuk ke ruang digital tanpa kehilangan tradisi gotong royong.
Sanggar dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan kesenian tanpa mengubah seni menjadi sekadar komoditas tontonan.
Inilah yang disebut perubahan yang berakar.
Bukan menolak yang baru, tetapi mengolah yang baru dari kekuatan yang telah dimiliki.
KEBUDAYAAN BUKAN MUSEUM
Salah satu kesalahan dalam memandang kebudayaan adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disimpan.
Kebudayaan kemudian ditempatkan di museum, dipamerkan dalam festival, dikenakan pada acara seremonial, tetapi tidak lagi hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang hanya dipertontonkan.
Kebudayaan adalah sesuatu yang terus mengalami proses.
Ia menerima pengalaman baru.
Ia berdialog dengan zaman.
Ia berubah.
Ia menyesuaikan diri.
Tetapi dalam perubahan tersebut terdapat nilai-nilai yang tetap menjadi pijakan.
Karena itu, menjaga kebudayaan bukan berarti membekukannya.
Menjaga kebudayaan berarti memberinya ruang untuk terus hidup dan berkembang.
Generasi muda tidak harus hidup persis seperti generasi sebelumnya.
Mereka memiliki zamannya sendiri.
Yang perlu diwariskan bukan seluruh bentuk masa lalu, melainkan nilai, pengalaman, dan kemampuan untuk membaca kehidupan yang terkandung di dalamnya.
PERUBAHAN YANG MEMUTUS SEJARAH
Setiap masyarakat memiliki sejarah.
Sejarah bukan hanya daftar peristiwa. Ia adalah pengalaman kolektif.
Dari pengalaman itu lahir ingatan, identitas, nilai, dan cara masyarakat memahami dirinya.
Karena itu, perubahan yang memutus sejarah dapat menciptakan masyarakat yang secara material terlihat modern, tetapi secara sosial kehilangan orientasi.
Ketika masyarakat tidak lagi mengenali asal-usulnya, mereka mudah menjadi konsumen dari berbagai nilai yang datang dari luar.
Teknologi masuk tanpa kemampuan memilih.
Budaya konsumsi berkembang tanpa kendali.
Informasi datang tanpa kemampuan menyaring.
Gaya hidup berubah tanpa pertimbangan apakah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.
Pada titik tertentu, masyarakat bukan lagi menjadi pelaku perubahan.
Mereka hanya menjadi pasar perubahan.
Di sinilah persoalan kebudayaan menjadi penting.
DARI MASYARAKAT SEBAGAI OBJEK MENJADI SUBJEK
Peradaban yang sehat tidak dibangun dengan menjadikan masyarakat sebagai objek.
Masyarakat bukan sekadar penerima teknologi.
Bukan sekadar penerima bantuan.
Bukan sekadar konsumen pembangunan.
Masyarakat harus menjadi subjek yang ikut menentukan bentuk perubahan.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang akan kita berikan kepada masyarakat?”
Tetapi:
“Apa yang dapat dikembangkan masyarakat dari kekuatan yang mereka miliki?”
Pertanyaan ini mengubah cara melihat pembangunan.
Pengetahuan lokal tidak lagi dianggap sebagai penghambat.
Kearifan masyarakat menjadi sumber inovasi.
Gotong royong menjadi modal sosial.
Pranata lokal menjadi ruang eksperimen.
Pemuda menjadi pelaku.
Perempuan menjadi kekuatan penggerak.
Kelompok masyarakat menjadi ruang belajar.
Dengan demikian, pembangunan tidak datang untuk menggantikan kehidupan masyarakat, tetapi memperkuat kemampuan mereka untuk mengembangkan kehidupannya sendiri.
PPM: MEMBANGUN PERUBAHAN TANPA MEMUTUS AKAR
Di sinilah gagasan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menemukan relevansinya.
PPM sejak awal menempatkan peranserta masyarakat sebagai bagian penting dari jalan perubahan.
Masyarakat bukan sasaran yang harus diubah dari luar.
Masyarakat adalah kekuatan yang memiliki pengalaman, pengetahuan, potensi, dan kemampuan untuk berkembang.
Karena itu, tugas gerakan bukan mematikan kebudayaan lama untuk menggantikannya dengan kebudayaan baru.
Tugasnya adalah membuka ruang agar masyarakat dapat belajar, mencoba, mengembangkan, dan menemukan bentuk kehidupan baru yang sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Di sinilah pendekatan PPM menjadi penting: perubahan dilakukan bersama masyarakat.
Bukan memaksakan jawaban.
Bukan menentukan masa depan masyarakat dari luar.
Tetapi membantu masyarakat membaca persoalan, menemukan potensi, membangun pranata, mengembangkan kader, dan memperkuat kemampuan swadayanya.
PRANATA SEBAGAI JEMBATAN PERUBAHAN
Jika kebudayaan adalah arus bawah dan peradaban adalah arus atas, maka perubahan membutuhkan jembatan.
Jembatan itu antara lain adalah pranata.
Sebuah koperasi dapat menjadi tempat bertemunya nilai kebersamaan dengan teknologi ekonomi modern.
Kelompok tani dapat menjadi ruang bertemunya pengetahuan lokal dengan teknologi pertanian.
Komunitas lingkungan dapat menghubungkan kearifan ekologis dengan teknologi pemantauan lingkungan.
Sanggar budaya dapat mempertemukan warisan seni dengan kreativitas generasi digital.
Organisasi pemuda dapat menghubungkan gotong royong dengan jaringan sosial yang lebih luas.
Dengan cara demikian, kebudayaan tidak dimatikan.
Ia justru diberi ruang untuk bertransformasi.
Nilai lama tidak harus hilang.
Ia dapat menemukan bentuk baru.
DARI GOTONG ROYONG KE GOTONG ROYONG DIGITAL
Salah satu contoh sederhana adalah gotong royong.
Dahulu gotong royong mungkin berlangsung di jalan kampung, sawah, rumah warga, atau balai desa.
Hari ini ruang gotong royong dapat meluas.
Orang dapat menggalang dukungan melalui platform digital.
Petani dapat berbagi pengetahuan melalui grup komunitas.
Pelaku UMKM dapat membangun jaringan pemasaran secara daring.
Anak muda dapat mengorganisasi kegiatan lingkungan melalui media sosial.
Artinya, teknologinya berubah.
Tetapi nilai dasarnya dapat tetap hidup.
Inilah yang membedakan transformasi kebudayaan dari sekadar pergantian gaya hidup.
Teknologi baru tidak harus membunuh nilai lama.
Ia dapat menjadi kendaraan baru bagi nilai yang tetap relevan.
KADERISASI: MENJAGA NILAI, MENGEMBANGKAN BENTUK
Persoalan terbesar dalam menjaga kebudayaan bukan hanya bagaimana menyimpan warisan masa lalu.
Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana membuat generasi berikutnya merasa bahwa warisan tersebut masih memiliki makna bagi kehidupannya.
Karena itu kaderisasi tidak boleh sekadar memindahkan pengalaman lama secara utuh kepada generasi baru.
Kaderisasi harus membuat generasi baru mampu memahami mengapa nilai itu penting, sekaligus memberi mereka kebebasan untuk menemukan bentuk baru.
Generasi sebelumnya mungkin memiliki cara sendiri dalam mengorganisasi masyarakat.
Generasi berikutnya dapat menemukan cara yang berbeda.
Tetapi semangat peranserta, kemandirian, gotong royong, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat tetap dapat menjadi benang merah sejarah.
Dengan demikian, kaderisasi adalah proses menyambungkan masa lalu dengan masa depan.
PERADABAN YANG BERAKAR
Kita tentu menginginkan peradaban yang maju.
Tetapi pertanyaannya bukan sekadar seberapa tinggi teknologi yang kita miliki.
Pertanyaannya adalah:
Peradaban seperti apa yang ingin kita bangun?
Apakah peradaban yang membuat manusia semakin terhubung tetapi semakin terasing?
Apakah ekonomi yang tumbuh tetapi meninggalkan sebagian besar masyarakat?
Apakah teknologi yang semakin canggih tetapi membuat manusia kehilangan kendali?
Apakah kota yang semakin modern tetapi kehilangan ruang sosial?
Atau peradaban yang memadukan kemajuan teknologi dengan kemanusiaan, pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial, modernitas dengan akar kebudayaan, dan perubahan dengan keberlanjutan?
Di sinilah ukuran peradaban menjadi lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik.
Peradaban harus membuat kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat.
Dan untuk itu, ia membutuhkan akar kebudayaan.
PENUTUP: MAJU TANPA KEHILANGAN AKAR
Membangun peradaban bukan berarti membuang kebudayaan.
Sebaliknya, peradaban yang berkelanjutan justru membutuhkan kebudayaan sebagai sumber orientasi.
Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi harus melayani manusia.
Kita membutuhkan ekonomi modern, tetapi ekonomi harus tetap memberi ruang bagi rakyat.
Kita membutuhkan perubahan, tetapi perubahan harus memperkuat kemampuan masyarakat.
Kita membutuhkan generasi baru, tetapi generasi baru tetap membutuhkan akar sejarah.
Karena itu, jangan bangun peradaban dengan mematikan kebudayaan.
Jangan cabut akar untuk menumbuhkan pohon.
Biarkan kebudayaan menjadi akar yang memberi kehidupan.
Biarkan pranata menjadi batang yang menghubungkan nilai dengan tindakan.
Dan biarkan peradaban menjadi pohon yang tumbuh tinggi, menaungi kehidupan, serta memberi buah bagi generasi yang akan datang.
Sebab masyarakat yang benar-benar maju bukanlah masyarakat yang melupakan dari mana ia berasal.
Melainkan masyarakat yang mampu membawa kekuatan sejarahnya untuk menemukan masa depannya.
PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.





























