JOMBANG. PPMIndonesia.com– Ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang dari hati seorang kader: melihat organisasinya kembali hidup, bergerak, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Kerinduan itulah yang saya rasakan terhadap Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sebuah organisasi yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya selama lebih dari tiga dekade.
Pada 1995, saya, Faishal Ishaq, memperoleh anugerah yang sangat berharga. Saya dipertemukan dengan seorang motivator hebat bernama Ali Mustafa. Pertemuan itu bukan sekadar perkenalan dengan seorang tokoh, melainkan awal dari perjalanan panjang yang penuh inspirasi. Gagasan, semangat, dan keteladanan yang saya temukan saat itu mendorong saya untuk aktif dalam gerakan PPM, mula-mula di Jakarta, kemudian lebih banyak berkiprah di Surabaya.
Sejak saat itu, PPM bukan lagi sekadar nama organisasi bagi saya. PPM menjadi ruang belajar, tempat bertumbuhnya gagasan, sekaligus rumah perjuangan yang mempertemukan orang-orang dengan semangat pengabdian kepada masyarakat.
Saya mengenal PPM sebagai organisasi yang hidup, dinamis, dan mampu menginspirasi banyak pihak. Di dalamnya ada idealisme, energi perubahan, persahabatan, dan keyakinan bahwa masyarakat dapat membangun masa depannya sendiri apabila diberi ruang untuk berprakarsa dan berperanserta.
Namun, waktu terus berjalan. Tiga puluh satu tahun hidup bersama PPM telah memberi saya banyak pelajaran, sekaligus menghadirkan kegelisahan yang semakin sulit saya pendam.
Tiga Dekade: Dari Gairah Gagasan Menuju Kelesuan Gerakan
Jika perjalanan saya bersama PPM dibagi dalam tiga babak waktu, masing-masing memiliki cerita dan pelajarannya sendiri.
Sepuluh tahun pertama, saya merasakan PPM sebagai ruang yang kaya gagasan. Semangat pembaruan tumbuh, pemikiran berkembang, dan organisasi memberikan inspirasi bagi mereka yang ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat. Ada keyakinan bahwa PPM memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pengembangan masyarakat di Indonesia.
Sepuluh tahun berikutnya menghadirkan pengalaman yang lebih kompleks. Dalam pengamatan saya, sejumlah program dan aktivitas organisasi mulai kehilangan kendali. Persoalan pengelolaan dan berbagai dampak yang merugikan sejumlah pihak menjadi pelajaran yang tidak boleh diabaikan. Pengalaman itu semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat tanggung jawab, dan menjaga kepercayaan terhadap organisasi.
Memasuki dekade ketiga, kegelisahan saya semakin besar. Selama belasan tahun terakhir, saya menyaksikan PPM seperti kehilangan denyut kehidupannya. Organisasi yang dahulu terasa dinamis seolah tertidur panjang, mengalami mati suri, dan belum mampu menemukan kembali energi untuk bergerak sebagaimana yang saya rindukan.
Tentu, ini merupakan refleksi pribadi atas perjalanan yang saya alami dan amati. Namun, saya percaya bahwa kegelisahan seperti ini patut disampaikan sebagai bentuk kepedulian, bukan untuk menyalahkan seseorang atau kelompok tertentu.
Saya menyampaikan kritik karena masih mencintai PPM. Saya menyampaikan kegelisahan karena masih berharap PPM bangkit. Dan saya menulis karena belum rela melihat organisasi yang memiliki sejarah, gagasan, serta potensi besar ini kehilangan peran dalam kehidupan masyarakat.
Organisasi tidak selalu mati ketika namanya hilang. Terkadang, organisasi masih memiliki nama, pengurus, dan forum pertemuan, tetapi kehilangan daya hidup, semangat pengabdian, serta kemampuan untuk menggerakkan perubahan.
Inilah keadaan yang perlu kita renungkan bersama.
Saya Merindukan PPM yang Bangkit
Selama bertahun-tahun, saya telah berusaha mendorong kebangkitan PPM. Saya menjalin komunikasi dan membangun ikhtiar bersama sejumlah tokoh nasional, berharap organisasi ini dapat kembali bergerak dan menemukan arah perjuangannya.
Ada belasan, bahkan sekitar dua puluh tokoh PPM yang selama ini saya dorong untuk ikut menghidupkan kembali organisasi. Saya berharap energi, pengalaman, jaringan, dan pemikiran mereka dapat menjadi kekuatan untuk membangunkan PPM dari tidur panjangnya.
Namun, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Upaya yang dilakukan belum menghasilkan kebangkitan sebagaimana yang saya impikan. Banyak tokoh yang saya harapkan menjadi penggerak tampak kehabisan energi untuk memulai kembali perjalanan organisasi.
Mengapa hal ini terjadi?
Apakah kita terlalu lama terjebak dalam persoalan masa lalu? Apakah kita kehilangan keyakinan bahwa PPM masih dapat diperbaiki? Ataukah kita terlalu sibuk mempertahankan posisi, menyelesaikan persoalan internal, dan menjalankan rutinitas organisasi sehingga lupa pada tujuan awal pendiriannya?
Saya tidak bermaksud menjawab semua pertanyaan itu seorang diri. Justru, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan perenungan bersama bagi seluruh anggota dan pengurus PPM.
Sebab, kebangkitan organisasi tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu atau dua orang. Tokoh nasional sekalipun tidak akan mampu membangkitkan organisasi apabila anggotanya sendiri kehilangan kemauan untuk bergerak.
PPM tidak kekurangan sejarah untuk dikenang. PPM tidak kekurangan gagasan untuk dikembangkan. PPM juga tidak kekurangan pengalaman untuk dijadikan pelajaran.
Yang perlu kita temukan kembali adalah kemauan untuk bekerja bersama, keberanian untuk mengakui kekurangan, kesediaan untuk memperbaiki kesalahan, dan ketulusan untuk mengembalikan organisasi kepada tujuan pengabdiannya.
PPM tidak cukup hanya memiliki pengurus. PPM membutuhkan penggerak. PPM tidak cukup hanya memiliki program. PPM membutuhkan kerja nyata. PPM tidak cukup hanya mengadakan pertemuan. PPM harus kembali hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
PENAS IX: Angka Sembilan dan Harapan yang Tidak Boleh Padam
Kini, PPM akan kembali menyelenggarakan Pertemuan Nasional atau PENAS IX pada akhir Oktober hingga awal November 2026 di Yogyakarta.
Bagi saya, PENAS IX memiliki arti yang sangat penting. Saya memandang angka sembilan sebagai simbol yang istimewa: sebuah penanda bahwa perjalanan panjang telah dilalui dan bahwa kita sedang berada di hadapan kesempatan untuk menentukan arah berikutnya.
Angka sembilan boleh kita maknai sebagai simbol kematangan dan harapan. Namun, angka itu tidak akan menjadi sakti dengan sendirinya. Maknanya ditentukan oleh kesungguhan kita dalam menjadikan pertemuan ini sebagai momentum perubahan.
PENAS IX tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin yang menghasilkan susunan kepengurusan, keputusan organisasi, dan dokumentasi kegiatan. Semua itu memang penting, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa PPM telah bangkit.
Kebangkitan harus terlihat setelah forum berakhir.
Kader yang sebelumnya pasif mulai bergerak. Pengurus yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri kembali bekerja sama. Daerah yang lama tidak aktif mulai membangun kegiatan. Gagasan pemberdayaan kembali diterjemahkan menjadi program yang menjawab persoalan masyarakat. Dan organisasi mulai membangun tata kelola yang sehat, terbuka, serta bertanggung jawab.
Jika PENAS IX mampu melahirkan perubahan seperti itu, maka pertemuan ini akan memiliki arti historis bagi perjalanan PPM.
Sebaliknya, jika kita kembali berkumpul tanpa kesungguhan untuk memperbaiki organisasi, tanpa komitmen untuk menjalankan keputusan, dan tanpa keberanian untuk meninggalkan kebiasaan yang menghambat kemajuan, kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa kesempatan untuk bangkit semakin menyempit.
Saya khawatir PPM akan semakin kehilangan relevansinya apabila kita terus membiarkan keadaan ini berlangsung. Organisasi yang tidak bergerak akan ditinggalkan oleh zaman. Gagasan yang tidak dipraktikkan akan kehilangan pengaruhnya. Dan sejarah yang tidak diteruskan melalui kerja nyata hanya akan menjadi cerita masa lalu.
Karena itu, saya ingin mengatakan dengan tegas: PENAS IX harus menjadi momentum kebangkitan PPM, bukan sekadar penanda bahwa organisasi ini masih menyelenggarakan pertemuan nasional.
Pertanyaan untuk Setiap Anggota dan Pengurus PPM
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajukan satu pertanyaan mendasar kepada siapa pun yang masih merasa menjadi bagian dari PPM.
Selama ini, apakah keberadaan kita di PPM menjadi beban yang memperberat penyakit organisasi, atau justru menjadi obat yang membantu menyehatkan dan membangkitkannya?
Pertanyaan ini bukan untuk dijawab dengan pidato. Bukan pula untuk diperdebatkan dalam forum. Saya tidak memerlukan jawaban langsung dari siapa pun.
Cukuplah setiap anggota dan pengurus menjawabnya dengan jujur di dalam hati, kemudian membuktikan jawabannya melalui tindakan nyata mulai dari PENAS IX.
Apakah kita hadir hanya untuk mempertahankan nama dan kedudukan? Apakah kita bersedia mengalokasikan waktu, tenaga, pemikiran, jaringan, dan kemampuan untuk menghidupkan kembali kegiatan organisasi?
Apakah kita hanya menunggu orang lain bergerak, atau bersedia memulai dari diri sendiri?
Apakah kita hanya mengkritik keadaan, atau ikut mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya?
Apakah kita masih membawa semangat pengabdian, atau justru tanpa sadar menambah beban organisasi melalui sikap tidak peduli, konflik berkepanjangan, dan ketidakmampuan menuntaskan tanggung jawab?
Saya percaya, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari penyembuhan organisasi. Tidak semua orang harus menjadi ketua. Tidak semua orang harus duduk dalam kepengurusan nasional. PPM membutuhkan banyak bentuk pengabdian: ada yang mengorganisasi masyarakat, mengembangkan gagasan, mendampingi UMKM, membangun koperasi, memperkuat kaderisasi, mengelola administrasi, mencari kemitraan, atau menghidupkan kembali jaringan di daerah.
Yang paling penting bukan seberapa tinggi posisi seseorang dalam organisasi, melainkan seberapa nyata manfaat keberadaannya bagi gerakan.
Jika kita benar-benar mencintai PPM, mari berhenti bertanya siapa yang harus membangunkannya terlebih dahulu. Mari mulai bertanya apa yang dapat kita lakukan untuk membuatnya kembali hidup.
Sebab, kebangkitan organisasi dimulai ketika setiap orang bersedia mengambil tanggung jawab.
Dari PENAS IX Menuju PENAS 2031
Saya memiliki sebuah harapan sederhana, tetapi sangat berarti bagi saya.
Pada 2031, ketika PPM menyelenggarakan PENAS berikutnya, saya ingin menyaksikan ribuan pengurus dan kader PPM hadir dengan wajah cerah, penuh semangat, dan keyakinan bahwa mereka sedang menjadi bagian dari gerakan yang hidup.
Saya ingin melihat kader-kader dari berbagai daerah datang bukan sekadar untuk memenuhi undangan, melainkan untuk berbagi pengalaman, mempresentasikan keberhasilan pendampingan masyarakat, memperkenalkan inovasi, dan merumuskan kerja bersama bagi masa depan.
Saya ingin melihat PPM kembali memiliki kegiatan yang teratur, kepengurusan yang bekerja, kaderisasi yang berjalan, dan program yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Saya ingin mendengar cerita tentang desa yang semakin mandiri, kelompok usaha yang semakin kuat, koperasi yang berkembang, pemuda yang memperoleh ruang pengabdian, serta masyarakat yang mampu mengatasi persoalannya melalui prakarsa dan kerja bersama.
Saya juga ingin melihat organisasi yang sehat secara kelembagaan: mampu belajar dari masa lalu, terbuka terhadap kritik, tertib dalam pengelolaan, dan bertanggung jawab terhadap setiap amanah yang diterimanya.
Bayangan tentang PENAS 2031 yang dihadiri ribuan kader yang sehat dan bersemangat itu tidak akan terwujud hanya dengan harapan. Kita harus mulai menyiapkannya sekarang, sejak PENAS IX.
Lima tahun bukan waktu yang terlalu singkat untuk membangun perubahan apabila kita memiliki arah yang jelas dan kesungguhan untuk bekerja. Namun, lima tahun juga akan berlalu tanpa hasil apabila kita kembali menunda-nunda pembenahan.
PENAS IX harus menjadi titik awal untuk membangun agenda kerja yang terukur, menghidupkan kembali kepengurusan daerah, memperkuat kaderisasi, memperbaiki tata kelola, dan memastikan setiap keputusan ditindaklanjuti.
Jangan sampai pada 2031 kita masih mengulang pertanyaan yang sama: mengapa PPM belum juga bangkit?
Saya ingin pada PENAS berikutnya kita tidak lagi hanya berbicara tentang kebangkitan. Kita datang membawa bukti bahwa kebangkitan itu telah dimulai dan terus berlangsung.
Ayo Bangkit, PPM!
Kepada seluruh anggota, kader, dan pengurus PPM di mana pun berada, saya ingin menyampaikan bahwa harapan saya belum padam.
Saya masih percaya bahwa PPM memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada masyarakat Indonesia. Sejarah, pengalaman, jaringan, gagasan pemberdayaan, dan semangat peranserta merupakan modal yang tidak boleh kita sia-siakan.
Tetapi modal itu hanya akan berarti apabila kita bersedia menghidupkannya kembali.
Mari kita jadikan PENAS IX sebagai momentum untuk berdamai dengan masa lalu, memperbaiki keadaan sekarang, dan menyiapkan masa depan. Kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran, bukan beban yang terus diwariskan. Perbedaan pandangan harus menjadi sumber pembelajaran, bukan alasan untuk berhenti bekerja. Dan jabatan organisasi harus dipahami sebagai amanah pengabdian, bukan tujuan akhir perjuangan.
Kita perlu membangun kembali PPM yang sehat, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral, intelektual, sosial, dan organisatoris.
PPM yang sehat adalah PPM yang mampu melahirkan gagasan sekaligus menjalankannya. PPM yang mampu menghargai tokoh-tokoh pendahulunya sekaligus memberikan ruang kepada generasi penerus. PPM yang berani mengevaluasi diri dan tidak alergi terhadap kritik. PPM yang menjadikan masyarakat sebagai pusat pengabdian, bukan sekadar alasan untuk menyelenggarakan program.
Saya, Faishal Ishaq, mungkin tidak dapat membangkitkan PPM seorang diri. Begitu pula tokoh-tokoh lain yang selama ini telah berusaha. Namun, apabila setiap anggota dan pengurus bersedia menjadi bagian dari solusi, saya percaya pintu kebangkitan masih terbuka.
Kita tidak perlu menunggu semua persoalan selesai untuk mulai bergerak. Kita hanya perlu memiliki keberanian untuk memulai, kesediaan untuk bekerja bersama, dan komitmen untuk menuntaskan apa yang telah kita sepakati.
Ayo bangkit, PPM! Jangan biarkan sejarah besar berhenti sebagai kenangan. Jangan biarkan gagasan pemberdayaan kehilangan penggeraknya. Jangan biarkan organisasi yang pernah menginspirasi banyak orang terus tertidur ketika masyarakat masih membutuhkan kerja nyata kita.
Mari buktikan bahwa kita bukan beban bagi PPM, melainkan bagian dari kekuatan yang menyehatkan dan menghidupkannya kembali.
Semoga PENAS IX menjadi awal dari perjalanan baru: PPM yang lebih solid, lebih sehat, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Dari PENAS IX 2026, kita mulai kebangkitan. Menuju PENAS 2031, kita buktikan hasilnya.
Allahu Akbar!
Faishal Ishaq
Kader Pusat Peranserta Masyarakat (PPM)





























