Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Tafsir, Ideologi, dan Kemesraan dengan Nabi: Jangan Terganggu oleh Salah Paham

295
×

Tafsir, Ideologi, dan Kemesraan dengan Nabi: Jangan Terganggu oleh Salah Paham

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam perjalanan memahami Islam, kita tak jarang mendapati tafsir-tafsir yang terdengar keras, bahkan mengejutkan. Ada kisah tentang pencuri yang dipotong tangan lalu dikalungkan di lehernya. Ada pula riwayat tentang orang yang melarikan diri kemudian dicungkil matanya lalu dibuang ke padang pasir. Begitukah ajaran Nabi yang penuh kasih itu?

Bagi sebagian orang, tafsir seperti itu bisa menimbulkan kegelisahan. Sebagaimana disampaikan Buya Syakur Yasin dalam kajian Fidhralil Qur’an, bahkan beliau sendiri jujur mengaku bahwa kemesraan batinnya dengan Nabi Muhammad terasa terganggu ketika membaca riwayat-riwayat yang tampak kejam dan tidak manusiawi itu. 

Tetapi justru di situlah pelajaran pentingnya: jangan buru-buru menyalahkan Nabi, jangan pula menuduh wahyu yang keliru. Bisa jadi yang salah adalah penafsiran manusianya.

Tafsir, pada akhirnya, adalah hasil pembacaan manusia terhadap teks suci. Dan manusia, betapapun alimnya, tetap tak lepas dari pengaruh zamannya, ideologi mazhabnya, bahkan bias politiknya. 

Tafsir bisa diseret-seret ke dalam kepentingan Sunni, Syiah, Mu’tazilah, bahkan kelompok-kelompok politik seperti Ikhwanul Muslimin. Maka, kita sebagai pembaca awam tak boleh menelan tafsir apa pun secara mentah-mentah.

Kita juga harus ingat: Nabi Muhammad sendiri ditegur Allah ketika beliau mengharamkan sesuatu yang oleh Allah dihalalkan. Teguran itu terang-benderang terekam dalam Al-Qur’an (QS At-Tahrim:1). 

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ… ۝١

Wahai Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu”

Ini menunjukkan betapa Nabi sangat berhati-hati dan hanya menyampaikan apa yang Allah wahyukan. Bagaimana mungkin kita menuduh Nabi bertindak melampaui batas, sementara Al-Qur’an sendiri menjaga beliau?

Jika kita merujuk pada Al-Qur’an, potret Nabi yang muncul adalah sosok penuh rahmat. Firman Allah: 

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

 

“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiya:107). 

Maka, jika ada tafsir yang menggambarkan Nabi sebagai figur bengis, penghukum tanpa ampun, kita pantas mempertanyakannya.

Kesalahan dalam memahami tafsir tidak hanya bisa mengganggu kemesraan kita dengan Nabi, tetapi juga merusak citra Islam itu sendiri. Karena itu, belajar agama menuntut keterbukaan, keberanian berpikir, dan kehati-hatian. Kita menghormati para mufassir, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebenaran mutlak.

Seperti dikatakan Buya Syakur, lebih baik menyalahkan tafsir daripada menyalahkan Nabi. Dan lebih baik lagi, kita membaca langsung Al-Qur’an, dengan hati yang bersih, sembari berdoa agar diberi petunjuk untuk memahami makna sejatinya.

Kemesraan kita dengan Nabi semestinya tidak ternodai oleh tafsir-tafsir yang bias. Nabi adalah rahmat, bukan malapetaka. Kita harus menjaga keyakinan itu. Dan salah satu caranya ialah dengan tidak membiarkan salah paham merenggangkan hubungan batin kita dengan beliau.

Sebagaimana sabdanya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Maka marilah kita memeluk beliau dengan akhlak yang mulia pula: penuh cinta, santun, dan jujur dalam mencari kebenaran.(emha)

 

Example 120x600