Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Allah dan Tuhan: Menyibak Kesalahpahaman Nama Sang Pencipta

288
×

Allah dan Tuhan: Menyibak Kesalahpahaman Nama Sang Pencipta

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com. Jakarta– Di ruang-ruang diskusi dunia maya, kita kerap menjumpai perdebatan sengit soal penyebutan nama Tuhan.  Ada yang merasa tersinggung ketika seseorang menyebut Sang Pencipta dengan kata “Tuhan” alih-alih “Allah”. Bagi sebagian orang, “Allah” dianggap nama eksklusif bagi umat Islam, seakan-akan berbeda dengan Tuhan yang disembah umat lain.

Fenomena ini semakin mencuat di era media sosial. Tak jarang, sebuah unggahan sederhana yang menyebut “Tuhan” segera menuai komentar tajam. 

Ada yang menuduh si penulis kurang Islami, bahkan dianggap melecehkan keyakinan. Padahal, persoalan ini lebih sering berakar pada kesalahpahaman linguistik daripada teologis.

Dari Ilāh menjadi Allah

Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata Allah berasal dari bentuk umum ilāh (إِلٰه) yang berarti “tuhan”. Ketika ditambah awalan al- (definitif), terbentuklah al-ilāh (ٱلإِلٰه) yang berarti “Sang Tuhan”. Karena lidah Arab lebih mudah melafalkan dengan singkatan, sebutan itu kemudian menyatu menjadi Allah (الله).

Ibn Manzur dalam Lisaan al-‘Arab menegaskan perubahan fonetik ini wajar dalam struktur bahasa Arab. Maka, Allah adalah kata Arab untuk menunjuk Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana bahasa lain menyebut-Nya dengan istilah berbeda.

Al-Qur’an menegaskan:

وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 163)

Ayat ini memperlihatkan bahwa yang dimaksud dengan Allah adalah Sang Esa, bukan tuhan yang lain.

Kesinambungan Risalah

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Allah yang disembah Nabi Muhammad ﷺ adalah Tuhan yang sama yang disembah para nabi sebelumnya.

وَمَآ أُرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.’” (QS. Al-Anbiya [21]: 25)

Dengan demikian, universalitas Islam justru tampak dalam kesinambungan risalah. Nama boleh berbeda—God dalam bahasa Inggris, Dieu dalam bahasa Prancis, atau Allah dalam bahasa Arab—tetapi yang dimaksud tetap satu: Tuhan semesta alam.

Nama untuk Manusia, Bukan untuk Tuhan

Menariknya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa nama adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Nama hanyalah cara manusia untuk memanggil, mengingat, dan mendekat kepada-Nya.

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّۭا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ

“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru, Dia mempunyai al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-Isra [17]: 110)

Ayat ini memberi ruang kelapangan. Yang terpenting bukanlah perbedaan istilah, melainkan keyakinan bahwa Tuhan itu Esa dan tidak bersekutu.

Konteks Kekinian

Di era keterhubungan digital, istilah “Allah” kerap menjadi perdebatan lintas iman. Di Malaysia, misalnya, penggunaan kata “Allah” oleh umat Kristen pernah menimbulkan polemik politik dan hukum. Di Indonesia, perdebatan lebih banyak muncul di media sosial, ketika sebagian kalangan menilai kata “Tuhan” tidak pantas digunakan oleh Muslim.

Ulama kontemporer seperti Quraish Shihab menekankan bahwa Allah adalah sebutan bahasa Arab bagi Tuhan Yang Maha Esa. Dalam tafsir Al-Mishbah, ia menegaskan bahwa perbedaan istilah tidak boleh menjadi sekat yang membatasi pemahaman akan keesaan Tuhan. “Nama hanyalah sarana, hakikat-Nya tetap satu,” tulisnya.

Pandangan ini penting di tengah menguatnya literasi agama digital. Alih-alih memperdebatkan istilah, umat justru didorong untuk memperdalam makna keesaan Tuhan dalam kehidupan nyata—membangun persaudaraan, keadilan, dan kasih sayang.

Allah” atau “Tuhan

Kesalahpahaman soal penyebutan “Allah” atau “Tuhan” sering lahir dari bias linguistik. Islam tidak pernah menutup universalitas Allah hanya pada satu bahasa. Justru Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam, bukan milik eksklusif satu umat.

Maka, menyebut-Nya dengan kata yang berbeda sesuai bahasa bukanlah persoalan, sebab yang dituju tetap satu: Dia Yang Maha Esa, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.

Refereni; 

Example 120x600