Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Membongkar Miskonsepsi QS 3:14: Wanita Bukan Sekadar Perhiasan

279
×

Membongkar Miskonsepsi QS 3:14: Wanita Bukan Sekadar Perhiasan

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com. Jakarta – Salah satu ayat yang kerap disalahpahami dalam diskursus tafsir dan terjemahan adalah QS Ali Imran ayat 14. Ayat ini menyebutkan kecenderungan manusia terhadap berbagai kenikmatan dunia, termasuk kecantikan perempuan. Sayangnya, sebagian kalangan menafsirkan ayat tersebut seolah perempuan hanya diposisikan sebagai “perhiasan duniawi”.

Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 14)

“Nas”: Untuk Semua Manusia, Bukan Hanya Laki-Laki

Hal penting untuk dicatat adalah penggunaan kata “ناس / nas” dalam ayat ini. Kata tersebut berarti seluruh manusia, bukan laki-laki saja. Namun, beberapa terjemahan klasik justru menafsirkan “nas” secara sempit. Terjemahan Yusuf Ali, misalnya, berbunyi: “Fair in the eyes of men is the love of things they covet: women and sons…”

Padahal, bila maksud ayat hanya untuk laki-laki, tentu kata رجال / rijal yang digunakan, bukan nas. Kesalahan tafsir ini melahirkan persepsi keliru bahwa perempuan dipandang hanya dari kacamata laki-laki, sebagai objek yang memikat.

Sebaliknya, Al-Qur’an menegaskan bahwa daya tarik duniawi berlaku bagi setiap manusia—baik pria maupun wanita. Seorang perempuan pun bisa mengagumi keindahan perempuan lain, sebagaimana seorang pria mengagumi keindahan sesamanya.

Kecantikan: Rahmat, Bukan Reduksi

Kecantikan perempuan dalam ayat ini bukanlah bentuk perendahan, melainkan pengakuan akan keistimewaan yang Allah anugerahkan. Keindahan itu menjadi bagian dari rahmat Allah kepada umat manusia, sebagaimana halnya dengan anak-anak, harta, dan ladang. Semua disebutkan sebagai kenikmatan dunia, yang pada akhirnya bersifat sementara.

Allah kemudian melanjutkan dengan menawarkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada semua daya tarik dunia itu:

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya; dan (ada pula) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran [3]: 15)

QS  3:14

Dengan demikian, QS 3:14 tidak pernah merendahkan perempuan. Justru ayat ini menyampaikan realitas fitrah manusia yang tertarik pada berbagai bentuk keindahan dunia. Al-Qur’an mengingatkan bahwa semua itu hanyalah kesenangan sesaat, sementara tempat kembali yang hakiki adalah kepada Allah.

Miskonsepsi yang memposisikan perempuan hanya sebagai “perhiasan” lahir dari pembacaan yang sempit dan terjemahan yang keliru. Al-Qur’an, sebaliknya, memuliakan perempuan sebagai bagian dari rahmat Allah bagi seluruh manusia.(acank)

Referensi; 

Example 120x600