Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Sallimu Taslima: Mengapa Umat Wajib Menyambut Risalah Rasulullah

253
×

Sallimu Taslima: Mengapa Umat Wajib Menyambut Risalah Rasulullah

Share this article

Penulis: syahida | Editor; asyary

ppmindonesia.com. Bogor — Dalam kajian rutin Qur’an bil Qur’an yang ditayangkan di kanal Syahida, Husni Nasution menyoroti makna mendalam dari perintah Allah dalam QS Al-Ahzab [33]:56, terutama pada frasa “sallimu taslima”. 

Menurutnya, ayat ini bukan sekadar seruan untuk bershalawat, tetapi menekankan kewajiban umat Islam untuk menyambut risalah Rasulullah ﷺ dengan penuh kepatuhan.

Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya dengan sepenuh ketundukan.” (QS Al-Ahzab [33]:56)

Shalawat Allah Adalah Wahyu

Husni Nasution menjelaskan bahwa istilah “yushalli” dalam Al-Qur’an memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar doa. Dalam QS Al-Ahzab [33]:43, Allah menegaskan:

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَـٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Dialah yang memberi rahmat (yushalli) kepadamu, bersama para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya…”

Menurut Nasution, shalawat Allah kepada Rasulullah bermakna penurunan wahyu, yakni Al-Qur’an, agar Nabi dapat membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini ditegaskan pula dalam QS Ibrahim [14]:1:

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu, agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya…”

“Dengan demikian, shalawat Allah adalah risalah. Umat diminta sallimu taslima, yaitu menerima risalah itu dengan sepenuh hati, bukan sekadar membacakan doa,” ujar Husni.

Kepemimpinan Allah bagi Orang Istiqomah

Kajian ini juga menyinggung hubungan antara istiqomah dan kepemimpinan Allah. Dalam QS Fussilat [41]:30-31, Allah berjanji kepada orang yang istiqomah dengan turunnya malaikat yang menenteramkan mereka:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu.”

نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ

“Kamilah pelindung-pelindungmu di kehidupan dunia dan di akhirat…”

Menurut Nasution, kepemimpinan Allah kepada orang beriman dijelaskan lebih lanjut dalam QS Al-Baqarah [2]:257:

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Allah adalah pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…”

Artinya, kepemimpinan Allah terwujud dalam pembebasan dari kezaliman, terutama kebodohan, menuju kecerdasan hidup dan cahaya ilmu.

Konsekuensi: Menyambut Risalah dengan Tunduk

Dari rangkaian ayat tersebut, Husni menegaskan bahwa umat Islam tidak cukup hanya melafalkan doa shalawat, tetapi dituntut untuk benar-benar menyambut risalah Rasulullah dengan ketundukan penuh.

“Kalimat sallimu taslima adalah perintah agar kita menerima risalah Rasulullah sebagaimana mestinya. Inilah bentuk shalawat kita: kepatuhan terhadap wahyu, bukan sekadar ucapan di bibir,” tegasnya.

Istiqomah: Kunci Bimbingan dan Kepatuhan

Kajian Qur’an bil Qur’an ini menegaskan bahwa istiqomah, kepemimpinan Allah, dan makna shalawat saling terkait erat.

Orang beriman yang istiqomah akan mendapat bimbingan Allah, dibebaskan dari kegelapan, dan diberi sulthan (daya penolong). Konsekuensinya, mereka wajib sallimu taslima—menyambut risalah Rasulullah dengan sepenuh ketundukan.(syahida)

*Husni Nasution, seorang pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an asal Bogor. Alumni IAIN Sumatera Utara ini dikenal dengan gagasannya tentang Nasionalisme Religius dan kepeduliannya pada isu-isu solidaritas sosial.”

 

Example 120x600