ppmindonesia.com. Jakarta – Agama kerap dituduh sebagai sumber konflik, kekerasan, dan perpecahan sosial. Dari perang atas nama Tuhan hingga pertikaian antar-mazhab, agama sering ditempatkan sebagai terdakwa utama. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: benarkah agama—dalam hal ini wahyu Tuhan—yang menjadi penyebab perpecahan, ataukah cara manusia memperlakukan agama itu sendiri?
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini menghadirkan jawaban langsung dari Al-Qur’an, tanpa perantara sejarah polemik atau tafsir sektarian.
Qur’an dan Visi Kesatuan Manusia
Sejak awal, Al-Qur’an menegaskan bahwa pesan ketuhanan hadir untuk menyatukan orientasi manusia, bukan memecahnya.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Manusia itu dahulunya adalah umat yang satu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 213)
Kesatuan ini bukan keseragaman budaya, melainkan kesatuan nilai: keadilan, kebenaran, dan penghambaan kepada Tuhan Yang Esa.
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 92)
Jika agama diturunkan untuk menyatukan, maka sumber perpecahan jelas bukan pada wahyu itu sendiri.
Dari Wahyu ke Perselisihan: Di Mana Letak Masalahnya?
Al-Qur’an dengan jujur mengakui bahwa perpecahan memang terjadi—namun ia menunjuk sebabnya secara tegas.
وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 19)
Perpecahan lahir bukan karena kurangnya wahyu, tetapi karena ambisi, kepentingan, dan perebutan otoritas setelah kebenaran diketahui.
Agama Dijadikan Identitas Golongan
Salah satu sumber konflik terbesar adalah ketika agama direduksi menjadi identitas kelompok.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi bergolongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap mereka.”
(QS. Al-An‘ām [6]: 159)
Ayat ini mematahkan klaim bahwa fanatisme golongan adalah bentuk kesalehan. Justru sebaliknya, ia adalah bentuk pengingkaran terhadap misi agama itu sendiri.
Fanatisme: Penyakit Lama yang Diwariskan
Al-Qur’an menjelaskan bahwa fanatisme bukan fenomena baru.
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rūm [30]: 32)
Kebanggaan sempit inilah yang melahirkan klaim kebenaran tunggal dan menutup ruang dialog serta koreksi.
Qur’an Menolak Pemaksaan dan Kekerasan
Jika agama adalah penyebab perpecahan, tentu Al-Qur’an akan membenarkan pemaksaan. Faktanya, justru sebaliknya.
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
“Tidak ada paksaan dalam agama.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 256)
أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Apakah engkau hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
(QS. Yūnus [10]: 99)
Kekerasan atas nama agama adalah pelanggaran langsung terhadap prinsip Qur’ani.
Standar Qur’an: Keadilan, Bukan Loyalitas Buta
Al-Qur’an menutup ruang pembenaran konflik dengan menetapkan standar universal.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… dan janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa kebencian berbasis agama atau identitas adalah pengkhianatan terhadap nilai ilahi.
Bukan Agama, Tetapi Penyalahgunaannya
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai saksi atas dirinya sendiri, jawaban atas pertanyaan besar ini menjadi terang: agama bukan penyebab perpecahan. Yang melahirkan konflik adalah ketika agama direbut oleh kepentingan, dijadikan identitas eksklusif, dan dipisahkan dari nilai keadilan.
وَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ash-Shūrā [42]: 14)
Al-Qur’an tidak memanggil manusia untuk membela agama dengan konflik, tetapi untuk menghadirkan agama sebagai rahmat, keadilan, dan kesaksian moral.
Jika agama hari ini tampak memecah, maka yang perlu dikoreksi bukan wahyunya—melainkan cara manusia memanfaatkannya.



























