Jakarta|PPMIndonesia.com- Shalawat adalah amalan yang begitu akrab di tengah umat Islam. Ia dibaca dalam doa, ceramah, majelis taklim, bahkan menjadi pembuka dan penutup berbagai acara. Namun, pertanyaannya: apakah shalawat yang kita lantunkan telah menghadirkan kesadaran iman, atau sekadar menjadi rutinitas tanpa makna?
Kajian Qur’an bil Qur’an—yakni memahami satu ayat dengan cahaya ayat lainnya—mengajak kita untuk menelusuri makna shalawat secara lebih utuh. Dalam perspektif syahida (kesaksian sadar), shalawat bukan sekadar bacaan, melainkan komitmen spiritual dan moral.
Perintah Shalawat: Dimensi Langit dan Bumi
Allah berfirman dalam:
QS. Al-Ahzab [33]: 56
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa shalawat memiliki dimensi kosmik: Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi. Perintah kepada orang beriman bukan sekadar mengikuti tradisi, tetapi memasuki arus kesadaran langit.
Namun, apa makna “bershalawat” itu sendiri?
Makna Shalawat dalam Cahaya Ayat Lain
Dalam Al-Qur’an, kata shalat dan turunannya memiliki makna doa, rahmat, dan dukungan ilahi. Perhatikan:
QS. Al-Baqarah [2]: 157
أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۭ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang memperoleh shalawat (pujian dan rahmat) dari Tuhan mereka dan rahmat; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Di sini, shalawat dari Allah bermakna rahmat dan pujian. Maka ketika orang beriman bershalawat kepada Nabi, itu bukan menambah kemuliaan Nabi—karena beliau telah dimuliakan—melainkan membangun hubungan ruhani dengan risalah yang beliau bawa.
Shalawat sejatinya adalah deklarasi kesetiaan pada misi kenabian.
Shalawat dan Kesaksian (Syahida)
Dalam Al-Qur’an, kesaksian bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keterlibatan hidup.
QS. Muhammad [47]: 19
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampun atas dosamu…”
Ayat ini mendahulukan pengetahuan sadar sebelum amal. Dalam konteks shalawat, kesaksian (syahida) berarti mengetahui siapa Nabi, memahami risalahnya, lalu menghidupkannya dalam tindakan.
Shalawat tanpa pemahaman berisiko menjadi formalitas. Padahal Al-Qur’an mengecam praktik keberagamaan yang kehilangan kesadaran:
QS. Al-Ma’un [107]: 4–5
فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ
ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya.”
Jika shalat saja bisa kehilangan ruh karena kelalaian, apalagi shalawat yang hanya dilantunkan tanpa pemahaman dan komitmen.
Dari Lisan ke Peradaban
Shalawat yang hidup akan melahirkan akhlak. Karena Nabi diutus bukan sekadar untuk dipuji, tetapi untuk diteladani.
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
Maka shalawat yang bermakna adalah shalawat yang mendorong transformasi diri dan sosial: kejujuran dalam ekonomi, keadilan dalam kepemimpinan, kasih sayang dalam keluarga, dan integritas dalam kehidupan publik.
Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, shalawat tidak dapat dipisahkan dari misi rahmatan lil ‘alamin. Ia bukan sekadar ritual, tetapi energi etis.
Refleksi: Apakah Kita Saksi atau Sekadar Pengucap?
Shalawat yang menjadi rutinitas tanpa makna berisiko menjauhkan kita dari esensi kenabian. Ia terdengar indah di lisan, tetapi belum tentu hadir dalam perilaku.
Sebaliknya, shalawat yang disertai kesadaran (syahida) adalah pernyataan hidup:
- Mengikuti sunnah keadilan Nabi.
- Menghidupkan nilai rahmat dalam relasi sosial.
- Menjaga amanah dalam setiap profesi.
Shalawat bukan sekadar lafaz “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”, tetapi komitmen untuk melanjutkan perjuangan moral beliau di bumi.
Penutup
Ketika shalawat kehilangan makna, ia menjadi gema kosong. Namun ketika ia dipahami dalam cahaya Al-Qur’an dan disertai kesaksian sadar, ia menjadi jembatan antara langit dan bumi.
Mungkin yang perlu kita perbarui bukan jumlah shalawat kita, tetapi kualitas kesadaran kita.
Karena shalawat sejati bukan hanya diucapkan—
ia disaksikan, dihidupkan, dan diperjuangkan. (a mohamad)



























