Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (2): Benang Putih, Benang Hitam, dan Waktu Fajar

8
×

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (2): Benang Putih, Benang Hitam, dan Waktu Fajar

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIdonesia.com- Dalam pembahasan puasa Ramadan, perhatian kita sering tertuju pada kewajiban menahan diri. Namun Al-Qur’an justru memberikan penjelasan teknis yang sangat presisi tentang batas waktu dimulainya puasa.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an—menafsirkan ayat dengan ayat—dan kajian syahida—membiarkan teks bersaksi atas dirinya sendiri—kita akan melihat bahwa konsep “benang putih dan benang hitam” bukan sekadar metafora, melainkan penanda waktu yang sangat konkret.

Teks Kunci: Surah Al-Baqarah Ayat 187

Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(Al-Baqarah: 187)

Ayat ini memuat tiga elemen penting:

  1. Aktivitas yang dibolehkan: makan dan minum.
  2. Batas akhir kebolehan: terbitnya fajar.
  3. Perintah penyempurnaan puasa hingga malam.

Fokus kita pada frasa: الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر.

Apa Itu “Benang Putih” dan “Benang Hitam”?

Secara bahasa, khayth berarti benang. Namun Al-Qur’an sendiri memberikan petunjuk bahwa ini adalah gambaran visual tentang perubahan cahaya.

Perhatikan ayat berikut:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا ۝ وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (penutup). Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.”
(An-Naba: 10–11)

Malam digambarkan sebagai penutup gelap, sementara siang adalah terang yang membuka aktivitas.

Dalam konteks ini, “benang hitam” merepresentasikan sisa kegelapan malam, sedangkan “benang putih” adalah cahaya fajar yang mulai membentang di ufuk timur.

Makna “Min al-Fajr”: Penegasan yang Presisi

Menariknya, ayat tersebut tidak berhenti pada metafora benang, tetapi menegaskannya dengan kata:

مِنَ الْفَجْرِ
“yaitu fajar.”

Artinya, Al-Qur’an sendiri menafsirkan metafora itu—ini inti metode Qur’an bil Qur’an.

Kata fajr dalam Al-Qur’an merujuk pada terbelahnya cahaya pagi. Allah berfirman:

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ

“(Dialah) yang membelah cahaya subuh.”
(Al-An’am: 96)

Kata faliq (membelah) sejalan dengan makna fajr—terbukanya cahaya yang membelah kegelapan.

Dengan demikian, batas puasa bukan sekadar waktu perkiraan, tetapi momen kosmik ketika cahaya pertama benar-benar tampak.

Prinsip Kejelasan: “Hatta Yatabayyana Lakum”

Ayat tersebut menggunakan kata:

حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمْ
“hingga jelas bagimu”

Kata yatabayyana menunjukkan kejelasan yang nyata, bukan asumsi atau dugaan.

Dalam ayat lain, Allah menggunakan akar kata yang sama:

قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”
(Al-Baqarah: 256)

Makna tabayyun adalah kepastian yang terang. Maka dalam konteks puasa, batas fajar adalah momen yang dapat dipastikan secara jelas—baik melalui pengamatan langsung maupun melalui sistem perhitungan yang akurat.

Dimensi Kosmik dan Ketelitian Waktu

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa sistem langit berjalan dalam ketelitian:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan (beredar) dengan perhitungan yang teliti.”
(Ar-Rahman: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa waktu-waktu ibadah berdiri di atas keteraturan kosmik yang presisi. Fajar bukan sekadar tanda sosial, melainkan fenomena astronomis yang terukur.

Ilal-Lail: Menyempurnakan Hingga Malam

Ayat puasa ditutup dengan perintah:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

Menarik bahwa Al-Qur’an menggunakan kata atimū (sempurnakan), bukan sekadar “akhiri”. Ini menunjukkan bahwa puasa adalah proses yang utuh dari fajar hingga malam, bukan sekadar jeda makan.

Refleksi: Ketelitian sebagai Bagian dari Takwa

Jika Ramadan adalah madrasah takwa (2:183), maka ketelitian terhadap waktu adalah bagian dari pembentukan takwa itu sendiri.

Kita diajarkan:

  • Disiplin terhadap batas cahaya pertama.
  • Tidak mendahului fajar.
  • Tidak mengakhirkan puasa sebelum datangnya malam.

Ketelitian ini membentuk kesadaran bahwa ibadah bukan sekadar semangat, tetapi kepatuhan terhadap sistem Allah.

Penutup

Melalui pendekatan kajian syahida, kita melihat bahwa konsep “benang putih dan benang hitam” bukan sekadar ungkapan puitis. Ia adalah penanda presisi waktu yang dijelaskan sendiri oleh Al-Qur’an.

Ramadan mengajarkan kita membaca langit, memahami cahaya, dan menghormati batas kosmik yang Allah tetapkan.

Karena pada akhirnya, puasa bukan hanya soal menahan lapar—tetapi tentang belajar tunduk pada ketetapan waktu yang Allah bentangkan di ufuk fajar.(syahida)

Example 120x600