Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Beragama dengan Rendah Hati: Jangan Merasa Paling Benar

5
×

Beragama dengan Rendah Hati: Jangan Merasa Paling Benar

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu ujian terbesar dalam beragama bukanlah sekadar menjalankan ritual, tetapi menjaga hati agar tetap rendah. Tidak sedikit orang yang rajin beribadah, namun terjebak pada perasaan paling benar dan mudah menyalahkan orang lain.

Al-Qur’an sejak awal mengingatkan bahwa kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Manusia diberi kemampuan memahami, tetapi tidak pernah diberi otoritas untuk merasa paling suci.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam membangun etika keberagamaan: jangan merasa diri paling benar, paling bersih, paling selamat.

Perbedaan adalah Keniscayaan Ilahiah

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita menemukan bahwa perbedaan adalah bagian dari kehendak Allah sendiri.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu; tetapi mereka senantiasa berbeda-beda.”
(QS. Hud: 118)

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman dan perbedaan pendapat bukanlah penyimpangan, melainkan sunnatullah. Maka memaksakan keseragaman dan menganggap hanya diri sendiri yang benar bertentangan dengan realitas yang Allah ciptakan.

Dalam ayat lain ditegaskan:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)

Perbedaan pemahaman dalam fikih, metode dakwah, maupun ekspresi keagamaan adalah bagian dari dinamika sejarah umat.

Bahaya Fanatisme dan Saling Klaim

Al-Qur’an memperingatkan sikap merasa paling benar secara eksklusif:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum: 32)

Ayat ini menggambarkan kecenderungan manusia untuk mengagungkan kelompoknya sendiri. Ketika fanatisme menggantikan kerendahan hati, agama berubah menjadi alat pembenaran diri.

Bahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ pun Allah berpesan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)

Jika Nabi saja tidak memonopoli hidayah, apalagi kita.

Ilmu dan Tawadhu: Dua Sayap Keimanan

Pendekatan syahida—kesaksian menyeluruh terhadap pesan Al-Qur’an—menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa takut dan rendah hatinya kepada Allah.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fatir: 28)

Ilmu bukan alat untuk merendahkan orang lain, tetapi untuk memperdalam rasa tunduk kepada Allah.

Sebaliknya, kesombongan justru menjadi sebab kejatuhan Iblis:

أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)

Kesombongan dalam konteks ini bukan sekadar menolak sujud, tetapi merasa lebih baik daripada yang lain.

Etika Dialog dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajarkan cara berdialog yang santun:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Hikmah dan nasihat yang baik tidak lahir dari hati yang merasa paling benar, tetapi dari jiwa yang tenang dan rendah hati.

Kebenaran dan Kerendahan Hati

Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, terlihat jelas bahwa kebenaran harus disampaikan dengan adab. Allah memerintahkan keadilan bahkan terhadap pihak yang berbeda:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Keadilan dan ketakwaan berjalan beriringan dengan kerendahan hati.

Menjadi Hamba, Bukan Hakim

Beragama sejatinya adalah perjalanan menjadi hamba, bukan menjadi hakim atas orang lain. Kita diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran, tetapi tidak diberi mandat untuk memastikan siapa yang paling benar di hadapan Allah.

Kerendahan hati membuat agama terasa teduh. Kesombongan membuatnya keras dan menakutkan.

Maka, di tengah perbedaan mazhab, pandangan, dan ekspresi keagamaan, marilah kita menjaga adab dan kejernihan hati. Sebab pada akhirnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui isi dada, dan hanya kepada-Nya kita semua akan kembali. (syahida)

Example 120x600