Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Perang Israel–Iran dan Posisi Indonesia di Tengah Lahirnya Dunia Multipolar

7
×

Perang Israel–Iran dan Posisi Indonesia di Tengah Lahirnya Dunia Multipolar

Share this article

Penulis:acank|Editor:asyary

Jakarta|PPMIndoenesia.com- Konflik antara Iran dan Israel yang terus meningkat tidak lagi sekadar persoalan regional Timur Tengah. Eskalasi militer yang melibatkan serangan rudal jarak jauh, drone, serta potensi keterlibatan kekuatan besar menjadikan perang ini sebagai salah satu krisis geopolitik paling penting dalam dekade terakhir.

Banyak analis mulai melihat konflik tersebut sebagai bagian dari perubahan besar dalam sistem internasional. Dalam wawancaranya dengan analis geopolitik Norwegia Glenn Diesen, mantan penasihat senior Departemen Pertahanan Amerika Serikat Douglas Macgregor bahkan menyebut konflik ini sebagai salah satu tanda bahwa dominasi global Amerika Serikat sedang menghadapi ujian serius.

Namun di luar pertarungan kekuatan besar tersebut, terdapat dimensi lain yang jarang dibahas: bagaimana posisi negara-negara Global South—termasuk Indonesia—dalam menghadapi perubahan geopolitik yang sedang berlangsung.

Ketika Timur Tengah Mengguncang Ekonomi Dunia

Sejak awal eskalasi konflik, dampaknya langsung terasa pada ekonomi global. Ketegangan di jalur energi strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dunia.

Harga energi yang melonjak dapat memicu inflasi global, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi dan stabilitas perdagangan internasional.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar isu geopolitik yang jauh dari wilayahnya. Sebagai negara dengan ekonomi yang sangat terintegrasi dengan perdagangan global, setiap gejolak di Timur Tengah dapat berdampak langsung pada harga energi, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi domestik.

Selain itu, kawasan Teluk—termasuk Uni Emirat Arab dan pusat perdagangan internasional di Dubai—merupakan salah satu mitra penting dalam jaringan perdagangan dan investasi global yang juga melibatkan banyak negara berkembang.

Dunia yang Bergerak Menuju Multipolaritas

Selama lebih dari tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, sistem internasional didominasi oleh satu kekuatan global utama. Namun berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir—dari konflik di Eropa hingga ketegangan di Timur Tengah—menunjukkan bahwa struktur kekuasaan global mulai mengalami perubahan.

Kekuatan-kekuatan baru seperti China dan India semakin memainkan peran strategis dalam politik internasional. Sementara negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mulai menunjukkan sikap yang lebih independen dalam menentukan arah kebijakan luar negeri mereka.

Fenomena ini sering disebut sebagai lahirnya dunia multipolar—sebuah sistem internasional di mana kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi pada satu negara atau blok tertentu.

Dalam konteks ini, konflik Israel–Iran bisa menjadi salah satu katalis yang mempercepat proses perubahan tersebut.

Peran Indonesia sebagai Kekuatan Moral Global South

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia serta salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi unik dalam dinamika geopolitik global.

Sejak masa kepemimpinan Soekarno, Indonesia telah menempatkan dirinya sebagai bagian penting dari perjuangan negara-negara berkembang melalui semangat solidaritas Global South yang tercermin dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.

Prinsip politik luar negeri “bebas dan aktif” yang diwariskan sejak era tersebut memberikan landasan bagi Indonesia untuk memainkan peran sebagai jembatan diplomasi dalam konflik global.

Dalam konteks konflik Israel–Iran, posisi ini menjadi semakin relevan. Indonesia tidak memiliki kepentingan militer langsung di kawasan tersebut, tetapi memiliki legitimasi moral untuk mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi internasional.

Lebih dari itu, Indonesia dapat berperan dalam memperkuat suara kolektif negara-negara Global South yang sering kali terpinggirkan dalam percaturan geopolitik global.

Tantangan Baru bagi Diplomasi Indonesia

Namun perubahan menuju dunia multipolar juga membawa tantangan yang tidak kecil.

Dalam sistem internasional yang semakin kompleks, negara-negara seperti Indonesia harus mampu menavigasi hubungan dengan berbagai kekuatan besar sekaligus. Ketegangan antara blok Barat dan kekuatan baru seperti China dan Rusia menciptakan dinamika geopolitik yang memerlukan diplomasi yang sangat hati-hati.

Indonesia perlu memastikan bahwa kepentingan nasional—baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun stabilitas kawasan—tetap terjaga tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki peluang untuk memperkuat peran sebagai pemimpin diplomatik di antara negara-negara berkembang.

Momentum bagi Kebangkitan Global South

Konflik global sering kali menciptakan penderitaan besar, tetapi dalam sejarah internasional ia juga sering menjadi pemicu perubahan struktur kekuasaan dunia.

Jika sistem internasional benar-benar bergerak menuju tatanan multipolar, negara-negara Global South memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan arah masa depan dunia.

Dalam konteks ini, Indonesia dapat memanfaatkan tradisi diplomasi damai dan pengalaman sejarahnya untuk memperkuat posisi sebagai kekuatan moral yang mendorong stabilitas global.

Perubahan geopolitik yang sedang terjadi mungkin tidak dapat dihindari. Namun bagaimana negara-negara berkembang merespons perubahan tersebut akan sangat menentukan bentuk tatanan dunia yang akan lahir di masa depan.

Penutup

Perang antara Iran dan Israel mungkin masih jauh dari titik akhir. Namun dampaknya sudah meluas hingga ke berbagai kawasan dunia, mempengaruhi ekonomi global, stabilitas politik, serta keseimbangan kekuatan internasional.

Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam geopolitik dunia sedang berlangsung.

Di tengah ketidakpastian tersebut, tantangan bagi Indonesia bukan hanya menjaga stabilitas nasional, tetapi juga menemukan cara untuk berperan aktif dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang—sebuah visi yang sejak lama menjadi bagian dari cita-cita negara-negara Global South. (acank)

Example 120x600