Transformasi Koperasi Pedagang Dorong Kebangkitan Ekonomi Pascarelokasi
Yogyakarta|PPMMIndonesia.com — Pengurus Koperasi Paguyuban Pedagang Kaki Lima Yogyakarta (KPPKLY) bersama Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Wilayah Yogyakarta menggelar pertemuan konsolidasi kelembagaan pada Sabtu (5/4/2026). Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan strategis untuk mentransformasikan koperasi menjadi koperasi serba usaha guna memperkuat keberlangsungan ekonomi pedagang pascarelokasi kawasan Malioboro.
Pertemuan dihadiri pengurus koperasi, pengurus PPM Wilayah Yogyakarta, serta Ketua Badan Wakaf Ummatan Wasathan. KPPKLY menaungi sekitar 4.000 pedagang, yang sebagian besar merupakan eks pedagang kaki lima kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta.
Dampak Relokasi terhadap Pedagang
Relokasi pedagang yang dilakukan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dukungan Dana Keistimewaan memindahkan pedagang dari lokasi lama, termasuk area bekas Gedung Bioskop Indra, menuju kawasan Beskalan dan Ketandan.
Penataan kawasan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas ruang publik Malioboro. Namun, dalam masa transisi, banyak pedagang mengalami penurunan jumlah pembeli serta omzet usaha akibat perubahan arus kunjungan wisatawan dan terbatasnya dukungan pemasaran pascarelokasi.
Kondisi tersebut mendorong pengurus dan anggota koperasi untuk melakukan penyesuaian strategi ekonomi berbasis kelembagaan koperasi.
Penyesuaian Pasca Perubahan Mitra Perbankan
KPPKLY sebelumnya beroperasi sebagai koperasi simpan pinjam yang bekerja sama dengan Bank Bukopin melalui program Swamitra Bukopin. Setelah perubahan kelembagaan menjadi KB Bukopin, kerja sama tersebut tidak lagi diperpanjang sehingga koperasi perlu melakukan penyesuaian model usaha.
Sebagai tindak lanjut, pengurus dan anggota sepakat mengubah status usaha koperasi menjadi koperasi serba usaha. KPPKLY akan segera menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) guna melakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Transformasi ini diharapkan memungkinkan koperasi menjalankan berbagai unit usaha yang langsung mendukung kebutuhan anggota, mulai dari penguatan pemasaran, penyediaan kebutuhan usaha, hingga dukungan permodalan.
Penguatan Kapasitas dan Pelatihan Pedagang
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme koperasi, pengurus merencanakan penyelenggaraan pelatihan kelembagaan koperasi serta pelatihan bagi pedagang dan pelaku UMKM anggota. Materi pelatihan meliputi manajemen usaha, pemasaran berbasis teknologi, serta pengelolaan keuangan usaha mikro.
Ketua Badan Wakaf Ummatan Wasathan, Parito, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci kebangkitan ekonomi lokal.
“Teknologi harus menjadi pemacu optimisme pedagang. Melalui pelatihan koperasi dan UMKM, diharapkan usaha ekonomi rakyat mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” ujarnya.
Kegiatan pelatihan ini juga direncanakan sebagai momentum mengenang jasa almarhum Adi Sasino dan almarhum Bustanul Arifin yang berperan dalam proses pendirian koperasi pedagang Malioboro.
Tugiyono Ketua Koperasi PPKLT berharap kegiatan tersebut dapat dihadiri Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan koperasi dan UMKM nasional.
Komitmen Kebangkitan Ekonomi Rakyat
Transformasi KPPKLY menjadi koperasi serba usaha diharapkan menjadi model penguatan ekonomi rakyat berbasis komunitas pedagang, khususnya dalam menghadapi perubahan tata kota, dinamika sektor pariwisata, serta perkembangan ekonomi digital.
Koperasi dipandang sebagai instrumen strategis untuk menjaga keberlanjutan usaha pedagang sekaligus memperkuat solidaritas ekonomi masyarakat kecil di kawasan Malioboro.(acank)



























