Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Ketika Rumah Gerakan Mulai Sepi

3
×

Ketika Rumah Gerakan Mulai Sepi

Share this article

Penulis: acank| Editor: asyary

Banyak organisasi sosial lahir dari idealisme besar, tetapi perlahan kehilangan energi ketika kader menjauh. Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi gerakan pemberdayaan masyarakat hari ini.

Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap gerakan sosial selalu memiliki “rumah”. Bukan sekadar kantor atau sekretariat, melainkan ruang perjumpaan gagasan, tempat tumbuhnya idealisme, dan sekolah kehidupan bagi para aktivisnya. Namun apa yang terjadi ketika rumah itu mulai sepi?

Pertanyaan ini relevan untuk membaca perjalanan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat yang pernah menjadi ruang pembibitan aktivis sosial, penggerak ekonomi rakyat, hingga tokoh nasional di berbagai bidang.

Empat dekade lebih perjalanan PPM menyimpan kisah panjang pengabdian. Tetapi hari ini, organisasi tersebut menghadapi realitas yang tidak mudah: rumah gerakan yang dahulu ramai kini terasa suny

Dari Gelombang Idealism e ke Keheningan

Pada masa awal berdirinya, PPM lahir dari kegelisahan sosial generasi muda terhadap ketimpangan pembangunan dan terbatasnya ruang partisipasi masyarakat. Aktivis mahasiswa, intelektual muda, dan tokoh masyarakat berkumpul membawa semangat dakwah bil hal—mengubah masyarakat melalui kerja nyata.

Rumah gerakan saat itu hidup. Diskusi berlangsung hingga larut malam. Program pemberdayaan tumbuh di desa, pasar, kampung kota, hingga komunitas marginal. Tidak ada sekat status sosial; semua datang sebagai pembelajar.

PPM menjadi “kawah candradimuka” yang menempa banyak kader. Dari ruang inilah lahir politisi nasional, pengusaha UMKM, aktivis koperasi, pendidik masyarakat, dan pemimpin komunitas di berbagai daerah.

Namun sejarah sering menghadirkan paradoks: ketika kader berhasil di luar, organisasi justru mulai kehilangan tenaga di dalam.

Ketika Sukses Tidak Lagi Kembali

Fenomena yang dihadapi PPM sebenarnya bukan kasus tunggal. Banyak organisasi gerakan mengalami hal serupa. Kader yang dahulu dibentuk oleh idealisme sosial kemudian memasuki dunia profesional, bisnis, atau politik—dan perlahan menjauh dari rumah asalnya.

Kesibukan baru, tuntutan karier, serta perubahan orientasi hidup membuat hubungan emosional dengan organisasi melemah.

Padahal, keberhasilan individu sejatinya merupakan hasil proses kolektif.

Di sejumlah organisasi besar Indonesia, tradisi “kembali ke rumah” tetap terjaga. Tokoh yang telah sukses tetap memberi kontribusi—baik pemikiran, jaringan, maupun dukungan sumber daya. Tradisi inilah yang menjaga keberlanjutan organisasi.

Ketika tradisi tersebut memudar, organisasi kehilangan regenerasi, program melemah, dan pembiayaan menjadi persoalan permanen.

Rumah gerakan pun mulai sepi.

Sepi Bukan Berarti Mati

Kesunyian organisasi sering disalahartikan sebagai akhir dari perjalanan. Padahal, dalam dinamika gerakan sosial, masa sepi justru bisa menjadi fase refleksi.

Sepi memberi kesempatan untuk bertanya kembali:

Apakah metode lama masih relevan?
Apakah kaderisasi masih berjalan?
Apakah gerakan masih menjawab kebutuhan masyarakat hari ini?

Dunia telah berubah. Masyarakat kini menghadapi tantangan baru: ekonomi digital, perubahan struktur kerja, urbanisasi, hingga meningkatnya individualisme sosial. Model pemberdayaan era 1980-an tentu tidak bisa sepenuhnya diterapkan pada konteks sekarang.

Karena itu, kebangkitan organisasi tidak cukup hanya dengan nostalgia sejarah. Ia membutuhkan pembaruan cara berpikir dan strategi gerakan.

Tidak Ada Alumni dalam Gerakan Sosial

Salah satu nilai penting yang diwariskan PPM adalah keyakinan bahwa kerja pemberdayaan masyarakat tidak mengenal istilah alumni. Gerakan sosial bukan fase kehidupan, melainkan panggilan sepanjang hayat.

Seseorang boleh berganti profesi, jabatan, atau bidang pengabdian, tetapi nilai pemberdayaan seharusnya tetap hidup.

Ketika mantan kader merasa tidak lagi memiliki keterikatan moral dengan organisasi, sesungguhnya yang hilang bukan hanya anggota, melainkan memori kolektif perjuangan.

Organisasi kehilangan pengalaman, jaringan, dan energi sosial yang sangat dibutuhkan untuk regenerasi.

Menghidupkan Kembali Rumah Bersama

Menghidupkan kembali rumah gerakan bukan sekadar soal struktur kepengurusan atau program kerja baru. Yang lebih mendasar adalah membangun ulang rasa memiliki.

Rumah akan ramai jika penghuninya merasa dibutuhkan.

PPM—dan banyak organisasi sosial lain—memerlukan generasi lama untuk kembali berbagi pengalaman, sekaligus memberi ruang bagi generasi baru membawa energi perubahan. Kepemimpinan kolektif, kaderisasi terbuka, serta gerakan berbasis kebutuhan nyata masyarakat menjadi kunci kebangkitan.

Rumah gerakan tidak membutuhkan tokoh besar, tetapi kehadiran banyak orang yang bersedia berjalan bersama.

Penutup

Ketika rumah gerakan mulai sepi, itu bukan sekadar masalah organisasi. Ia adalah cermin perubahan zaman dan perubahan manusia di dalamnya.

Pertanyaannya bukan apakah organisasi masih relevan, melainkan apakah para kader masih merasa memiliki rumah itu.

Sebab sebuah gerakan tidak runtuh karena kekurangan sejarah, melainkan karena kehilangan orang-orang yang bersedia menjaganya tetap hidup. (acank)

Example 120x600