Membaca Ulang Konflik Sunni–Syiah dalam Cahaya
JAKARTA, PPMIndonesia.com – Perjalanan terakhir Rasulullah ﷺ dalam Haji Wada‘ merupakan momentum yang sangat penting dalam sejarah Islam. Di hadapan puluhan ribu kaum Muslimin, beliau menyampaikan pesan-pesan terakhir yang menegaskan kesucian jiwa, persaudaraan, keadilan, dan ketakwaan.
Namun, tidak lama setelah Rasulullah wafat, umat Islam memasuki babak baru sejarah yang penuh dinamika. Perbedaan mengenai kepemimpinan berkembang menjadi perdebatan teologis, lalu menjelma menjadi identitas politik dan mazhab yang bertahan hingga berabad-abad. Konflik yang kemudian dikenal sebagai pertentangan Sunni–Syiah meninggalkan jejak panjang, bahkan hingga berbagai peperangan modern di kawasan Timur Tengah, khususnya di Irak.
Tulisan ini tidak bermaksud mengadili salah satu mazhab ataupun menguatkan narasi kelompok tertentu. Sebaliknya, melalui pendekatan **Qur’an bil Qur’an**, Kajian Syahida mengajak pembaca kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama untuk memahami bagaimana Allah mengarahkan umat menghadapi perbedaan.
Haji Wada’: Pesan Persatuan yang Terlupakan
Haji Wada’ merupakan peristiwa monumental yang menandai hampir berakhirnya misi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Tidak lama setelah itu turun firman Allah:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا**
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesempurnaan agama telah ditetapkan oleh Allah melalui wahyu. Kesempurnaan tersebut menjadi landasan bagi umat dalam menjalani kehidupan setelah wafatnya Rasulullah.
Perbedaan yang Berubah Menjadi Konflik
Sesudah Rasulullah wafat, muncul perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat. Dalam perkembangan sejarah, perbedaan ini semakin kompleks karena bercampur dengan dinamika politik, kepentingan kekuasaan, dan interpretasi keagamaan.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa perpecahan merupakan salah satu ujian terbesar bagi umat.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)**
Ayat ini menempatkan “tali Allah” sebagai titik temu umat. Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, tali Allah dipahami sebagai wahyu yang diturunkan-Nya, yakni Al-Qur’an, yang menjadi pedoman bersama bagi seluruh kaum beriman.
Ketika Sejarah Menjadi Identitas**
Salah satu persoalan besar yang diwariskan sejarah adalah kecenderungan menjadikan konflik masa lalu sebagai identitas keagamaan.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ
“Itu adalah umat yang telah berlalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan, dan bagimu apa yang kamu usahakan.”(QS. Al-Baqarah [2]: 134)**
Ayat ini mengajarkan agar sejarah dipelajari sebagai pelajaran, bukan diwariskan sebagai kebencian.
Umat Islam masa kini tidak memikul dosa generasi terdahulu, sebagaimana mereka juga tidak mewarisi pahala hanya karena hubungan sejarah.
Al-Qur’an Menolak Fanatisme Golongan
Perpecahan tidak berhenti pada perbedaan pendapat. Ia menjadi berbahaya ketika berubah menjadi fanatisme.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk bagian dari mereka sedikit pun.”(QS. Al-An’am [6]: 159)**
Dan pada ayat lain:
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”(QS. Ar-Rum [30]: 32)**
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa fanatisme kelompok merupakan penyakit yang telah diperingatkan Al-Qur’an sejak awal.
Irak: Ketika Luka Sejarah Menjadi Luka Kemanusiaan**
Irak menjadi salah satu contoh bagaimana konflik politik, identitas mazhab, dan kepentingan geopolitik dapat saling bertemu dan memperpanjang penderitaan masyarakat.
Kajian ini tidak bermaksud menyederhanakan konflik yang kompleks, tetapi mengingatkan bahwa ketika identitas keagamaan diperalat untuk kepentingan politik, korban utamanya adalah rakyat yang kehilangan keamanan, persaudaraan, dan masa depan.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.”(QS. Al-Anfal [8]: 46)
Perpecahan melemahkan umat, baik secara moral maupun sosial.
Qur’an bil Qur’an: Jalan Kembali kepada Wahyu
Ketika umat menghadapi perbedaan, Al-Qur’an memberikan mekanisme penyelesaiannya.
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”*(QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Dalam perspektif Kajian Syahida, kembali kepada Allah berarti kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama petunjuk. Sedangkan kembali kepada Rasul berarti kembali kepada risalah yang beliau sampaikan dan teladan yang sejalan dengan wahyu.
Dengan demikian, penyelesaian konflik tidak dibangun di atas kemenangan satu kelompok, tetapi di atas kesediaan seluruh umat menjadikan wahyu sebagai titik temu.
Refleksi Syahida: Mewarisi Al-Qur’an, Bukan Permusuhan**
Sejarah adalah guru yang penting, tetapi bukan kitab suci.
Mazhab adalah hasil ijtihad manusia, tetapi bukan wahyu.
Tokoh-tokoh besar layak dihormati, tetapi tidak boleh menggantikan otoritas Allah.
Kajian Syahida mengajak umat Islam membedakan antara agama yang diturunkan Allah dan sejarah yang dibangun manusia. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak boleh disamakan.
Warisan terbaik Rasulullah bukanlah konflik yang terus diwariskan, melainkan Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.
Penutup: Dari Sejarah Menuju Persaudaraan
Haji Wada’ merupakan simbol kesempurnaan risalah, sedangkan berbagai konflik setelahnya adalah bagian dari perjalanan sejarah manusia.
Al-Qur’an mengajak kita untuk tidak terjebak dalam luka masa lalu, melainkan membangun masa depan berdasarkan nilai-nilai wahyu.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Persaudaraan inilah yang seharusnya menjadi warisan utama umat Islam.
Apabila setiap generasi lebih memilih mewarisi Al-Qur’an daripada mewarisi permusuhan, maka harapan untuk membangun umat yang bersatu, adil, dan penuh kasih sayang akan selalu terbuka. (A Mohammed)




























