Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Al-Qur’an Menolak Hadits Lain?

2
×

Mengapa Al-Qur’an Menolak Hadits Lain?

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran, Penulis ; a mohammed

JAKARTA, PPMIndonesia.com– Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang mengandung pertanyaan yang sangat menarik sekaligus menggugah: “Maka kepada hadits apakah setelah ini mereka akan beriman?”

Pertanyaan ini muncul berulang kali dalam berbagai redaksi dan konteks. Bagi sebagian pembaca, ayat-ayat tersebut tampak sebagai penegasan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya sumber otoritas wahyu yang harus dijadikan pegangan.

Namun bagi yang lain, ayat-ayat itu dipahami sebagai kritik terhadap perkataan-perkataan yang bertentangan dengan wahyu, bukan penolakan terhadap seluruh tradisi riwayat.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida), artikel ini mencoba menelusuri bagaimana Al-Qur’an menggunakan istilah hadits, bagaimana ia menempatkan dirinya sebagai Ahsanal-Hadits (perkataan terbaik), serta apa makna pertanyaan-pertanyaan Qur’ani yang mengarahkan manusia agar berhati-hati terhadap berbagai otoritas perkataan selain wahyu.

Al-Qur’an dan Makna Hadits

Dalam bahasa Arab, kata ḥadīts (حديث) secara umum berarti perkataan, berita, cerita, kabar, atau narasi. Karena itu, ketika kata ini muncul di dalam Al-Qur’an, maknanya tidak selalu identik dengan pengertian teknis “hadits Nabi” sebagaimana dikenal dalam disiplin ilmu hadits yang berkembang kemudian.

Al-Qur’an menggunakan kata hadits dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah untuk menyebut firman Allah sendiri.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu sebuah Kitab yang serupa lagi berulang-ulang…” (QS. Az-Zumar [39]: 23)

Ayat ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Ahsanal-Hadits, perkataan atau narasi terbaik yang diturunkan kepada manusia.

Jika Allah sendiri menyebut Al-Qur’an sebagai hadits terbaik, maka pertanyaannya adalah: apakah masih ada perkataan lain yang memiliki otoritas setara dengannya?

Pertanyaan yang Berulang: Hadits Apa Lagi Setelah Al-Qur’an?

Di beberapa tempat, Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang hampir serupa.

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar; maka kepada perkataan apa lagi setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka akan beriman?”(QS. Al-Jatsiyah [45]: 6)

Dan juga:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Maka kepada hadits apakah setelah ini mereka akan beriman?” (QS. Al-Mursalat [77]: 50)

Pertanyaan ini bukan sekadar gaya bahasa retoris. Dalam metode Syahida, pengulangan sebuah tema menunjukkan adanya pesan penting yang ingin ditegaskan Al-Qur’an.

Ayat-ayat tersebut mengarahkan perhatian kepada satu prinsip dasar: setelah datangnya wahyu Allah, tidak ada perkataan yang boleh menggeser posisi wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi.

Dengan kata lain, Al-Qur’an sedang membangun hierarki otoritas. Semua perkataan manusia berada di bawah wahyu, bukan sebaliknya.

Ketik Narasi Menjadi Alat Penyimpangan

Peringatan Al-Qur’an terhadap otoritas perkataan tidak berhenti di situ. Dalam Surah Luqman, Allah memperingatkan adanya bentuk hadits yang justru menjauhkan manusia dari jalan-Nya.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu…” (QS. Luqman [31]: 6)

Istilah lahwal-hadits berarti perkataan, cerita, atau narasi yang melalaikan. Al-Qur’an tidak menjelaskan bentuknya secara spesifik, sehingga maknanya menjadi lebih luas.

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, ayat ini mengandung peringatan bahwa tidak semua narasi yang beredar di tengah masyarakat memiliki nilai petunjuk. Bahkan sebagian dapat berfungsi sebaliknya: mengaburkan kebenaran dan menggeser perhatian manusia dari wahyu.

Rasul dan Fungsi Penyampaian Wahyu

Salah satu alasan mengapa isu otoritas perkataan menjadi penting adalah karena ia berkaitan dengan kedudukan Rasulullah sendiri.

Al-Qur’an berulang kali menjelaskan tugas Rasul.

مَّا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ

“Tidak ada kewajiban atas Rasul selain menyampaikan.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 99)

Dan:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِن رَّبِّي

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.” (QS. Al-A’raf [7]: 203)

Demikian pula:

قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Yunus [10]: 15)

Ayat-ayat ini menggambarkan Rasul sebagai pribadi yang tunduk kepada wahyu. Beliau tidak tampil sebagai pembuat ajaran independen, melainkan sebagai penyampai dan pelaksana wahyu yang diterimanya.

Wahyu atau Pendapat Pribadi?

Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ۝ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ۝ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami akan memegangnya dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat jantungnya.” (QS. Al-Haqqah [69]: 44-46)

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan mengatasnamakan Allah dalam urusan agama.

Dalam perspektif Syahida, ayat tersebut mengajarkan bahwa setiap klaim keagamaan harus memiliki landasan yang jelas dari wahyu, bukan sekadar tradisi, asumsi, atau otoritas manusia.

Ketaatan kepada Rasul dan Ketaatan kepada Wahyu

Sebagian pihak berpendapat bahwa karena Al-Qur’an memerintahkan ketaatan kepada Rasul, maka seluruh perkataan yang dinisbatkan kepada beliau otomatis memiliki otoritas agama.

Namun Al-Qur’an sendiri memberikan konteks terhadap ketaatan itu.

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”(QS. An-Nisa [4]: 80)

Mengapa menaati Rasul sama dengan menaati Allah?

Karena Rasul menyampaikan wahyu Allah.

Ketaatan kepada Rasul dalam Al-Qur’an tidak dipisahkan dari misi kerasulannya sebagai pembawa risalah. Oleh sebab itu, ketaatan kepada Rasul pada hakikatnya adalah ketaatan kepada pesan Ilahi yang beliau bawa.

Tauhid dan Otoritas Perkataan

Dalam kajian Syahida, persoalan hadits pada akhirnya bukan semata persoalan sejarah, melainkan persoalan tauhid.

Siapakah sumber otoritas tertinggi dalam agama?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”(QS. Yusuf [12]: 40)

Dan:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا

“Apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dia yang telah menurunkan kepadamu Kitab yang terperinci?”(QS. Al-An’am [6]: 114)

Ayat-ayat ini mengembalikan seluruh perdebatan kepada satu prinsip utama: otoritas tertinggi berada pada Allah dan wahyu-Nya.

Refleksi Penutup

Melalui pembacaan Qur’an bil Qur’an, tampak bahwa Al-Qur’an secara konsisten menempatkan dirinya sebagai pusat petunjuk dan sumber kebenaran yang harus menjadi rujukan utama umat beriman. Ia menyebut dirinya sebagai Ahsanal-Hadits, mengingatkan manusia terhadap lahwal-hadits, dan berulang kali mengajukan pertanyaan reflektif: “Kepada hadits apa lagi setelah ini mereka akan beriman?”

Kajian ini tidak dimaksudkan untuk menghapus sejarah intelektual Islam atau menafikan peran tradisi riwayat dalam peradaban Muslim. Namun, Al-Qur’an mengajak setiap orang beriman untuk terus menimbang seluruh perkataan, pendapat, dan tradisi dengan ukuran wahyu yang diturunkan Allah.

Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan Al-Qur’an bukanlah tentang siapa yang berbicara, melainkan apakah perkataan itu sejalan dengan petunjuk Allah atau justru menggeser manusia dari jalan-Nya.

Di situlah letak pesan tauhid yang paling mendasar: menjadikan wahyu Allah sebagai rujukan tertinggi dalam berpikir, beriman, dan beragama. Wallāhu a‘lam. (A mohammed)

Example 120x600