Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apakah Semua Hadits Mengikat? Menjawabnya dengan Al-Qur’an

4
×

Apakah Semua Hadits Mengikat? Menjawabnya dengan Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida. Quran bil Quran; Oleh: syahida

“Kembalilah kepada Al-Qur’an”

JAKARTA.PPMIndonesia.com. Di tengah dinamika pemikiran Islam, salah satu pertanyaan yang terus muncul adalah: apakah semua hadits mengikat setiap Muslim sebagaimana Al-Qur’an mengikat?

Bagi mayoritas ulama Ahlusunah, hadits sahih merupakan sumber ajaran kedua setelah Al-Qur’an. Sementara itu, sebagian pemikir Qur’an-sentris berpendapat bahwa seluruh ajaran normatif harus diuji terlebih dahulu dengan Al-Qur’an dan bahwa otoritas riwayat tidak boleh ditempatkan sejajar dengan wahyu.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut sejarah periwayatan, melainkan juga menyentuh persoalan epistemologi: bagaimana Al-Qur’an sendiri mengajarkan umat memahami sumber petunjuk?

Kajian Qur’an bil Qur’an berusaha menjawab pertanyaan itu dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai penafsir utama bagi dirinya sendiri.

 

Al-Qur’an Menempatkan Diri sebagai Petunjuk yang Sempurna

Allah berfirman:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا

“Apakah patut aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab yang terperinci kepadamu?” (QS. Al-An’am [6]: 114)

Dan:

 وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

“Telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan benar dan adil; tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.”

(QS. Al-An’am [6]: 115)

Ayat-ayat ini menjadi dasar bagi pandangan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai rujukan utama dan standar penilaian bagi seluruh pemahaman keagamaan.

Apa yang Dimaksud “Hadits” dalam Al-Qur’an?

Secara bahasa, hadits berarti perkataan, berita, atau narasi. Al-Qur’an menggunakan istilah ini dalam beberapa konteks.

Misalnya:

 اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu sebuah Kitab yang serupa lagi berulang-ulang…”
(QS. Az-Zumar [39]: 23)

Di sini, Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Ahsanal-Hadits (perkataan yang paling baik). Bagi pendekatan Qur’an bil Qur’an, ayat ini menegaskan posisi istimewa wahyu sebagai tolok ukur utama

Pertanyaan Retoris tentang “Hadits Setelah Al-Qur’an”

Al-Qur’an juga mengajukan pertanyaan berikut:

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar. Maka kepada perkataan apa lagi setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka akan beriman?”

(QS. Al-Jatsiyah [45]: 6)

Dan:

 فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Maka kepada perkataan apakah setelah ini mereka akan beriman?” (QS. Al-Mursalat [77]: 50)

Di sinilah muncul perbedaan pembacaan. Sebagian mufasir memahami ayat ini sebagai kecaman terhadap orang yang menolak Al-Qur’an. Sementara sebagian pembaca Qur’an-sentris melihatnya sebagai penegasan bahwa tidak ada perkataan apa pun yang dapat menempati posisi setara dengan wahyu.

Terlepas dari perbedaan tersebut, keduanya sepakat bahwa Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang memiliki otoritas tertinggi.

Rasul dan Tugas Menyampaikan Wahyu

Al-Qur’an menjelaskan fungsi Rasul sebagai penyampai risalah.

> مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ

“Tidak ada kewajiban atas Rasul selain menyampaikan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 99)

Kemudian Allah memerintahkan Nabi mengatakan:

 قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah: Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An’am [6]: 50)

Sementara itu, ayat:

> وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dia tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Apa yang disampaikannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm [53]: 3–4)

Umumnya dipahami dalam tradisi tafsir sebagai merujuk pada penyampaian wahyu. Perdebatan kemudian muncul mengenai bagaimana mengaitkan ayat-ayat ini dengan riwayat-riwayat tentang perkataan dan tindakan Nabi di luar konteks penyampaian Al-Qur’an.

Apakah Semua Riwayat Memiliki Tingkat Otoritas yang Sama?

Dalam disiplin ilmu hadits sendiri, para ulama tidak menempatkan semua riwayat pada derajat yang sama. Mereka mengembangkan metodologi untuk membedakan hadits sahih, hasan, dhaif, bahkan maudhu’ (palsu). Hal ini menunjukkan adanya kesadaran sejak awal bahwa proses periwayatan memerlukan penelitian dan kritik.

Karena itu, pertanyaan “apakah semua hadits mengikat?” tidak dijawab secara sederhana dengan “ya” atau “tidak”. Jawabannya bergantung pada pendekatan yang digunakan.

Bagi mayoritas ulama, hadits yang sahih dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an memiliki otoritas normatif. Sementara dalam pendekatan Qur’an-sentris, setiap riwayat harus terlebih dahulu diuji dengan Al-Qur’an sebagai standar tertinggi sebelum dijadikan dasar ajaran.

Tauhid dan Hierarki Otoritas

Inti persoalan bukanlah mempertentangkan Al-Qur’an dengan sunnah, melainkan menjaga hierarki otoritas.

Allah berfirman:

> إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum hanyalah hak Allah.”
(QS. Yusuf [12]: 40)

Ayat ini mengingatkan bahwa sumber hukum dan petunjuk pada akhirnya berasal dari Allah. Dalam kerangka tersebut, Al-Qur’an menjadi ukuran utama untuk memahami berbagai sumber keagamaan lainnya.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai Titik Temu

Perdebatan mengenai kedudukan hadits telah berlangsung sejak masa awal Islam dan melahirkan beragam tradisi keilmuan. Kajian Qur’an bil Qur’an tidak dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan itu, melainkan mengajak umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai titik temu.

Jika Al-Qur’an adalah petunjuk yang sempurna, maka seluruh upaya memahami agama semestinya dimulai darinya dan diuji dengannya. Tradisi riwayat dapat dipandang sebagai bagian penting dari khazanah intelektual Islam, tetapi penilaiannya tetap memerlukan ukuran yang jelas.

Dengan demikian, pertanyaan “apakah semua hadits mengikat?” dapat menjadi pintu menuju refleksi yang lebih mendasar: sudahkah kita menempatkan Al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam memahami seluruh ajaran agama?

Itulah pertanyaan yang layak terus dihidupkan, bukan untuk memperlebar perbedaan, melainkan untuk memperdalam komitmen bersama terhadap wahyu sebagai petunjuk hidup ( syahida)

Example 120x600