Scroll untuk baca artikel
BeritaTokoh

Sebelas Tahun Mengenang Ali Mustafa Trajustina (AMT): Sang Pemikir “Out of the Box” yang Menghidupkan Semangat PPM

3
×

Sebelas Tahun Mengenang Ali Mustafa Trajustina (AMT): Sang Pemikir “Out of the Box” yang Menghidupkan Semangat PPM

Share this article

Redaksi ppmindonesia. Editor: asyary

Manusia boleh berpulang, tetapi gagasan, keteladanan, dan perjuangannya akan terus hidup di dalam sejarah.”

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Sebelas tahun telah berlalu sejak Ali Mustafa Trajustina, yang akrab disapa Mas Ali, berpulang memenuhi panggilan Allah SWT. Kepergian salah satu tokoh sekaligus aktor perintis Organisasi Peranserta Masyarakat (PPM) meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para aktivis pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.

Namun waktu tidak pernah mampu menghapus jejak pengabdiannya. Gagasan, ilmu, semangat membangun PPM, serta keteladanan yang diwariskannya terus hidup dalam ingatan para kader dan aktivis. Hingga hari ini, pemikiran-pemikirannya masih menjadi bahan diskusi, sumber inspirasi, dan rujukan dalam merumuskan strategi pemberdayaan masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai keadilan, kemandirian, dan partisipasi.

Mas Ali telah tiada. Akan tetapi, warisan intelektual dan semangat perjuangannya tetap menyala, mengiringi perjalanan mereka yang melanjutkan cita-cita besar membangun masyarakat yang berdaya dan bermartabat.

Perintis Gerakan Pemberdayaan

Dalam sejarah panjang PPM, nama Ali Mustafa Trajustina merupakan salah satu figur penting yang ikut membangun fondasi gerakan. Ia tidak hanya hadir sebagai organisator, tetapi juga sebagai pemikir yang selalu mendorong PPM agar melampaui pola-pola pemberdayaan yang bersifat administratif dan sesaat.

Bagi Mas Ali, pemberdayaan masyarakat adalah proses membangun manusia, membangun kesadaran, dan membangun peradaban. Karena itu, hampir setiap persoalan selalu ia lihat dari sudut pandang yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan masalah jangka pendek.

Banyak sahabat menyebutnya sebagai seorang pemikir “out of the box”—berani keluar dari cara berpikir yang lazim dan melihat masa depan jauh sebelum orang lain membicarakannya.

Persahabatan yang Ditempa oleh Perdebatan

Salah satu kisah yang paling sering dikenang adalah persahabatannya dengan almarhum Cak Husni Nasution.

Menurut Rohim Nasution, hubungan keduanya sangat unik.

Mas Ali memanggil Husni dengan sebutan “Cak, sebagaimana ia menghormati Cak Fa’i dari APKLI.

Namun hubungan mereka jauh dari sekadar saling menyapa.

Hampir setiap pertemuan berubah menjadi arena diskusi panjang.

Perdebatan dapat berlangsung sejak pagi, berlanjut siang, sore, bahkan malam hari apabila persoalan belum menemukan titik temu.

Bagi mereka, berbeda pendapat bukanlah alasan untuk bermusuhan.

Justru melalui perbedaan itulah lahir gagasan-gagasan baru.

Perdebatan menjadi cara mereka saling mengasah pikiran.

Sang Motor Penggerak

Dalam setiap kegiatan PPM, Mas Ali hampir selalu menjadi motor penggerak.

Ia dikenal memiliki dua orang yang selalu berada di dekatnya, yakni Mas Yudha dan Mas Hery Mulyantoro, suami Mbak Ira.

Mas Yudha sering mendapat panggilan khas yang masih dikenang banyak orang.

“Yud… Yud…”

Begitulah suara Mas Ali memanggilnya.

Dengan nada setengah merayu namun penuh keyakinan, ia berkata,

“Yang bisa cuma kamu… kamu ahlinya.”

Cara memimpin seperti itu membuat orang merasa dipercaya, bukan diperintah.

Mas Ali lebih senang membangun kepercayaan daripada sekadar memberi instruksi.

Persahabatan yang Melintasi Benua

Sedikit orang mengetahui bahwa keluarga Mas Ali memiliki hubungan persahabatan dengan **Ann Dunham Soetoro**, ibu dari Barack Obama.

Pada era 1980-an, ketika berbagai program pemberdayaan masyarakat berkembang bersama PPM di Yogyakarta, Ann beberapa kali datang ke kantor PPM di Jalan Solo dan berinteraksi dengan para aktivis.

Mbak Nunik, istri Mas Ali, mengenang bahwa setelah Ann kembali ke Honolulu, hubungan persahabatan itu tidak pernah putus.

Kotak-kotak cokelat masih sering dikirimkan dari Amerika.

Bahkan dua buah boneka pernah dikirim khusus untuk kedua putri mereka, Iyut dan Nadia.

Yang paling membekas adalah ucapan Ann kepada Mbak Nunik,

“Anak saya bercita-cita menjadi Presiden Amerika. Tidak ada yang percaya, kecuali saya dan Ali Mustafa.”

Waktu kemudian membuktikan bahwa keyakinan seorang ibu dan optimisme seorang sahabat benar-benar menjadi kenyataan ketika Barack Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Sang Maestro yang Pelupa

Di balik kecerdasannya, Mas Ali juga dikenal memiliki sisi unik yang mengundang senyum.

Suatu ketika ia mengaku lupa lokasi taman kanak-kanak putrinya sendiri.

Pernah pula ia kebingungan mengingat alamat kos anaknya sewaktu kuliah.

Yang paling sering diceritakan keluarga adalah ketika Nadia sebenarnya sudah duduk di bangku SMA.

Namun Mas Ali masih mengira putrinya bersekolah di SMP.

Saat diminta menjemput Nadia, ia justru menuju sekolah lama.

Mbak Nunik hanya bisa tertawa,

“Hah… SMA mana?”

Bagi orang-orang terdekatnya, kejadian-kejadian itu justru memperlihatkan betapa pikirannya sering dipenuhi berbagai gagasan besar sehingga urusan kecil terkadang terlewat.

Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Menurut Rohim Nasution, Mas Ali adalah sosok yang pikirannya selalu melampaui zamannya.

Ia senang membahas perubahan geopolitik, ekonomi global, masa depan peradaban, perkembangan teknologi, hingga perubahan karakter antargenerasi.

Ia sering mengajak sahabat-sahabatnya melihat persoalan dari sudut pandang yang tidak biasa.

Karena itulah Cak Husni pernah menyebutnya sebagai seorang pemikir yang selalu berpikir beberapa langkah lebih maju dibanding zamannya.

Tidak semua orang selalu sepakat dengan pandangannya.

Namun hampir semua mengakui bahwa Mas Ali mampu memancing orang untuk berpikir lebih dalam.

Ketelitian Seorang Pengamat

Mas Ali juga memiliki kemampuan mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.

Rohim Nasution mengenang ketika mereka menghadiri Seminar Internasional Al-Qur’an, Sains, dan IPTEK bersama Prof. Wardiman Djojonegoro.

Sebelum acara selesai, Mas Ali berbisik,

“Perhatikan Ibu Ainun. Kalau mulai tampak gelisah dan menepuk-nepuk tangannya, biasanya pembicara segera mengakhiri pidatonya.”

Ia bahkan memperhatikan bahasa tubuh tokoh-tokoh nasional lainnya.

Baginya, gerak tubuh adalah bahasa.

Ekspresi adalah pesan.

Dan setiap detail memiliki makna.

Kesederhanaan yang Mengesankan

Mbak Nunik mengenang banyak kebiasaan unik suaminya.

Suatu ketika, baru pulang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Tarakan Jakarta, Mas Ali justru mengajak istrinya menonton film *Habibie & Ainun*.

Pada kesempatan lain, ketika akan menghadiri seminar internasional di Bandung, mereka hanya sempat sikat gigi, cuci muka, memakai parfum, lalu langsung berangkat menemui Prof. Wardiman.

Baginya, substansi jauh lebih penting daripada penampilan.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Sebelas tahun sejak kepergiannya, nama Ali Mustafa Trajustina tetap hidup dalam perjalanan PPM.

Ia bukan hanya dikenang sebagai aktivis.

Ia dikenang sebagai guru, sahabat, motivator, penggerak, sekaligus pemikir yang telah meletakkan banyak fondasi bagi gerakan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Warisan terbesar Mas Ali bukanlah jabatan ataupun penghargaan.

Warisan itu adalah keberanian untuk berpikir merdeka, kesediaan berdialog tanpa memutus persaudaraan, serta keyakinan bahwa perubahan sosial harus dibangun melalui pemberdayaan manusia.

Para sahabat boleh telah berpisah oleh ruang dan waktu.

Sebagian telah kembali ke hadirat Allah SWT.

Namun setiap kali PPM berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, nama Ali Mustafa Trajustina akan selalu hadir sebagai bagian dari sejarah yang tidak terpisahkan.

Selamat jalan, Mas Ali.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu bersama orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Al-Fatihah. (ppmindonesia)

Example 120x600