“Jika manusia menerima tubuhnya sebagai ciptaan Allah, mengapa ia ragu menerima sistem kehidupan yang diturunkan oleh-Nya?”
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Dunia modern sedang mengalami paradoks. Peradaban manusia mencapai kemajuan luar biasa dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi. Namun di balik kemajuan itu, dunia juga menghadapi krisis moral, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan hilangnya makna hidup.
Mengapa hal itu terjadi?
Al-Qur’an mengajak manusia melihat persoalan dari akar yang lebih dalam: krisis sistem kehidupan. Menurut Al-Qur’an, manusia diciptakan bukan hanya dengan tubuh dan akal, tetapi juga diberi petunjuk berupa dīn—jalan hidup atau sistem yang membimbingnya menuju kehidupan yang adil, seimbang, dan bermakna.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita menemukan bahwa Islam bukan sekadar identitas keagamaan atau kumpulan ritual, melainkan sistem kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta.
Allah Tidak Hanya Menciptakan Manusia, tetapi Juga Menurunkan Petunjuk
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah bukan sekadar Pencipta alam semesta, tetapi juga Pemberi petunjuk bagi ciptaan-Nya.
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) lalu memberi petunjuk.”
(QS. Al-A’la [87]: 2–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan (khalq) selalu disertai dengan petunjuk (hudā). Allah tidak membiarkan manusia menjalani kehidupan tanpa arah.
Apa Makna Dīn dalam Al-Qur’an?
Salah satu kata kunci yang perlu dipahami adalah الدين (ad-dīn).
Dalam banyak terjemahan, kata ini diterjemahkan sebagai “agama”. Namun penggunaan Al-Qur’an menunjukkan bahwa maknanya juga mencakup tata aturan, sistem, hukum, dan jalan hidup.
Perhatikan firman Allah dalam kisah Nabi Yusuf:
مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali apabila Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf [12]: 76)
Dalam konteks ini, dīn al-malik berarti sistem hukum kerajaan Mesir. Penggunaan ini menunjukkan bahwa kata dīn dalam Al-Qur’an memiliki cakupan makna yang lebih luas daripada sekadar ritual ibadah.
Karena itu, ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa ad-dīn di sisi Allah adalah Islam, sebagian mufasir memahaminya sebagai jalan hidup yang bersumber dari Allah, selain tentu sebagai agama yang diridai-Nya.
Islam: Jalan Hidup yang Diridai Allah
Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah ialah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam merupakan dīn yang diridai Allah.
Secara bahasa, Islam berasal dari akar kata س ل م yang mengandung makna damai, selamat, dan berserah diri. Karena itu, hakikat Islam adalah kehidupan yang dibangun di atas kepatuhan kepada petunjuk Allah.
Hal ini dipertegas oleh firman-Nya:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا
“Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri semua yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 83)
Seluruh alam semesta tunduk kepada hukum Allah. Planet, bintang, lautan, dan seluruh makhluk berjalan sesuai sunnatullah. Manusia diberi kebebasan memilih, tetapi kebebasan itu disertai tanggung jawab untuk mengikuti petunjuk-Nya.
Sistem yang Dibawa Seluruh Nabi
Islam bukanlah sistem yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
Al-Qur’an menjelaskan:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, yang Kami wahyukan kepadamu, dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura [42]: 13)
Ayat ini menunjukkan adanya kesinambungan risalah. Semua nabi mengajak manusia kepada tauhid, keadilan, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi sistem kehidupan yang berasal dari Allah.
Kesempurnaan Agama: Kesempurnaan Petunjuk
Pada akhir fase turunnya wahyu, Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Kesempurnaan agama pada ayat ini dipahami oleh mayoritas ulama sebagai sempurnanya syariat dan petunjuk yang Allah turunkan. Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an menjadi pedoman utama yang membimbing hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam.
Ketika Sistem Buatan Manusia Mendominasi
Sejarah memperlihatkan bahwa manusia terus mengembangkan berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial. Sebagian membawa kemajuan pada aspek tertentu, tetapi tidak sedikit yang juga melahirkan ketimpangan, penindasan, atau kerusakan ketika kehilangan landasan moral.
Al-Qur’an mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”(QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini mengajak manusia melakukan evaluasi diri: apakah sistem yang dibangun telah selaras dengan nilai-nilai keadilan, amanah, dan keseimbangan yang diajarkan Allah?
Islam dan Misi Membangun Peradaban
Islam tidak berhenti pada ibadah individual. Al-Qur’an mengaitkan iman dengan keadilan, kasih sayang, amanah, dan tanggung jawab sosial.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Karena itu, Islam sebagai dīn tidak hanya mengarahkan manusia kepada keselamatan akhirat, tetapi juga mendorong lahirnya masyarakat yang adil, bermartabat, dan berkeadaban.
Kembali kepada Petunjuk Sang Pencipta
Ketika manusia membeli sebuah perangkat, ia akan membaca buku petunjuk dari pembuatnya agar perangkat itu berfungsi dengan baik. Demikian pula kehidupan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa Sang Pencipta tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga menurunkan petunjuk agar manusia dapat menjalani hidup sesuai fitrahnya.
Islam adalah ajakan untuk hidup dalam kepasrahan kepada Allah melalui nilai-nilai tauhid, keadilan, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Dengan memahami Islam sebagai jalan hidup yang menyeluruh, umat diharapkan tidak berhenti pada ritual, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam keluarga, pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan kehidupan bermasyarakat.
Di tengah krisis dunia modern, pesan Al-Qur’an tetap relevan: petunjuk dari Sang Pencipta adalah cahaya yang menuntun manusia membangun peradaban yang berkeadilan dan penuh rahmat.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
Redaksi Kajian Syahida – PPM Indonesia
“Qur’an bil Qur’an: Menggali petunjuk Al-Qur’an dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai penafsir utamanya, demi membangun masyarakat yang beriman, berkeadilan, dan berperadaban.”





























