Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Jejak Pemikiran Ali Mustafa Trajustina dalam Membangun Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

6
×

Jejak Pemikiran Ali Mustafa Trajustina dalam Membangun Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Share this article

Redaksi ppmindonesia. Editor: asyary

“Sebuah organisasi tidak dibangun oleh orang-orang yang sekadar bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu melahirkan cara berpikir baru.”

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Dalam perjalanan panjang Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), terdapat sejumlah tokoh yang tidak hanya menjadi pelaku sejarah, tetapi juga pembentuk arah gerakan. Salah satunya adalah Ali Mustafa Trajustina (AMT). Bagi banyak sahabat dan kader PPM, Mas Ali bukan sekadar aktivis organisasi. Ia adalah seorang pemikir yang meyakini bahwa perubahan sosial harus dimulai dari perubahan cara berpikir manusia.

Sebelas tahun setelah kepergiannya, pemikiran-pemikirannya masih sering menjadi bahan diskusi di berbagai forum. Banyak gagasan yang dahulu dianggap terlalu jauh atau bahkan sulit dipahami, kini justru menjadi bagian dari realitas yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Pemberdayaan Bukan Sekadar Program

Mas Ali selalu mengingatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak boleh berhenti pada proyek, bantuan, atau kegiatan seremonial.

Baginya, masyarakat tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi pelaku utama pembangunan.

Karena itu, pemberdayaan harus dimulai dengan membangun kesadaran, memperkuat kapasitas, dan menciptakan sistem yang memungkinkan masyarakat berdiri di atas kekuatannya sendiri.

Cara pandang inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas pendekatan PPM sejak masa awal perkembangannya.

Berpikir Melampaui Zaman

Salah satu karakter paling menonjol dari Mas Ali adalah keberaniannya berpikir jauh ke depan.

Dalam banyak diskusi bersama sahabat-sahabatnya, ia sering mengaitkan persoalan desa, ekonomi rakyat, pendidikan, hingga perubahan budaya dengan dinamika global.

Ia melihat bahwa perubahan teknologi, arus informasi, dan kekuatan ekonomi dunia akan memengaruhi kehidupan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

Karena itu, menurutnya, gerakan pemberdayaan tidak boleh terjebak pada penyelesaian masalah sesaat. Ia harus mampu membaca arah perubahan zaman dan menyiapkan masyarakat agar menjadi pelaku, bukan korban, dari perubahan tersebut.

Tidak mengherankan apabila banyak sahabat menyebutnya sebagai seorang pemikir “out of the box”.

Dialog sebagai Jalan Mencari Kebenaran

Mas Ali tidak pernah takut berbeda pendapat.

Persahabatannya dengan almarhum Cak Husni Nasution menjadi contoh bagaimana perbedaan justru melahirkan kedewasaan berpikir.

Diskusi mereka sering berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari. Perdebatan bukan untuk mencari siapa yang menang, tetapi untuk menemukan gagasan yang lebih baik.

Dalam budaya organisasi modern, cara seperti ini sangat penting. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberi ruang bagi kritik, dialog, dan perbedaan pandangan.

Warisan intelektual Mas Ali mengajarkan bahwa kesetiaan kepada organisasi tidak berarti mematikan daya kritis. Sebaliknya, kritik yang dilandasi niat memperbaiki adalah bentuk kecintaan terhadap organisasi.

Membangun Kepercayaan kepada Kader

Dalam keseharian, Mas Ali dikenal sebagai sosok yang pandai membangun kepercayaan kepada orang-orang di sekitarnya.

Ia jarang memimpin dengan cara memerintah.

Sebaliknya, ia memberi keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugasnya.

Kalimat sederhana seperti, “Yang bisa ya kamu, karena kamu ahlinya,” menjadi cara khasnya membangkitkan rasa percaya diri kader.

Kepemimpinan seperti ini melahirkan banyak aktivis yang tumbuh bukan karena tekanan, melainkan karena merasa dihargai.

Kepekaan terhadap Detail

Mas Ali memiliki kebiasaan mengamati hal-hal kecil yang sering tidak diperhatikan orang lain.

Ia memperhatikan bahasa tubuh, cara orang berbicara, perubahan ekspresi, bahkan dinamika sebuah forum.

Bagi Mas Ali, memahami manusia adalah bagian penting dari pemberdayaan.

Seseorang tidak dapat menggerakkan masyarakat apabila ia tidak memahami perilaku masyarakat itu sendiri.

Kepekaan seperti inilah yang menjadikan pendekatan pemberdayaan PPM lebih bersifat partisipatif daripada instruktif.

Organisasi sebagai Rumah Gagasan

Bagi Mas Ali, organisasi bukan sekadar wadah administratif.

PPM harus menjadi ruang lahirnya ide-ide baru.

Ia percaya bahwa sebuah organisasi akan kehilangan relevansi apabila berhenti belajar.

Karena itu, diskusi, membaca, menulis, dan berdialog harus menjadi budaya organisasi.

Organisasi yang besar bukan hanya menghasilkan banyak kegiatan, tetapi juga melahirkan banyak pemikiran yang mampu menjawab tantangan zaman.

Relevansi Pemikiran Mas Ali di Era Kini

Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks: kemiskinan struktural, kesenjangan ekonomi, krisis lingkungan, disrupsi teknologi, serta melemahnya solidaritas sosial.

Semua persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan bantuan sosial atau program jangka pendek.

Diperlukan gerakan pemberdayaan yang membangun kemandirian masyarakat, memperkuat ekonomi berbasis komunitas, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong.

Dalam konteks inilah pemikiran Ali Mustafa Trajustina tetap menemukan relevansinya.

Apa yang dahulu ia gagas tentang pentingnya membangun manusia sebelum membangun program menjadi pelajaran berharga bagi generasi baru PPM.

Melanjutkan Warisan Intelektual

Mengenang Mas Ali tidak cukup hanya dengan doa atau nostalgia.

Cara terbaik menghormati beliau adalah melanjutkan tradisi berpikir, berdialog, dan berinovasi yang selama ini menjadi ciri perjuangannya.

PPM membutuhkan kader-kader yang berani membaca perubahan zaman, mengembangkan model-model pemberdayaan yang kreatif, serta tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, partisipasi, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Warisan terbesar Ali Mustafa Trajustina bukanlah jabatan, melainkan cara berpikir.

Selama PPM tetap menjadi rumah bagi lahirnya gagasan-gagasan baru, selama kader-kadernya terus belajar dan berpihak kepada masyarakat, selama semangat pemberdayaan tetap dijaga, maka sesungguhnya Mas Ali tidak pernah benar-benar pergi.

Namanya akan selalu hidup dalam setiap ikhtiar membangun masyarakat yang mandiri, bermartabat, dan berkeadilan.

“Seorang pemikir wafat ketika gagasannya berhenti diperjuangkan. Ali Mustafa Trajustina tetap hidup selama semangat pemberdayaan terus menjadi napas perjuangan PPM.” (ppmindonesia)

Example 120x600