Ketika Agama Berubah Menjadi Sekadar Kepatuhan
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada saat ketika agama begitu dekat dengan kehidupan manusia, tetapi justru kehilangan daya hidupnya.
Islam hadir dalam berbagai bentuk: masjid yang berdiri megah, kajian yang berlangsung setiap pekan, lantunan Al-Qur’an yang terdengar, pakaian yang semakin religius, serta berbagai istilah keislaman yang semakin akrab dalam percakapan sehari-hari.
Semua itu tidak salah. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah semua ekspresi keberagamaan itu benar-benar membawa manusia semakin dekat kepada Allah?
Di sinilah persoalan dogmatisme agama perlu dibedakan dari agama itu sendiri.
Islam bukan dogma buatan manusia. Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Yang perlu dikritik adalah ketika wahyu yang seharusnya membangun kesadaran manusia justru direduksi menjadi sekumpulan formula, kebiasaan, simbol, dan kepatuhan mekanis yang diwariskan tanpa pemahaman.
Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an mengajak manusia bukan hanya untuk melakukan, tetapi juga untuk memahami; bukan hanya untuk mengikuti, tetapi untuk menyadari; bukan hanya untuk mengenal aturan, tetapi untuk kembali kepada Allah.
Allah Tidak Menghendaki Kepatuhan yang Kehilangan Kesadaran
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal dan merenungkan tanda-tanda Allah.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Pertanyaan ini penting. Mengapa Al-Qur’an mempertanyakan tadabbur?
Sebab wahyu tidak dimaksudkan hanya untuk menghasilkan manusia yang mampu melafalkan ayat, tetapi manusia yang mampu menangkap pesan dan membiarkan pesan itu mengubah kehidupannya.
Karena itu, persoalan keberagamaan tidak selesai dengan pertanyaan: “Berapa banyak ibadah yang telah kita lakukan?”
Al-Qur’an mengajak kita bergerak lebih jauh:
Apa yang terjadi pada diri kita setelah ibadah itu dilakukan?
Apakah hati menjadi lebih jernih?
Apakah keadilan semakin ditegakkan?
Apakah kejujuran semakin kuat?
Apakah kesombongan berkurang?
Apakah kepedulian kepada manusia semakin tumbuh?
Jika tidak, barangkali yang perlu diperiksa bukan keberadaan ritualnya, melainkan kesadaran yang berada di balik ritual tersebut.
Kembali kepada Allah, Bukan Sekadar Kembali kepada Tradisi
Salah satu bahaya dalam kehidupan beragama adalah ketika tradisi mengambil posisi yang seharusnya ditempati wahyu.
Al-Qur’an menggambarkan fenomena tersebut:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Ayat ini bukan berarti semua warisan generasi sebelumnya harus ditolak. Tradisi dapat memiliki nilai sosial dan kebudayaan.
Yang dikritik Al-Qur’an adalah ketika tradisi dijadikan ukuran kebenaran hanya karena ia diwariskan.
Di sinilah perbedaan antara agama yang hidup dan agama yang menjadi dogma.
Agama yang hidup selalu mengembalikan manusia kepada Allah dan wahyu-Nya. Sebaliknya, dogmatisme membuat manusia berhenti pada formula: “Begitulah yang selama ini kami lakukan.”
Ritual Harus Menghasilkan Perubahan
Al-Qur’an tidak pernah memisahkan ibadah dari pembentukan manusia.
Tentang salat, Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Salat memiliki dimensi lahiriah, tetapi Al-Qur’an juga menunjukkan tujuan moralnya.
Karena itu, Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan kepada orang yang melakukan salat:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)
Menariknya, kritik tersebut tidak berhenti pada persoalan kelalaian ritual. Ayat berikutnya menjelaskan karakter mereka:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Orang-orang yang berbuat ria dan enggan memberikan bantuan yang berguna.”
(QS. Al-Ma’un: 6–7)
Dengan membaca rangkaian ayat tersebut secara Qur’an bil Qur’an, terlihat hubungan yang kuat antara ibadah, kesadaran, dan kepedulian sosial.
Salat tidak dimaksudkan untuk berhenti di sajadah.
Ia harus menemukan jejaknya dalam kehidupan.
Allah Tidak Membutuhkan Bentuk yang Kosong dari Ketakwaan
Prinsip yang sama terlihat dalam ibadah kurban.
Allah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat mendasar: bentuk ibadah tidak boleh dipisahkan dari substansinya.
Bukan berarti bentuk tidak penting. Bentuk adalah wadah. Tetapi wadah bukanlah keseluruhan makna.
Kurban memiliki bentuk. Salat memiliki bentuk. Puasa memiliki bentuk. Zakat memiliki bentuk.
Namun Al-Qur’an mengarahkan semuanya menuju kualitas manusia yang lebih tinggi: takwa.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Hal yang sama terlihat dalam puasa.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan hubungan antara praktik dan tujuan.
Puasa adalah praktik.
Takwa adalah orientasinya.
Dengan demikian, ketika seseorang berpuasa tetapi tidak mengalami perubahan kesadaran, ada sesuatu yang perlu direnungkan.
Apakah puasa sudah menjadi jalan menuju Allah, atau baru menjadi rutinitas kalender?
Membebaskan Islam dari Dogmatisme, Bukan dari Wahyu
Istilah “membebaskan Islam dari dogma” perlu dipahami secara tepat.
Yang dimaksud bukan membebaskan Islam dari Al-Qur’an. Justru sebaliknya: membebaskan pemahaman terhadap Islam dari dogmatisme manusia agar kembali kepada wahyu.
Dogmatisme muncul ketika pendapat manusia diperlakukan seolah-olah identik dengan wahyu; ketika tradisi tidak boleh dipertanyakan; ketika simbol dianggap sebagai ukuran tunggal kesalehan; atau ketika seseorang merasa sudah beragama hanya karena menjalankan bentuk-bentuk tertentu.
Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa manusia harus bersikap kritis terhadap apa yang diikutinya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan memiliki dimensi tanggung jawab intelektual.
Seorang Muslim tidak cukup hanya berkata, “Saya mengikuti.”
Ia harus bertanya: Apa yang saya ikuti? Mengapa saya mengikutinya? Apakah ia benar-benar bersumber dari Allah?
Al-Qur’an Mengarahkan Manusia kepada Allah
Pada akhirnya, seluruh perjalanan keberagamaan bermuara kepada satu tujuan: Allah.
Al-Qur’an mengajarkan:
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)
Ayat ini memberikan perspektif yang sangat dalam tentang kehidupan.
Manusia sedang berjalan.
Pertanyaannya bukan apakah ia sedang berjalan atau tidak, melainkan ke mana ia berjalan.
Jika agama hanya menjadi kebiasaan, manusia bisa sangat sibuk melakukan berbagai aktivitas keagamaan tetapi kehilangan arah perjalanan.
Namun jika agama menjadi kesadaran, setiap ibadah menjadi bagian dari perjalanan kembali kepada Allah.
Dari Dogma Menuju Kesadaran
Kembali kepada Allah bukan berarti meninggalkan ritual.
Justru ritual harus dikembalikan kepada tujuan yang dikehendaki Allah.
Salat tetap dilakukan, tetapi dengan kesadaran.
Puasa tetap dijalankan, tetapi dengan ketakwaan.
Zakat tetap ditunaikan, tetapi dengan kepedulian.
Al-Qur’an tetap dibaca, tetapi juga ditadabburi.
Tradisi tetap dihargai, tetapi tidak ditempatkan di atas wahyu.
Inilah titik penting kajian Qur’an bil Qur’an: ayat tidak dibaca secara terpisah, melainkan ditempatkan dalam keseluruhan pesan Al-Qur’an.
Dari sana tampak bahwa Islam tidak sekadar membentuk manusia yang taat secara formal, tetapi manusia yang sadar kepada Allah dan menghadirkan nilai wahyu dalam kehidupan.
Kembali kepada Allah
Barangkali persoalan keberagamaan kita hari ini bukan karena terlalu sedikitnya agama, tetapi karena agama terlalu sering berhenti pada permukaan.
Kita memiliki simbol, tetapi kehilangan makna.
Kita memiliki ritual, tetapi kehilangan kesadaran.
Kita memiliki banyak pembicaraan tentang Allah, tetapi belum tentu seluruh kehidupan benar-benar diarahkan kepada-Nya.
Karena itu, seruan “kembali kepada Allah” bukan sekadar ajakan emosional. Ia adalah ajakan Al-Qur’an agar manusia kembali menempatkan Allah sebagai pusat orientasi kehidupannya.
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Maka berlarilah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya kepada kalian.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)
Ayat itu seakan mengingatkan: jangan berhenti pada bentuk agama. Jangan terperangkap dalam kebiasaan. Jangan menjadikan tradisi sebagai pengganti kesadaran.
Kembalilah kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, Islam bukan sekadar sesuatu yang kita lakukan.
Islam adalah kesadaran tentang kepada siapa kita hidup, kepada siapa kita mengabdi, dan kepada siapa seluruh perjalanan kehidupan ini akan kembali. (syahida)
Catatan Redaksi PPMIndonesia.com
Tulisan ini merupakan bagian dari Kajian Qur’an bil Qur’an Perspektif Syahida, sebuah pendekatan reflektif yang membaca ayat Al-Qur’an dalam keterkaitannya dengan ayat-ayat lain untuk menemukan kesatuan pesan wahyu. Fokus kajian diarahkan pada upaya menghidupkan kembali kesadaran tauhid, sehingga keberagamaan tidak berhenti pada simbol dan formalitas, tetapi melahirkan pemahaman, ketakwaan, dan transformasi kehidupan.





























