Ketika Identitas Kelompok Mengalahkan Pesan Wahyu
JAKARTA.PPIndoensai.com- Agama seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah. Namun dalam perjalanan sejarah, agama juga dapat berubah menjadi identitas kelompok yang dipertahankan dengan fanatisme.
Nama kelompok menjadi lebih penting daripada pesan wahyu. Pendapat tokoh dianggap lebih suci daripada kebenaran yang sedang dicari. Perbedaan pemahaman berubah menjadi permusuhan. Bahkan tidak jarang, sesama orang yang mengaku beriman kepada kitab yang sama saling menuduh, saling menyingkirkan, dan menganggap kelompoknya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran.
Apakah fenomena tersebut sesuai dengan Al-Qur’an?
Untuk menjawabnya, Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an tidak memulai dari pendapat kelompok tertentu. Kita mencoba membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an saling menjelaskan sehingga gambaran tentang fanatisme, perpecahan, dan jalan keluarnya dapat dilihat secara utuh.
Al-Qur’an Memerintahkan Berpegang kepada Tali Allah
Ayat yang paling jelas tentang persatuan umat terdapat dalam Surah Ali ‘Imran.
Firman Allah:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Ayat ini mengandung dua perintah yang tidak dapat dipisahkan:
berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.
Dengan demikian, persatuan dalam Al-Qur’an bukan sekadar proyek sosial atau politik. Persatuan memiliki dasar spiritual: manusia memiliki pegangan yang sama, yaitu petunjuk Allah.
Yang perlu direnungkan kemudian adalah: ketika kelompok menjadi pegangan utama, apakah kita masih benar-benar berpegang kepada tali Allah?
Setiap Kelompok Dapat Terjebak Merasa Paling Benar
Al-Qur’an menggambarkan kecenderungan manusia membentuk kelompok yang kemudian merasa bangga dengan apa yang dimilikinya.
Firman Allah:
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 32)
Ungkapan كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (kullu hizbin bimā ladaihim farihūn) sangat relevan untuk membaca fenomena fanatisme.
Masalahnya bukan semata-mata keberadaan kelompok.
Masalahnya adalah ketika identitas kelompok menjadi sumber kebanggaan yang membuat seseorang menutup diri terhadap kebenaran di luar kelompoknya.
Pada tahap tertentu, seseorang tidak lagi bertanya:
“Apa yang benar menurut Allah?”
Tetapi berubah menjadi:
“Bagaimana caranya membuktikan bahwa kelompok saya yang benar?”
Di sinilah fanatisme mulai mengambil alih fungsi agama.
Al-Qur’an Melarang Umat Menjadi Seperti Mereka yang Terpecah
Peringatan serupa terdapat dalam Surah Ali ‘Imran.
Firman Allah:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 105)
Perhatikan urutannya.
Mereka bercerai-berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas.
Artinya, keberadaan wahyu tidak otomatis membuat manusia bersatu apabila mereka kemudian memasukkan kepentingan, hawa nafsu, dan fanatisme ke dalam cara memahami agama.
Karena itu, memiliki kitab yang sama belum tentu berarti telah menjadikan kitab tersebut sebagai rujukan bersama.
Perpecahan Dapat Terjadi Setelah Ilmu Datang
Al-Qur’an bahkan menjelaskan bahwa perpecahan dapat muncul setelah manusia memperoleh pengetahuan.
Firman Allah:
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Mereka tidak berpecah-belah kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.”(QS. Asy-Syura [42]: 14)
Ayat ini penting untuk direnungkan.
Perpecahan tidak selalu disebabkan oleh kebodohan.
Kadang seseorang memiliki banyak pengetahuan agama, tetapi pengetahuan tersebut digunakan untuk mempertahankan kelompoknya.
Ilmu dapat menjadi jalan menuju kebenaran, tetapi juga dapat menjadi alat pembenaran apabila manusia tidak membebaskan dirinya dari kepentingan.
Karena itu, persoalan utama bukan hanya seberapa banyak ilmu yang kita miliki, tetapi untuk apa ilmu tersebut digunakan.
Ketika Agama Dipecah Menjadi Sekte-Sekte
Al-Qur’an secara eksplisit mengingatkan Rasulullah agar tidak mengikuti orang-orang yang memecah agama menjadi kelompok-kelompok.
Firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, engkau tidak termasuk mereka sedikit pun. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am [6]: 159)
Ayat ini memberikan peringatan keras.
Agama bukan milik sekte.
Islam bukan milik kelompok.
Kebenaran bukan hak eksklusif organisasi.
Ketika manusia memecah agama menjadi identitas-identitas yang saling bermusuhan, mereka harus berhati-hati agar jangan sampai identitas kelompok justru menggeser identitas sebagai hamba Allah.
Perbedaan Tidak Harus Menjadi Permusuhan
Apakah Al-Qur’an melarang semua bentuk perbedaan?
Tidak sesederhana itu.
Manusia memiliki kemampuan berpikir, pengalaman, dan konteks yang berbeda. Perbedaan pemahaman dapat terjadi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan dan kezaliman.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat penting:
Firman Allah:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 8)
Ini merupakan prinsip yang sangat kuat.
Bahkan terhadap kelompok yang tidak kita sukai, Allah tetap memerintahkan keadilan.
Maka fanatisme yang membuat seseorang kehilangan keadilan jelas bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an.
Kebenaran Tidak Diukur dari Nasab atau Identitas Kelompok
Al-Qur’an juga memberikan ukuran yang melampaui identitas sosial manusia.
Firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Ayat ini membongkar kecenderungan manusia mengukur kemuliaan berdasarkan identitas.
Allah menyebut bangsa dan suku sebagai realitas sosial, tetapi ukuran kemuliaan bukanlah identitas tersebut.
Ukuran Allah adalah takwa.
Jika bangsa dan suku saja tidak menjadi ukuran kemuliaan, maka identitas kelompok keagamaan pun tidak boleh menjadi alasan seseorang merasa otomatis lebih mulia daripada orang lain.
Jika Berselisih, Kembalikan kepada Allah
Lalu bagaimana ketika perbedaan benar-benar terjadi?
Al-Qur’an memberikan prinsip penyelesaian.
Firman Allah:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Ayat ini mengandung prinsip penting bagi kehidupan umat.
Ketika terjadi perselisihan, jangan menjadikan fanatisme sebagai hakim.
Jangan pula menjadikan kebencian sebagai ukuran.
Kembalikan persoalan kepada Allah.
Dalam kerangka Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, wahyu menjadi rujukan utama untuk menguji berbagai klaim keagamaan.
Al-Qur’an Sebagai Pembeda antara yang Benar dan yang Salah
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai Al-Furqan, yaitu pembeda.
Firman Allah:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”
(QS. Al-Furqan [25]: 1)
Dengan demikian, ketika muncul berbagai pendapat, klaim, dan pemahaman keagamaan, umat membutuhkan standar pembeda.
Standar itu bukan popularitas.
Bukan banyaknya pengikut.
Bukan senioritas kelompok.
Bukan pula fanatisme terhadap tokoh.
Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai Al-Furqan.
Fanatisme Membuat Kebenaran Menjadi Milik Kelompok
Fanatisme kelompok memiliki satu bahaya besar: kebenaran tidak lagi dicari, tetapi dianggap sudah dimiliki.
Ketika seseorang berkata:
“Kelompok kami pasti benar.”
maka pertanyaan berikutnya adalah:
Bagaimana jika ternyata kelompok kita keliru?
Al-Qur’an mengajarkan kerendahan hati dalam pencarian kebenaran.
Allah berfirman:
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar [39]: 17–18)
Ayat ini memperlihatkan sikap yang berbeda dari fanatisme.
Orang beriman tidak takut mendengar.
Tidak takut menguji.
Tidak takut menemukan bahwa pendapat yang selama ini diyakininya perlu diperbaiki.
Orientasinya bukan mempertahankan kelompok, melainkan mengikuti yang terbaik.
Dari Fanatisme Menuju Takwa
Al-Qur’an tidak mengajarkan umat menjadi manusia tanpa identitas. Yang diajarkan adalah agar identitas tidak mengalahkan ketakwaan.
Seseorang boleh memiliki latar belakang sosial, budaya, organisasi, atau tradisi tertentu. Namun semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk menolak kebenaran atau berlaku tidak adil.
Karena pada akhirnya Allah tidak bertanya tentang seberapa kuat kita membela kelompok.
Allah menilai ketakwaan.
Firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Kajian Syahida: Membaca Ayat dengan Ayat
Jika ayat-ayat di atas dibaca secara tematik, terlihat sebuah rangkaian pesan yang konsisten:
Berpegang kepada tali Allah
↓
Jangan bercerai-berai
↓
Jangan memecah agama menjadi golongan-golongan
↓
Jangan membanggakan kelompok sendiri
↓
Jika berselisih, kembali kepada Allah
↓
Tetap berlaku adil
↓
Ukur kemuliaan dengan ketakwaan, bukan identitas.
Inilah kekuatan pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.
Satu ayat tidak dibaca secara terisolasi, tetapi diterangi oleh ayat-ayat lain yang memiliki tema yang sama.
Dengan cara demikian, Al-Qur’an tidak digunakan untuk membenarkan fanatisme yang sudah ada sebelumnya. Sebaliknya, fanatisme itu sendiri diuji oleh keseluruhan pesan Al-Qur’an.
Refleksi: Apakah Kita Membela Kebenaran atau Membela Kelompok?
Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan kejujuran.
Ketika kelompok kita dikritik, apakah kita memeriksa kritik tersebut atau langsung menyerang orang yang mengkritik?
Ketika menemukan ayat yang tidak sesuai dengan pendapat yang selama ini kita yakini, apakah kita berusaha memahami ayat tersebut atau mencari cara untuk menolaknya?
Ketika kelompok lain menyampaikan sesuatu yang benar, apakah kita mampu menerimanya?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang sedang kita bela bukan lagi kebenaran.
Mungkin yang sedang kita bela adalah identitas kelompok.
Al-Qur’an mengajak manusia melampaui fanatisme tersebut.
Agama untuk Allah, Bukan untuk Golongan
Agama yang diturunkan Allah tidak membutuhkan fanatisme manusia untuk menjadi benar.
Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia untuk mempertahankan kelompok dengan mengorbankan keadilan.
Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa kelompok tertentu memiliki hak monopoli atas kebenaran.
Sebaliknya, Al-Qur’an memerintahkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Pesannya jelas: yang harus dipertahankan adalah hubungan dengan Allah, bukan fanatisme terhadap golongan.
Kelompok boleh ada.
Perbedaan pemahaman mungkin terjadi.
Tradisi dan khazanah keilmuan dapat dipelajari.
Namun semuanya harus tetap berada di bawah petunjuk Allah dan tidak boleh berubah menjadi alasan untuk merendahkan, membenci, atau menzalimi sesama manusia.
Sebab pada akhirnya, yang membedakan manusia di hadapan Allah bukan nama kelompoknya, melainkan ketakwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Wallāhu a’lam bish-shawāb.





























