OPINI PPMIndonesia.com
Masyarakat berdaya bukan masyarakat yang menunggu diberdayakan, melainkan masyarakat yang mampu menemukan kekuatannya sendiri untuk menentukan dan membangun masa depannya.
PPMIndonesia.com – Setiap organisasi yang lahir dari sebuah perjalanan sejarah sesungguhnya membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar keberadaan dirinya sendiri.
Untuk apa ia didirikan?
Masalah apa yang hendak dijawab?
Nilai apa yang hendak diperjuangkan?
Dan yang paling penting: warisan sejarah seperti apa yang hendak ditinggalkan kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan kembali kepada Pusat Peranserta Masyarakat atau PPM.
Sebab PPM bukan sekadar nama organisasi.
PPM lahir dari sebuah kesadaran bahwa masyarakat harus memiliki ruang untuk menentukan dirinya sendiri, membangun kekuatannya sendiri, dan mengambil bagian dalam proses perubahan sosial.
Karena itu, misi PPM pada akhirnya tidak berhenti pada kegiatan pemberdayaan.
Misi yang lebih besar adalah membangun masyarakat yang berdaya sebagai kekuatan sejarah.
MASYARAKAT BUKAN OBJEK PEMBANGUNAN
Selama bertahun-tahun, pembangunan sering menggunakan bahasa yang menempatkan masyarakat sebagai penerima.
Ada masyarakat penerima bantuan.
Ada masyarakat penerima program.
Ada masyarakat penerima pelatihan.
Ada masyarakat penerima manfaat.
Bahasa tersebut tampaknya positif.
Namun, apabila tidak hati-hati, ia dapat menyimpan sebuah persoalan mendasar: masyarakat ditempatkan sebagai objek.
Padahal masyarakat bukan sekadar pihak yang harus dibantu.
Masyarakat memiliki pengetahuan.
Memiliki pengalaman.
Memiliki kreativitas.
Memiliki jaringan sosial.
Memiliki tradisi gotong royong.
Dan yang tidak kalah penting, masyarakat memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalannya sendiri.
Karena itu, pemberdayaan tidak boleh dimaknai sebagai proses dari pihak yang kuat kepada pihak yang dianggap lemah.
Pemberdayaan harus dimaknai sebagai proses menemukan, membangun, dan memperkuat kemampuan yang telah ada di dalam masyarakat.
Di sinilah prinsip peranserta memperoleh makna yang sebenarnya.
BERDAYA BERARTI MEMILIKI KEMAMPUAN MENENTUKAN
Masyarakat disebut berdaya bukan semata-mata karena memiliki penghasilan lebih tinggi.
Bukan pula hanya karena mendapatkan bantuan modal atau memiliki akses terhadap teknologi.
Semua itu penting.
Tetapi keberdayaan memiliki makna yang lebih luas.
Masyarakat berdaya adalah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk:
- mengenali persoalannya,
- menentukan pilihan,
- mengorganisasi dirinya,
- mengambil keputusan,
- mengelola sumber daya,
- membangun kerja sama,
- dan mempertanggungjawabkan pilihan yang dibuatnya.
Dengan kata lain, keberdayaan memiliki hubungan erat dengan kemandirian dan kemampuan mengelola kehidupan bersama.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya bertanya:
Berapa banyak bantuan yang telah diberikan?
Tetapi juga:
Berapa besar kemampuan masyarakat yang telah tumbuh?
DARI “UNTUK MASYARAKAT” MENJADI “BERSAMA MASYARAKAT”
Ada perbedaan mendasar antara pembangunan untuk masyarakat dan pembangunan bersama masyarakat.
Pembangunan untuk masyarakat dapat menghasilkan manfaat.
Tetapi pembangunan bersama masyarakat membangun kapasitas.
Yang pertama memberikan hasil.
Yang kedua membangun kemampuan untuk menghasilkan hasil berikutnya.
Di sinilah PPM harus mengambil posisi.
PPM tidak harus selalu menjadi pihak yang datang membawa solusi.
PPM justru harus menjadi pihak yang membantu masyarakat menemukan solusi.
PPM dapat berfungsi sebagai fasilitator, penghubung, pengorganisasi, pendamping, sekaligus pembuka ruang kolaborasi.
Tetapi keputusan dan proses perubahan tetap harus berada sedekat mungkin dengan masyarakat.
Sebab hanya dengan demikian masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap perubahan tersebut.
PRANATA: RUANG UNTUK MEMBANGUN KEBERDAYAAN
Masyarakat tidak dapat menjadi berdaya hanya melalui slogan.
Keberdayaan membutuhkan ruang.
Ruang untuk berkumpul.
Ruang untuk berdiskusi.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk mengelola.
Ruang untuk mengambil keputusan.
Ruang tersebut dapat berbentuk berbagai macam kelembagaan masyarakat.
Koperasi.
Kelompok tani.
Kelompok usaha.
Komunitas lingkungan.
Sanggar kebudayaan.
Kelompok pemuda.
Lembaga pendidikan masyarakat.
Forum warga.
Desa dan berbagai bentuk organisasi lokal lainnya.
Kelembagaan tersebut merupakan pranata sosial yang memungkinkan masyarakat menerjemahkan nilai menjadi tindakan.
Di sanalah masyarakat belajar bagaimana bekerja bersama.
Di sanalah kepemimpinan tumbuh.
Di sanalah konflik diselesaikan.
Di sanalah gagasan diuji.
Dan di sanalah keberdayaan dibentuk.
SWADAYA: DARI KEMAMPUAN KECIL MENJADI KEKUATAN BESAR
Salah satu fondasi penting masyarakat berdaya adalah swadaya.
Swadaya bukan berarti masyarakat harus menolak bantuan dari luar.
Bukan itu.
Swadaya berarti masyarakat tidak kehilangan posisi sebagai pemilik proses perubahan.
Bantuan dari pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, maupun pihak lain seharusnya memperkuat kemampuan masyarakat.
Bukan menggantikannya.
Ketika masyarakat memiliki modal sendiri, tenaga sendiri, pengetahuan sendiri, jaringan sendiri, dan kelembagaan sendiri, bantuan dari luar akan menjadi pengungkit.
Sebaliknya, apabila seluruh proses bergantung pada bantuan, maka keberlanjutan gerakan menjadi rapuh.
Karena itu, prinsip sederhana harus dijaga:
Bantuan boleh datang dari luar, tetapi kekuatan harus tumbuh dari dalam.
MASYARAKAT BELAJAR MELALUI PENGALAMAN
Tidak ada masyarakat yang langsung mengetahui seluruh jawaban.
Karena itu, proses pemberdayaan harus memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar.
Mencoba.
Mengalami.
Gagal.
Mengevaluasi.
Memperbaiki.
Kemudian mencoba kembali.
Trial and error bukan tanda kelemahan.
Ia adalah bagian dari proses belajar.
Petani menemukan cara terbaik melalui pengalaman bertahun-tahun.
Pelaku usaha memahami pasar melalui berbagai percobaan.
Komunitas menemukan model pengelolaan lingkungan melalui proses yang panjang.
Pemuda menemukan bentuk kreativitasnya melalui eksperimen.
Masyarakat tidak harus selalu menunggu datangnya jawaban dari para ahli.
Masyarakat dapat menjadi produsen pengetahuan melalui pengalaman mereka sendiri.
Tugas PPM adalah membantu pengalaman tersebut menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kapasitas, dan kapasitas menjadi kemandirian.
KEBUDAYAAN SEBAGAI AKAR KEBERDAYAAN
Membangun masyarakat berdaya juga tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan kebudayaannya.
Setiap masyarakat memiliki sejarah.
Memiliki nilai.
Memiliki tradisi.
Memiliki pengetahuan lokal.
Memiliki cara sendiri dalam membangun hubungan sosial.
Semua itu merupakan modal kebudayaan.
Karena itu, pemberdayaan tidak seharusnya berarti mengganti seluruh cara hidup masyarakat dengan sesuatu yang datang dari luar.
Yang diperlukan adalah dialog antara pengalaman lama dan kebutuhan baru.
Tradisi dapat bertemu teknologi.
Kearifan lokal dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan.
Gotong royong dapat menemukan bentuk baru dalam ekonomi modern.
Koperasi dapat memasuki ekosistem digital.
Seni tradisional dapat menemukan ruang baru melalui media digital.
Dengan demikian, perubahan tidak menjadi lompatan budaya.
Ia menjadi proses sejarah yang berkesinambungan.
PPM DAN MISI MEMBANGUN PERADABAN
Masyarakat berdaya pada akhirnya bukan hanya persoalan ekonomi.
Ia berkaitan dengan peradaban.
Sebab peradaban dibangun oleh manusia yang mampu mengorganisasi kehidupan bersama.
Masyarakat yang mampu menjaga lingkungan sedang membangun peradaban.
Masyarakat yang membangun koperasi sedang membangun peradaban.
Masyarakat yang menjaga kebudayaan sedang membangun peradaban.
Masyarakat yang mengembangkan pendidikan sedang membangun peradaban.
Masyarakat yang menyelesaikan persoalannya melalui gotong royong sedang membangun peradaban.
Karena itu, pembangunan peradaban tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Ia dimulai dari kebiasaan baik yang terus dipraktikkan dan kemudian melembaga.
DARI KELOMPOK KECIL MENUJU GERAKAN BESAR
Sejarah perubahan sosial sering menunjukkan bahwa perubahan besar dapat lahir dari kelompok kecil.
Mereka mencoba sesuatu.
Kemudian berhasil.
Keberhasilan itu dilihat oleh masyarakat lain.
Kemudian ditiru.
Dikembangkan.
Disesuaikan.
Dan akhirnya menyebar.
Inilah mengapa PPM perlu memberikan perhatian terhadap inisiatif-inisiatif kecil masyarakat.
Jangan selalu mengukur sesuatu dari besar kecilnya proyek.
Sebuah kelompok kecil mungkin sedang menemukan model yang kelak berguna bagi banyak masyarakat.
Sebuah desa mungkin sedang mengembangkan praktik yang dapat direplikasi di tempat lain.
Sebuah komunitas pemuda mungkin sedang menciptakan bentuk baru gerakan sosial.
Yang dibutuhkan adalah ruang agar mereka dapat tumbuh.
Gerakan besar sering kali tidak lahir dari pusat. Ia tumbuh dari banyak titik kecil yang bergerak secara bersamaan.
KADERISASI ADALAH PEWARISAN MISI SEJARAH
Misi sejarah tidak akan berjalan tanpa kader.
Sebuah organisasi dapat memiliki gagasan yang baik, tetapi gagasan tersebut akan berhenti jika tidak ada generasi yang meneruskannya.
Karena itu, kaderisasi PPM bukan hanya persoalan pergantian kepengurusan.
Kaderisasi adalah proses pewarisan nilai, pengalaman, semangat, dan kemampuan untuk membaca zaman.
Generasi baru tidak harus mengulangi cara generasi lama.
Justru mereka harus menemukan cara baru sesuai tantangan zamannya.
Namun, nilai dasarnya tetap harus dijaga.
Peranserta.
Kemandirian.
Gotong royong.
Keadilan sosial.
Keberpihakan kepada masyarakat.
Dan keberanian untuk membangun perubahan.
Dengan demikian, kaderisasi menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan.
TANTANGAN PPM DI ZAMAN BARU
Hari ini masyarakat menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks.
Krisis lingkungan.
Ketimpangan ekonomi.
Perubahan teknologi.
Transformasi digital.
Disrupsi pekerjaan.
Perubahan iklim.
Krisis pangan.
Urbanisasi.
Perubahan pola hubungan sosial.
Semua itu membutuhkan pendekatan baru.
Namun, perubahan metode tidak berarti meninggalkan prinsip.
Justru dalam situasi yang semakin kompleks, prinsip peranserta menjadi semakin penting.
Teknologi boleh berubah.
Metode boleh berubah.
Organisasi boleh berubah.
Tetapi masyarakat harus tetap menjadi subjek utama perubahan.
Karena itu, tantangan PPM hari ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan organisasi.
Tantangannya adalah:
bagaimana membuat gagasan peranserta tetap relevan bagi generasi baru dan persoalan baru.
DARI ORGANISASI MENJADI GERAKAN
PPM perlu terus bertanya:
Apakah kita hanya ingin menjadi organisasi yang bertahan?
Ataukah kita ingin menjadi gerakan yang terus hidup?
Organisasi membutuhkan struktur.
Gerakan membutuhkan kesadaran.
Organisasi membutuhkan program.
Gerakan membutuhkan nilai dan tujuan.
Organisasi memiliki periode kepengurusan.
Gerakan memiliki lintasan sejarah.
Karena itu, PPM harus mampu menggabungkan keduanya.
Organisasi diperlukan untuk menjaga tata kelola.
Tetapi semangat gerakan diperlukan untuk menjaga energi perubahan.
PPM harus tetap memiliki struktur, tetapi tidak boleh kehilangan jiwa.
Harus memiliki program, tetapi tidak boleh kehilangan misi.
Harus mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan akar.
MISI SEJARAH ITU BELUM SELESAI
Misi sejarah PPM sesungguhnya belum selesai.
Selama masih ada masyarakat yang belum memiliki ruang untuk menentukan masa depannya, perjuangan peranserta masih relevan.
Selama masih ada pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai objek, gagasan pemberdayaan masih diperlukan.
Selama masih ada potensi masyarakat yang belum terorganisasi, PPM masih memiliki pekerjaan.
Dan selama generasi baru membutuhkan ruang untuk belajar menjadi pelaku perubahan, kaderisasi masih menjadi kebutuhan.
Misi itu tidak harus dilakukan dengan cara yang sama seperti masa lalu.
Justru tugas generasi sekarang adalah menemukan bentuk baru dari nilai lama.
Semangat peranserta harus menemukan bentuknya dalam ekonomi baru.
Gotong royong harus menemukan bentuknya dalam teknologi digital.
Kemandirian harus menemukan bentuknya dalam ekonomi hijau.
Kaderisasi harus menemukan bentuknya di tengah generasi digital.
Dan pembangunan masyarakat harus menemukan bentuknya di tengah tantangan perubahan iklim.
PENUTUP
Masyarakat Berdaya adalah Tujuan, Peradaban adalah Cita-Cita
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar PPM bukanlah seberapa lama organisasi ini dapat bertahan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa jauh PPM mampu meninggalkan jejak perubahan dalam kehidupan masyarakat?
Apakah masyarakat menjadi lebih berdaya?
Apakah kelembagaan masyarakat menjadi lebih kuat?
Apakah kemampuan swadaya semakin tumbuh?
Apakah generasi baru memiliki keberanian untuk mengambil peran?
Apakah nilai gotong royong tetap hidup dalam bentuk-bentuk baru?
Dan apakah semua itu pada akhirnya ikut membangun peradaban Indonesia?
Jika jawabannya adalah ya, maka PPM telah menjalankan misi sejarahnya.
Sebab keberhasilan PPM bukan ketika masyarakat semakin bergantung kepada PPM.
Justru sebaliknya.
Keberhasilan PPM adalah ketika masyarakat semakin mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
PPM hadir bukan untuk mengambil alih masyarakat.
PPM hadir untuk membuka ruang.
Ruang bagi masyarakat untuk menemukan kekuatannya.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk berorganisasi.
Ruang untuk memimpin.
Ruang untuk membangun.
Dan ruang untuk menentukan masa depan.
Dari situlah masyarakat berdaya lahir.
Dari masyarakat berdaya, tumbuh kemandirian.
Dari kemandirian, lahir kekuatan sosial.
Dari kekuatan sosial, terbentuk pranata.
Dan dari pranata yang sehat, perlahan-lahan lahirlah peradaban.
Maka misi sejarah PPM pada akhirnya dapat dirumuskan dalam satu kalimat:
Membangun masyarakat yang mampu membangun dirinya sendiri, agar Indonesia memiliki peradaban yang tumbuh dari kekuatan rakyatnya sendiri. (ppmindonesia)
PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.





























