Membangun masyarakat bukan dengan menggantikan perannya, tetapi dengan membangkitkan kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada perbedaan yang sangat mendasar antara memberi dan membangkitkan.
Memberi dapat membuat seseorang merasa tertolong hari ini. Tetapi membangkitkan membuat seseorang mampu menolong dirinya sendiri untuk hari-hari berikutnya.
Di antara dua kata itulah salah satu inti perjalanan panjang Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menemukan makna gerakannya.
PPM tidak lahir untuk menjadi lembaga yang terus-menerus memberikan sesuatu kepada masyarakat. PPM hadir untuk membangun peranserta masyarakat—mendorong rakyat agar mampu mengenali persoalannya, menemukan kekuatannya, mengorganisasikan dirinya, dan mengambil tanggung jawab terhadap masa depannya.
Karena itu, pertanyaan penting dalam gerakan PPM bukan semata-mata:
“Apa yang dapat diberikan PPM kepada masyarakat?”
Melainkan:
“Apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk dirinya sendiri?”
Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya mengandung perubahan paradigma yang sangat besar.
Dari Penerima Menjadi Pelaku
Dalam banyak praktik pembangunan, masyarakat masih sering ditempatkan sebagai penerima.
Ada program untuk masyarakat. Ada bantuan untuk masyarakat. Ada pelatihan untuk masyarakat. Ada proyek yang disebut pemberdayaan masyarakat.
Tetapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: setelah program selesai, apa yang tersisa dalam diri masyarakat?
Apakah hanya bangunan?
Apakah hanya alat?
Apakah hanya bantuan yang telah habis?
Ataukah terdapat kemampuan baru, keberanian baru, organisasi baru, pengetahuan baru, dan kesadaran baru yang membuat masyarakat mampu melanjutkan kehidupannya sendiri?
Di sinilah PPM menempatkan arti penting metodologi.
Masyarakat harus menjadi subjek dari proses perubahan. Mereka melakukan sesuatu, mengalami prosesnya, menghadapi persoalannya, menemukan jalan keluarnya, kemudian belajar dari pengalaman tersebut.
Dengan demikian, masyarakat bukan hanya penerima hasil pembangunan, tetapi sekaligus menjadi sekolah bagi dirinya sendiri.
PPM menyebut proses ini sebagai learning community—komunitas pembelajar.
Dalam pengertian yang lebih luas, masyarakat menjadi universitas kehidupan (university of life).
Pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang kelas. Ia juga lahir dari sawah, pasar, kampung, sungai, koperasi, kelompok usaha, ruang musyawarah, pengalaman konflik, kegagalan, keberhasilan, dan kerja gotong royong.
Ketika Bantuan Tidak Lagi Cukup
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam pembangunan adalah menganggap setiap persoalan masyarakat mempunyai jawaban berupa bantuan.
Masyarakat miskin mengatakan tidak memiliki modal.
Jawabannya: diberikan modal.
Masyarakat tidak memiliki pekerjaan.
Jawabannya: diberikan pekerjaan sementara.
Masyarakat tidak memiliki teknologi.
Jawabannya: diberikan alat.
Masyarakat tidak memiliki air.
Jawabannya: dibangun instalasi air.
Semua itu mungkin berguna. Tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan.
Sebab pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa persoalan itu terjadi?
Jika masyarakat tidak memiliki modal, mengapa?
Apakah karena tidak bekerja keras?
Apakah tidak memiliki akses terhadap sumber produksi?
Apakah tidak memiliki akses pasar?
Apakah tidak memperoleh informasi?
Apakah tidak memiliki jaringan?
Apakah tidak memiliki perlindungan?
Atau ada struktur ekonomi yang membuat sebagian masyarakat selalu berada di luar lingkaran kesempatan?
Demikian pula ketika masyarakat tidak mempunyai air.
Pertanyaan pertama bukan selalu “teknologi apa yang harus kita bawa?”, tetapi “bagaimana persoalan air ini terjadi?”
Apakah sumber air memang tidak tersedia?
Apakah sumber air tersedia tetapi tidak dapat diakses?
Apakah ada persoalan tata ruang?
Apakah terjadi kerusakan lingkungan?
Bagaimana sejarah terbentuknya permukiman tersebut?
Dan mengapa masyarakat memilih tetap tinggal di sana?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pembangunan yang hanya menyelesaikan gejala sering kali tidak menyentuh akar persoalan.
PPM berusaha membalik cara berpikir tersebut.
Sebelum memberikan jawaban, bacalah persoalannya terlebih dahulu.
Sebelum membawa program, dengarkan masyarakat.
Sebelum menawarkan solusi, bangkitkan kemampuan masyarakat untuk menemukan solusinya sendiri.
Jangan Memberi Ikan, Jangan Memaksakan Pancing
Dalam tradisi pemikiran PPM terdapat adagium yang menarik:
“Jangan beri seseorang ikan, sebab dia hanya bisa makan sehari. Tapi tak perlu juga diberi pancing, sebab belum tentu dia suka memancing, atau yang pasti, dia bukan anak kita.”
Pesan di balik ungkapan ini bukanlah menolak bantuan.
Bantuan tetap diperlukan dalam keadaan tertentu. Namun bantuan tidak boleh membuat manusia kehilangan harga diri, pilihan, dan tanggung jawabnya.
Memberi pancing pun belum tentu memberdayakan apabila kita sendiri yang menentukan bahwa memancing adalah jalan hidup yang harus dipilih masyarakat.
Pemberdayaan bukan sekadar memberikan alat.
Pemberdayaan adalah membangkitkan kesadaran dan kemampuan memilih.
Karena itu, tugas pekerja sosial bukan mengambil alih kehidupan masyarakat.
Tugasnya adalah menciptakan kondisi agar masyarakat mampu mengambil kembali kendali atas kehidupannya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana:
PPM tidak ingin menjadi tangan yang selalu memberi. PPM ingin menjadi tangan yang membantu masyarakat menemukan tangannya sendiri.
Pertanyaan Besar: “Who Am I?”
Persoalan kemiskinan pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan pendapatan.
Ada dimensi yang jauh lebih dalam: harga diri manusia.
Seseorang yang terlalu lama ditempatkan sebagai penerima bantuan dapat kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu.
Di sinilah pertanyaan Who Am I? menjadi penting.
Siapa saya?
Apa yang saya miliki?
Apa yang saya bisa?
Apa yang dapat saya lakukan bersama orang lain?
Apa tanggung jawab saya terhadap keluarga?
Apa tanggung jawab saya terhadap komunitas?
Dan bagaimana saya dapat menjadi bagian dari penyelesaian persoalan yang saya hadapi?
Pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya meningkatkan pendapatan seseorang, tetapi juga meningkatkan kapasitasnya sebagai manusia.
Karena itu, PPM melihat pengembangan masyarakat sebagai proses membangun manusia seutuhnya.
Dari Ideologi Menuju Ideopraxis
Dalam perjalanan PPM, ideologi kerakyatan tidak dapat berhenti sebagai gagasan.
Ia harus menjadi tindakan.
Gagasan harus diuji oleh kenyataan.
Kenyataan harus direfleksikan.
Refleksi menghasilkan pengetahuan.
Dan pengetahuan kembali digunakan untuk memperbaiki tindakan.
Inilah yang dapat disebut sebagai ideopraxis—ideologi yang diterjemahkan menjadi praksis kehidupan.
Di sinilah metodologi menjadi sangat penting.
Sebuah gagasan kerakyatan akan kehilangan makna apabila cara kerjanya justru membuat masyarakat tergantung.
Sebaliknya, sebuah metodologi akan kehilangan arah apabila tidak memiliki keberpihakan kepada manusia dan kepentingan rakyat.
Karena itu, PPM menempatkan ideologi dan metodologi dalam hubungan yang tidak terpisahkan.
Ideologi memberikan arah. Metodologi memberikan cara. Praksis membuktikan keduanya dalam kenyataan.
PPM dan “Gerakan Jalan Tengah”
Dari pengalaman panjang tersebut, PPM kemudian semakin meneguhkan apa yang dapat disebut sebagai Gerakan Jalan Tengah.
Jalan tengah bukan berarti berdiri tanpa sikap.
Jalan tengah berarti menolak dikotomi yang memisahkan negara dan masyarakat, pemerintah dan rakyat, modernitas dan tradisi, teknologi dan pengetahuan lokal, ekonomi dan kebudayaan.
Semua kekuatan itu dapat bekerja bersama.
Namun pusatnya tetap harus jelas:
masyarakat harus menjadi pelaku.
Negara dapat menyediakan kebijakan.
Dunia usaha dapat menyediakan investasi dan teknologi.
Perguruan tinggi dapat menyediakan ilmu pengetahuan.
Organisasi masyarakat dapat menyediakan pendampingan.
Tetapi masyarakat sendiri harus memiliki ruang untuk menentukan, menjalankan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Itulah makna peranserta.
Dari Peranserta Menuju Masyarakat Sejahtera
Gerakan PPM kemudian tidak berhenti pada pemberdayaan individu.
Yang hendak dibangun adalah komunitas yang mampu mengorganisasikan dirinya.
Dari sinilah gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera menemukan relevansinya.
Masyarakat sejahtera bukan hanya masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi.
Ia adalah masyarakat yang mampu mengembangkan kehidupan yang utuh, seimbang, dan mencukupi.
Utuh dalam hubungan manusia dengan nilai dan Tuhannya.
Seimbang dalam hubungan individu dengan kehidupan sosial dan ekonominya.
Dan mencukupi dalam kemampuan memenuhi kebutuhan dasar serta mengembangkan potensi masyarakat.
Gagasan ini beririsan dengan konsep Qaryah Thayyibah—komunitas yang baik, sehat, produktif, berkeadaban, dan memiliki kemampuan mengatur kehidupannya secara bersama.
Karena itu, pembangunan masyarakat harus menyentuh berbagai dimensi kehidupan:
- Sosial ekonomi
- Pendidikan alternatif
- Kesehatan masyarakat
- Teknologi tepat
- Lingkungan hidup
- Sosial budaya
- Kependudukan
- Emansipasi sosial
Kedelapan bidang tersebut bukanlah program yang berdiri sendiri.
Semuanya saling berkaitan.
Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan.
Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan.
Dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dan menentukan masa depannya.
Ukuran Keberhasilan Adalah Sejarah
Pada akhirnya, ukuran paling adil dari sebuah gerakan kebudayaan adalah sejarah.
Sejarah tidak akan hanya mencatat berapa banyak program yang dibuat.
Sejarah akan mencatat apakah masyarakat menjadi lebih berdaya atau justru semakin bergantung.
Sejarah akan mencatat apakah sebuah gerakan meninggalkan proyek atau meninggalkan manusia-manusia yang mampu melanjutkan perjuangan.
Karena itu, keberhasilan PPM tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak masyarakat membutuhkan PPM.
Justru sebaliknya.
Semakin mampu masyarakat berjalan dengan kekuatannya sendiri, semakin berhasil metodologi PPM.
Jika suatu komunitas mampu mengenali persoalannya sendiri, mengorganisasikan sumber dayanya, mengambil keputusan, membangun kerja sama, menyelesaikan masalah, dan belajar dari pengalaman, maka proses pemberdayaan telah menemukan bentuknya.
PPM tidak sedang membangun masyarakat untuk bergantung kepada PPM.
PPM sedang berusaha membangun masyarakat yang mampu membangun dirinya sendiri.
Dari Memberi kepada Membangkitkan
Inilah mungkin salah satu pesan paling penting yang perlu terus dirawat dalam perjalanan PPM.
Memberi adalah tindakan sesaat. Membangkitkan adalah proses sejarah.
Memberi dapat mengurangi beban.
Membangkitkan dapat mengubah keadaan.
Memberi dapat menyelesaikan kebutuhan.
Membangkitkan dapat melahirkan kemampuan.
Memberi dapat membuat seseorang bertahan.
Membangkitkan membuat seseorang mampu berdiri.
Dan karena itu, PPM tidak harus selalu hadir sebagai pihak yang memberikan jawaban.
Kadang-kadang PPM justru harus hadir dengan pertanyaan.
Pertanyaan yang membuat masyarakat berpikir.
Pertanyaan yang membuka kesadaran.
Pertanyaan yang mengajak masyarakat melihat akar persoalannya.
Pertanyaan yang mengembalikan harga diri dan tanggung jawab.
Sebab pembangunan yang paling bermakna bukan pembangunan yang membuat rakyat berkata,
“Apa lagi yang dapat diberikan kepada kami?”
Melainkan ketika rakyat mulai berkata,
“Apa yang dapat kami lakukan untuk kehidupan kami sendiri?”
Di titik itulah peranserta berubah menjadi kekuatan.
Di titik itulah masyarakat mulai menjadi subjek.
Dan di titik itulah gerakan kebudayaan menemukan maknanya.
PPM: dari memberi kepada membangkitkan.
Sebab pada akhirnya, rakyat bukan objek pembangunan.
Rakyat adalah pelaku sejarahnya sendiri.(ppmindonesia)





























