Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kesalehan Semu dalam Perspektif Al-Qur’an

6
×

Kesalehan Semu dalam Perspektif Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Kesalehan dalam Al-Qur’an bukan sekadar apa yang tampak pada tubuh dan ritual, melainkan kesadaran kepada Allah yang melahirkan kejujuran, kepedulian, ketakwaan, dan perubahan perilaku.

Ketika Kesalehan Berhenti pada Penampilan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Kesalehan biasanya mudah dikenali dari sesuatu yang tampak.

Seseorang rajin salat. Sering membaca Al-Qur’an. Aktif dalam kegiatan keagamaan. Mengenakan simbol-simbol keislaman. Berbicara dengan istilah-istilah agama. Bahkan mungkin dikenal sebagai orang yang sangat religius.

Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa apa yang tampak belum tentu menggambarkan apa yang ada di dalam diri manusia.

Di sinilah muncul persoalan kesalehan semu: keberagamaan yang terlihat secara lahiriah, tetapi tidak berbanding lurus dengan kesadaran kepada Allah dan perilaku moral.

Apakah Al-Qur’an mengkritik keadaan semacam ini?

Jawabannya tegas.

Tetapi untuk memahaminya secara utuh, kita tidak cukup mengambil satu ayat. Kita perlu membaca ayat dengan ayat lain.

Inilah pendekatan Qur’an bil Qur’an.

Al-Qur’an menjelaskan bentuk ibadah, kemudian menjelaskan tujuannya, menunjukkan buahnya, sekaligus memperingatkan ketika bentuk tersebut kehilangan ruhnya.

Maka alurnya dapat dirumuskan:

BENTUK → TUJUAN → BUAH → KRITIK → TAUHID → TAKWA

Dari alur inilah konsep kesalehan semu dapat dipahami.

Al-Qur’an Mengakui Bentuk Ibadah

Al-Qur’an tidak menolak bentuk lahiriah dalam agama.

Salat diperintahkan.

Zakat diperintahkan.

Puasa diwajibkan.

Kurban memiliki syariat.

Allah berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

(QS. Al-Baqarah: 43)

Jadi, persoalannya bukan apakah ritual diperlukan.

Ritual memang diperintahkan.

Namun Qur’an bil Qur’an mengajak kita melangkah ke pertanyaan berikutnya:

Untuk apa ritual itu dilakukan?

Di sinilah ayat berikutnya menjelaskan ayat sebelumnya.

Salat Bukan Sekadar Gerakan, tetapi untuk Mengingat Allah

Allah berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.”

(QS. Thaha: 14)

Perhatikan hubungan ayatnya.

QS. Al-Baqarah: 43 menunjukkan bentuk: salat.

QS. Thaha: 14 menjelaskan tujuan: mengingat Allah.

Maka salat tidak boleh dipisahkan dari kesadaran kepada Allah.

Bentuknya penting, tetapi bentuk itu mempunyai tujuan.

Dalam bahasa Qur’an bil Qur’an:

Salat → dzikrullah → kesadaran kepada Allah.

Kemudian Al-Qur’an kembali menjelaskan buah dari salat.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Kini alurnya menjadi lebih lengkap:

Salat → mengingat Allah → mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Dengan demikian, salat memiliki bentuk, tujuan, dan buah.

Jika bentuk ada tetapi buah moralnya tidak terlihat, Al-Qur’an mengajak manusia melakukan introspeksi.

Al-Ma’un: Ketika Ritual Tidak Mengubah Perilaku

Di sinilah Surah Al-Ma’un menjadi sangat penting.

Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Kemudian:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, mereka yang berbuat riya.”

(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Rangkaian ayat ini sangat menarik.

Orang yang disebut dalam surah tersebut melakukan salat, tetapi pada saat yang sama terdapat masalah serius dalam sikap sosial dan orientasi batinnya.

Ada pengabaian terhadap anak yatim.

Ada ketidakpedulian terhadap orang miskin.

Ada kelalaian dalam salat.

Ada riya.

Dengan demikian, Al-Qur’an memperlihatkan bahwa aktivitas ritual tidak otomatis menjadi bukti kesalehan sejati.

Inilah salah satu dasar Qur’ani untuk memahami istilah kesalehan semu.

Riya: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Pertunjukan

Mengapa seseorang melakukan ibadah tetapi kemudian kehilangan nilai kesalehannya?

Al-Qur’an menunjukkan salah satu sebabnya: riya.

Allah berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Orang-orang yang berbuat riya.”

(QS. Al-Ma’un: 6)

Riya berarti tindakan keagamaan tidak lagi sepenuhnya berorientasi kepada Allah, tetapi juga diarahkan kepada pandangan manusia.

Di sinilah terjadi perubahan orientasi:

Allah → manusia

Kesalehan yang seharusnya bersifat pengabdian berubah menjadi penampilan kesalehan.

Manusia akhirnya tidak lagi hanya bertanya:

“Apakah Allah menerima amal saya?”

Tetapi lebih sibuk bertanya:

“Bagaimana orang lain melihat saya?”

Inilah persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan.

Al-Qur’an Membongkar Kesalehan yang Hanya Tampak dari Luar

Al-Qur’an memberikan prinsip penting:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.”

(QS. Ghafir: 19)

Manusia dapat menilai berdasarkan apa yang terlihat.

Allah mengetahui apa yang tersembunyi.

Karena itu, ukuran kesalehan manusia tidak pernah sempurna.

Seseorang dapat terlihat baik di hadapan manusia, tetapi hanya Allah yang mengetahui kedalaman hatinya.

Maka Kajian Syahida tidak diarahkan untuk memberi label kepada individu:

“Orang ini saleh semu.”

Sebaliknya, ayat-ayat tersebut harus menjadi cermin:

“Apakah keberagamaan saya sudah benar-benar berorientasi kepada Allah?”

Al-Qur’an Menggeser Ukuran dari Simbol kepada Takwa

Lalu apa ukuran kemuliaan menurut Al-Qur’an?

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjadi penjelas penting.

Manusia cenderung menilai berdasarkan:

  • pakaian;
  • status sosial;
  • kelompok;
  • gelar;
  • popularitas;
  • kemampuan berbicara agama;
  • banyaknya aktivitas keagamaan.

Namun Al-Qur’an memberikan ukuran yang berbeda:

أَتْقَاكُمْ — orang yang paling bertakwa.

Takwa bukan sekadar simbol yang dapat dipamerkan.

Takwa adalah kesadaran hidup di hadapan Allah.

Al-Baqarah 177: Kebajikan Tidak Cukup dengan Bentuk

Prinsip ini semakin jelas ketika QS. Al-Baqarah: 177 dibaca bersama ayat-ayat sebelumnya.

Allah berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ…

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…”

(QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini tidak berarti arah kiblat tidak penting.

Al-Qur’an sendiri memerintahkan manusia menghadap Masjidil Haram:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

(QS. Al-Baqarah: 144)

Inilah contoh nyata Qur’an bil Qur’an.

QS. Al-Baqarah: 144 menjelaskan arah ibadah.

QS. Al-Baqarah: 177 menjelaskan bahwa kebajikan tidak berhenti pada arah tersebut.

Keduanya saling melengkapi.

Maka:

Bentuk ibadah tidak dibatalkan, tetapi bentuk ibadah tidak boleh dijadikan keseluruhan makna agama.

Puasa: Bentuk yang Menghasilkan Takwa

Prinsip yang sama ditemukan dalam puasa.

Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa memiliki bentuk.

Tetapi ayat menjelaskan tujuannya:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — agar kamu bertakwa.

Jadi:

Puasa → latihan pengendalian diri → takwa.

Jika seseorang berhasil menahan lapar tetapi tidak belajar mengendalikan keserakahan, kebencian, kebohongan, dan kezaliman, maka ia perlu kembali memahami tujuan puasa.

Bukan berarti puasanya tidak memiliki bentuk syariat.

Tetapi makna spiritual puasa perlu dihidupkan.

Kurban: Allah Tidak Membutuhkan Material Ritual

Prinsip ini bahkan lebih tegas dalam ibadah kurban.

Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.”

(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini memperlihatkan hubungan antara bentuk dan substansi.

Daging dan darah adalah bagian dari bentuk ritual.

Tetapi yang sampai kepada Allah adalah takwa.

Maka kesalehan tidak terletak pada material ritual itu sendiri.

Kesalehan terletak pada kesadaran yang melahirkan pengorbanan dan ketundukan kepada Allah.

Al-Qur’an pun Tidak Ingin Hanya Menjadi Bacaan

Bagaimana dengan Al-Qur’an sendiri?

Seseorang dapat membaca Al-Qur’an setiap hari.

Namun Al-Qur’an menjelaskan tujuan yang lebih dalam:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

(QS. Shad: 29)

Ayat ini membawa kita dari bacaan menuju tadabbur.

Tadabbur membawa manusia kepada pemahaman.

Pemahaman seharusnya melahirkan kesadaran.

Dan kesadaran seharusnya memengaruhi kehidupan.

Maka alurnya:

Membaca → memahami → mentadabburi → menyadari → mengamalkan.

Kesalehan semu dapat terjadi ketika perjalanan itu berhenti pada tahap pertama.

Tauhid: Pusat dari Seluruh Kesalehan

Setelah membahas salat, puasa, kurban, Al-Qur’an, dan takwa, Qur’an bil Qur’an membawa kita kepada pusatnya: tauhid.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”

(QS. Al-An‘am: 162–163)

Inilah puncak alur Qur’an bil Qur’an.

Salat tidak berhenti pada gerakan.

Ibadah tidak berhenti pada ritual.

Hidup tidak berhenti pada identitas.

Semuanya diarahkan:

لِلَّهِ — untuk Allah.

Jika orientasi ini hilang, keberagamaan dapat berubah menjadi sekadar pertunjukan sosial.

12. Kesalehan Sejati Melahirkan Akhlak

Al-Qur’an tidak memisahkan iman dari kehidupan sosial.

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…”

(QS. Al-‘Asr: 1–3)

Iman disandingkan dengan amal saleh.

Artinya, iman bukan sekadar sesuatu yang diklaim.

Ia memiliki konsekuensi dalam tindakan.

Karena itu, kesalehan sejati tidak hanya terlihat di tempat ibadah.

Ia terlihat ketika seseorang:

jujur ketika tidak diawasi,

adil ketika memiliki kekuasaan,

amanah ketika memegang kepercayaan,

peduli ketika melihat penderitaan,

rendah hati ketika memiliki kelebihan.

Kesalehan Semu dan Kesalehan Sejati

Dari keseluruhan rangkaian ayat, kita dapat membuat perbandingan sederhana.

Kesalehan Semu Kesalehan Qur’ani
Berorientasi pada pandangan manusia Berorientasi kepada Allah
Mengutamakan penampilan Mengutamakan takwa
Ritual berhenti sebagai rutinitas Ritual membentuk kesadaran
Al-Qur’an hanya dibaca Al-Qur’an ditadabburi
Mudah menghakimi orang lain Sibuk melakukan muhasabah
Identitas menjadi kebanggaan Tauhid menjadi orientasi
Agama menjadi simbol Agama menjadi jalan pengabdian
Kesalehan dipamerkan Amal dilakukan dengan ikhlas

Perbedaan ini bukan alat untuk menilai siapa yang lebih saleh.

Justru ia menjadi cermin bagi diri sendiri.

Jangan Mengubah Kritik Al-Qur’an Menjadi Alat Menghakimi

Ada satu hal penting.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang riya, kesombongan, atau kesalehan semu, ayat tersebut tidak semestinya digunakan untuk menunjuk orang lain sambil merasa diri sendiri sudah selamat.

Sebab Al-Qur’an juga mengajarkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Ayat ini sangat relevan.

Jangan menjadikan simbol kesalehan sebagai alasan untuk menyatakan diri lebih suci.

Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Dengan demikian, kritik terhadap kesalehan semu pertama-tama harus diarahkan kepada diri sendiri.

Kesalehan Sejati: Dari Ritual Menuju Kesadaran

Jika seluruh ayat dibaca dalam satu rangkaian Qur’an bil Qur’an, maka alurnya menjadi jelas:

Pertama — Bentuk

Allah memerintahkan salat, puasa, zakat dan berbagai ibadah.

Kedua — Tujuan

Salat untuk mengingat Allah.

Puasa untuk mencapai takwa.

Kurban untuk menghadirkan takwa.

Ketiga — Buah

Salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Iman melahirkan amal saleh.

Kebajikan melahirkan kepedulian sosial.

Keempat — Kritik

Al-Qur’an memperingatkan salat yang disertai kelalaian dan riya.

Kelima — Orientasi

Seluruh ibadah dan kehidupan diarahkan kepada Allah.

Keenam — Ukuran

Kemuliaan ditentukan oleh takwa.

Maka kesimpulan Qur’an bil Qur’an bukan:

“Ritual tidak penting.”

Melainkan:

“Ritual harus mengantarkan manusia kepada kesadaran dan ketakwaan.”

Penutup: Jangan Hanya Terlihat Saleh, tetapi Hiduplah dalam Kesadaran kepada Allah

Kesalehan semu bukan persoalan apakah seseorang memakai simbol agama atau tidak.

Bukan pula persoalan apakah seseorang aktif melakukan ritual atau tidak.

Persoalannya jauh lebih dalam:

Untuk siapa semua itu dilakukan?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa bentuk ibadah memiliki tempat yang penting. Namun bentuk itu tidak boleh dipisahkan dari tujuan dan buahnya.

Salat mengarah kepada ingatan kepada Allah.

Puasa mengarah kepada takwa.

Kurban mengarah kepada ketakwaan.

Al-Qur’an mengarah kepada tadabbur dan kesadaran.

Iman mengarah kepada amal saleh.

Dan seluruh kehidupan diarahkan kepada Allah.

Karena itu, kesalehan sejati bukanlah kesalehan yang paling banyak terlihat oleh manusia, melainkan kesalehan yang paling nyata pengaruhnya terhadap hati, perilaku, dan pengabdian kepada Allah.

Kesalehan semu sibuk membangun citra.

Kesalehan sejati sibuk memperbaiki diri.

Kesalehan semu mencari pengakuan.

Kesalehan sejati mencari keridhaan Allah.

Kesalehan semu berhenti pada simbol.

Kesalehan sejati bergerak dari ritual menuju kesadaran, dari kesadaran menuju takwa, dan dari takwa menuju amal saleh.

Inilah yang dapat kita renungkan melalui Kajian Syahida — Qur’an bil Qur’an:

Bukan seberapa religius kita terlihat di hadapan manusia yang menjadi pertanyaan utama, tetapi seberapa jauh seluruh keberagamaan kita benar-benar mengarahkan hidup kepada Allah. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb. (syahida)

 

Example 120x600