Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Metodologi PPM: Dari Pendekatan Karitatif Menuju Pemberdayaan

14
×

Metodologi PPM: Dari Pendekatan Karitatif Menuju Pemberdayaan

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

Bantuan dapat meringankan beban, tetapi pemberdayaan harus membangun kemampuan masyarakat untuk mengubah kehidupannya sendiri.

JAKARTA.PPMIndonesia.com-  Ada saat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan segera.

Ketika bencana datang, orang kehilangan rumah. Ketika penghasilan terputus, keluarga membutuhkan makanan. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan menjadi sangat berarti. Dalam keadaan seperti itu, memberi adalah tindakan kemanusiaan yang tidak dapat ditunda.

Tetapi persoalan muncul ketika memberi berhenti sebagai tujuan.

Masyarakat kemudian terus ditempatkan sebagai penerima. Bantuan menjadi pola hubungan. Program datang dari luar, masyarakat menunggu dari dalam. Ketika bantuan berhenti, kegiatan pun berhenti.

Di sinilah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menempatkan pertanyaan metodologis yang lebih mendasar:

Apakah bantuan hanya membuat masyarakat bertahan, atau mampu membuat masyarakat bangkit?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena PPM memandang pengembangan masyarakat bukan sekadar proses memenuhi kebutuhan, tetapi proses membangun kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Dengan demikian, perjalanan metodologi PPM dapat dibaca sebagai sebuah pergeseran: dari pendekatan karitatif menuju pemberdayaan; dari memberi kepada membangkitkan; dari masyarakat sebagai penerima menjadi masyarakat sebagai pelaku.

Karitatif: Penting, tetapi Tidak Cukup

Pendekatan karitatif memiliki tempat dalam kehidupan sosial.

Ia lahir dari rasa kemanusiaan: melihat penderitaan, lalu terdorong untuk menolong.

Dalam banyak keadaan, pertolongan langsung memang diperlukan.

Segelas air kepada orang yang kehausan adalah kebaikan.

Sepiring makanan kepada orang yang kelaparan adalah kemanusiaan.

Bantuan kepada korban bencana adalah solidaritas.

Karena itu, PPM tidak berada pada posisi untuk mempertentangkan menolong dengan memberdayakan.

Persoalannya bukan pada tindakan memberi.

Persoalannya adalah ketika pemberian tidak pernah berkembang menjadi kemampuan.

Seseorang yang lapar hari ini membutuhkan makanan. Tetapi setelah kenyang, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana ia memperoleh makanan esok hari?

Sebuah keluarga yang kehilangan rumah membutuhkan tempat tinggal. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana keluarga tersebut dapat membangun kembali kehidupan ekonominya?

Seorang pedagang kecil yang kehilangan modal membutuhkan pertolongan. Tetapi pertanyaan yang lebih jauh adalah: bagaimana ia dapat membangun kembali modal, pasar, jaringan, dan posisi tawarnya?

Dengan kata lain, pertolongan menyelesaikan kebutuhan yang mendesak, sementara pemberdayaan berusaha menyentuh kemampuan dan struktur yang menentukan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Dari “Apa yang Bisa Kita Berikan?” menjadi “Apa yang Bisa Mereka Lakukan?”

Perubahan metodologi dimulai dari perubahan pertanyaan.

Pendekatan karitatif cenderung dimulai dengan:

“Apa yang mereka butuhkan?”

Kemudian lembaga atau pihak luar mencari sesuatu yang dapat diberikan.

Metodologi pemberdayaan bergerak lebih jauh:

“Mengapa kebutuhan itu muncul?”

Lalu:

“Apa yang sebenarnya mereka miliki?”

Kemudian:

“Apa yang dapat mereka lakukan?”

Dan akhirnya:

“Apa yang dapat kita lakukan bersama agar kemampuan itu berkembang?”

Perubahan pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah seluruh posisi masyarakat.

Dalam pendekatan pertama, masyarakat cenderung menjadi penerima.

Dalam pendekatan kedua, masyarakat ditempatkan sebagai subjek.

Inilah salah satu fondasi metodologi PPM.

Masyarakat Tidak Pernah Benar-Benar Kosong

Salah satu kesalahan dalam pembangunan adalah menganggap masyarakat miskin sebagai masyarakat yang tidak memiliki apa-apa.

Karena miskin, dianggap tidak punya pengetahuan.

Karena tidak berpendidikan tinggi, dianggap tidak memiliki kemampuan.

Karena tidak memiliki modal, dianggap tidak memiliki potensi.

Padahal kehidupan masyarakat menunjukkan sebaliknya.

Petani mungkin tidak memiliki gelar ekonomi, tetapi ia memahami tanah, musim, benih, air, dan karakter lingkungan.

Pedagang kecil mungkin tidak pernah belajar manajemen di perguruan tinggi, tetapi ia mampu membaca perilaku pelanggan dan perubahan harga.

Nelayan memiliki pengetahuan tentang laut yang tidak selalu terdapat dalam buku.

Perempuan di kampung memiliki pengetahuan luar biasa tentang pengelolaan rumah tangga dan ekonomi keluarga.

Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan teknologi yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Artinya, masyarakat tidak pernah benar-benar kosong.

Mereka memiliki modal sosial, pengalaman, pengetahuan lokal, jaringan, tradisi, keterampilan, dan sumber daya yang sering kali tidak terlihat oleh sistem pembangunan formal.

Tugas pemberdayaan bukan mengisi gelas yang dianggap kosong.

Tugasnya adalah menemukan air yang sudah ada, memperbesar sumbernya, dan membuat masyarakat mampu mengelolanya.

Kemiskinan Bukan Sekadar Tidak Punya Uang

Persoalan ini terlihat jelas ketika kita berbicara tentang kemiskinan.

Masyarakat miskin sering mengatakan, “Kami tidak punya modal.”

Jika pendekatannya karitatif, jawaban yang paling cepat adalah memberikan modal.

Tetapi PPM mengajukan pertanyaan lebih jauh.

Mengapa mereka tidak memiliki modal?

Apakah karena tidak bekerja?

Apakah karena penghasilannya terlalu kecil?

Apakah karena akses terhadap sumber produksi terbatas?

Apakah karena tidak mempunyai akses pasar?

Apakah karena informasi tidak sampai kepada mereka?

Apakah karena jaringan ekonomi hanya terbuka bagi kelompok tertentu?

Apakah karena posisi tawarnya terlalu lemah?

Apakah karena struktur distribusi membuat nilai tambah lebih banyak dinikmati pihak lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada kesadaran bahwa kemiskinan bukan semata-mata persoalan kekurangan uang.

Ada faktor struktural, kelembagaan, sosial, budaya, informasi, akses, dan kesempatan yang ikut menentukan.

Maka, memberikan modal saja belum tentu mengubah keadaan.

Modal dapat habis.

Tetapi jika masyarakat memiliki kemampuan mengakses sumber daya, mengelola usaha, membangun jaringan, membaca pasar, bekerja sama, dan memperkuat posisi tawar, maka modal dapat berubah menjadi kekuatan produktif.

Di sinilah perbedaan antara memberi modal dan membangun kemampuan mengelola modal.

Pemberdayaan Bukan Memaksakan Solusi

Ada jebakan lain dalam pemberdayaan.

Setelah menyadari bahwa masyarakat harus mandiri, pihak luar kemudian datang membawa apa yang dianggap sebagai solusi terbaik.

Masyarakat tidak diberi ikan.

Tetapi mereka langsung diberi pancing.

Masalahnya, belum tentu mereka membutuhkan pancing.

Belum tentu mereka suka memancing.

Belum tentu di tempat mereka terdapat ikan.

Dan belum tentu memancing merupakan pilihan ekonomi yang paling tepat.

Di sinilah PPM menggunakan prinsip yang lebih mendasar:

pemberdayaan tidak boleh berubah menjadi pemaksaan.

Masyarakat harus memiliki ruang untuk menentukan kebutuhannya, memilih jalan, mencoba, mengalami kegagalan, dan menemukan bentuk yang sesuai dengan kehidupannya.

Pihak luar dapat membawa ilmu.

Dapat membawa teknologi.

Dapat membawa jaringan.

Dapat membuka akses.

Dapat memberikan pendampingan.

Tetapi keputusan mengenai kehidupan masyarakat harus semakin dikembalikan kepada masyarakat itu sendiri.

Belajar dari Apa yang Dilakukan

Dalam metodologi PPM, masyarakat belajar bukan hanya dari penyuluhan.

Masyarakat belajar dari perbuatan.

Mereka mencoba.

Mereka gagal.

Mereka memperbaiki.

Mereka mencoba lagi.

Dalam proses tersebut, lahir pengalaman.

Pengalaman direfleksikan.

Refleksi melahirkan pengetahuan.

Pengetahuan digunakan untuk memperbaiki tindakan.

Proses tersebut terus berputar.

Tindakan → pengalaman → refleksi → pengetahuan → tindakan baru.

Karena itu, masyarakat merupakan learning community—komunitas pembelajar.

Dan PPM pun harus menjadi bagian dari proses belajar tersebut.

PPM bukan lembaga yang datang membawa seluruh jawaban.

PPM datang membawa metodologi untuk membantu masyarakat menemukan jawabannya sendiri.

Dari Pendamping Menjadi Teman Berproses

Perubahan metodologi juga mengubah posisi seorang pekerja sosial.

Ia bukan “penyelamat”.

Ia bukan “guru” yang merasa paling tahu.

Ia bukan pula “pemilik program” yang menentukan segala sesuatu dari awal hingga akhir.

Ia lebih tepat menjadi teman berproses.

Ia mendengar.

Ia mengamati.

Ia bertanya.

Ia membantu membuka informasi.

Ia mempertemukan masyarakat dengan jaringan.

Ia membantu membaca persoalan.

Ia mendampingi ketika masyarakat mencoba.

Dan ketika masyarakat sudah mampu berjalan, ia harus berani mundur selangkah.

Sebab keberhasilan pendampingan bukan ketika masyarakat terus membutuhkan pendamping.

Justru sebaliknya.

Keberhasilan pendampingan terlihat ketika masyarakat semakin mampu tanpa pendamping.

PPM dan Gerakan Jalan Tengah

Metodologi PPM tidak berarti menolak bantuan, pemerintah, dunia usaha, teknologi, atau intervensi dari luar.

PPM justru membuka ruang kerja sama.

Negara mempunyai kewenangan dan sumber daya.

Dunia usaha mempunyai teknologi, modal, jaringan, dan pasar.

Perguruan tinggi mempunyai pengetahuan.

Organisasi masyarakat mempunyai pengalaman dan jaringan sosial.

Teknologi membuka kemungkinan baru.

Namun semuanya harus diarahkan untuk memperkuat peranserta masyarakat.

Inilah salah satu makna Gerakan Jalan Tengah.

Tidak menyerahkan seluruh persoalan kepada negara.

Tidak pula menyerahkan masyarakat sepenuhnya kepada mekanisme pasar.

Tidak menganggap tradisi selalu benar.

Tidak pula menganggap teknologi selalu menjadi jawaban.

Yang dibangun adalah ruang pertemuan antara masyarakat, pengetahuan, negara, dunia usaha, teknologi, dan kebudayaan.

Dengan satu prinsip: masyarakat harus semakin kuat menjadi subjek.

Dari Ideologi Kerakyatan Menuju Ideopraxis

Bagi PPM, keberpihakan kepada rakyat tidak cukup menjadi slogan.

Ia harus menjadi praktik.

Karena itu, ideologi kerakyatan harus diterjemahkan menjadi ideopraxis—gagasan yang bekerja dalam kenyataan.

Keberpihakan diuji melalui metodologi.

Jika sebuah program atas nama rakyat justru membuat rakyat semakin tergantung, maka metodologinya perlu dikoreksi.

Jika sebuah bantuan membuat masyarakat kehilangan inisiatif, maka cara pemberiannya perlu dievaluasi.

Jika sebuah teknologi membuat masyarakat menjadi operator pasif tanpa memahami dan menguasai teknologi tersebut, maka proses transfer teknologinya belum selesai.

Dengan demikian, metodologi bukan sekadar teknik kerja.

Metodologi adalah cara ideologi hadir dalam kehidupan nyata.

Stelsel Masyarakat Sejahtera: Memberdayakan Kehidupan Secara Utuh

Pemberdayaan PPM tidak berhenti pada ekonomi.

Masyarakat adalah kesatuan kehidupan.

Karena itu, gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera menjadi penting.

Masyarakat sejahtera adalah masyarakat yang mampu membangun kehidupan yang utuh, seimbang, dan mencukupi.

Pengembangannya menyentuh berbagai bidang:

sosial ekonomi, pendidikan alternatif, kesehatan masyarakat, teknologi tepat, lingkungan hidup, sosial budaya, kependudukan, dan emansipasi sosial.

Kedelapan bidang tersebut saling berhubungan.

Tidak mungkin membangun ekonomi rakyat tanpa pendidikan.

Tidak mungkin membangun pendidikan tanpa kesehatan.

Tidak mungkin membangun kesehatan tanpa lingkungan yang baik.

Tidak mungkin membangun lingkungan tanpa kesadaran sosial dan budaya.

Dan tidak mungkin membangun masyarakat yang berdaya tanpa emansipasi—tanpa kesempatan bagi setiap orang untuk mengambil bagian dalam menentukan kehidupannya.

Di sinilah konsep Qaryah Thayyibah memperoleh konteksnya: membangun komunitas yang tidak hanya sejahtera secara material, tetapi juga sehat secara sosial, kuat secara kelembagaan, berbudaya, berpartisipasi, dan memiliki kemampuan mengatur kehidupannya.

Ukuran Keberhasilan: Apa yang Tersisa Setelah Program Selesai?

Setiap program pada akhirnya akan berakhir.

Anggaran selesai.

Tim pendamping pulang.

Spanduk diturunkan.

Laporan ditulis.

Tetapi kehidupan masyarakat terus berjalan.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya apa yang terjadi selama program berlangsung, melainkan apa yang terjadi setelah program selesai.

Apakah kelompok masyarakat tetap hidup?

Apakah koperasi tetap berjalan?

Apakah usaha tetap berkembang?

Apakah pengetahuan masih digunakan?

Apakah organisasi masyarakat semakin kuat?

Apakah masyarakat mampu mencari solusi baru?

Apakah mereka mampu membangun jaringan sendiri?

Apakah generasi berikutnya dapat meneruskan?

Jika jawabannya ya, maka pemberdayaan telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada bantuan.

Ia telah meninggalkan kapasitas.

Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian

Pada titik inilah perbedaan antara karitatif dan pemberdayaan menjadi semakin jelas.

Karitatif bertanya:

“Apa yang bisa saya berikan?”

Pemberdayaan bertanya:

“Apa yang bisa kita bangun bersama?”

Karitatif cenderung menyelesaikan kebutuhan.

Pemberdayaan membangun kemampuan.

Karitatif melihat kekurangan.

Pemberdayaan mencari potensi.

Karitatif melihat masyarakat sebagai penerima.

Pemberdayaan melihat masyarakat sebagai pelaku.

Karitatif dapat membuat seseorang bertahan.

Pemberdayaan membuat seseorang mampu berdiri.

Namun keduanya tidak harus dipertentangkan.

Dalam situasi tertentu, memberi adalah awal dari menolong.

Yang perlu dijaga adalah agar pemberian tidak menjadi akhir dari perjalanan.

Bantuan seharusnya menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan tempat masyarakat tinggal selamanya.

PPM: Dari Memberi kepada Membangkitkan

Pada akhirnya, seluruh metodologi PPM bermuara pada satu pertanyaan:

Apa yang terjadi pada manusia setelah kita datang dan kemudian pergi?

Jika setelah kita pergi masyarakat kembali menunggu, berarti kita mungkin telah membantu, tetapi belum cukup memberdayakan.

Jika setelah kita pergi masyarakat tetap mampu bekerja, belajar, berorganisasi, mengambil keputusan, membangun jaringan, dan menyelesaikan persoalannya sendiri, maka sesuatu yang lebih penting telah terjadi.

Masyarakat telah bangkit.

Inilah makna pemberdayaan.

PPM tidak bercita-cita menjadi lembaga yang selalu dibutuhkan masyarakat.

PPM justru ingin melahirkan masyarakat yang semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Karena itu, perjalanan dari pendekatan karitatif menuju pemberdayaan bukan sekadar perubahan teknik bekerja.

Ia adalah perubahan cara memandang manusia.

Dari manusia yang dianggap membutuhkan pertolongan menjadi manusia yang memiliki potensi.

Dari rakyat sebagai penerima menjadi rakyat sebagai pelaku.

Dari program yang datang dari luar menjadi proses yang tumbuh dari dalam.

Dari bantuan menuju kemampuan.

Dari ketergantungan menuju kemandirian.

Dan dari sekadar memenuhi kebutuhan hari ini menuju membangun kemampuan masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri.

Pada akhirnya, PPM tidak ingin meninggalkan masyarakat dengan pertanyaan:

“Apa yang akan diberikan PPM kepada kami?”

PPM ingin meninggalkan sebuah kesadaran yang jauh lebih kuat:

“Apa yang dapat kami lakukan bersama untuk kehidupan kami sendiri?”

Sebab ketika pertanyaan itu mulai tumbuh di tengah masyarakat, sesungguhnya proses pemberdayaan telah dimulai.

PPM: bukan sekadar memberi.
PPM membangkitkan.
Bukan menggantikan peran rakyat, tetapi mengembalikan peran itu kepada rakyat. (ppmindonesia)

Example 120x600