Scroll untuk baca artikel
BeritaEditorial

KEBUDAYAAN ADALAH ARUS BAWAH, PERADABAN ADALAH ARUS ATAS

5
×

KEBUDAYAAN ADALAH ARUS BAWAH, PERADABAN ADALAH ARUS ATAS

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

Editorial PPMIndonesia.com

Peradaban yang kokoh tidak pernah benar-benar berdiri di atas ruang kosong. Ia tumbuh dari kebudayaan yang hidup di bawahnya, dari nilai, kepercayaan, pengalaman sejarah, dan cara masyarakat memaknai kehidupannya.

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Pada sebuah pagi, sebuah desa mulai bergerak.

Suara pintu rumah dibuka. Pedagang menata dagangannya. Petani berangkat ke sawah. Anak-anak menuju sekolah. Di sudut kampung, beberapa warga berbincang tentang saluran air yang kembali tersumbat. Di tempat lain, sekelompok pemuda sedang mempersiapkan kegiatan yang akan dilakukan sore nanti.

Tidak ada yang tampak luar biasa.

Tidak ada gedung megah.

Tidak ada upacara besar.

Tidak ada pidato tentang peradaban.

Namun justru dari kehidupan sehari-hari semacam itulah peradaban sesungguhnya dibangun.

Cara orang bekerja.

Cara orang memperlakukan tetangga.

Cara masyarakat menyelesaikan persoalan.

Cara keluarga mendidik anak.

Cara sebuah komunitas menjaga lingkungannya.

Cara orang memandang alam, Tuhan, sesama manusia, dan masa depan.

Semua itu merupakan bagian dari kebudayaan.

Dan dari kebudayaan yang hidup itulah, perlahan-lahan muncul bentuk kehidupan bersama yang lebih luas: peradaban.

KEBUDAYAAN YANG TIDAK SELALU TERLIHAT

Kebudayaan sering kali kita bayangkan sebagai kesenian, pakaian tradisional, bahasa daerah, upacara adat, atau peninggalan sejarah.

Semua itu memang bagian dari kebudayaan.

Tetapi kebudayaan sesungguhnya jauh lebih dalam.

Ia berada di balik cara manusia berpikir.

Di balik cara manusia mempercayai sesuatu.

Di balik nilai yang dianggap baik atau buruk.

Di balik keputusan yang dibuat seseorang.

Di balik kecenderungan masyarakat untuk menerima atau menolak perubahan.

Karena itu, kebudayaan dapat dipahami sebagai arus bawah kehidupan masyarakat.

Ia tidak selalu terlihat di permukaan.

Tetapi ia mengalir terus-menerus.

Ia memberi warna pada perilaku.

Membentuk kebiasaan.

Mempengaruhi pilihan.

Dan dalam rentang sejarah yang panjang, membentuk watak sebuah masyarakat.

Kita mungkin dapat mengubah bangunan dalam waktu singkat.

Kita dapat mendatangkan teknologi baru.

Kita dapat membuat aturan baru.

Tetapi mengubah cara masyarakat berpikir dan memaknai kehidupannya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Sebab kebudayaan tidak dibangun dalam satu generasi.

Ia merupakan hasil pengalaman sejarah yang panjang.

PERADABAN ADALAH APA YANG TERLIHAT DI PERMUKAAN

Jika kebudayaan adalah arus bawah, maka peradaban merupakan arus yang tampak di permukaan.

Peradaban dapat kita lihat dari cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagaimana mereka bekerja.

Bagaimana mereka membangun kota.

Bagaimana mereka mengelola ekonomi.

Bagaimana mereka menggunakan teknologi.

Bagaimana mereka membangun lembaga pendidikan.

Bagaimana mereka mengatur kehidupan bersama.

Bagaimana mereka memperlakukan lingkungan.

Peradaban dengan demikian bukan hanya gedung tinggi, jalan besar, teknologi canggih, atau kemajuan ekonomi.

Semua itu memang dapat menjadi bagian dari peradaban.

Namun peradaban juga tercermin dari kualitas perilaku dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebuah kota dapat memiliki gedung pencakar langit tetapi masyarakatnya kehilangan kepedulian sosial.

Sebuah negara dapat memiliki teknologi maju tetapi lingkungan hidupnya rusak.

Sebuah masyarakat dapat memiliki kekayaan besar tetapi ketidakadilan semakin lebar.

Secara material mungkin tampak maju.

Tetapi secara peradaban belum tentu.

Karena itu, kemajuan peradaban harus selalu dilihat bersama dengan nilai yang mendasarinya.

DI ANTARA KEDUANYA ADA PRANATA

Di sinilah terdapat bagian penting yang sering terlewat.

Antara kebudayaan sebagai arus bawah dan peradaban sebagai arus atas terdapat pranata.

Pranata adalah ruang tempat nilai diterjemahkan menjadi tindakan.

Nilai gotong royong, misalnya, tidak akan menjadi kekuatan sosial jika tidak menemukan bentuk kelembagaan.

Ia dapat hidup dalam kelompok warga.

Dalam koperasi.

Dalam kelompok tani.

Dalam komunitas.

Dalam organisasi pemuda.

Dalam lembaga pendidikan.

Dalam berbagai bentuk kelembagaan masyarakat.

Pranata menjadi semacam arus tengah.

Ia menerima pengaruh dari kebudayaan dan sekaligus membentuk kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jika kita ingin melakukan perubahan sosial, pranata merupakan salah satu pintu strategis.

Mengubah sistem nilai secara langsung sering kali membutuhkan waktu panjang dan dapat menimbulkan resistensi.

Sementara mengubah perilaku permukaan saja sering tidak bertahan lama.

Tetapi ketika masyarakat memiliki kelembagaan baru yang memberi pengalaman berbeda, mereka dapat belajar melalui praktik.

Di sinilah perubahan menjadi lebih alamiah.

PERUBAHAN TIDAK SELALU HARUS DIMULAI DARI ATAS

Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang harus datang dari atas.

Pemerintah membuat kebijakan.

Institusi membuat program.

Para ahli merancang model.

Masyarakat kemudian menjalankan.

Padahal sejarah masyarakat menunjukkan hal yang berbeda.

Banyak perubahan justru dimulai dari kelompok kecil yang mencoba sesuatu yang baru.

Sebuah kelompok tani mengembangkan cara bertani yang berbeda.

Sebuah koperasi mencoba model usaha baru.

Sebuah komunitas mengelola sampah dengan cara berbeda.

Sebuah sanggar menghidupkan kembali kesenian lokal.

Sebuah kelompok pemuda menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan kampung.

Pada awalnya mereka mungkin dianggap kecil.

Namun apabila berhasil, pengalaman itu dapat menyebar.

Masyarakat lain melihat.

Mencoba.

Menyesuaikan.

Kemudian mengembangkan.

Dari sinilah perubahan sosial bekerja.

Bukan selalu melalui perintah, tetapi melalui contoh yang hidup.

MASYARAKAT MEMERLUKAN RUANG UNTUK MENCOBA

Perubahan kebudayaan tidak dapat dipaksakan hanya dengan instruksi.

Masyarakat perlu mengalami sendiri.

Mereka perlu memiliki kesempatan untuk mencoba.

Jika berhasil, dikembangkan.

Jika gagal, diperbaiki.

Kemudian dicoba kembali.

Proses semacam itu bukan sekadar trial and error.

Ia adalah proses belajar masyarakat.

Sebuah kelompok yang gagal mengembangkan usaha sebenarnya telah mendapatkan pengetahuan.

Sebuah komunitas yang gagal mengelola lingkungan memperoleh pengalaman tentang apa yang tidak bekerja.

Sebuah desa yang mencoba teknologi baru mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana teknologi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Karena itu, kesalahan dalam proses belajar tidak selalu merupakan kegagalan.

Yang berbahaya justru ketika masyarakat tidak diberi kesempatan untuk belajar.

KEBUDAYAAN TIDAK BOLEH DIANGGAP PENGHALANG

Dalam setiap perubahan, selalu ada kecenderungan untuk melihat kebudayaan lama sebagai sesuatu yang menghambat.

Padahal tidak selalu demikian.

Di dalam kebudayaan terdapat nilai yang mungkin justru menjadi modal perubahan.

Gotong royong dapat menjadi dasar ekonomi kolektif.

Musyawarah dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.

Kearifan lokal dapat menjadi dasar pengelolaan lingkungan.

Tradisi berbagi dapat menjadi modal solidaritas sosial.

Nilai keagamaan dapat menjadi sumber etika.

Pengalaman sejarah dapat menjadi pedoman menghadapi perubahan.

Karena itu, tugas perubahan bukan menghancurkan kebudayaan.

Tugasnya adalah menemukan kembali nilai yang masih relevan dan memberinya bentuk baru.

Masa depan tidak harus dibangun dengan membuang masa lalu.

Masa depan dapat tumbuh dari akar sejarah yang terus dikembangkan.

ANAKRONISME DAN LOMPATAN BUDAYA

Ada bahaya lain dalam pembangunan: perubahan yang terlalu cepat tanpa memperhatikan kesiapan masyarakat.

Teknologi datang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat menggunakannya.

Model ekonomi diperkenalkan tanpa memperhatikan struktur sosial lokal.

Kelembagaan baru dibentuk tanpa proses belajar.

Akibatnya, sesuatu yang secara teori terlihat baik belum tentu berfungsi dalam kehidupan nyata.

Inilah yang dapat disebut sebagai lompatan budaya.

Masyarakat dipaksa bergerak terlalu jauh dari pengalaman kesejarahannya.

Perubahan semacam itu dapat menghasilkan kesenjangan antara apa yang dirancang dengan apa yang benar-benar terjadi.

Karena itu, perubahan harus memperhatikan kapasitas belajar masyarakat.

Masyarakat perlu waktu untuk memahami, mencoba, menyesuaikan, dan akhirnya memiliki sesuatu yang baru tersebut.

DARI PRAKTIK KECIL MENJADI KEBIASAAN

Peradaban pada akhirnya dibentuk oleh kebiasaan.

Cara kita membuang sampah.

Cara kita antre.

Cara kita bekerja.

Cara kita menghormati orang lain.

Cara kita menjaga lingkungan.

Cara kita menggunakan teknologi.

Cara kita berdagang.

Cara kita mengelola uang.

Cara kita menyelesaikan konflik.

Semua tampak sederhana.

Tetapi ketika dilakukan berulang-ulang oleh masyarakat, ia menjadi kebiasaan.

Ketika kebiasaan diterima bersama, ia menjadi norma.

Ketika norma memperoleh kelembagaan, ia menjadi pranata.

Dan ketika pranata berkembang serta memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, ia menjadi bagian dari peradaban.

Maka peradaban sebenarnya dibangun melalui ribuan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

PPM DAN JALAN PERUBAHAN DARI TENGAH

Dalam perspektif gerakan PPM, pemahaman tentang kebudayaan dan peradaban tersebut memiliki arti strategis.

PPM tidak perlu memposisikan diri sebagai pihak yang datang untuk mengubah masyarakat secara langsung.

PPM dapat bekerja melalui ruang tengah: membangun dan memperkuat pranata masyarakat.

Mendorong koperasi.

Mengembangkan kelompok usaha.

Memperkuat komunitas lingkungan.

Membangun ruang kebudayaan.

Mengembangkan pendidikan masyarakat.

Mendorong kaderisasi.

Membuka ruang bagi generasi muda.

Di dalam ruang-ruang itulah masyarakat belajar membangun cara baru tanpa harus kehilangan akar budayanya.

PPM menjadi penghubung antara pengalaman sejarah dengan kebutuhan masa depan.

Antara nilai dan tindakan.

Antara kebudayaan dan peradaban.

PERUBAHAN YANG TUMBUH DARI DALAM

Perubahan yang paling kuat biasanya bukan perubahan yang dipaksakan dari luar.

Ia adalah perubahan yang akhirnya dirasakan sebagai kebutuhan dari dalam.

Masyarakat melihat persoalan.

Mereka merasa perlu berubah.

Kemudian mencari jalan.

Mencoba.

Belajar.

Dan akhirnya menemukan bentuk baru yang sesuai dengan kehidupannya.

Di sinilah pentingnya stimuli yang tumbuh dalam masyarakat sendiri.

Tugas gerakan pemberdayaan bukan menggantikan masyarakat dalam menemukan jawaban.

Tugasnya adalah menciptakan kondisi agar masyarakat dapat menemukan jawabannya sendiri.

Karena ketika masyarakat menemukan sendiri sebuah solusi, rasa memiliki terhadap perubahan itu menjadi jauh lebih kuat.

KEBUDAYAAN, PERADABAN, DAN MASA DEPAN INDONESIA

Indonesia memiliki kekayaan kebudayaan yang luar biasa.

Ratusan kelompok masyarakat.

Beragam bahasa.

Tradisi.

Kesenian.

Pengetahuan lokal.

Sistem sosial.

Semua itu bukan sekadar warisan masa lalu.

Ia adalah modal untuk membangun masa depan.

Namun modal kebudayaan tidak akan otomatis menjadi kekuatan peradaban.

Ia harus diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata.

Gotong royong harus menemukan bentuk baru.

Koperasi harus mampu menjawab ekonomi modern.

Kearifan lingkungan harus bertemu teknologi.

Kesenian harus menemukan ruang di dunia digital.

Pendidikan harus membangun kemampuan generasi baru.

Dengan demikian, kebudayaan tidak menjadi museum.

Ia menjadi energi untuk menciptakan masa depan.

PENUTUP

Dari Arus Bawah Menuju Arus Atas

Kita sering melihat peradaban dari apa yang tampak.

Gedung.

Jalan.

Teknologi.

Ekonomi.

Kota.

Namun semua itu hanyalah arus atas.

Di bawahnya terdapat sesuatu yang jauh lebih dalam.

Nilai.

Kepercayaan.

Pengalaman.

Kebiasaan.

Sejarah.

Dan cara sebuah masyarakat memandang kehidupannya.

Itulah kebudayaan.

Di antara keduanya terdapat pranata—ruang tempat nilai diterjemahkan menjadi praktik dan pengalaman baru dibentuk.

Karena itu, membangun peradaban tidak cukup dengan membangun benda-benda fisik.

Kita harus membangun manusia.

Membangun kelembagaan.

Membangun kebiasaan.

Membangun kepercayaan.

Membangun kemampuan masyarakat untuk belajar dan berubah.

Perubahan yang sehat tidak menghancurkan arus bawah untuk menciptakan arus atas yang baru.

Ia justru mengolah kekuatan arus bawah melalui pranata, sehingga perlahan melahirkan arus atas yang lebih baik.

Di sinilah misi gerakan PPM menemukan relevansinya.

Bukan memaksakan perubahan.

Bukan menggantikan masyarakat.

Tetapi membuka ruang agar masyarakat menemukan, mencoba, mengembangkan, dan melembagakan cara-cara baru yang lebih fungsional bagi kehidupannya.

Sebab pada akhirnya, peradaban bukan sesuatu yang jatuh dari langit.

Ia tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Dari rumah.

Dari kampung.

Dari kelompok masyarakat.

Dari koperasi.

Dari sekolah.

Dari komunitas.

Dari kebiasaan yang terus dipraktikkan.

Dan dari nilai yang terus diwariskan.

Kebudayaan adalah arus bawah yang memberi arah.
Pranata adalah arus tengah yang menggerakkan perubahan.
Peradaban adalah arus atas yang memperlihatkan hasilnya.

Jika arus bawahnya sehat, arus tengahnya kuat, dan arus atasnya terarah, maka perubahan tidak sekadar menghasilkan kemajuan.

Ia menghasilkan peradaban yang berakar pada masyarakatnya sendiri.

Dan di situlah PPM memiliki misi sejarah:

Menghidupkan peranserta masyarakat, memperkuat pranata sosial, dan menjadikan kekuatan masyarakat sebagai jalan menuju peradaban.

PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.

Example 120x600