Ketika Gelar Dianggap sebagai Ukuran Kebenaran
JAKARTA.PPMIndoesia.com– Di tengah kehidupan keagamaan, seseorang yang disebut ulama, ustaz, syekh, guru agama, atau pemilik gelar keilmuan tertentu sering kali ditempatkan sebagai sosok yang otomatis memiliki otoritas keagamaan.
Gelar kemudian tidak hanya menjadi identitas, tetapi terkadang berubah menjadi ukuran kebenaran.
Apa yang dikatakan dianggap benar karena siapa yang mengatakannya.
Pertanyaannya:
Apakah demikian ukuran yang diberikan Al-Qur’an?
Ketika Al-Qur’an menyebut orang-orang yang berilmu, apakah yang dimaksud selalu sebuah kelompok sosial dengan gelar tertentu?
Ataukah Al-Qur’an mempunyai ukuran sendiri yang lebih substantif?
Melalui Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, kita tidak memulai dari definisi sosial tentang “ulama”, tetapi membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an saling menjelaskan.
Dari berbagai ayat tentang ‘ilm, ulū al-‘ilm, alladzīna ūtu al-‘ilm, dan al-‘ulamā’, tampak sebuah pola:
Al-Qur’an tidak menjadikan gelar sebagai ukuran utama orang berilmu. Al-Qur’an menunjukkan kualitas ilmu melalui hubungan seseorang dengan kebenaran, iman, ketundukan kepada Allah, keadilan, ketakwaan, dan amal.
AL-QUR’AN TIDAK MENGAJARKAN KITA MENYEMBAH GELAR
Gelar pada dasarnya hanyalah sebuah penamaan.
Seseorang dapat disebut guru, ustaz, profesor, doktor, syekh, atau ulama. Tetapi sebuah nama atau gelar tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua yang dikatakannya benar.
Al-Qur’an justru mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
QS. Al-Isra’ [17]:36
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat jelas:
Jangan mengikuti sesuatu hanya karena mendengar dari seseorang.
Pengetahuan harus menjadi dasar.
Karena itu, dalam perspektif Al-Qur’an, seseorang tidak menjadi benar hanya karena memiliki gelar, sebagaimana seseorang tidak menjadi salah hanya karena tidak memiliki gelar.
Yang harus dinilai adalah kebenaran yang disampaikan dan dasar pengetahuannya.
APA ITU “ILMU” MENURUT AL-QUR’AN?
Untuk memahami siapa yang disebut orang berilmu, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm.
Salah satu ayat yang sangat penting adalah QS. Al-Hajj [22]:54:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa itu benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah benar-benar memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.”
QS. Al-Hajj [22]:54
Perhatikan pola ayat tersebut.
Orang yang diberi ilmu:
يَعْلَمَ — mengetahui
apa?
أَنَّهُ الْحَقُّ
“bahwa itu adalah kebenaran.”
Lalu:
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
“mereka beriman kepadanya.”
Kemudian:
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“hati mereka tunduk kepadanya.”
Jadi Al-Qur’an memberikan sebuah alur:
ILMU → MENGETAHUI KEBENARAN → IMAN → KETUNDUKAN HATI
Ini jauh lebih dalam daripada sekadar memiliki banyak pengetahuan.
ORANG BERILMU MAMPU MENGENALI KEBENARAN
Allah kembali menjelaskan karakter orang yang diberi ilmu:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”
QS. Saba’ [34]:6
Sekali lagi, kata ‘ilm dikaitkan dengan:
الْحَقَّ — al-haqq
kebenaran.
Artinya, salah satu ukuran Qur’ani tentang ilmu adalah kemampuan mengenali kebenaran.
Bukan siapa gurunya.
Bukan gelarnya.
Bukan pakaiannya.
Bukan banyaknya pengikutnya.
Bukan pula seberapa tinggi kedudukannya di mata masyarakat.
QS. ALI ‘IMRAN [3]:18: ILMU BERDIRI BERSAMA TAUHID DAN KEADILAN
Ayat yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah QS. Ali ‘Imran [3]:18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
QS. Ali ‘Imran [3]:18
Di sini Al-Qur’an menggunakan istilah:
أُولُو الْعِلْمِ
Ulū al-‘ilm
“orang-orang yang memiliki ilmu.”
Namun ayat tidak berhenti pada penyebutan tersebut.
Ia langsung menghadirkan:
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
qā’iman bil-qisṭ
“menegakkan keadilan.”
Ini merupakan petunjuk penting dalam pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.
Jika kita ingin mengetahui karakter orang berilmu, ayat lain menjelaskannya:
orang berilmu berkaitan dengan kesaksian tauhid dan penegakan keadilan.
Jadi ilmu bukan sekadar apa yang ada di kepala, tetapi juga apa yang diwujudkan dalam kehidupan.
AL-‘ULAMĀ’: APA UKURANNYA?
Al-Qur’an memang menggunakan kata الْعُلَمَاءُ — al-‘ulamā’.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
QS. Fāṭir [35]:28
Menariknya, ketika Al-Qur’an menyebut al-‘ulamā’, ukuran yang ditampilkan bukan gelar.
Bukan pula pakaian.
Bukan jabatan.
Ukuran yang diberikan adalah:
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
Dengan demikian, jika istilah al-‘ulamā’ hendak dipahami menurut Al-Qur’an, maka karakter yang melekat padanya adalah khashyah kepada Allah.
BACA QS. FĀṬIR [35]:27–28 SECARA UTUH
Untuk memahami ayat tentang al-‘ulamā’, kita tidak boleh memotong QS. Fāṭir [35]:28 dari konteksnya.
Allah terlebih dahulu berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami menghasilkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung terdapat garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”
QS. Fāṭir [35]:27
Kemudian Allah melanjutkan:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak terdapat berbagai macam warna. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fāṭir [35]:28
Konteksnya memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan.
Orang yang mampu memahami tanda-tanda tersebut tidak berhenti pada kekaguman intelektual.
Pengetahuannya melahirkan:
خَشْيَة
khashyah—kesadaran dan rasa takut kepada Allah.
Dengan demikian:
Semakin benar ilmunya, semakin kuat kesadarannya terhadap kebesaran Allah.
ILMU BUKAN ALAT UNTUK MENINGGIKAN DIRI
Salah satu bahaya gelar adalah ketika gelar berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
QS. An-Najm [53]:32
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh memberikan klaim kesucian kepada dirinya sendiri.
Karena itu, seseorang tidak menjadi lebih suci hanya karena memiliki gelar agama.
Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.
Gelar dapat diketahui manusia.
Tetapi kualitas hati diketahui Allah.
ORANG BERILMU TIDAK BERBICARA TENTANG ALLAH TANPA DASAR
Al-Qur’an juga memberikan peringatan:
وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
QS. Al-A‘raf [7]:33
Ini merupakan prinsip besar dalam kehidupan keagamaan.
Semakin seseorang mengatasnamakan Allah, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa apa yang dikatakannya memang memiliki dasar pengetahuan.
Karena itu, otoritas manusia tidak boleh menggantikan otoritas kebenaran.
Kita menghormati guru.
Kita menghormati orang berilmu.
Tetapi kita tidak diperintahkan Al-Qur’an untuk menutup akal ketika berhadapan dengan sebuah klaim keagamaan.
AL-QUR’AN MEMERINTAHKAN AGAR MANUSIA MENGGUNAKAN AKAL
Allah berfirman:
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya makhluk bergerak yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu, yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.”
QS. Al-Anfal [8]:22
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk menyerahkan seluruh kemampuan berpikirnya kepada figur tertentu.
Sebaliknya, manusia diberi:
- pendengaran,
- penglihatan,
- hati,
- dan akal.
Semuanya harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, penghormatan kepada orang berilmu tidak berarti menghapus tanggung jawab pribadi untuk berpikir dan mencari kebenaran.
ILMU YANG BENAR TIDAK MENGIKUTI HAWA NAFSU
Allah berfirman:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti keinginan mereka tanpa pengetahuan. Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Mereka tidak mempunyai penolong.”
QS. Ar-Rum [30]:29
Di sini Al-Qur’an memperlihatkan lawan dari ilmu:
mengikuti hawa nafsu tanpa pengetahuan.
Maka ilmu yang benar seharusnya membuat manusia semakin mampu membedakan:
- kebenaran dari keinginan,
- petunjuk dari kepentingan,
- keadilan dari keberpihakan buta.
Jika ilmu justru dipakai untuk membenarkan hawa nafsu, kesombongan, atau kepentingan kelompok, maka fungsi ilmu tersebut perlu dipertanyakan.
11. ILMU DAN IMAN TIDAK BERDIRI SENDIRI
QS. Al-Mujādilah [58]:11 sering menjadi dasar pembicaraan tentang kemuliaan orang berilmu.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Mujādilah [58]:11
Perhatikan istilahnya:
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang diberi ilmu.”
Ayat tidak menyebut:
“orang-orang yang mempunyai gelar ulama.”
Karena itu, menjadikan ayat ini sebagai legitimasi otomatis bagi sebuah kelas sosial keagamaan adalah langkah yang perlu dikaji kembali.
Lebih jauh lagi, ayat tersebut ditutup dengan:
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Artinya, ilmu tetap memiliki hubungan dengan amal.
Bukan hanya apa yang diketahui.
Tetapi apa yang dikerjakan.
ILMU YANG DIANUGERAHKAN KEPADA YUSUF
Allah memberikan contoh melalui Nabi Yusuf:
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan ketika dia telah dewasa, Kami memberinya kebijaksanaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
QS. Yusuf [12]:22
Di sini ilmu disebut bersama:
حُكْمًا
kebijaksanaan/kemampuan mengambil keputusan,
dan kemudian dikaitkan dengan:
الْمُحْسِنِينَ
orang-orang yang berbuat baik.
Kembali terlihat pola yang sama:
ILMU → HIKMAH → KEBAIKAN
Ilmu yang benar tidak berhenti pada pengetahuan teoritis.
Ia menjadi kebijaksanaan.
Kemudian diwujudkan dalam kebaikan.
APAKAH INI BERARTI ULAMA TIDAK PENTING?
Tidak.
Kesimpulan kajian ini bukan untuk merendahkan orang yang mendalami ilmu agama.
Seorang guru, ustaz, syekh, ahli tafsir, ahli bahasa, ahli fikih, akademisi, atau siapa pun yang sungguh-sungguh menuntut ilmu tentu dapat memberikan manfaat besar kepada masyarakat.
Yang perlu dibedakan adalah:
orang yang memiliki keahlian
dengan
orang yang otomatis benar dalam segala hal karena gelarnya.
Keduanya bukan hal yang sama.
Kita dapat menghormati seseorang karena ilmunya tanpa menjadikan pendapatnya sebagai sesuatu yang tidak boleh diuji.
Sebab Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk:
mengikuti apa yang diketahui, bukan apa yang sekadar dikatakan oleh seseorang.
GELAR ADALAH IDENTITAS, BUKAN JAMINAN KEBENARAN
Seorang manusia bisa mendapatkan gelar melalui pendidikan.
Namun gelar tidak dapat menjamin:
- kejujuran,
- ketakwaan,
- keadilan,
- kerendahan hati,
- ketundukan kepada Allah,
- ataupun kebenaran setiap pendapatnya.
Karena itu, gelar dan ilmu harus dibedakan.
Gelar adalah pengakuan manusia.
Ilmu dalam pengertian Qur’ani adalah kualitas pengetahuan yang membawa kepada kebenaran.
Dan ukuran akhirnya kembali kepada Allah.
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
QS. An-Najm [53]:32
POLA QUR’AN BIL QUR’AN: SIAPAKAH ORANG BERILMU?
Jika ayat-ayat di atas dibaca secara silang, terlihat sebuah pola yang konsisten.
QS. 22:54
Orang yang diberi ilmu mengetahui kebenaran.
↓
QS. 34:6
Orang yang diberi ilmu melihat wahyu sebagai kebenaran.
↓
QS. 22:54
Karena mengetahui kebenaran, mereka beriman.
↓
QS. 22:54
Iman itu membuat hati tunduk.
↓
QS. 35:28
Ilmu melahirkan khashyah kepada Allah.
↓
QS. 3:18
Orang berilmu berada bersama kesaksian tauhid dan penegakan keadilan.
↓
QS. 12:22
Ilmu berhubungan dengan hikmah dan ihsan.
↓
QS. 58:11
Allah meninggikan derajat orang beriman dan orang yang diberi ilmu, sementara Allah mengetahui amal mereka.
Inilah yang dapat disebut sebagai pola Qur’ani tentang orang berilmu.
JANGAN TERJEBAK PADA SIMBOL
Jubah bisa menjadi pakaian.
Gelar bisa menjadi identitas.
Jabatan bisa menjadi posisi.
Institusi bisa menjadi tempat belajar.
Tetapi semua itu bukan ukuran otomatis tentang kebenaran seseorang di hadapan Allah.
Al-Qur’an memberikan ukuran yang lebih dalam:
- Apakah ia mengenali kebenaran?
- Apakah ia beriman kepada kebenaran?
- Apakah hatinya tunduk kepada Allah?
- Apakah ia menegakkan keadilan?
- Apakah ia memiliki khashyah kepada Allah?
- Apakah ilmunya melahirkan amal yang baik?
Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada:
“Apa gelarnya?”
PENUTUP
Al-Qur’an Punya Ukuran Sendiri
Kajian Al-Qur’an Bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa istilah ‘ilm tidak dapat begitu saja dipersempit menjadi gelar sosial tertentu.
Al-Qur’an memang mengenal istilah al-‘ulamā’, tetapi ketika menjelaskan karakter mereka, Al-Qur’an tidak berbicara tentang jubah, jabatan, popularitas, atau gelar.
Al-Qur’an berkata:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fāṭir [35]:28
Al-Qur’an juga menyebut:
أُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan.”
QS. Ali ‘Imran [3]:18
Dan menyebut:
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang diberi ilmu,”
yang menurut QS. Al-Hajj [22]:54 kemudian beriman dan hatinya tunduk kepada kebenaran.
Maka ukuran Al-Qur’an sangat jelas:
- Jangan terjebak gelar.
- Jangan pula tertipu simbol.
- Lihatlah buah ilmunya.
Sebab ilmu yang sejati tidak membuat manusia merasa memiliki kedudukan khusus di hadapan Allah.
Sebaliknya, ilmu membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya adalah hamba.
Semakin mengenal kebenaran, semakin tunduk kepada kebenaran.
Semakin memahami kebesaran Allah, semakin takut kepada-Nya.
Semakin berilmu, semakin adil.
Semakin mengetahui wahyu, semakin baik amalnya.
Itulah ukuran yang diberikan Al-Qur’an.
Bukan jubah.
Bukan gelar.
Bukan popularitas.
Tetapi kebenaran, iman, ketundukan, keadilan, ketakwaan, dan amal. (syahida)
KOTAK RENUNGAN | KAJIAN SYAHIDA
“Gelar adalah pengakuan manusia. Ilmu adalah amanah Allah. Al-Qur’an tidak mengukur orang berilmu dari apa yang melekat pada dirinya, tetapi dari apa yang ilmu itu lakukan terhadap dirinya: mengenalkan kebenaran, menundukkan hati, menegakkan keadilan, dan melahirkan ketakwaan.”





























