Ketika Pertanyaan “Siapa yang Harus Diikuti?” Menjadi Persoalan Besar
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Setelah Rasulullah wafat, umat Islam menghadapi pertanyaan yang terus berulang sepanjang sejarah: siapa yang harus diikuti setelah Rasul?
Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan berbagai jawaban.
Ada yang menunjuk kepada sahabat tertentu. Ada yang menunjuk kepada keluarga Nabi. Ada yang mengikuti ulama tertentu. Ada yang menjadikan mazhab sebagai pegangan. Ada pula yang berpegang pada riwayat tertentu sebagai penentu kebenaran.
Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi identitas kelompok yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, jika pertanyaan ini dikembalikan kepada Al-Qur’an, jawabannya mungkin justru lebih mendasar daripada yang selama ini kita bayangkan.
Al-Qur’an tidak mengarahkan manusia untuk mengganti Allah dengan manusia lain sebagai pusat pengabdian. Al-Qur’an juga tidak menjadikan nama seseorang sebagai ukuran mutlak kebenaran.
Yang diperintahkan adalah mengikuti wahyu Allah.
Inilah yang akan ditelusuri melalui metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an: memahami ayat dengan ayat lainnya sehingga pesan Al-Qur’an dapat dibaca secara utuh.
Rasul Bukan Sumber Wahyu dari Dirinya Sendiri
Langkah pertama adalah memahami posisi Rasul menurut Al-Qur’an.
Rasulullah bukanlah pencipta wahyu. Beliau adalah manusia yang menerima dan menyampaikan wahyu Allah.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa.”
(QS. Al-Kahf [18]: 110)
Ayat ini sangat penting.
Rasul disebut basyar, manusia.
Yang membedakan beliau adalah wahyu yang diberikan Allah kepadanya.
Dengan demikian, mengikuti Rasul pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari mengikuti wahyu yang beliau terima.
Rasul Mengikuti Apa yang Diwahyukan Kepadanya
Al-Qur’an bahkan memerintahkan Rasul sendiri untuk mengikuti wahyu.
Firman Allah:
اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-An’am [6]: 106)
Perintah tersebut bukan ditujukan kepada umat saja.
Rasul sendiri diperintahkan mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya.
Maka terdapat sebuah rangkaian yang perlu direnungkan:
Allah → wahyu → Rasul → manusia.
Rasul menerima wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada manusia.
Karena itu, setelah Rasul tidak boleh muncul manusia lain yang menggantikan posisi Allah sebagai sumber kebenaran.
Rasul Tidak Mengikuti Selain Wahyu
Al-Qur’an memberikan penegasan lain:
قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Yunus [10]: 15)
Pernyataan إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ — “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” — memberikan prinsip yang sangat kuat.
Jika Rasul sendiri menyatakan bahwa beliau mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya, maka umat perlu berhati-hati ketika menjadikan manusia setelah Rasul sebagai sumber kebenaran yang berdiri sendiri.
Mengikuti Rasul Berarti Mengikuti Pesan yang Dibawanya
Al-Qur’an memerintahkan manusia menaati Rasul.
Firman Allah:
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh, dia telah menaati Allah.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 80)
Mengapa ketaatan kepada Rasul disebut sebagai ketaatan kepada Allah?
Karena Rasul menyampaikan perintah Allah.
Allah berfirman:
وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Dan kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas.”
(QS. An-Nur [24]: 54)
Di sini terlihat hubungan yang sangat penting:
Rasul menyampaikan → manusia menerima → sumbernya tetap Allah.
Karena itu, mengikuti Rasul bukan berarti menjadikan Rasul sebagai Tuhan selain Allah, melainkan mengikuti risalah yang dibawanya.
Setelah Rasul, Apakah Harus Ada Manusia yang Wajib Diikuti?
Inilah titik yang sering menjadi perdebatan.
Al-Qur’an menyebut banyak manusia sebagai orang saleh, orang berilmu, orang yang diberi petunjuk, bahkan para nabi.
Namun Al-Qur’an tidak memberikan manusia biasa kedudukan sebagai sumber wahyu yang baru.
Allah berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ
“Tidaklah patut bagi seorang manusia yang telah diberi Allah Kitab, hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: Jadilah kamu penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 79)
Pesannya jelas.
Tidak seorang pun manusia boleh mengambil posisi sebagai pusat penghambaan yang menggantikan Allah.
Bahkan Nabi-Nabi Tidak Mengajarkan Penghambaan kepada Dirinya
Al-Qur’an menggambarkan para nabi sebagai manusia yang menyeru kepada Allah.
Firman Allah:
وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tetapi hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 79)
Orientasinya adalah Kitab dan Allah, bukan pengkultusan individu.
Karena itu, seorang ulama, guru, pemimpin, atau tokoh agama dapat dihormati dan dipelajari, tetapi penghormatan tidak boleh berubah menjadi penghambaan atau pemberian otoritas mutlak yang hanya milik Allah.
Al-Qur’an Memerintahkan Mengikuti Wahyu
Allah memberikan perintah yang sangat langsung:
وَاتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ
“Dan ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”
(QS. Al-A’raf [7]: 3)
Ayat ini menjadi salah satu kunci dalam kajian ini.
Allah menggunakan kata:
وَاتَّبِعُوا — ikutilah
Lalu objeknya adalah:
مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم — apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Artinya, ukuran utama yang harus diikuti adalah wahyu yang diturunkan Allah.
Jika Berselisih, Kepada Siapa Kita Kembali?
Perselisihan adalah kenyataan manusia.
Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap hal tersebut.
Namun Al-Qur’an memberikan jalan keluar.
Firman Allah:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Frasa “kembalikan kepada Allah dan Rasul” sering menjadi titik perdebatan.
Kajian Al-Qur’an Bil Al-Qur’an mengajak kita tidak berhenti pada satu ayat.
Kita lihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan fungsi Rasul.
Rasul menyampaikan wahyu.
Rasul mengikuti wahyu.
Rasul memberi peringatan dengan wahyu.
Karena itu, mengembalikan perkara kepada Rasul tidak berarti memisahkan Rasul dari wahyu yang dibawanya.
Rasul Memberi Peringatan dengan Al-Qur’an
Allah berfirman:
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.”
(QS. Al-An’am [6]: 19)
Perhatikan kata بِهِ — dengannya.
Rasul memberi peringatan dengan Al-Qur’an.
Ini memberikan konteks penting dalam memahami ketaatan kepada Rasul.
Rasul tidak berdiri sebagai sumber wahyu yang terpisah dari Allah. Beliau adalah penyampai risalah Allah.
Jangan Mengubah Penghormatan Menjadi Pengkultusan
Al-Qur’an memberikan peringatan bahwa manusia dapat berlebihan dalam menempatkan tokoh agama.
Bahkan terhadap Nabi sekalipun, Al-Qur’an menegaskan kemanusiaannya.
Firman Allah:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu.”
(QS. Al-Kahf [18]: 110)
Penghormatan kepada Rasul merupakan bagian dari iman kepada risalahnya.
Namun penghambaan hanya milik Allah.
Dengan prinsip ini, penghormatan kepada ulama, guru, sahabat, keluarga Nabi, dan tokoh agama juga perlu ditempatkan secara proporsional.
Mereka dapat menjadi orang yang kita pelajari, tetapi tidak otomatis menjadi sumber kebenaran yang tidak boleh diuji.
Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Pengetahuan
Al-Qur’an juga memberikan prinsip epistemologis yang sangat penting.
Firman Allah:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini merupakan prinsip penting dalam menerima informasi agama.
Jangan mengikuti hanya karena:
“Kata ustaz.”
“Kata tokoh.”
“Kata kelompok kami.”
“Sudah sejak dahulu begitu.”
Al-Qur’an mengajarkan:
jangan mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar pengetahuan.
Tradisi Leluhur Bukan Ukuran Mutlak Kebenaran
Fanatisme terhadap tradisi juga telah diperingatkan Al-Qur’an.
Firman Allah:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 170)
Ayat ini menunjukkan bahaya ketika tradisi menjadi lebih kuat daripada wahyu.
Pertanyaan yang sama relevan untuk tradisi keagamaan:
Apakah kita mengikuti karena benar, atau menganggapnya benar karena sudah lama diikuti?
Siapa yang Layak Diikuti?
Setelah seluruh ayat tersebut dibaca bersama, jawabannya menjadi lebih jelas.
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk mencari pengganti Rasul sebagai sumber wahyu.
Yang harus diikuti adalah:
1. Allah dan petunjuk-Nya
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti Rasul membawa manusia kepada kecintaan Allah.
2. Wahyu yang diturunkan Allah
وَاتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
“Dan ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-A’raf [7]: 3)
3. Rasul sebagai penyampai risalah Allah
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh, dia telah menaati Allah.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 80)
Sedangkan manusia setelah Rasul—ulama, guru, pemimpin, atau tokoh—dapat dihormati dan dipelajari, tetapi tidak boleh ditempatkan sebagai sumber wahyu atau kebenaran mutlak yang berdiri sendiri.
Al-Qur’an Mengajak Mendengar dan Mengikuti yang Terbaik
Sikap seorang pencari kebenaran juga digambarkan Al-Qur’an:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar [39]: 18)
Ayat ini justru menunjukkan sikap yang berlawanan dengan fanatisme.
Orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak takut mendengar.
Ia tidak takut menguji.
Ia tidak takut menemukan kekeliruan dalam pendapat yang selama ini diyakininya.
Karena yang dicari bukan kemenangan kelompok.
Yang dicari adalah kebenaran.
Kajian Syahida: Dari Rasul Kembali kepada Wahyu
Jika seluruh ayat tersebut disusun dalam alur Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, kita menemukan rangkaian yang menarik:
Allah adalah sumber wahyu.
↓
Wahyu diturunkan kepada Rasul.
↓
Rasul mengikuti wahyu.
↓
Rasul menyampaikan wahyu kepada manusia.
↓
Manusia diperintahkan mengikuti apa yang diturunkan Allah.
↓
Jika berselisih, perkara dikembalikan kepada Allah dan Rasul.
↓
Rasul sendiri memberi peringatan dengan Al-Qur’an.
Maka setelah Rasul wafat, persoalan utamanya bukan mencari “manusia pengganti Rasul” sebagai sumber wahyu.
Persoalan utamanya adalah:
Sejauh mana manusia tetap mengikuti wahyu yang telah disampaikan Rasul?
Refleksi: Kita Mengikuti Siapa?
Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada diri kita masing-masing.
Ketika pendapat seorang tokoh bertentangan dengan ayat yang jelas, mana yang kita dahulukan?
Ketika tradisi bertentangan dengan petunjuk wahyu, mana yang kita pertahankan?
Ketika kelompok kita memiliki pendapat tertentu, tetapi Al-Qur’an menunjukkan arah yang berbeda, apakah kita berani memeriksa kembali keyakinan tersebut?
Dan ketika kita mengatakan “kami mengikuti Rasul”, apakah yang kita ikuti benar-benar risalah yang beliau sampaikan, atau justru berbagai klaim manusia tentang beliau?
Inilah tantangan terbesar dalam memahami agama.
Bukan sekadar menemukan siapa yang harus diikuti, tetapi memastikan bahwa yang kita ikuti membawa kita kembali kepada Allah.
Penutup: Yang Dicari Bukan Pengganti Rasul, Melainkan Petunjuk Allah
Judul pertanyaan kita adalah:
“Siapa yang layak diikuti setelah Rasul?”
Jawaban Al-Qur’an mungkin memang mengejutkan.
Al-Qur’an tidak mengarahkan manusia untuk mencari manusia lain sebagai pengganti Rasul dalam menerima wahyu.
Yang menjadi pegangan adalah Allah dan wahyu-Nya.
Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai pembawa dan penyampai risalah. Ketaatan kepada Rasul merupakan ketaatan kepada Allah karena beliau menyampaikan perintah Allah.
Namun setelah Rasul tidak ada lagi nabi yang membawa wahyu baru.
Yang tetap ada adalah wahyu yang telah disampaikan.
Allah berfirman:
وَاتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
“Dan ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-A’raf [7]: 3)
Maka ulama boleh didengar.
Guru boleh dipelajari.
Sejarah boleh dikaji.
Riwayat boleh diteliti.
Pendapat manusia boleh dipertimbangkan.
Tetapi semuanya harus ditempatkan sebagai hasil pemahaman manusia, bukan sebagai pengganti wahyu Allah.
Sebab pada akhirnya, yang membawa manusia kepada jalan yang lurus bukan nama seorang tokoh, bukan fanatisme kelompok, dan bukan banyaknya pengikut.
Allah telah menyatakan:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 9)
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi:
“Siapa yang harus kita ikuti setelah Rasul?”
Melainkan:
“Apakah kita masih benar-benar mengikuti wahyu yang dibawa Rasul?”
Wallāhu a’lam bish-shawāb. (syahida)





























