JAKARTA.PPMIndonesia.com — Kata wasilah sering dipahami sebagai “perantara” antara manusia dan Allah. Dalam praktik keagamaan, pemahaman tersebut kemudian dapat berkembang menjadi gagasan bahwa seseorang membutuhkan tokoh, orang saleh, nabi, wali, atau figur tertentu untuk mendekatkan dirinya kepada Allah.
Namun, benarkah demikian jika makna wasilah dikaji langsung melalui Al-Qur’an?
Dalam metode Qur’an bil Qur’an, sebuah kata atau konsep tidak cukup dipahami hanya berdasarkan terjemahan, tradisi, atau penafsiran yang diwariskan. Ayat yang membicarakan suatu konsep perlu dibaca bersama ayat-ayat Al-Qur’an lainnya sehingga Al-Qur’an sendiri menjadi penjelas bagi Al-Qur’an.
Salah satu ayat yang paling sering menjadi dasar pembahasan tentang wasilah adalah QS Al-Ma’idah ayat 35.
Perintah Mencari Wasilah
Allah berfirman:
QS Al-Ma’idah 5:35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
Ayat tersebut memuat tiga perintah yang saling berhubungan:
bertakwa kepada Allah → mencari wasilah kepada-Nya → berjihad di jalan-Nya.
Menariknya, ayat ini tidak secara eksplisit menyebut bahwa wasilah adalah seorang manusia tertentu yang harus dijadikan perantara.
Al-Qur’an justru menghubungkan wasilah dengan tindakan manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Pertanyaannya kemudian: apa yang dimaksud dengan wasilah menurut Al-Qur’an sendiri?
Jawabannya dapat ditelusuri dengan membaca ayat-ayat lain yang menggunakan konsep serupa.
Wasilah: Jalan untuk Mendekat kepada Allah
Salah satu ayat yang sangat penting untuk memahami QS Al-Ma’idah 5:35 adalah QS Al-Isra’ ayat 57.
Allah berfirman:
QS Al-Isra’ 17:57
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Mereka yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai.”
Ayat ini memberikan petunjuk yang sangat penting.
Pihak yang dianggap sebagai objek seruan manusia ternyata mereka sendiri mencari wasilah kepada Tuhan mereka.
Dengan demikian, wasilah dalam ayat ini tidak tampil sebagai “orang yang menjadi perantara antara manusia dan Allah”, melainkan sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah.
Bahkan, mereka yang dianggap memiliki kedudukan tertentu pun tetap berada dalam posisi sebagai hamba yang mencari kedekatan kepada Allah.
Di sinilah metode Qur’an bil Qur’an menjadi penting: QS Al-Isra’ 17:57 membantu menjelaskan QS Al-Ma’idah 5:35.
Allah Tidak Jauh dari Manusia
Jika wasilah dipahami sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah, muncul pertanyaan lain: apakah manusia membutuhkan perantara karena Allah jauh?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas.
QS Al-Baqarah 2:186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa manusia harus mencari seseorang terlebih dahulu agar doanya sampai kepada Allah.
Sebaliknya, struktur ayatnya sangat langsung:
hamba → berdoa → Allah menjawab.
Allah menyatakan, “Aku dekat.”
Karena itu, ketika wasilah dipahami sebagai sarana mendekat kepada Allah, pemahaman tersebut tidak harus berarti adanya manusia tertentu yang menjadi penghubung komunikasi antara manusia dan Allah.
“Berdoalah kepada-Ku”
Penegasan mengenai hubungan langsung antara manusia dan Allah kembali ditemukan dalam QS Ghafir ayat 60.
QS Ghafir 40:60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.”
Perintahnya juga langsung:
ادْعُونِي — “Berdoalah kepada-Ku.”
Allah tidak mengatakan, “Berdoalah kepada-Ku melalui manusia tertentu.”
Yang diperintahkan adalah mengarahkan doa kepada Allah.
Dengan membaca ayat ini bersama QS Al-Baqarah 2:186, terlihat sebuah pola Qur’ani:
Allah dekat → manusia berdoa kepada Allah → Allah menjawab doa.
Siapa yang Menjadi Tujuan Ibadah?
Prinsip ini bahkan sudah ditegaskan dalam surah pembuka Al-Qur’an.
QS Al-Fatihah 1:5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Ayat ini menggunakan bentuk pengkhususan yang sangat kuat: إِيَّاكَ (iyyāka), “hanya kepada-Mu”.
Objek penyembahan adalah Allah.
Objek permohonan pertolongan adalah Allah.
Maka, dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, hubungan manusia dengan Allah pada dasarnya merupakan hubungan langsung dalam hal doa, ibadah, pengabdian, dan permohonan pertolongan.
Wasilah dan Amal: Apa yang Membawa Manusia Dekat?
Jika wasilah adalah sarana atau jalan menuju Allah, Al-Qur’an perlu menunjukkan apa saja bentuk jalan tersebut.
Salah satu jawabannya terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 177.
QS Al-Baqarah 2:177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, orang yang meminta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan salat, menunaikan zakat, menepati janji apabila berjanji, dan sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini memperlihatkan bahwa jalan menuju kedekatan dengan Allah bukanlah sekadar simbol atau klaim spiritual.
Al-Qur’an menghubungkannya dengan:
- iman,
- kepedulian sosial,
- memberikan harta,
- salat,
- zakat,
- menepati janji,
- kesabaran,
- dan ketakwaan.
Dengan demikian, wasilah dapat dibaca dalam konteks kehidupan nyata: jalan yang ditempuh manusia untuk mendekat kepada Allah melalui iman dan amal yang benar.
Mencari “Wajah Allah”
Ayat lain bahkan menggunakan ungkapan “mencari wajah Tuhan” sebagai orientasi amal.
QS Al-Baqarah 2:272
وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan apa pun yang kamu infakkan, maka kebaikannya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahala secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi.”
Orientasi amalnya adalah ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ — mencari keridaan Allah.
Dengan demikian, salah satu bentuk “jalan menuju Allah” yang digambarkan Al-Qur’an adalah amal yang dilakukan dengan orientasi kepada-Nya.
Wasilah Bukan Alasan untuk Mengabaikan Usaha
Konsep mendekat kepada Allah juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap amalnya.
Allah berfirman:
QS An-Najm 53:39
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini menempatkan usaha manusia sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual.
Manusia tidak diperintahkan untuk sekadar mencari figur yang dianggap mampu membawa dirinya kepada Allah.
Ia diperintahkan untuk berusaha.
Karena itu, apabila QS Al-Ma’idah 5:35 dibaca bersama QS An-Najm 53:39, terdapat hubungan yang menarik:
mencari wasilah → menempuh jalan → berjihad/bersungguh-sungguh → berusaha.
Wasilah tidak menjadikan manusia pasif. Sebaliknya, ia mengarahkan manusia untuk menempuh jalan kebaikan secara nyata.
Bahkan Rasul Tidak Menguasai Manfaat dan Mudharat
Dalam memahami posisi manusia—termasuk seorang rasul—Al-Qur’an memberikan batas yang sangat jelas.
QS Al-A’raf 7:188
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’”
Ayat ini penting ketika pembahasan wasilah diarahkan kepada figur manusia.
Al-Qur’an sendiri menegaskan keterbatasan Rasul.
Jika Rasul tidak menguasai manfaat dan mudarat atas dirinya sendiri kecuali dengan kehendak Allah, maka sumber pertolongan tetap Allah.
Hal tersebut tidak mengurangi kedudukan Rasul sebagai pembawa risalah. Justru ayat ini menempatkan manusia—termasuk Rasul—pada posisi yang benar sebagai hamba Allah.
Ketika Wasilah Berubah Menjadi “Perantara”
Al-Qur’an juga mengingatkan adanya suatu pola pemikiran yang dapat menggeser hubungan langsung manusia dengan Allah.
Allah berfirman:
QS Az-Zumar 39:3
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat ingkar.”
Ayat ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat alasan yang sangat menarik:
“agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
Dengan kata lain, gagasan tentang figur yang dianggap mampu mendekatkan manusia kepada Allah bukanlah konsep yang asing dari sejarah pemikiran manusia. Al-Qur’an justru mengkritik alasan tersebut dalam konteks penyembahan kepada selain Allah.
Karena itu, perlu dibedakan antara mengikuti ajaran seorang rasul dengan menjadikan seorang manusia sebagai objek doa atau sesembahan.
Rasul membawa manusia kepada wahyu.
Tetapi Allah tetap menjadi tujuan ibadah.
Kepada Siapa Manusia Berdoa?
Al-Qur’an kembali memperjelas persoalan ini.
QS Fathir 35:13–14
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dan orang-orang yang kamu seru selain Dia tidak mempunyai sesuatu pun walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Yang Mahateliti.”
Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk memenuhi doa bukan berada pada makhluk.
Allah adalah sumber kekuasaan.
Maka, membaca QS Al-Ma’idah 5:35 secara Qur’an bil Qur’an perlu mempertimbangkan keseluruhan pesan Al-Qur’an tentang doa, ibadah, pertolongan, dan ketergantungan manusia kepada Allah.
Bahkan Syafaat Berada dalam Kekuasaan Allah
Bagaimana dengan gagasan tentang syafaat?
Al-Qur’an memberikan batas yang sangat jelas.
QS Az-Zumar 39:44
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah, ‘Pertolongan syafaat itu semuanya milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.’”
Dan dalam QS Al-Baqarah ayat 255:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?”
Dua ayat tersebut memperlihatkan satu prinsip:
kewenangan mutlak tetap berada pada Allah.
Karena itu, pembahasan mengenai wasilah maupun syafaat tidak dapat dilepaskan dari prinsip tauhid: Allah adalah pemilik seluruh kekuasaan.
Wasilah dan Ketakwaan
Kembali kepada QS Al-Ma’idah 5:35, perintah mencari wasilah ditempatkan setelah perintah:
اتَّقُوا اللَّهَ — bertakwalah kepada Allah.
Kemudian disusul:
وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ — bersungguh-sungguhlah di jalan-Nya.
Susunan ini menarik.
Wasilah tidak berdiri sendiri.
Ia berada di antara takwa dan kesungguhan berjuang di jalan Allah.
Karena itu, salah satu pembacaan Qur’an bil Qur’an terhadap ayat tersebut adalah bahwa wasilah menunjuk kepada jalan atau sarana yang ditempuh seorang hamba untuk memperoleh kedekatan dan keridaan Allah.
Jalan tersebut dapat berupa iman, ketakwaan, doa, salat, sedekah, kesabaran, pertobatan, keadilan, amal saleh, dan perjuangan di jalan Allah.
Al-Qur’an Tidak Menyebut “Wasilah” sebagai Nama Seorang Tokoh
Hal yang perlu diperhatikan adalah teks QS Al-Ma’idah 5:35.
Allah berfirman:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Secara tekstual, yang diperintahkan adalah mencari wasilah kepada-Nya.
Ayat tersebut tidak menyebut nama nabi, wali, ulama, orang saleh, atau manusia tertentu sebagai definisi wasilah.
Karena itu, menyamakan wasilah secara otomatis dengan “seorang perantara spiritual” merupakan sebuah langkah interpretatif yang perlu dibuktikan, bukan sesuatu yang secara eksplisit disebut oleh ayat tersebut.
Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, justru ayat-ayat lain perlu digunakan untuk melihat bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan konsep mendekat kepada Allah.
Dan ayat-ayat tersebut berulang kali menunjuk kepada iman, takwa, doa, amal saleh, kesabaran, infak, perjuangan, dan orientasi mencari keridaan Allah.
Wasilah Bukan Mengganti Allah dengan Manusia
Ada perbedaan mendasar antara:
“Saya mengikuti seorang rasul karena Allah memerintahkannya”
dan
“Saya menjadikan manusia tersebut sebagai tempat meminta sesuatu yang hanya menjadi hak Allah.”
Al-Qur’an memberikan posisi yang jelas kepada Rasul sebagai penyampai risalah dan pembawa petunjuk.
Namun, tujuan akhirnya tetap Allah.
QS Al-An’am 6:162
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ayat ini membawa pembahasan wasilah kembali kepada pusatnya:
Allah.
Kesimpulan: Wasilah adalah Jalan Mendekat kepada Allah
Kajian Qur’an bil Qur’an terhadap konsep wasilah menunjukkan adanya pola yang konsisten.
QS Al-Ma’idah 5:35 memerintahkan orang beriman untuk mencari wasilah kepada Allah.
QS Al-Isra’ 17:57 menjelaskan bahwa pihak-pihak yang dianggap sebagai objek seruan manusia pun mencari wasilah kepada Tuhan mereka sendiri.
QS Al-Baqarah 2:186 menyatakan bahwa Allah dekat dan menjawab doa hamba-Nya.
QS Ghafir 40:60 memerintahkan manusia secara langsung: “Berdoalah kepada-Ku.”
QS Al-Fatihah 1:5 menegaskan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
QS An-Najm 53:39 mengingatkan manusia tentang pentingnya usaha.
QS Al-Baqarah 2:177 menggambarkan ketakwaan melalui iman dan amal nyata.
QS Az-Zumar 39:44 menegaskan bahwa seluruh syafaat berada dalam kekuasaan Allah.
Dari keseluruhan ayat tersebut, dalam kerangka Kajian Syahida ini, wasilah lebih tepat dipahami sebagai jalan, sarana, atau upaya yang ditempuh manusia untuk mendekat kepada Allah, bukan otomatis sebagai seorang manusia yang berfungsi sebagai perantara antara manusia dan Allah.
Dengan demikian, mencari wasilah bukan berarti mencari pengganti Allah.
Mencari wasilah berarti mencari jalan yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah.
Jalan itu dibangun dengan iman.
Dikuatkan dengan takwa.
Dijalankan melalui doa.
Dibuktikan dengan amal.
Ditempuh dengan kesabaran.
Dan diarahkan hanya kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk menggantungkan keselamatan spiritualnya kepada makhluk, melainkan mengembalikan hati, ibadah, doa, dan pertolongan kepada Allah, Tuhan seluruh alam.
Catatan Kajian Syahida
Qur’an bil Qur’an adalah pendekatan membaca suatu ayat dengan mempertemukannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang memiliki hubungan tema, istilah, atau pesan. Dengan pendekatan ini, makna wasilah tidak hanya ditentukan oleh satu terjemahan, tetapi ditelusuri melalui penggunaan dan hubungan konsep tersebut dalam keseluruhan Al-Qur’an.
Redaksi Kajian Syahida
PPMIndonesia.com | Media Pencerahan Qur’ani





























