Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

PPM DAN JALAN TENGAH PEMBANGUNAN RAKYAT

5
×

PPM DAN JALAN TENGAH PEMBANGUNAN RAKYAT

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Membangun bukan sekadar menghadirkan program, tetapi menciptakan kemampuan masyarakat untuk menentukan dan membangun masa depannya sendiri

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Pembangunan sering kali dipahami sebagai persoalan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, atau penyediaan berbagai program bantuan bagi masyarakat.

Semua itu penting. Tetapi pembangunan memiliki persoalan yang lebih mendasar: siapa yang menjadi subjek pembangunan?

Apakah masyarakat hanya menjadi penerima manfaat dari berbagai program? Ataukah masyarakat memiliki ruang, kemampuan, dan kekuatan untuk menentukan arah perubahan kehidupannya sendiri?

Pertanyaan inilah yang membawa Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) pada gagasan tentang Jalan Tengah Pembangunan Rakyat.

Jalan Tengah bukan berarti mengambil posisi kompromistis di antara berbagai kepentingan. Jalan Tengah adalah metodologi untuk mempertemukan gagasan dengan kenyataan, negara dengan masyarakat, sumber daya dengan kemampuan rakyat, serta pembangunan dengan proses pembelajaran masyarakat.

Di dalamnya, pembangunan tidak berhenti pada apa yang diberikan kepada rakyat, tetapi bergerak menuju apa yang mampu dibangun oleh rakyat.

Dari Pembangunan untuk Rakyat Menjadi Pembangunan Bersama Rakyat

Dalam pendekatan pembangunan yang bersifat top-down, masyarakat sering ditempatkan sebagai penerima kebijakan.

Program dirancang, anggaran disiapkan, kegiatan dilaksanakan, kemudian keberhasilan diukur melalui jumlah kegiatan, jumlah peserta, jumlah bantuan yang disalurkan, atau target fisik yang tercapai.

Pendekatan tersebut dapat menghasilkan output.

Namun, belum tentu menghasilkan kemampuan.

PPM melihat bahwa pembangunan rakyat seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

Apa yang bisa diberikan kepada masyarakat?

Tetapi bergerak kepada pertanyaan:

Apa yang dapat dibangun masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya sendiri?

Perubahan pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan perubahan cara pandang.

Masyarakat tidak lagi dilihat sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek perubahan.

Karena ketika masyarakat menjadi subjek, bantuan bukan lagi tujuan. Program bukan lagi tujuan. Bahkan lembaga pendamping pun bukan tujuan.

Semuanya menjadi sarana untuk membangkitkan kemampuan masyarakat.

Jalan Tengah: Menghubungkan Nilai dan Kenyataan

Jalan Tengah PPM berangkat dari kesadaran bahwa masyarakat hidup dalam kenyataan yang kompleks.

Ada negara dengan kebijakan dan kewenangannya.

Ada dunia usaha dengan modal, teknologi, dan jaringan pasar.

Ada perguruan tinggi dengan pengetahuan.

Ada lembaga keuangan dengan sumber pembiayaan.

Ada organisasi masyarakat dengan pengalaman sosial.

Dan ada masyarakat sendiri dengan pengetahuan lokal, pengalaman hidup, kebutuhan, serta kekuatan sosial yang sering kali tidak terlihat dalam ukuran-ukuran pembangunan formal.

Jalan Tengah berusaha mempertemukan berbagai kekuatan tersebut tanpa menghilangkan posisi masyarakat sebagai subjek.

Dengan demikian, PPM tidak memandang negara sebagai lawan masyarakat, dunia usaha sebagai lawan rakyat, atau teknologi sebagai sesuatu yang harus ditolak.

Sebaliknya, semua sumber daya tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembangunan rakyat sepanjang mampu memperkuat kemandirian masyarakat.

Di sinilah Jalan Tengah menjadi metodologi.

Bukan sekadar posisi politik.

Bukan pula sekadar slogan.

Dari Ideologi Menuju Ideopraxis

Jalan Tengah tidak dapat dipisahkan dari gagasan ideopraxis.

Ideopraxis adalah proses ketika gagasan diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, diuji melalui pengalaman, direfleksikan, dipelajari, kemudian dikembangkan kembali menjadi tindakan yang lebih baik.

Dengan demikian, gagasan tidak berhenti sebagai konsep.

Ia harus bertemu dengan kenyataan.

IDEOLOGI → METODOLOGI → PRAKSIS → REFLEKSI → PEMBELAJARAN → TRANSFORMASI

Siklus tersebut penting karena masyarakat tidak pernah berada dalam kondisi yang sama.

Apa yang berhasil di satu tempat belum tentu dapat langsung diterapkan di tempat lain.

Karena itu, pembangunan rakyat membutuhkan kemampuan untuk membaca situasi, mencoba, belajar dari kegagalan, memperbaiki pendekatan, dan membangun kembali.

Inilah yang membuat pemberdayaan berbeda dari sekadar pelaksanaan proyek.

Program Adalah Kendaraan, Proses adalah Perjalanan

Salah satu persoalan pembangunan adalah kecenderungan menyamakan program dengan proses perubahan.

Padahal keduanya berbeda.

Program memiliki tujuan, jadwal, anggaran, kegiatan, indikator, dan batas waktu.

Sementara proses berjalan mengikuti dinamika masyarakat.

Program dapat selesai ketika kegiatan berakhir.

Tetapi proses perubahan masyarakat justru diuji setelah program selesai.

Karena itu, ukuran penting pembangunan bukan hanya:

berapa kegiatan yang telah dilakukan?

Tetapi:

apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat?

Apakah masyarakat semakin mampu mengorganisasi dirinya?

Apakah pengetahuan dan keterampilan meningkat?

Apakah kemampuan mengambil keputusan semakin kuat?

Apakah akses terhadap sumber daya semakin terbuka?

Apakah kelompok masyarakat semakin mampu mengelola usaha dan kelembagaannya?

Dan yang paling penting:

apakah masyarakat mampu melanjutkan proses perubahan tanpa terus-menerus bergantung kepada pihak luar?

Di sinilah prinsip PPM menemukan relevansinya:

Program adalah kendaraan, proses adalah perjalanan.

Kendaraan diperlukan agar perjalanan dapat berlangsung. Tetapi tujuan akhirnya bukan kendaraan. Tujuannya adalah sampai pada kehidupan yang lebih baik.

Jalan Tengah Bukan Jalan yang Mudah

Jalan Tengah justru menuntut kerja yang lebih serius.

Memberikan bantuan sering kali lebih mudah daripada membangun kemampuan.

Membangun sebuah fasilitas dapat lebih mudah daripada membangun kelembagaan yang mampu mengelolanya.

Membuat pelatihan dapat lebih mudah daripada memastikan pengetahuan benar-benar menjadi kemampuan.

Membentuk kelompok dapat lebih mudah daripada membangun solidaritas dan tata kelola di dalamnya.

Karena itu, pemberdayaan membutuhkan waktu.

Ia membutuhkan proses mengenali persoalan, membangun kesadaran, mengorganisasi kepentingan, mencoba solusi, menghadapi kegagalan, melakukan refleksi, dan membangun kembali.

Inilah mengapa PPM memandang masyarakat sebagai wahana berkarya dan belajar, sebagai sebuah universitas kehidupan.

Masyarakat bukan laboratorium tempat orang luar melakukan eksperimen.

Masyarakat adalah pelaku yang mengalami sendiri perubahan, belajar dari pengalaman tersebut, dan menemukan jalan keluarnya.

Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian

Pembangunan rakyat pada akhirnya harus berbicara tentang kemandirian.

Kemandirian bukan berarti masyarakat harus berjalan sendirian.

Kemandirian justru berarti masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan kapan membutuhkan pihak lain, untuk kepentingan apa, dan bagaimana kerja sama tersebut memperkuat dirinya.

Masyarakat yang mandiri bukan masyarakat yang menolak bantuan.

Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang tidak kehilangan kemampuan menentukan dirinya karena bantuan.

Karena itu, modal tetap penting.

Teknologi tetap penting.

Investasi tetap penting.

Kebijakan pemerintah tetap penting.

Namun semuanya harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan, bukan sebagai pengganti kemampuan masyarakat.

Modal menjadi bagian dari solusi, bukan satu-satunya solusi.

Pembangunan Rakyat Harus Menyentuh Kehidupan yang Utuh

Jalan Tengah PPM juga membawa pembangunan keluar dari cara pandang sektoral.

Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.

Pendidikan berhubungan dengan kesehatan.

Kesehatan berkaitan dengan lingkungan.

Lingkungan berkaitan dengan tata kelola sumber daya.

Semua itu berhubungan dengan kebudayaan, kelembagaan, kependudukan, dan kemampuan masyarakat memperjuangkan kepentingannya.

Karena itu, pembangunan rakyat tidak cukup hanya meningkatkan pendapatan.

Ia harus membangun kehidupan yang utuh.

Dalam perspektif PPM, gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera dapat menjadi kerangka untuk melihat keterhubungan tersebut: ekonomi sosial, pendidikan alternatif, kesehatan masyarakat, teknologi tepat guna, lingkungan, sosial budaya, kependudukan, dan emansipasi sosial.

Delapan bidang tersebut bukan delapan proyek yang berdiri sendiri.

Semuanya merupakan bagian dari satu kehidupan masyarakat.

Dari Proyek Menjadi Gerakan

Ketika masyarakat hanya menjadi penerima proyek, perubahan sering berhenti ketika proyek selesai.

Tetapi ketika masyarakat memperoleh pengalaman, pengetahuan, kelembagaan, jaringan, dan kemampuan mengorganisasi dirinya, sebuah proyek dapat berkembang menjadi proses.

Dari proses dapat lahir kemampuan.

Dari kemampuan dapat tumbuh kemandirian.

Dari kemandirian dapat berkembang gerakan.

Di sinilah perbedaan mendasar antara proyek pembangunan dan gerakan pembangunan rakyat.

Proyek memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai.

Gerakan memiliki keberlanjutan.

Proyek menghasilkan output.

Gerakan menghasilkan kapasitas.

Proyek dapat menghasilkan kegiatan.

Gerakan melahirkan pelaku perubahan.

Kaderisasi sebagai Ukuran Keberlanjutan

Dalam konteks gerakan PPM, keberhasilan pembangunan rakyat juga tidak dapat dilepaskan dari kaderisasi.

Sebuah proses yang baik harus mampu melahirkan orang-orang baru yang dapat melanjutkan pekerjaan.

Jika seluruh pengetahuan, keputusan, dan kemampuan hanya berada pada segelintir orang, maka proses tersebut belum sepenuhnya menjadi gerakan masyarakat.

Kaderisasi berarti mentransformasikan pengalaman menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi kemampuan orang lain.

Karena itu, keberhasilan seorang penggerak bukan hanya ketika ia mampu melakukan sesuatu.

Keberhasilan yang lebih jauh adalah ketika orang lain mampu melakukan sesuatu karena pernah belajar bersamanya.

Jalan Tengah dan Masa Depan Pembangunan Rakyat

Indonesia membutuhkan pembangunan yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan.

Negara membutuhkan masyarakat yang berdaya.

Masyarakat membutuhkan kebijakan yang membuka ruang partisipasi.

Dunia usaha membutuhkan masyarakat sebagai mitra.

Teknologi membutuhkan konteks sosial agar tidak menjadi sekadar alat.

Pengetahuan membutuhkan pengalaman masyarakat agar tidak berhenti di ruang akademik.

Dan pembangunan membutuhkan proses yang membuat seluruh kekuatan tersebut bekerja menuju kehidupan rakyat yang lebih baik.

Dalam konteks itulah Jalan Tengah PPM memperoleh maknanya.

Jalan Tengah bukan jalan di antara dua pilihan.

Ia adalah jalan metodologis yang mempertemukan gagasan dan kenyataan, sumber daya dan kemampuan, pembangunan dan pembelajaran, kepentingan individu dan kepentingan bersama.

Tujuan akhirnya bukan menciptakan masyarakat yang terus menerima pembangunan.

Tujuannya adalah membangun masyarakat yang mampu membangun dirinya sendiri.

Penutup: Rakyat Harus Menjadi Pelaku Sejarah

Pada akhirnya, pembangunan rakyat bukan hanya persoalan meningkatkan indikator ekonomi atau menyelesaikan daftar program.

Pembangunan adalah proses sejarah.

Dan dalam proses sejarah tersebut, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton.

Masyarakat harus menjadi pelaku.

Karena itu, pertanyaan terpenting dalam pembangunan bukan semata-mata:

“Apa yang sudah kita berikan kepada masyarakat?”

Tetapi:

“Apa yang kini mampu dilakukan masyarakat yang sebelumnya belum mampu mereka lakukan?”

Jika jawabannya adalah semakin banyak kemampuan, semakin kuat organisasi, semakin luas kerja sama, semakin mandiri dalam mengambil keputusan, dan semakin mampu membangun kehidupannya sendiri, maka pembangunan telah bergerak dari sekadar program menuju proses.

Dari proses menuju kemampuan.

Dari kemampuan menuju kemandirian.

Dan dari kemandirian menuju gerakan.

Itulah Jalan Tengah Pembangunan Rakyat.

Example 120x600