PENAS IX PPM: Sebuah Reuni Indah, Kebangkitan, dan Harapan Baru Pergerakan
Catatan seorang peserta PENAS IX PPM – Yogyakarta, Oktober 2026
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Sungguh, rasa syukur yang tak terhingga bisa menjadi bagian dari perhelatan PENAS IX PPM di Asrama Haji, Yogyakarta, Oktober ini. Sebagai peserta yang baru hadir sejak Kamis menjelang Magrib, saya merasakan sesuatu yang istimewa. Bukan sekadar menghadiri sebuah forum organisasi, tetapi seperti menemukan kembali rumah besar tempat kita pernah tumbuh, berproses, berdinamika, dan menanamkan cita-cita perjuangan.
Bagi saya, PENAS IX ini adalah REUNI YANG INDAH. Sebuah perjumpaan yang menghadirkan silaturahmi tulus, kehangatan persaudaraan, nostalgia perjuangan, sekaligus optimisme tentang kebangkitan kembali PPM. Ada wajah-wajah senior yang tetap berbinar, menyimpan semangat dan kenangan panjang perjalanan organisasi. Ada pula kader-kader milenial yang sesekali menatap kagum, bahkan mungkin sedikit heran, menyaksikan dinamika persidangan yang berlangsung begitu hidup.
Rasanya, kita sedang menyaksikan sebuah renaissance pergerakan PPM!
Persidangan yang Serius, tetapi Santai
Salah satu pengalaman paling menarik adalah menyaksikan dinamika persidangan PPM yang dirancang dengan cara unik dan mengesankan. Ada keseriusan dalam membicarakan masa depan organisasi, tetapi suasananya tetap cair, penuh humor, dan jauh dari ketegangan yang tidak perlu.
Kalau meminjam ungkapan Warkop DKI: Serius tapi Santai!
Inilah yang saya sebut sebagai New Democracy ala PPM. Sebuah demokrasi yang tidak hanya memberi ruang bagi perbedaan pendapat, tetapi juga merawat kegembiraan, persaudaraan, dan kecerdasan dalam proses pengambilan keputusan.
Hampir tidak ada percakapan yang terlewat dari perhatian saya. Saya mencatat bagaimana Defri Nasution, sang aktor-pelawak-cendekia, berhasil memainkan peran dengan sangat baik. Ia bukan hanya menjadi bagian dari dinamika forum, tetapi juga mampu mengarahkan suasana sehingga persidangan berjalan hidup dan penuh warna. Perannya diimbangi oleh Ustaz Faisal yang turut mengisi ruang-ruang waktu dengan pendekatan dan kontribusinya sendiri.
Perpaduan antara keseriusan gagasan, kecerdasan komunikasi, humor, dan spontanitas menjadikan tiga jam persidangan itu terasa begitu berkesan.
Saya yakin, pengalaman semacam ini akan melahirkan kerinduan baru, terutama bagi kader-kader generasi sekarang. Bahwa berorganisasi tidak harus selalu kaku, bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, dan bahwa sebuah forum perjuangan bisa menjadi ruang yang menggembirakan sekaligus mencerdaskan.
Tujuh Kader, Harapan Baru Presidium
Ketika memasuki proses membangun komposisi Presidium, suasana menjadi semakin mengesankan. Di sinilah saya melihat betapa pentingnya kesinambungan sejarah, pengalaman, integritas, dan regenerasi dalam tubuh PPM.
Terlebih ketika akhirnya ditetapkan tujuh kader yang akan mengemban amanah kepemimpinan Presidium.
Saya membuka kembali ingatan lama. Dalam buku catatan saya sejak dekade 1990-an, nama Pupun Purwana sudah berkali-kali tertulis. Sebuah nama yang telah lama saya kenal dalam perjalanan dan dinamika kaderisasi PPM. Demikian pula enam kader lainnya yang kini dipercaya membersamai kepemimpinan organisasi.
Bagi saya, ketujuh kader ini merupakan representasi harapan baru. Mereka memiliki rekam jejak, integritas, dan kapasitas yang menjadi modal penting untuk mengemban amanah kepemimpinan PPM.
Tentu, amanah Presidium bukan sekadar jabatan atau kehormatan organisasi. Ia adalah tanggung jawab sejarah. Dibutuhkan kebesaran hati untuk merangkul semua potensi, kemampuan mendengarkan berbagai pandangan, serta keberanian mengambil keputusan demi kepentingan organisasi dan cita-cita perjuangan.
Saya berharap ketujuh kader ini mampu membangun kepemimpinan kolektif yang solid, saling melengkapi, dan tetap berpijak pada nilai-nilai dasar PPM.
Momentum Kebangkitan PPM
Saya semakin yakin bahwa PENAS IX ini dapat menjadi momentum penting bagi kebangkitan PPM.
Kita tidak boleh berhenti pada kebahagiaan reuni dan indahnya silaturahmi. Energi pertemuan ini harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. PPM perlu kembali mengambil peran strategis dalam perjuangan kedaulatan rakyat dan kebangsaan.
Tantangan zaman semakin kompleks. Persoalan ketimpangan ekonomi, kedaulatan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat, kerusakan lingkungan, serta masa depan generasi muda membutuhkan kontribusi nyata dari gerakan masyarakat sipil.
Di sinilah PPM harus menemukan kembali relevansi dan aktualitas perjuangannya.
Kita memiliki sejarah, pengalaman, jaringan kader, serta gagasan pemberdayaan masyarakat yang tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Semuanya harus dihidupkan kembali menjadi kekuatan sosial yang produktif.
Orang-orang bijak sering berkata, jangan sia-siakan kesempatan dan momentum yang telah diberikan.
Saya kira pesan itu sangat relevan dengan keadaan PPM hari ini. Momentum yang penuh rahmat dan berkah ini harus dijaga bersama. Jangan sampai semangat yang telah tumbuh di Yogyakarta kembali meredup setelah kita pulang ke daerah masing-masing.
Kehadiran Mas Jumhur: Sebuah Kebanggaan dan Amanah
Ada satu momen lain yang juga sangat membekas dalam ingatan saya.
Ketika kader PPM, Mas Jumhur Hidayat, hadir bersama jajaran penting dan strategis dari kementeriannya, suasana terasa semakin istimewa.
Masyaallah, tiga kali!
Rasanya hampir tidak ada yang tidak ingin mengabadikan momen dengan berfoto bersama Menteri kita ini.
Kehadiran M. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar PPM.
Namun, bagi saya, makna kehadiran beliau tidak semata-mata karena jabatan dan kedudukan yang sekarang diemban. Lebih dari itu, ada pesan penting bahwa kaderisasi dan perjuangan panjang organisasi dapat melahirkan kader yang dipercaya mengambil bagian dalam ruang-ruang strategis kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ini sekaligus menjadi inspirasi bagi kader-kader lainnya.
Bahwa perjuangan PPM tidak boleh berhenti pada aktivitas internal organisasi. Kader-kadernya harus mampu hadir, berkiprah, dan memberikan manfaat di berbagai bidang kehidupan.
Tentu, kehadiran seorang kader dalam jabatan publik juga membawa amanah moral. Amanah untuk tetap berpihak kepada kepentingan rakyat, menjaga lingkungan hidup, memperjuangkan keadilan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa.
Karena itu, kita semua, keluarga besar PPM di seluruh Indonesia, harus ikut menjaga amanah ini sebaik-baiknya.
Selamat untuk Presidium Baru!
Akhirnya, dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan, saya ingin menyampaikan selamat kepada tujuh kader yang telah mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah Presidium PPM:
- Mas Pupun Purwana
- Mas Cecep
- Mas Faisal
- Mas Rofiq
- Kang Ucup
- Mbak Menik
- Mbak Nani
Selamat berjuang. Selamat mengemban amanah.
Semoga komposisi kepemimpinan baru ini menjadi energi segar bagi konsolidasi, penguatan organisasi, regenerasi kader, dan kebangkitan gerakan PPM di seluruh Indonesia.
Kepada seluruh keluarga besar PPM, mari kita rawat kembali persaudaraan ini. Perbedaan pandangan yang pernah ada hendaknya menjadi kekayaan pengalaman, bukan menjadi sekat yang memisahkan. Kita boleh berbeda dalam cara dan pendekatan, tetapi jangan kehilangan kesamaan cita-cita perjuangan.
PPM bukan sekadar organisasi yang menyimpan sejarah, melainkan gerakan yang harus terus menciptakan sejarah.
Semoga Mas Jumhur dan seluruh keluarga besar PPM, di mana pun berada, senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, keberkahan, dan kesejahteraan.
Yogyakarta telah mempertemukan kita kembali. Kini saatnya kita membawa pulang semangat itu untuk bekerja, bergerak, dan berbuat nyata.
Dari reuni menuju konsolidasi.
Dari konsolidasi menuju kebangkitan.
Dari kebangkitan menuju perjuangan untuk kedaulatan rakyat dan kebangsaan.
Selamat PENAS IX PPM!
Masyaallah. Allahu Akbar!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bin S.
Seorang peserta PENAS IX PPM





























