Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Shalat Belum Selalu Mencegah Kemungkaran?

8
×

Mengapa Shalat Belum Selalu Mencegah Kemungkaran?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Antara Gerakan Ibadah dan Perubahan Kehidupan

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Shalat menempati posisi sentral dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana mengingat Allah, membangun kesadaran moral, dan membimbing manusia agar menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan-Nya.

Namun, di tengah kehidupan sehari-hari, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: mengapa shalat belum selalu tampak dalam perilaku yang jujur, adil, amanah, dan peduli kepada sesama? Mengapa seseorang yang rajin shalat masih mungkin melakukan kecurangan, menyalahgunakan kekuasaan, merugikan orang lain, atau mengabaikan penderitaan masyarakat?

Pertanyaan ini bukan alasan untuk meremehkan shalat, apalagi menghakimi kualitas ibadah seseorang hanya berdasarkan penampilan luarnya. Sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita memahami kembali tujuan shalat sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an.

Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat mempunyai kekuatan pembentuk akhlak. Akan tetapi, kekuatan itu perlu dihayati, dipelihara, dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Shalat yang benar-benar dihadirkan dalam kesadaran akan Allah semestinya menjadi sumber perubahan, bukan berhenti pada rutinitas yang terpisah dari kehidupan.

Al-Qur’an Menegaskan Tujuan Shalat: Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 45)

Ayat ini memberikan penegasan yang sangat mendasar. Shalat memiliki hubungan erat dengan pembentukan perilaku. Ia bukan sekadar rangkaian bacaan dan gerakan, melainkan ibadah yang seharusnya menumbuhkan kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang melanggar nilai-nilai Allah.

Perbuatan fahsyā’ mencakup berbagai perbuatan keji dan tercela, sedangkan munkar mencakup tindakan yang diingkari oleh tuntunan agama dan nilai kebaikan. Dalam kehidupan sosial, kemungkaran dapat terwujud dalam kebohongan, korupsi, penipuan, ketidakadilan, perundungan, penindasan, serta tindakan yang merampas hak orang lain.

Lantas, apakah orang yang masih melakukan kesalahan berarti shalatnya sama sekali tidak berguna?

Ayat ini tidak perlu dipahami sebagai pernyataan bahwa setiap orang yang shalat otomatis terbebas dari seluruh dosa. Shalat adalah jalan pendidikan rohani dan moral yang harus terus diupayakan pengaruhnya. Manusia tetap dapat tergelincir, tetapi shalat seharusnya menjadi kekuatan yang mengingatkan, menahan, dan mengarahkannya kembali kepada kebenaran.

Karena itu, pertanyaan yang lebih produktif bukanlah sekadar, “Siapa yang shalat tetapi masih berbuat buruk?” Melainkan, “Sejauh mana shalat yang kita lakukan telah membentuk keputusan, sikap, dan tindakan kita?”

Shalat Memerlukan Kekhusyukan, Bukan Sekadar Rutinitas

Salah satu persoalan yang perlu direnungkan adalah kemungkinan shalat dilakukan sebagai rutinitas tanpa penghayatan yang memadai. Tubuh menjalankan gerakan, lisan melafalkan bacaan, tetapi pikiran dan kesadaran belum sepenuhnya hadir menghadap Allah.

Al-Qur’an menggambarkan karakter orang beriman yang beruntung melalui firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS Al-Mu’minun [23]: 1–2)

Khusyuk bukan hanya persoalan suasana batin ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Kekhusyukan juga berkaitan dengan kesadaran bahwa manusia sedang menghadap Allah, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk perbuatan yang disembunyikan dari pandangan manusia.

Kesadaran ini semestinya menumbuhkan kejujuran. Seseorang tidak seharusnya merasa bebas berbuat curang hanya karena tidak ada orang yang melihat. Ia menyadari bahwa pengawasan Allah tidak dibatasi oleh ruang, jabatan, atau kekuasaan.

Khusyuk juga mengajarkan kerendahan hati. Orang yang menyadari kebesaran Allah seharusnya tidak mudah menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau memperlakukan sesama seolah-olah mereka tidak memiliki martabat.

Dengan demikian, kualitas shalat tidak cukup dinilai dari keteraturan gerakan yang terlihat. Penghayatan terhadap makna ibadah perlu terus dibangun agar kesadaran kepada Allah ikut hadir ketika seseorang bekerja, memimpin, berdagang, mengelola organisasi, dan mengambil keputusan.

 Shalat yang Tidak Membentuk Kepedulian Patut Dievaluasi

Al-Qur’an tidak hanya mengingatkan pentingnya pelaksanaan shalat, tetapi juga mengecam sikap yang memisahkan ibadah dari kepedulian sosial.

Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS Al-Ma‘un [107]: 4–7)

Rangkaian ayat ini memberikan peringatan yang tajam. Yang dikritik bukanlah shalat sebagai ibadah, melainkan sikap lalai terhadap shalat, kecenderungan memamerkan kesalehan, dan keengganan memberikan bantuan.

Surah Al-Ma‘un memperlihatkan bahwa kesalehan tidak dapat dipisahkan begitu saja dari perlakuan terhadap sesama. Ibadah yang dipertontonkan demi memperoleh pujian, sementara kepentingan orang yang membutuhkan diabaikan, bertentangan dengan semangat kepedulian yang ditekankan Al-Qur’an.

Kata al-ma‘un lazim dipahami sebagai bantuan atau pertolongan yang sederhana dan bermanfaat. Pesannya relevan dalam kehidupan sehari-hari: kepedulian tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Membantu tetangga yang kesulitan, memenuhi hak pekerja, tidak mempersulit orang lain, menyisihkan rezeki, dan menggunakan amanah untuk kemaslahatan merupakan contoh kepedulian yang nyata.

Ayat-ayat ini juga mengajak kita mengevaluasi cara memahami kesalehan. Kesalehan bukan sekadar citra religius yang terlihat di ruang publik, melainkan juga integritas dan kepedulian ketika tidak ada tepuk tangan maupun pujian.

Al-Qur’an Menghubungkan Iman dengan Perbuatan Nyata

Jika shalat merupakan ibadah yang membentuk manusia, perubahan itu semestinya terlihat dalam perilakunya. Al-Qur’an berulang kali menghubungkan keimanan dengan amal saleh, yakni tindakan yang membawa kebaikan sesuai dengan tuntunan Allah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl [16]: 90)

Ayat ini memperluas cakrawala kesalehan. Allah memerintahkan keadilan, ihsan atau kebaikan yang melampaui sekadar memenuhi kewajiban, serta kepedulian terhadap kerabat. Pada saat yang sama, Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan tindakan melampaui batas.

Dengan demikian, kehidupan seorang Muslim tidak dapat dipisahkan menjadi dua ruang yang saling asing: ruang ibadah dan ruang sosial. Nilai-nilai yang dipelajari dalam ibadah perlu menjadi pedoman ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Dalam keluarga, shalat semestinya memperkuat tanggung jawab dan kasih sayang. Di tempat kerja, kesadaran kepada Allah semestinya mendorong kejujuran dan profesionalitas. Dalam perdagangan, ia semestinya menumbuhkan sikap tidak menipu dan tidak mengurangi hak pembeli. Dalam pemerintahan maupun organisasi, ia semestinya memperkuat amanah, transparansi, dan keadilan.

Tidak berarti setiap masalah sosial dapat diselesaikan hanya dengan ritual ibadah. Keadilan juga membutuhkan aturan yang baik, lembaga yang bertanggung jawab, pendidikan, dan keberanian memperbaiki sistem. Namun, nilai-nilai ibadah dapat menjadi landasan moral yang menggerakkan manusia untuk membangun semua itu.

Mengapa Perubahan Tidak Selalu Terjadi?

Al-Qur’an memberi kita sejumlah petunjuk untuk memahami persoalan ini. Setidaknya, ada beberapa hal yang patut menjadi bahan muhasabah.

Pertama, shalat belum sepenuhnya dihayati sebagai perjumpaan spiritual. Bacaan dan gerakan dapat menjadi kebiasaan, sementara makna penghambaan, rasa syukur, dan tanggung jawab di hadapan Allah belum cukup memengaruhi kesadaran sehari-hari.

Kedua, pesan shalat belum dibawa ke luar waktu ibadah. Seseorang mungkin berusaha tertib ketika shalat, tetapi tidak menjadikan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sebagai pedoman dalam bekerja maupun bermasyarakat.

Ketiga, kesalehan berisiko menjadi penampilan. Ketika pengakuan sosial lebih diutamakan daripada ketulusan, ibadah dapat diperlakukan sebagai simbol untuk membangun citra, bukan sebagai sarana memperbaiki diri.

Keempat, kebiasaan buruk memerlukan perjuangan yang berkelanjutan. Manusia tidak selalu berubah dalam satu malam. Kesalahan, hawa nafsu, lingkungan yang buruk, dan kepentingan pribadi dapat menghambat perubahan. Karena itu, shalat perlu disertai taubat, pembelajaran, pengendalian diri, dan kesungguhan memperbaiki perilaku.

Semua ini bukan dasar untuk menilai secara sepihak apakah ibadah seseorang diterima Allah. Penilaian akhir berada dalam pengetahuan-Nya. Yang dapat kita lakukan adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin untuk memeriksa diri sendiri dan memperbaiki kualitas penghambaan.

Shalat Seharusnya Melahirkan Kejujuran dan Amanah

Salah satu ujian paling nyata dari pengaruh shalat adalah perilaku seseorang ketika berhadapan dengan kepentingan dan kekuasaan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa’ [4]: 58, kutipan bagian awal ayat)

Ayat ini menegaskan dua prinsip penting: menunaikan amanah dan menegakkan keadilan. Keduanya tidak boleh berhenti sebagai ajaran yang hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Amanah dapat berupa uang, jabatan, tanggung jawab keluarga, tugas profesional, maupun kepercayaan masyarakat. Orang yang memegang amanah dituntut menggunakannya sesuai tujuan dan hak pihak yang berkepentingan.

Karena itu, rajin beribadah tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban sosial atau membenarkan penyalahgunaan wewenang. Kesalehan ritual justru seharusnya memperkuat kesediaan seseorang mempertanggungjawabkan tindakannya.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai ini penting bagi siapa pun yang memiliki kewenangan: pejabat publik, pemimpin organisasi, pengelola lembaga sosial, pengusaha, dan setiap warga yang menerima kepercayaan dari orang lain. Shalat yang dihayati semestinya memperkuat keberanian untuk berkata benar, menolak kecurangan, dan memperlakukan orang secara adil.

Membawa Shalat ke Dalam Kehidupan: Langkah Muhasabah

Agar shalat semakin berpengaruh terhadap perilaku, diperlukan usaha yang konsisten. Beberapa langkah berikut dapat menjadi latihan sehari-hari.

Pertama, memahami bacaan shalat. Pelajari makna Al-Fatihah, tasbih, tahmid, takbir, dan doa-doa yang dibaca. Pemahaman membantu menghadirkan kesadaran bahwa shalat adalah penghambaan, pengakuan atas kebesaran Allah, dan permohonan petunjuk.

Kedua, menyediakan waktu untuk merenung setelah shalat. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah ada hak orang lain yang belum saya tunaikan? Apakah saya sedang menyimpan kebencian, melakukan ketidakjujuran, atau mengabaikan tanggung jawab?

Ketiga, menghubungkan ibadah dengan satu tindakan nyata. Setelah shalat, teguhkan komitmen untuk tidak berbohong, menyelesaikan pekerjaan dengan jujur, meminta maaf, memenuhi janji, atau membantu orang yang membutuhkan.

Keempat, memperbanyak tadabur Al-Qur’an. Jangan hanya mengejar jumlah bacaan. Usahakan memahami pesan ayat, menghubungkannya dengan kehidupan, dan menjadikannya dasar perbaikan perilaku.

Kelima, membangun lingkungan yang mendukung kebaikan. Keluarga, komunitas, dan organisasi dapat membiasakan kejujuran, saling mengingatkan dengan bijak, serta menciptakan aturan yang mencegah kecurangan dan melindungi pihak yang lemah.

Perubahan tidak selalu berlangsung seketika. Namun, evaluasi yang berkelanjutan membantu seseorang mengenali kelemahannya, bertobat ketika salah, dan terus memperbaiki diri.

Jangan Hanya Mengukur Shalat dari Keteraturan, tetapi Juga dari Buahnya

Al-Qur’an menempatkan shalat sebagai ibadah yang memiliki tujuan moral dan spiritual. QS Al-‘Ankabut ayat 45 menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. QS Al-Ma‘un mengingatkan bahaya kelalaian, riya, dan keengganan membantu. Sementara itu, QS An-Nahl ayat 90 dan QS An-Nisa’ ayat 58 menegaskan pentingnya keadilan, kebaikan, dan amanah.

Jika kemungkaran masih terjadi di tengah masyarakat yang menjalankan ibadah, persoalan tersebut semestinya mendorong muhasabah, pendidikan akhlak, dan perbaikan perilaku—bukan meremehkan shalat atau tergesa-gesa menghakimi ibadah orang lain.

Shalat bukan jaminan bahwa manusia tidak akan pernah salah. Shalat adalah jalan penghambaan dan pendidikan diri yang harus terus dihidupkan. Ketika seseorang tergelincir, shalat seharusnya mengingatkannya untuk kembali; ketika memegang amanah, shalat seharusnya menguatkan kejujurannya; dan ketika melihat penderitaan sesama, shalat seharusnya menumbuhkan kepedulian.

Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa shalat belum selalu mencegah kemungkaran?” perlu dikembalikan kepada diri sendiri: apakah shalat yang kita dirikan telah kita izinkan untuk mengubah cara berpikir, cara mencari rezeki, cara memperlakukan sesama, dan cara menjalankan amanah?

Sebab, salah satu tanda penting dari ibadah yang dihayati adalah tumbuhnya kesungguhan untuk hidup lebih jujur, lebih adil, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi sesama. (syahida)

Example 120x600