ppmindonesia.com-Bekasi- Dalam Pelatihan Kader Dakwah Bil Hal yang digelar Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) pada 5 Juli 2025 di Islamic Center Bekasi, Faqih Suhada tampil memukau dengan pemaparan yang tidak hanya kritis terhadap realitas pertanian dan peternakan di Indonesia, tetapi juga menawarkan solusi yang membumi dan aplikatif. Ia menegaskan bahwa masa depan kemandirian umat terletak pada integrasi antara peternakan, pertanian, dan wakaf produktif.
Krisis Pertanian: Dari 12 Ton Menjadi 5 Ton
Faqih memulai paparannya dengan fakta menyedihkan: produktivitas pertanian nasional terus menurun meskipun penggunaan pupuk kimia meningkat. Di Karawang, misalnya, hasil panen padi yang dahulu mencapai 12 ton per hektare, kini hanya 5 ton. Petani memang ‘bergembira’ sesaat karena tanaman tampak hijau, tetapi tanahnya rusak perlahan. Ketergantungan pada pupuk kimia tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menguras biaya produksi.
Ia menyindir praktik-praktik korupsi bantuan pupuk di desa-desa yang menyebabkan kelangkaan, penyelewengan, dan ketidakadilan distribusi.
“Pupuk subsidi itu antara 300 sampai 600 triliun per tahun, tapi siapa yang menikmati? Petani tidak. Pupuknya sering hilang di jalan, masuk kelompok ini, dijual ke kelompok lain, itu cara menilep yang keren.”
Integrasi Peternakan dan Pertanian: Kembali ke Akar
Solusi yang ditawarkan Faqih bukanlah teknologi canggih, melainkan kembali ke kearifan lokal. Ia menyebut bahwa integrasi antara peternakan dan pertanian yang dulu dilakukan nenek moyang kita sebenarnya jauh lebih berkelanjutan.
“Domba, sapi, kambing—itu bukan ternak kita. Itu pabrik pupuk kita! Kalau pupuk kandang dikelola baik, bisa menggantikan 90% kebutuhan pupuk kimia. Dan itu meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat.”
Ia mencontohkan model pertanian terintegrasi: dua ekor sapi cukup untuk menyuplai pupuk satu hektare sawah. Fermentasi kotoran menghasilkan pupuk cair yang dijual ke divisi pertanian seharga Rp100/liter. Marginnya naik, biaya operasional turun, dan sawah kembali produktif.
Simulasi Ekonomi: Sawah Bisa Bikin Bahagia
Dengan ilustrasi sederhana, Faqih menjelaskan skema ekonomi sawah terintegrasi:
- Biaya operasional satu hektare sawah: Rp8-10 juta
- Biaya pupuk kimia (urea): ±Rp1,5 juta
- Jika diganti pupuk kandang: Biaya bisa ditekan hingga hanya 10% dari pupuk biasa
- Hasil panen 8 ton x Rp5.000 = Rp40 juta
- Margin keuntungan bisa mencapai 4–5 kali lipat lebih besar
“Kalau begitu, insyaAllah petani bukan cuma bisa hidup, tapi bisa sejahtera dan bahagia. Dan lebih penting, tidak tergantung pada pemerintah!”
Wakaf Produktif: Energi Baru Ekonomi Umat
Puncak dari pemikiran Faqih adalah wakaf sebagai solusi pembiayaan usaha tani dan ternak. Ia menyayangkan bahwa wakaf di Indonesia lebih banyak berbentuk tanah kuburan atau masjid, sementara wakaf produktif seperti kebun kurma, sawah, dan peternakan masih minim.
“Sejarah wakaf itu dimulai dari sahabat yang mewakafkan kebun kurma—bukan tanah kosong. Hari ini, kita harus dorong wakaf sawah di Jawa, dan wakaf kebun sawit di luar Jawa.”
Ia sedang mengadvokasi banyak lembaga wakaf, dari MUI, Istiklal, hingga BWI, untuk tidak hanya menyimpan aset, tetapi juga mengelolanya secara produktif. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem pertanian-peternakan berbasis wakaf yang berdaya guna tinggi.
Pesan Moral: Kunci dari Semua Ini adalah Amanah
Dalam berbagai upaya dan skema usaha, Faqih selalu menekankan satu hal: amanah.
“Yang paling susah itu bukan sistem, bukan modal. Tapi amanah. Begitu duit banyak, manusia sering silap. Makanya, walau punya sistem hebat, kalau tak amanah ya hancur.”
Ia mengingatkan bahwa koperasi, wakaf, dan usaha umat bisa tumbuh sehat jika pengelolanya jujur, disiplin, dan punya visi pemberdayaan, bukan sekadar mencari untung.
Diskusi Inspiratif
Sesi ditutup dengan diskusi bersama peserta yang dimoderatori oleh Sekjen PPM Nasional, Anwar Haryono. Pertanyaan mencakup:
- Bagaimana membangun sistem tanpa tergantung pemerintah?
- Jawaban: “Jalan saja dengan apa yang ada. Punya tanah, punya ternak, manfaatkan. Jangan berharap pada bantuan. Kemandirian dimulai dari langkah kecil dan niat kuat.”
- Bagaimana agar usaha peternakan tidak bangkrut dan bisa menarik investor?
- Jawaban: “Mulai dari skala kecil dan sistem bagi hasil. Yang penting amanah. Jangan takut jatuh, karena jatuh itu biasa dalam usaha.”
- Berapa takaran pupuk kandang yang ideal untuk sawah?
- Jawaban: “Satu hektare bisa ditopang dengan 2 ekor sapi atau 40 domba. Kotoran difermentasi, digunakan dengan takaran yang sudah teruji. Lebih murah dan lebih subur.”
Akhir Kata
Melalui pelatihan ini, PPM menegaskan bahwa Dakwah Bil Hal bukan hanya soal retorika, melainkan menghadirkan solusi konkret bagi umat. Peternakan bukan sekadar sumber daging, tetapi pabrik pupuk. Pertanian bukan sekadar menanam, tetapi kunci ketahanan. Dan wakaf bukan hanya amal ibadah, tetapi fondasi ekonomi umat yang visioner dan mandiri.(acank)



























