“Katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.”
(QS Al-A‘raf: 28)
Jakarta|PPMIndonesia.com- Selama berabad-abad, umat manusia meyakini sebuah kisah besar: Tuhan pernah memerintahkan seorang ayah untuk membunuh anaknya sendiri.
Dalam tradisi keagamaan populer, Nabi Ibrahim dipahami menerima perintah langsung dari Allah untuk menyembelih putranya sebagai ujian keimanan. Kisah itu kemudian diwariskan turun-temurun sebagai simbol kepasrahan total kepada Tuhan.
Namun muncul pertanyaan yang sangat mendasar:
Apakah benar Allah memerintahkan pembunuhan terhadap anak yang tidak bersalah?
Ataukah manusia selama ini hanya mewarisi penafsiran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pesan Al-Qur’an?
Melalui metode Qur’an bil Qur’an — yaitu memahami ayat dengan ayat lainnya — kajian ini mencoba membaca ulang kisah tersebut langsung dari Al-Qur’an.
Allah Tidak Pernah Memerintahkan Kejahatan
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas tentang sifat Allah:
وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukannya dan Allah memerintahkan kami melakukannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.’”
(QS Al-A‘raf: 28)
Ayat ini sangat tegas.
Allah menolak dikaitkan dengan perbuatan keji.
Bahkan Allah kembali menegaskan:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan dosa.”
(QS Al-A‘raf: 33)
Jika demikian, bagaimana mungkin Allah memerintahkan pembunuhan terhadap anak yang tidak bersalah?
Membunuh Jiwa Tak Bersalah adalah Dosa Besar
Tentang pembunuhan, Al-Qur’an berbicara sangat keras:
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS Al-An‘am: 151)
Dan:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًۭا مُّتَعَمِّدًۭا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدًۭا فِيهَا
“Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal di dalamnya.”
(QS An-Nisa: 93)
Ismail adalah anak yang saleh dan tidak bersalah.
Maka jika Allah benar-benar memerintahkan Ibrahim membunuh Ismail, berarti Allah memerintahkan sesuatu yang telah Dia haramkan sendiri.
Inilah persoalan besar yang jarang dibahas secara serius.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Mari membaca langsung ayat utama kisah tersebut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Ketika anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’”
(QS Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan dengan sangat teliti.
Ibrahim tidak berkata:
“Allah memerintahkanku menyembelihmu.”
Beliau hanya berkata:
“Aku melihat dalam mimpi.”
Ini berarti Al-Qur’an hanya menyebut adanya mimpi, bukan perintah langsung dari Allah.
Mengapa Ibrahim Meminta Pendapat Ismail?
Ada bagian penting yang sering diabaikan:
فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Jika itu benar-benar wahyu pasti dari Allah, mengapa Ibrahim masih meminta pendapat anaknya?
Dalam Al-Qur’an, wahyu Allah selalu menghadirkan keyakinan penuh kepada penerimanya.
Perhatikan bagaimana ibu Musa menerima ilham:
أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ
“Letakkanlah dia ke dalam peti lalu hanyutkanlah dia ke sungai.”
(QS Thaha: 39)
Secara naluri, tidak mungkin seorang ibu menghanyutkan bayinya ke sungai kecuali ia benar-benar yakin bahwa itu berasal dari Allah.
Sedangkan dalam kisah Ibrahim, tampak adanya proses penafsiran terhadap mimpi tersebut.
Allah Justru Menghentikan Ibrahim
Ketika Ibrahim hendak melaksanakan mimpi itu, Allah memanggilnya:
يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ
“Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”
(QS Ash-Shaffat: 104–105)
Perhatikan redaksi ayatnya.
Allah tidak berkata:
“Engkau telah menaati perintah-Ku.”
Tetapi:
“Engkau telah membenarkan mimpi itu.”
Ayat ini justru menunjukkan bahwa Ibrahim mengira mimpi tersebut berasal dari Allah.
Lalu Allah menghentikannya sebelum tragedi itu terjadi
Makna “Sembelihan Besar”
Ayat berikutnya berbunyi:
وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
(QS Ash-Shaffat: 107)
Selama ini banyak yang memahami ayat ini sebagai penggantian Ismail dengan seekor domba.
Namun Al-Qur’an tidak pernah menyebut adanya domba.
Secara bahasa:
- فَدَيْنَاهُ = Kami menyelamatkannya
- بِذِبْحٍ = dari penyembelihan
- عَظِيمٍ = besar atau mengerikan
Sehingga ayat ini lebih tepat dipahami sebagai:
“Kami menyelamatkannya dari penyembelihan besar yang mengerikan.”
Yakni pembunuhan Ismail sendiri.
Setanlah yang Mengajak kepada Kekejian
Al-Qur’an menjelaskan:
إِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.”
(QS An-Nur: 21)
Dan:
ٱلشَّيْطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji.”
(QS Al-Baqarah: 268)
Karena itu, dorongan untuk membunuh jiwa tak bersalah lebih sesuai dengan tipu daya setan daripada wahyu Allah.
Pengorbanan dalam Islam Bukan Persembahan Darah
Tentang kurban, Allah menegaskan:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj: 37)
Artinya, Allah tidak membutuhkan darah manusia maupun hewan.
Yang Allah kehendaki adalah ketakwaan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada nilai-nilai kebenaran.
Saatnya Membersihkan Nama Tuhan
Ketika manusia mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan pembunuhan terhadap anak yang tidak bersalah, sesungguhnya manusia sedang menisbatkan sesuatu yang sangat serius kepada Allah.
Padahal Al-Qur’an menegaskan:
Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.
Melalui metode Qur’an bil Qur’an, tampak bahwa:
- Al-Qur’an tidak pernah secara eksplisit menyebut Allah memerintahkan Ibrahim membunuh Ismail.
- Allah tidak mungkin memerintahkan dosa atau pembunuhan terhadap orang tak bersalah.
- Ibrahim tampaknya menafsirkan sendiri mimpi yang ia lihat.
- Allah kemudian menyelamatkan Ibrahim dan Ismail dari tragedi besar.
- Kisah domba pengganti berasal dari tradisi luar Al-Qur’an.
Sudah saatnya umat Islam kembali membaca Al-Qur’an secara jernih, agar Tuhan tidak lagi dituduh memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan keadilan dan kasih sayang-Nya sendiri. (syahida)



























