Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Kesalahpahaman Besar tentang Kafir dan Mukmin yang Perlu Diluruskan

5
×

Kesalahpahaman Besar tentang Kafir dan Mukmin yang Perlu Diluruskan

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh syahida

Memahami Istilah Kafir dan Mukmin Melalui Penjelasan Al-Qur’an atas Al-Qur’an


Pendahuluan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di antara istilah Al-Qur’an yang paling sering disalahpahami dalam kehidupan umat Islam adalah kata kafir dan mukmin. Tidak sedikit orang yang menganggap kafir sekadar identitas agama tertentu, sementara mukmin dipahami sebagai siapa saja yang mengaku beragama Islam.

Padahal, ketika Al-Qur’an ditafsirkan dengan metode Qur’an bil Qur’an, yaitu menjelaskan ayat dengan ayat lainnya, makna kedua istilah tersebut ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar label sosial atau identitas kelompok.

Kesalahan memahami kedua istilah ini sering melahirkan sikap mudah menghakimi, mengkafirkan, bahkan merasa paling beriman. Karena itu diperlukan upaya kembali kepada Al-Qur’an untuk memahami bagaimana Allah sendiri menggunakan istilah-istilah tersebut.

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar [39]: 18

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.”

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang pencari kebenaran harus bersedia menelaah dan mengikuti petunjuk terbaik yang berasal dari wahyu Allah.

Apa Itu Kafir Menurut Al-Qur’an?

Secara bahasa, kata kafir berasal dari akar kata kafara yang berarti menutupi, mengingkari, atau menyembunyikan.

Karena itu, kafir dalam Al-Qur’an bukan sekadar menunjuk kepada identitas agama, tetapi kepada sikap menolak atau menutupi kebenaran yang telah sampai kepadanya.

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah [2]: 89

فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ

“Maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui (kebenarannya), mereka lalu mengingkarinya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat kekafiran adalah penolakan terhadap kebenaran yang sebenarnya telah diketahui.

Karena itu Al-Qur’an sering menghubungkan kekafiran dengan kesombongan, hawa nafsu, dan keengganan menerima petunjuk Allah.

QS. Al-Jatsiyah [45]: 23

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

Dengan demikian, kekafiran dalam Al-Qur’an bukan pertama-tama persoalan identitas, melainkan persoalan sikap terhadap kebenaran.

Kafir Tidak Selalu Berarti Tidak Mengakui Allah

Salah satu fakta penting yang sering terlupakan adalah bahwa Al-Qur’an menyebut sebagian orang kafir tetap mengakui keberadaan Allah.

QS. Az-Zukhruf [43]: 87

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ pasti mereka menjawab, ‘Allah’.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan lisan terhadap Allah tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai mukmin.

Masalah utamanya bukan pada pengakuan, tetapi pada kesediaan tunduk kepada kebenaran dan petunjuk Allah.

Siapakah Mukmin Menurut Al-Qur’an?

Mukmin berasal dari kata iman, yaitu keyakinan yang tertanam dalam hati dan melahirkan kepatuhan serta amal saleh.

Al-Qur’an memberikan definisi yang sangat jelas.

QS. Al-Anfal [8]: 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

Ayat ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan, tetapi keadaan hati yang hidup dan responsif terhadap petunjuk Allah.

Muslim Belum Tentu Mukmin

Inilah salah satu pelajaran penting yang ditegaskan Al-Qur’an.

QS. Al-Hujurat [49]: 14

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah berserah diri, karena iman belum masuk ke dalam hatimu.’”

Ayat ini secara tegas membedakan antara Islam dan iman.

Seseorang dapat menjadi Muslim secara lahiriah, tetapi belum mencapai kualitas mukmin yang sejati.

Iman adalah proses pendalaman yang menghasilkan perubahan karakter dan perilaku.

Ciri-Ciri Mukmin dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menjelaskan bahwa mukmin sejati memiliki karakter yang tampak dalam kehidupan nyata.

QS. Al-Hujurat [49]: 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Dari ayat ini terlihat bahwa mukmin memiliki tiga ciri utama:

  1. Keyakinan yang kokoh.
  2. Tidak diliputi keraguan.
  3. Bersedia berkorban demi kebenaran.

Bahaya Menghakimi Keimanan Orang Lain

Salah satu kesalahan besar yang sering muncul adalah mudah menilai seseorang sebagai kafir atau bukan mukmin.

Padahal Al-Qur’an mengingatkan agar manusia berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap orang lain.

QS. An-Nisa [4]: 94

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا

“Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, ‘Engkau bukan seorang mukmin’.”

Ayat ini menunjukkan bahwa penilaian akhir mengenai isi hati manusia adalah hak Allah semata.

Manusia diperintahkan menilai berdasarkan fakta yang tampak dan menyerahkan urusan hati kepada Allah.

Ukuran Kemuliaan Bukan Label, Tetapi Takwa

Puncak koreksi Al-Qur’an terhadap sikap merasa paling benar terdapat dalam firman-Nya:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling banyak mengklaim dirinya mukmin.

Tidak pula yang paling keras menghakimi orang lain sebagai kafir.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, yaitu kesadaran yang melahirkan ketaatan dan akhlak mulia.

Penutup: Kembali kepada Definisi Al-Qur’an

Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa:

  • Kafir adalah sikap menolak atau menutupi kebenaran yang datang dari Allah.
  • Mukmin adalah orang yang hatinya menerima kebenaran lalu membuktikannya melalui amal dan perjuangan.
  • Islam dan iman bukan istilah yang selalu identik.
  • Tidak setiap pengakuan iman mencerminkan keimanan sejati.
  • Tidak seorang pun diberi wewenang untuk mengetahui isi hati manusia selain Allah.
  • Standar kemuliaan bukan identitas, melainkan ketakwaan.

Karena itu, tugas seorang Muslim bukanlah sibuk mencari siapa yang kafir, melainkan berjuang agar dirinya benar-benar menjadi mukmin sebagaimana yang digambarkan Al-Qur’an.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar petunjuk-Nya, memahami ayat-ayat-Nya, lalu mengikuti yang terbaik darinya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.(syahida)

Example 120x600