Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Mengapa Sebuah Bangsa Hancur?

9
×

Mengapa Sebuah Bangsa Hancur?

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an Bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

JAKARTA.PPMIndonesi.com– Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk memperhatikan sejarah umat-umat terdahulu. Kisah-kisah kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, Madyan, dan kaum Luth bukanlah dongeng masa lalu, melainkan pelajaran yang relevan bagi setiap generasi.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111)

Ayat ini menunjukkan bahwa sejarah dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai ‘ibrah (pelajaran), bukan sekadar informasi. Karena itu, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: Mengapa suatu bangsa hancur? Apakah kehancuran itu terjadi secara kebetulan, ataukah ada hukum yang telah ditetapkan Allah?

Kajian Al-Qur’an bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa terdapat pola yang berulang dalam sejarah umat manusia. Pola inilah yang dapat disebut sebagai sunnatullah kehancuran peradaban.

Pertama: Kehancuran Berawal dari Kerusakan Moral dan Kezaliman

Al-Qur’an tidak pernah menjelaskan bahwa suatu bangsa hancur karena kurang kaya, kurang maju, atau kurang kuat secara militer. Justru banyak bangsa yang dibinasakan Allah adalah bangsa yang sangat maju pada zamannya.

Tentang kaum ‘Ad, Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ۝ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ ۝ الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain.” (QS. Al-Fajr [89]: 6-8)

Namun kekuatan itu tidak menyelamatkan mereka.

Allah menjelaskan akar persoalannya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Kerusakan (fasad) dalam Al-Qur’an mencakup kezaliman, penindasan, korupsi, kecurangan ekonomi, kerusakan moral, dan segala bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah.

Dengan demikian, kehancuran suatu bangsa dimulai ketika kerusakan menjadi budaya dan kezaliman menjadi sistem.

Kedua: Kerusakan Menjalar ke Kalangan Elite dan Pemimpin

Ketika masyarakat tenggelam dalam kezaliman, maka para pemimpin yang muncul biasanya merupakan refleksi dari kondisi masyarakat tersebut.

Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Al-An’am [6]: 129)

Dalam ayat lain Allah menjelaskan:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, tetapi mereka melakukan kefasikan di dalamnya, maka pantaslah berlaku terhadapnya ketentuan Kami, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 16)

Perhatian Al-Qur’an tertuju pada kelompok yang disebut al-mutrāfūn, yaitu elite yang hidup dalam kemewahan dan menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan kepentingannya.

Ketiga: Allah Mengirimkan Peringatan Sebelum Azab Datang

Salah satu bukti kasih sayang Allah adalah bahwa Dia tidak pernah menghukum suatu kaum tanpa terlebih dahulu memberikan peringatan.

Allah berfirman:

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ

“Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri melainkan telah ada pemberi-pemberi peringatan baginya.”

(QS. Asy-Syu’ara [26]: 208)

Dan firman-Nya:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 15)

Peringatan itu bisa datang melalui para nabi, para pembawa kebenaran, peristiwa-peristiwa yang menggugah kesadaran, atau bahkan tanda-tanda yang Allah tampakkan dalam kehidupan manusia.

Keempat: Kemakmuran Tidak Selalu Menjadi Tanda Keridaan Allah

Banyak orang mengira bahwa kemajuan ekonomi merupakan bukti bahwa Allah meridai suatu bangsa. Al-Qur’an justru memberikan peringatan yang berbeda.

Allah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu segala kesenangan. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”

(QS. Al-An’am [6]: 44)

Dalam perspektif Al-Qur’an, kondisi ini disebut sebagai istidraj, yaitu ketika manusia terus diberi kelapangan sementara mereka semakin jauh dari petunjuk Allah.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari keadilan, integritas, dan ketakwaannya.

Kelima: Datangnya Kehancuran

Ketika kezaliman telah mengakar, peringatan ditolak, dan manusia tetap membangkang, maka datanglah ketentuan Allah.

Allah berfirman:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا

“Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena mereka telah bersenang-senang dalam kehidupannya.”

(QS. Al-Qashash [28]: 58)

Bentuk kehancuran yang disebut Al-Qur’an berbeda-beda:

  • Banjir besar pada kaum Nuh.
  • Angin yang sangat dingin pada kaum ‘Ad.
  • Gempa dan suara keras pada kaum Tsamud.
  • Ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya.
  • Hujan batu pada kaum Luth.

Namun penyebab utamanya selalu sama: kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran.

Sunnatullah yang Tidak Berubah

Al-Qur’an menegaskan bahwa hukum-hukum Allah dalam sejarah tidak berubah.

فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

“Maka engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah dan tidak pula menemukan penyimpangan padanya.”

(QS. Fathir [35]: 43)

Karena itu, kisah-kisah umat terdahulu bukan sekadar sejarah masa lampau. Ia merupakan cermin bagi setiap bangsa yang hidup hari ini.

Bangsa yang membangun peradabannya di atas keadilan, kebenaran, dan ketakwaan akan memperoleh keberkahan. Sebaliknya, bangsa yang menjadikan kezaliman, kesombongan, dan kerusakan sebagai fondasi kehidupannya sedang berjalan di jalur yang sama dengan kaum-kaum yang telah dibinasakan Allah.

Pelajaran bagi Umat Manusia

Kajian Syahida terhadap ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa bukanlah peristiwa acak. Ia mengikuti pola yang berulang:

  1. Munculnya kerusakan dan kezaliman.
  2. Kerusakan merambah para elite dan pemimpin.
  3. Datangnya peringatan dari Allah.
  4. Diberikannya kelapangan dan kemakmuran sebagai ujian.
  5. Datangnya kehancuran ketika manusia tetap membangkang.

Karena itu, Al-Qur’an mengajak manusia untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi mengambil pelajaran darinya.

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (ketetapan Allah). Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 137)

Pertanyaan yang tersisa bukanlah mengapa bangsa-bangsa terdahulu hancur, melainkan: apakah kita sedang mengulangi kesalahan yang sama?

Example 120x600