Ketika Satu Wahyu Melahirkan Banyak Klaim
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Nabi Muhammad menerimanya sebagai wahyu dan menyampaikannya kepada umat.
Namun perjalanan sejarah menunjukkan sesuatu yang menarik: satu kitab yang sama kemudian melahirkan begitu banyak klaim tentang sumber otoritas agama.
Ada yang menjadikan mazhab sebagai pegangan utama. Ada yang menjadikan tokoh sebagai rujukan mutlak. Ada yang mengutamakan tradisi leluhur. Ada pula yang menganggap riwayat tertentu tidak boleh dipertanyakan.
Pertanyaannya bukan apakah manusia boleh berbeda dalam memahami ayat. Perbedaan pemahaman adalah bagian dari kehidupan manusia.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Jika Allah menurunkan satu kitab sebagai petunjuk, mengapa manusia kemudian menjadikan begitu banyak sumber sebagai pegangan yang tidak boleh dikritik?
Kajian Syahida melalui metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an mencoba mencari jawabannya dari Al-Qur’an sendiri.
Satu Kitab untuk Satu Umat
Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai kitab yang diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk.
Firman Allah:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 2)
Kata yang sangat penting dalam ayat ini adalah هُدًى — hudan, yaitu petunjuk.
Al-Qur’an tidak diperkenalkan sekadar sebagai kitab sejarah atau kumpulan nasihat moral. Ia diperkenalkan sebagai petunjuk.
Karena itu, ketika berbicara tentang pegangan keagamaan, pertanyaan pertama seharusnya bukan:
“Menurut siapa?”
Melainkan:
“Apa yang dikatakan Allah dalam Kitab-Nya?”
Al-Qur’an Mengaku sebagai Petunjuk yang Paling Lurus
Allah kembali menjelaskan fungsi Al-Qur’an:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 9)
Jika Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus, maka keberadaan Al-Qur’an tidak dapat diposisikan hanya sebagai pelengkap dari berbagai sumber lain yang memiliki otoritas agama yang sama.
Al-Qur’an harus menjadi standar untuk menilai berbagai klaim keagamaan.
Inilah salah satu prinsip penting Kajian Syahida:
Al-Qur’an dibaca dengan Al-Qur’an, bukan dipaksa mengikuti pendapat manusia terlebih dahulu.
Allah Memerintahkan Berpegang Teguh kepada Kitab
Yang menarik, Al-Qur’an bukan hanya mengatakan bahwa dirinya adalah petunjuk. Al-Qur’an juga menggunakan ungkapan berpegang teguh kepada Kitab.
Firman Allah:
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab dan mendirikan shalat, sungguh Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
(QS. Al-A’raf [7]: 170)
Perhatikan objek dari kata يُمَسِّكُونَ — yumassikūna, yaitu sesuatu yang dipegang teguh.
Objeknya adalah:
بِالْكِتَابِ — Al-Kitab.
Ayat ini memberikan arah yang sangat jelas.
Allah tidak mengatakan:
“Berpegang teguhlah kepada golongan.”
Tidak pula:
“Berpegang teguhlah kepada mazhab.”
Melainkan:
berpegang teguh kepada Kitab.
Satu Tali, Bukan Banyak Tali
Allah juga berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Ayat ini menggunakan kata حَبْلِ اللَّهِ — hablillāh, yaitu tali Allah.
Menariknya, Allah memerintahkan:
جَمِيعًا — semuanya.
Artinya, umat diminta mempunyai titik pegangan yang sama.
Bukan setiap kelompok memiliki “tali” sendiri-sendiri.
Bukan setiap mazhab memiliki kebenaran yang terpisah.
Bukan setiap tokoh menjadi pusat kesetiaan yang berbeda.
Yang diperintahkan adalah satu tali Allah.
Apa Hubungan “Tali Allah” dengan Al-Qur’an?
Untuk memahami suatu istilah dalam Al-Qur’an, Kajian Syahida tidak berhenti pada satu ayat.
Kita melihat ayat-ayat lain.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai wahyu yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.”
(QS. Ibrahim [14]: 1)
Dengan pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, terlihat adanya hubungan yang kuat antara:
Kitab → petunjuk → cahaya → jalan lurus → pegangan manusia.
Karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat pegangan merupakan konsekuensi logis dari cara Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.
Mengapa Kemudian Muncul Banyak Pegangan?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang cukup tegas: manusia cenderung mengikuti sesuatu selain petunjuk Allah.
Firman Allah:
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(QS. Al-Qashash [28]: 50)
Hawa nafsu tidak selalu berbentuk keinginan duniawi.
Dalam kehidupan keagamaan, hawa nafsu dapat muncul dalam bentuk:
- fanatisme kelompok;
- keinginan mempertahankan status;
- pembelaan terhadap tokoh;
- kebanggaan terhadap tradisi;
- kepentingan politik;
- atau keengganan mengakui kesalahan kelompok sendiri.
Akibatnya, pegangan yang seharusnya satu berubah menjadi banyak.
Setiap Golongan Merasa Paling Benar
Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan sangat jelas:
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 32)
Inilah salah satu akar fanatisme.
Ketika seseorang lebih mencintai kelompok daripada kebenaran, maka ayat yang bertentangan dengan kelompoknya akan terasa sebagai ancaman.
Pada titik inilah agama dapat berubah dari jalan menuju Allah menjadi identitas sosial yang harus dibela.
Padahal Al-Qur’an justru memperingatkan manusia agar tidak menjadikan agama sebagai arena perpecahan.
Perpecahan Terjadi Setelah Datangnya Ilmu
Al-Qur’an memberikan peringatan lain:
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Mereka tidak berpecah belah kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura [42]: 14)
Ayat ini sangat penting.
Perpecahan tidak selalu terjadi karena manusia tidak memiliki ilmu.
Kadang justru terjadi setelah ilmu datang.
Mengapa?
Karena ilmu dapat bercampur dengan kepentingan manusia.
Seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi tetap menolaknya karena kebenaran tersebut tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya.
Apakah Perbedaan Selalu Salah?
Kajian ini tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap perbedaan pemahaman adalah kesesatan.
Manusia memiliki kemampuan berpikir yang berbeda. Perbedaan dalam memahami persoalan yang bersifat ijtihadi dapat terjadi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi fanatisme, lalu kelompok sendiri dianggap sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS. Al-Anfal [8]: 46)
Persatuan tidak berarti semua manusia harus memiliki pendapat yang identik.
Persatuan berarti perbedaan tidak boleh mengalahkan komitmen bersama terhadap petunjuk Allah.
Jika Berselisih, Kembali kepada Allah
Al-Qur’an memberikan mekanisme penyelesaian ketika terjadi perselisihan:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Ayat ini memberikan prinsip penting:
Perselisihan tidak diselesaikan dengan fanatisme, tetapi dengan mengembalikan persoalan kepada Allah.
Dan Allah telah menurunkan Kitab-Nya sebagai petunjuk.
Firman Allah:
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ
“Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah ia.”
(QS. Al-An’am [6]: 155)
Al-Qur’an Sebagai Furqan
Al-Qur’an juga disebut Al-Furqan, yakni pembeda.
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.”
(QS. Al-Furqan [25]: 1)
Dengan demikian, ketika berbagai pendapat, riwayat, tradisi, dan klaim keagamaan berkembang, umat membutuhkan sebuah standar untuk membedakan mana yang sesuai dengan petunjuk Allah dan mana yang tidak.
Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Al-Furqan.
Maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan:
“Siapa yang mengatakan?”
Tetapi:
“Apakah yang dikatakan itu sesuai dengan petunjuk Allah?”
Dari Banyak Pegangan Menuju Satu Rujukan
Jika kita menyusun ayat-ayat tersebut secara tematik, terlihat sebuah rangkaian yang sangat kuat:
Al-Qur’an adalah petunjuk
↓
Al-Qur’an menunjukkan jalan yang paling lurus
↓
Allah memerintahkan berpegang kepada Kitab
↓
Allah memerintahkan berpegang kepada tali-Nya
↓
Allah melarang perpecahan
↓
Jika berselisih, manusia diperintahkan kembali kepada Allah.
Inilah yang menjadi dasar pendekatan Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.
Ayat tidak dipisahkan dari ayat lainnya. Sebaliknya, satu ayat digunakan untuk menerangi ayat yang lain sehingga pesan Al-Qur’an dapat dipahami secara lebih utuh.
Refleksi: Apa yang Sebenarnya Kita Pegang?
Pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada memperdebatkan siapa yang paling benar.
Apa yang sebenarnya kita pegang?
Apakah kita berpegang kepada Al-Qur’an?
Ataukah kita berpegang kepada pendapat tentang Al-Qur’an?
Apakah kita tunduk kepada wahyu?
Ataukah kita menjadikan wahyu sebagai alat untuk membenarkan kelompok yang sudah kita pilih?
Apakah kita mengikuti petunjuk Allah?
Ataukah kita hanya mencari ayat yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab secara jujur oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an.
Satu Kitab, Satu Tuhan, Satu Jalan Penghambaan
Allah tidak menurunkan banyak kitab kepada umat Muhammad.
Allah menurunkan satu Al-Qur’an.
Allah tidak memerintahkan manusia untuk menjadikan fanatisme kelompok sebagai pegangan.
Allah memerintahkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Karena itu, persoalan umat bukan terletak pada kurangnya sumber petunjuk.
Persoalannya adalah ketika manusia membuat banyak pegangan di luar petunjuk Allah, kemudian menjadikan pegangan-pegangan tersebut sebagai sumber fanatisme dan perpecahan.
Al-Qur’an mengajak manusia kembali kepada pusat yang sama: Allah dan wahyu-Nya.
Bukan berarti manusia tidak boleh belajar dari siapa pun. Bukan pula berarti seluruh warisan intelektual Islam harus ditolak. Namun semua pendapat manusia tetap merupakan hasil pemahaman manusia dan karena itu tidak layak ditempatkan di atas wahyu Allah.
Pada akhirnya, Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita benar-benar berpegang kepada tali Allah, atau kita sedang berpegang kepada tali kelompok yang kita buat sendiri?
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)





























