OPINIPPMIndonesia
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita yang tidak cukup dijelaskan hanya dengan angka, data, dan statistik lingkungan. Sungai yang tercemar, hutan yang kehilangan tutupan, tanah yang semakin rusak, sampah yang menumpuk, udara yang semakin kotor, serta bencana ekologis yang datang silih berganti sesungguhnya juga mengandung pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang terjadi dengan manusia?
Kita sering berbicara tentang krisis lingkungan sebagai persoalan teknologi, ekonomi, tata ruang, industri, atau lemahnya penegakan hukum. Semua itu memang penting. Namun, di balik berbagai persoalan tersebut terdapat dimensi yang sering terlupakan, yaitu krisis spiritual manusia.
Ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa alam adalah amanah, maka alam mudah dipandang hanya sebagai komoditas. Hutan menjadi angka dalam neraca ekonomi. Sungai menjadi tempat pembuangan limbah. Tanah diperlakukan hanya sebagai objek produksi. Laut dieksploitasi tanpa memperhitungkan keberlanjutan.
Di titik inilah krisis lingkungan bertemu dengan krisis spiritual.
Ketika Alam Tidak Lagi Dipandang sebagai Amanah
Dalam pandangan Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas bumi. Manusia adalah khalifah fil ardh, yang menerima amanah untuk mengelola, memelihara, dan menjaga keseimbangan kehidupan.
Al-Qur’an mengingatkan manusia:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat tersebut memberikan pesan yang sangat relevan dengan kondisi kehidupan modern. Kerusakan tidak muncul begitu saja. Ada tindakan manusia yang menjadi penyebabnya.
Karena itu, persoalan lingkungan tidak hanya membutuhkan teknologi pengolahan limbah, energi terbarukan, atau regulasi yang lebih ketat. Kita juga membutuhkan perubahan kesadaran manusia.
Teknologi dapat mengurangi pencemaran, tetapi teknologi tidak otomatis menghilangkan keserakahan.
Regulasi dapat memberikan batas, tetapi regulasi tidak selalu mampu mengubah hati.
Pendidikan dapat memberikan pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu melahirkan kepedulian.
Di sinilah spiritualitas menjadi penting.
Krisis Spiritual adalah Krisis Cara Pandang
Krisis spiritual tidak selalu berarti seseorang meninggalkan agama atau tidak menjalankan ibadah. Krisis spiritual dapat muncul ketika manusia kehilangan hubungan antara nilai-nilai yang diyakininya dengan perilaku kehidupan sehari-hari.
Seseorang dapat berbicara tentang keimanan, tetapi pada saat yang sama membiarkan lingkungan rusak.
Seseorang dapat berbicara tentang keberkahan rezeki, tetapi memperoleh keuntungan dengan mengeksploitasi masyarakat dan alam.
Seseorang dapat rajin beribadah secara ritual, tetapi tidak peduli ketika tetangganya kesulitan mendapatkan air bersih.
Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali makna tauhid sebagai kesadaran hidup.
Tauhid tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membentuk cara manusia memperlakukan sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya.
Tauhid Harus Melahirkan Kepedulian
Tauhid yang hidup akan melahirkan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam keteraturan dan kehendak Allah.
Manusia tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada air, tanah, udara, tumbuhan, hewan, dan ekosistem yang menopang kehidupannya.
Karena itu, merusak alam berarti pada akhirnya merusak kehidupan manusia sendiri.
Kesadaran tersebut harus melahirkan etika baru: mengambil secukupnya, menggunakan dengan bijaksana, menjaga keseimbangan, dan mengembalikan manfaat kepada kehidupan.
Inilah spiritualitas ekologis.
Spiritualitas yang tidak berhenti pada ruang ibadah, tetapi hadir di sawah, sungai, hutan, pasar, sekolah, desa, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Dakwah Bil Hal: Mengubah Kesadaran Menjadi Tindakan
Bagi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), kesadaran spiritual harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Di sinilah konsep Dakwah Bil Hal menemukan relevansinya.
Dakwah bukan hanya menyampaikan pesan melalui kata-kata. Dakwah juga berarti menghadirkan manfaat melalui tindakan.
Ketika kader PPM membantu masyarakat membersihkan sungai, itu adalah Dakwah Bil Hal.
Ketika masyarakat didampingi mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan, itu adalah Dakwah Bil Hal.
Ketika warga membangun koperasi untuk memperkuat ekonomi bersama, itu adalah Dakwah Bil Hal.
Ketika anak-anak muda diajak menanam pohon dan menjaga sumber air, itu adalah Dakwah Bil Hal.
Nilai agama menjadi hidup karena diterjemahkan ke dalam kerja sosial.
Masyarakat Harus Menjadi Subjek Perubahan
Mengatasi krisis lingkungan tidak dapat dilakukan dengan menjadikan masyarakat sekadar objek program.
Masyarakat harus menjadi subjek perubahan.
Petani harus dilibatkan dalam menjaga kesuburan tanah dan sumber air.
Nelayan harus menjadi bagian dari perlindungan ekosistem laut.
Masyarakat desa harus memiliki ruang untuk menentukan bagaimana lingkungan mereka dikelola.
Anak muda harus diberi kesempatan menjadi penggerak inovasi lingkungan.
Peranserta masyarakat bukan sekadar pelengkap program pemerintah. Ia merupakan kekuatan utama untuk memastikan perubahan berlangsung secara berkelanjutan.
Dari Ekonomi Eksploitatif Menuju Ekonomi Berkeadilan
Krisis lingkungan juga tidak dapat dipisahkan dari cara kita membangun ekonomi.
Ketika pertumbuhan ekonomi hanya diukur berdasarkan produksi dan keuntungan, alam cenderung ditempatkan sebagai bahan baku yang dapat dieksploitasi tanpa batas.
Karena itu, Indonesia membutuhkan ekonomi yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memperhatikan people dan planet.
Ekonomi hijau, ekonomi sirkular, koperasi, pertanian berkelanjutan, UMKM berbasis komunitas, dan pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan masyarakat merupakan bagian dari jalan menuju ekonomi yang lebih berkeadilan.
Pembangunan tidak boleh membuat segelintir orang menjadi semakin kaya sementara masyarakat kehilangan tanah, air, dan ruang hidup.
Krisis Lingkungan Harus Menjadi Gerakan Kesadaran
Kita tidak cukup hanya membuat kampanye tentang lingkungan.
Kita membutuhkan gerakan kesadaran.
Anak-anak harus belajar bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya tindakan tidak disiplin, tetapi juga bentuk ketidakpedulian terhadap kehidupan.
Petani perlu melihat tanah bukan sekadar media produksi, tetapi sebagai sumber kehidupan.
Pengusaha perlu memahami bahwa keuntungan tidak boleh diperoleh dengan menghancurkan lingkungan.
Pemimpin harus menyadari bahwa kebijakan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang.
Dan masyarakat perlu kembali menemukan semangat gotong royong dalam menjaga ruang hidup bersama.
PPM: Menghubungkan Tauhid, Pemberdayaan, dan Lingkungan
Bagi PPM, persoalan lingkungan merupakan bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat.
Lingkungan yang rusak akan melahirkan masyarakat yang rentan. Sungai yang tercemar akan memengaruhi kesehatan. Tanah yang rusak akan mengancam pangan. Hutan yang hilang akan meningkatkan risiko bencana. Perubahan iklim akan semakin menekan kelompok masyarakat yang paling lemah.
Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan.
Semangat tersebut sejalan dengan visi PPM untuk membangun masyarakat yang mandiri, berdaya, dan mampu menjadi pelaku utama perubahan.
Dari tauhid menuju kepedulian, dari kepedulian menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju perubahan sosial.
Saatnya Memulihkan Hubungan Manusia dengan Alam
Mungkin yang perlu kita pulihkan bukan hanya sungai, hutan, tanah, dan laut.
Kita juga perlu memulihkan hubungan batin manusia dengan alam.
Kita perlu kembali menyadari bahwa air bukan sekadar benda ekonomi. Tanah bukan sekadar aset. Hutan bukan sekadar kayu. Laut bukan sekadar sumber komoditas.
Semuanya adalah bagian dari kehidupan yang Allah amanahkan kepada manusia.
Ketika kesadaran itu kembali tumbuh, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang dipaksakan. Ia menjadi bagian dari akhlak kehidupan.
Penutup
Krisis lingkungan pada akhirnya adalah cermin dari krisis manusia.
Ketika manusia kehilangan rasa cukup, alam dieksploitasi.
Ketika manusia kehilangan rasa tanggung jawab, lingkungan dirusak.
Ketika manusia kehilangan rasa persaudaraan, sumber daya dikuasai hanya untuk kepentingan sebagian orang.
Dan ketika manusia kehilangan kesadaran spiritual, ia lupa bahwa dirinya bukan pemilik mutlak bumi, melainkan hanya penjaga amanah kehidupan.
Karena itu, menghadapi krisis lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi dan regulasi. Kita membutuhkan revolusi kesadaran—kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menjaga kehidupan, menjaga sesama, dan menjalankan amanah kepada Allah SWT.
Lingkungan yang sehat membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran spiritual. Dan spiritualitas yang hidup seharusnya melahirkan manusia yang peduli terhadap kehidupan.
Di situlah Dakwah Bil Hal menemukan maknanya: bukan sekadar berbicara tentang kebaikan, tetapi menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata.
PPMIndonesia.com
“Memulihkan Alam, Memberdayakan Masyarakat, Meneguhkan Peradaban.”





























