Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Tidak Punya Modal

13
×

Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Tidak Punya Modal

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Membantu orang miskin tidak cukup dengan memberikan modal. Yang lebih penting adalah membuka jalan agar mereka memiliki akses, kesempatan, kemampuan, dan kekuatan untuk mengubah kehidupannya sendiri.

JAKARTA.PPMIdonesia.com– Ketika seseorang mengatakan, “Saya tidak punya modal,” kalimat itu sering segera diterjemahkan menjadi satu persoalan: tidak ada uang.

Maka jawaban yang muncul pun sederhana: berikan modal.

Seolah-olah setelah uang berada di tangan, kemiskinan akan selesai.

Padahal kehidupan masyarakat jauh lebih rumit daripada itu.

Seseorang mungkin menerima modal, tetapi tidak memiliki pasar. Memiliki keterampilan, tetapi tidak memiliki akses terhadap bahan baku. Memiliki produk, tetapi tidak mempunyai jaringan distribusi. Memiliki kemauan bekerja, tetapi tidak memiliki perlindungan dan kepastian usaha. Memiliki tanah, tetapi tidak memiliki kemampuan mengolahnya secara produktif. Bahkan seseorang bisa bekerja sangat keras setiap hari, tetapi tetap miskin karena nilai terbesar dari kerja yang dilakukannya justru dinikmati oleh pihak lain.

Karena itu, dalam perspektif Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), kemiskinan tidak cukup dibaca sebagai ketiadaan modal.

Kemiskinan harus dibaca sebagai sebuah realitas kehidupan yang memiliki banyak sebab dan banyak lapisan.

Di balik tidak adanya uang, mungkin terdapat persoalan akses.

Di balik tidak adanya pekerjaan, mungkin terdapat persoalan struktur ekonomi.

Di balik rendahnya pendapatan, mungkin terdapat persoalan posisi tawar.

Dan di balik ketidakberdayaan, sering terdapat persoalan yang lebih dalam: hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Modal Bukan Hanya Uang

Dalam kehidupan masyarakat, modal memiliki arti yang jauh lebih luas daripada uang.

Ada modal pengetahuan.

Ada modal keterampilan.

Ada modal sosial.

Ada modal jaringan.

Ada modal kepercayaan.

Ada modal kelembagaan.

Ada modal lingkungan.

Ada modal budaya.

Dan tentu saja ada modal finansial.

Seorang pedagang kecil mungkin hanya memiliki uang yang terbatas, tetapi ia mempunyai pelanggan yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun.

Seorang petani mungkin tidak memiliki tabungan besar, tetapi mempunyai pengetahuan tentang tanah, musim, benih, dan lingkungan.

Sebuah kelompok masyarakat mungkin tidak memiliki aset besar, tetapi memiliki kekuatan gotong royong.

Seorang pemuda mungkin tidak mempunyai modal uang, tetapi memiliki kemampuan teknologi digital dan kreativitas.

Semua itu adalah modal.

Persoalannya, berbagai modal tersebut sering kali tidak terhubung menjadi kekuatan ekonomi dan sosial.

Karena itu, pemberdayaan bukan hanya soal menambahkan uang ke dalam kehidupan masyarakat. Pemberdayaan adalah proses menghubungkan berbagai potensi yang telah dimiliki masyarakat agar menjadi kekuatan produktif.

Mengapa Orang yang Bekerja Keras Tetap Miskin?

Pertanyaan ini penting.

Sebab kita sering mendengar nasihat sederhana: “Kalau ingin maju, bekerja keraslah.”

Nasihat tersebut benar, tetapi tidak selalu cukup.

Banyak orang miskin bekerja sangat keras.

Pedagang kaki lima mulai sebelum matahari terbit dan baru pulang ketika malam.

Petani berada di sawah sejak pagi.

Buruh bekerja dari jam ke jam.

Nelayan berangkat ketika orang lain masih tidur.

Ibu rumah tangga mengelola rumah sekaligus membantu ekonomi keluarga.

Tetapi kerja keras tidak selalu menghasilkan kesejahteraan apabila seseorang bekerja dalam struktur yang tidak memberikan nilai tambah yang memadai.

Petani dapat bekerja keras, tetapi harga produknya ditentukan oleh rantai pasar yang panjang.

Pedagang kecil dapat bekerja keras, tetapi margin keuntungannya sangat tipis.

Pekerja informal dapat bekerja sepanjang hari, tetapi tidak memiliki jaminan sosial dan kepastian pendapatan.

Di sinilah kita harus berhenti menyederhanakan kemiskinan sebagai akibat dari kemalasan.

Kemiskinan sering kali bukan karena orang tidak mau bekerja.

Bisa jadi mereka bekerja keras dalam kondisi yang membuat hasil kerjanya sulit berkembang.

Ketika Modal Datang, tetapi Pasar Tidak Ada

Bayangkan sebuah kelompok perempuan di sebuah kampung menerima bantuan modal untuk membuat produk makanan.

Mereka membeli peralatan.

Mereka membeli bahan baku.

Mereka belajar membuat kemasan.

Produksi berjalan.

Tetapi setelah beberapa minggu, penjualan tidak berkembang.

Mengapa?

Bukan karena mereka tidak bekerja.

Bukan pula karena mereka tidak memiliki modal.

Masalahnya mungkin karena pasar belum tersedia.

Produk tidak memiliki pembeda.

Kemasan kurang menarik.

Tidak memiliki akses distribusi.

Tidak memahami pemasaran digital.

Tidak mempunyai jaringan dengan toko atau pasar yang lebih luas.

Biaya produksi terlalu tinggi.

Dan akhirnya modal perlahan habis.

Apabila setelah itu masyarakat kembali diberi modal, persoalan yang sama dapat berulang.

Di sinilah letak pentingnya metodologi PPM.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Berapa modal yang harus diberikan?”

Tetapi:

“Apa yang menyebabkan usaha tersebut tidak berkembang?”

Dengan pertanyaan itu, kita mulai bergerak dari bantuan menuju pemberdayaan.

Kemiskinan dan Persoalan Akses

Banyak orang miskin sebenarnya memiliki kemampuan untuk bekerja dan berproduksi.

Yang tidak mereka miliki adalah akses.

Akses terhadap modal.

Akses terhadap informasi.

Akses terhadap teknologi.

Akses terhadap pasar.

Akses terhadap jaringan.

Akses terhadap kebijakan.

Akses terhadap perlindungan.

Akses terhadap pendidikan.

Akses terhadap lembaga keuangan.

Akses terhadap kesempatan.

Ketika akses tertutup, potensi menjadi tidak produktif.

Seorang petani bisa menghasilkan produk berkualitas, tetapi jika tidak memiliki akses pasar, nilai tambahnya tetap rendah.

Seorang pengrajin dapat menghasilkan karya bagus, tetapi tanpa akses pemasaran, produksinya sulit berkembang.

Seorang pemuda dapat memiliki kemampuan digital, tetapi tanpa jaringan dan kesempatan, kemampuannya tidak menjadi penghasilan.

Karena itu, salah satu tugas penting gerakan pengembangan masyarakat adalah membuka pintu-pintu akses tersebut.

Kemiskinan sebagai Persoalan Struktur

Ada saatnya kita harus berani melihat kemiskinan lebih jauh.

Mengapa sebagian kelompok masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya yang begitu besar, sementara kelompok lain terus berada di pinggir?

Mengapa sebagian orang mudah memperoleh modal, sementara yang lain bahkan sulit membuka rekening?

Mengapa sebagian pelaku usaha memiliki akses pasar nasional dan internasional, sementara pedagang kecil harus berjuang mempertahankan pelanggan di sekitar kampungnya?

Mengapa nilai tambah sebuah komoditas sering kali lebih besar di hilir daripada di tingkat produsen?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada dimensi struktural kemiskinan.

Struktur ekonomi, kelembagaan, distribusi, kepemilikan, informasi, dan kekuasaan ikut menentukan siapa yang memperoleh kesempatan dan siapa yang tertinggal.

Karena itu, pengentasan kemiskinan tidak cukup dilakukan dengan membagikan bantuan.

Diperlukan perubahan pada sistem yang menciptakan dan mempertahankan ketimpangan kesempatan

Masyarakat Harus Menjadi Pelaku

Di sinilah PPM menempatkan prinsip peranserta.

Masyarakat bukan objek yang hanya menerima program.

Masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam proses perubahan.

Artinya, masyarakat dilibatkan sejak awal:

mengenali persoalan,

memetakan potensi,

menentukan prioritas,

menyusun rencana,

mengambil keputusan,

melaksanakan kegiatan,

mengevaluasi hasil,

dan belajar dari pengalaman.

Pendamping dapat membantu.

Pemerintah dapat membuka kebijakan.

Dunia usaha dapat menyediakan pasar.

Perguruan tinggi dapat memberikan pengetahuan.

Lembaga keuangan dapat membuka akses pembiayaan.

Teknologi dapat memperluas kemungkinan.

Tetapi masyarakat harus semakin mampu menguasai prosesnya.

Sebab jika seluruh keputusan tetap dibuat dari luar, maka masyarakat hanya menjadi pelaksana dari agenda orang lain.

Dari Modal Finansial menuju Modal Sosial

Salah satu kekuatan terbesar masyarakat Indonesia sesungguhnya bukan hanya uang.

Ia adalah modal sosial.

Gotong royong.

Kepercayaan.

Kebersamaan.

Jaringan keluarga.

Kelompok masyarakat.

Koperasi.

Kelompok tani.

Kelompok usaha.

Organisasi kepemudaan.

Komunitas budaya.

Semua itu merupakan infrastruktur sosial yang dapat menjadi fondasi pembangunan ekonomi.

Bayangkan jika sepuluh pedagang kecil bekerja sendiri-sendiri.

Mereka membeli barang sendiri.

Mencari pasar sendiri.

Menghadapi pemasok sendiri.

Menanggung risiko sendiri.

Posisi tawarnya lemah.

Tetapi jika mereka membangun koperasi, melakukan pembelian bersama, memperkuat distribusi, membangun merek bersama, berbagi informasi, dan membuka akses pasar secara kolektif, maka kekuatan mereka berubah.

Bukan karena uang tiba-tiba menjadi besar.

Tetapi karena organisasi mengubah kekuatan individu menjadi kekuatan bersama.

Inilah salah satu inti pemberdayaan.

Koperasi sebagai Sekolah Kemandirian

Dalam konteks tersebut, koperasi tidak seharusnya hanya dipahami sebagai lembaga ekonomi.

Koperasi juga dapat menjadi sekolah demokrasi ekonomi.

Di dalam koperasi, anggota belajar mengelola organisasi.

Belajar membuat keputusan.

Belajar mengelola modal.

Belajar mempertanggungjawabkan keuangan.

Belajar membangun kepercayaan.

Belajar menghadapi risiko.

Belajar berbagi manfaat.

Dan belajar bahwa kekuatan ekonomi dapat dibangun melalui kebersamaan.

Karena itu, ketika masyarakat miskin diberi modal melalui sebuah pendekatan yang membuat mereka menjadi peminjam pasif, persoalannya berbeda dengan ketika masyarakat diberi kesempatan untuk membangun kelembagaan ekonomi yang mereka miliki dan kelola bersama.

Yang kedua bukan sekadar memberi uang.

Ia membangun kapasitas sosial-ekonomi.

Harga Diri: Modal yang Sering Terlupakan

Ada satu modal yang sering tidak masuk dalam proposal pembangunan:

harga diri.

Seseorang yang terlalu lama dianggap tidak mampu akhirnya dapat mempercayai bahwa dirinya memang tidak mampu.

Ia menunggu bantuan.

Takut mengambil keputusan.

Takut mencoba.

Takut gagal.

Takut bermimpi.

Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan tidak lagi hanya menjadi persoalan ekonomi.

Ia berubah menjadi persoalan psikologis dan sosial.

Karena itu, pemberdayaan harus mengembalikan rasa percaya diri masyarakat.

Bukan dengan memuji mereka secara berlebihan.

Tetapi dengan memberi ruang untuk mengalami keberhasilan yang lahir dari usaha mereka sendiri.

Biarkan mereka menyelesaikan satu persoalan.

Biarkan mereka mengelola satu kegiatan.

Biarkan mereka mengambil keputusan.

Biarkan mereka mengalami kegagalan.

Kemudian bantu mereka membaca kegagalan itu.

Dari pengalaman tersebut tumbuh keyakinan:

“Ternyata kami bisa.”

Kalimat sederhana itulah yang sering menjadi awal dari kemandirian.

PPM: Membaca Akar, Bukan Sekadar Gejala

Metodologi PPM mengajak kita untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban.

Ketika masyarakat mengatakan tidak punya modal, jangan langsung memberi modal.

Ketika masyarakat mengatakan tidak punya pekerjaan, jangan langsung menciptakan pekerjaan sementara.

Ketika masyarakat mengatakan tidak punya pasar, jangan hanya mengadakan pameran satu kali.

Ketika masyarakat mengatakan tidak memiliki teknologi, jangan sekadar menyerahkan alat.

Pertama-tama, bacalah persoalannya.

Cari akar penyebabnya.

Pahami sejarahnya.

Petakan kekuatannya.

Temukan hambatannya.

Kemudian bersama masyarakat menentukan tindakan.

Karena jawaban yang benar bukan selalu jawaban yang paling cepat.

Kadang-kadang jawaban yang benar adalah jawaban yang membuat masyarakat mampu menjawab persoalannya sendiri.

Dari Bantuan Menuju Kemampuan

Inilah pergeseran penting dalam metodologi PPM.

Bantuan tidak harus dihilangkan.

Yang perlu diubah adalah posisinya.

Bantuan sebaiknya menjadi pintu masuk.

Pendampingan menjadi proses.

Pembelajaran menjadi mekanisme.

Organisasi menjadi kekuatan.

Dan kemandirian menjadi tujuan.

Dengan cara itu, bantuan tidak menciptakan ketergantungan, tetapi menjadi jembatan menuju kemampuan.

Sebuah modal awal dapat menjadi penting.

Tetapi jauh lebih penting jika masyarakat setelah menerima modal tersebut mampu mencari modal berikutnya.

Sebuah pelatihan dapat bermanfaat.

Tetapi jauh lebih penting jika masyarakat mampu terus belajar setelah pelatihan selesai.

Sebuah bantuan alat dapat membantu.

Tetapi jauh lebih penting jika masyarakat mampu merawat, memperbaiki, mengembangkan, bahkan memproduksi atau memperoleh teknologi yang dibutuhkan berikutnya.

Itulah pemberdayaan.

Kemiskinan dan Pertanyaan “Who Am I?”

Pada akhirnya, kemiskinan membawa kita pada pertanyaan yang sangat manusiawi:

Who am I?

Siapa saya?

Apakah saya hanya orang miskin?

Apakah saya hanya penerima bantuan?

Apakah saya hanya bagian dari statistik kemiskinan?

Ataukah saya manusia yang memiliki kemampuan, pengalaman, pengetahuan, jaringan, dan hak untuk menentukan masa depan?

Gerakan pemberdayaan harus membantu masyarakat menemukan kembali jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sebab manusia yang menyadari harga dirinya akan mulai melihat kemungkinan.

Dan manusia yang melihat kemungkinan akan mulai bertindak.

Dari tindakan lahir pengalaman.

Dari pengalaman lahir pengetahuan.

Dari pengetahuan lahir kemampuan.

Dan dari kemampuan lahir kemandirian.

Sejahtera Bukan Berarti Tidak Pernah Membutuhkan Bantuan

Kemandirian juga tidak boleh dipahami secara keliru.

Mandiri bukan berarti berjalan sendirian.

Masyarakat yang mandiri tetap membutuhkan negara.

Tetap membutuhkan dunia usaha.

Tetap membutuhkan ilmu pengetahuan.

Tetap membutuhkan teknologi.

Tetap membutuhkan jaringan.

Tetap membutuhkan kerja sama.

Yang berubah adalah posisinya.

Masyarakat tidak lagi datang sebagai pihak yang hanya meminta.

Mereka datang sebagai mitra.

Bukan sebagai objek program.

Tetapi sebagai pelaku pembangunan.

Inilah semangat Gerakan Jalan Tengah yang relevan bagi PPM: mempertemukan kekuatan negara, pasar, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan masyarakat dengan tetap menempatkan rakyat sebagai subjek.

Mengubah Cara Pandang tentang Kemiskinan

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat orang miskin.

Jangan pertama-tama melihat apa yang tidak mereka punya.

Lihat apa yang mereka miliki.

Jangan hanya menghitung kekurangan.

Hitung juga potensi.

Jangan hanya bertanya berapa uang yang mereka perlukan.

Tanyakan akses apa yang tertutup.

Jangan hanya memberikan program.

Bangun kemampuan mereka untuk merancang programnya sendiri.

Jangan hanya membangun usaha.

Bangun ekosistem yang membuat usaha tersebut dapat bertahan.

Jangan hanya memberikan modal.

Bangun modal sosial, kelembagaan, pengetahuan, akses, dan posisi tawar.

Sebab kemiskinan tidak akan selesai hanya karena seseorang menerima uang.

Kemiskinan mulai berubah ketika seseorang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dirinya.

Dan perubahan menjadi lebih kokoh ketika kesempatan itu diorganisasikan menjadi kekuatan bersama.

Dari Tidak Punya Modal Menjadi Punya Daya

Pada akhirnya, persoalan kemiskinan bukan hanya tentang bagaimana membuat masyarakat mempunyai uang.

Lebih dari itu, persoalannya adalah bagaimana membuat masyarakat mempunyai daya.

Daya untuk berpikir.

Daya untuk memilih.

Daya untuk bekerja.

Daya untuk berorganisasi.

Daya untuk bernegosiasi.

Daya untuk mengakses sumber daya.

Daya untuk membangun usaha.

Daya untuk menjaga lingkungannya.

Daya untuk menentukan masa depannya.

Dan daya untuk berdiri bersama sebagai masyarakat.

Inilah yang membedakan bantuan dengan pemberdayaan.

Bantuan bertanya:

“Berapa yang harus kita berikan?”

Pemberdayaan bertanya:

“Kemampuan apa yang harus kita bangkitkan?”

Bantuan dapat membuat seseorang bertahan hari ini.

Pemberdayaan membuat seseorang mampu menghadapi hari esok.

Maka bagi PPM, perjuangan melawan kemiskinan bukan semata-mata perjuangan menyediakan modal.

Ia adalah perjuangan membuka akses, mengubah struktur kesempatan, memperkuat organisasi, membangun pengetahuan, menghidupkan kembali harga diri, dan mengembalikan masyarakat sebagai pelaku utama kehidupannya.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan modal untuk memulai.

Mereka membutuhkan daya untuk melanjutkan.

Dan ketika daya itu telah tumbuh dalam diri masyarakat, modal tidak lagi menjadi satu-satunya jawaban.

Masyarakat sendiri telah menjadi modal terbesar bagi perubahan.

PPM tidak sekadar bertanya: “Apa yang tidak dimiliki rakyat?”
PPM bertanya: “Apa yang dimiliki rakyat, dan bagaimana kekuatan itu dibangkitkan?”

Di situlah perjalanan dari kemiskinan menuju kemandirian benar-benar dimulai.(ppmindonesia)

Example 120x600