Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Dari Program kepada Proses: Membaca Kembali Metodologi PPM

11
×

Dari Program kepada Proses: Membaca Kembali Metodologi PPM

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Pemberdayaan bukan tentang berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi tentang perubahan apa yang tetap hidup setelah kegiatan selesai.

Rubrik Akademi PPM | ppmindonesia.com

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada perbedaan mendasar antara menjalankan program dan membangun proses.

Program mempunyai awal dan akhir. Ada sasaran, anggaran, jadwal, indikator, dan laporan. Setelah target tercapai, program dinyatakan selesai.

Tetapi masyarakat tidak hidup berdasarkan jadwal proyek.

Persoalan kemiskinan tidak selesai ketika anggaran habis. Kemandirian tidak lahir hanya karena pelatihan selesai. Organisasi masyarakat tidak menjadi kuat hanya karena sebuah kegiatan telah dilaksanakan.

Karena itu, bagi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), pertanyaan pentingnya bukan sekadar:

Program apa yang akan dilaksanakan?”

Melainkan:

Proses perubahan apa yang sedang dibangun bersama masyarakat?

Di situlah metodologi PPM menemukan maknanya.

Program Bisa Selesai, Proses Harus Berlanjut

Program biasanya diukur dari output.

Berapa orang dilatih?

Berapa kelompok dibentuk?

Berapa bantuan disalurkan?

Berapa kegiatan dilaksanakan?

Semua itu penting.

Tetapi pemberdayaan mempunyai ukuran yang lebih jauh.

Apakah masyarakat menjadi lebih mampu?

Apakah mereka dapat mengambil keputusan sendiri?

Apakah organisasi mereka semakin kuat?

Apakah pengetahuan baru digunakan?

Apakah kader baru tumbuh?

Apakah kegiatan tetap berjalan ketika pendamping pergi?

Pertanyaan terakhir menjadi sangat penting.

Sebab apabila seluruh aktivitas berhenti setelah program berakhir, maka yang mungkin berhasil hanyalah programnya, bukan proses pemberdayaannya.

Sebaliknya, apabila masyarakat mampu melanjutkan, mengembangkan, bahkan menciptakan sesuatu yang baru setelah program selesai, maka telah terjadi proses perubahan.

PPM Tidak Datang Membawa Jawaban

Metodologi PPM berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat bukan objek yang harus diisi dengan program.

Masyarakat mempunyai pengalaman, pengetahuan, potensi, jaringan sosial, kebudayaan, dan kemampuan untuk memecahkan sebagian persoalannya sendiri.

Karena itu, PPM tidak memulai dengan pertanyaan:

“Apa yang akan kami berikan?”

Tetapi:

“Apa yang sedang terjadi di masyarakat?”

Kemudian:

“Mengapa persoalan itu terjadi?”

“Apa yang sudah dilakukan masyarakat?”

“Apa yang mereka miliki?”

“Apa yang menghambat?”

“Apa yang dapat dilakukan bersama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima solusi.

Mereka menjadi bagian dari proses menemukan solusi.

Kemiskinan Harus Dibaca sebagai Proses

Ambil contoh sederhana.

Masyarakat mengatakan:

“Kami tidak mempunyai modal.”

Jika pendekatan program, jawabannya mungkin berupa bantuan modal.

Tetapi metodologi PPM akan bertanya lebih jauh.

Mengapa modal tidak ada?

Apakah masyarakat tidak mempunyai usaha?

Apakah usaha tidak menguntungkan?

Apakah pasar tidak tersedia?

Apakah bahan baku mahal?

Apakah teknologi tidak tersedia?

Apakah mereka tidak mempunyai akses pembiayaan?

Apakah mereka bekerja sendiri-sendiri sehingga posisi tawarnya lemah?

Dari pertanyaan itu terlihat bahwa persoalan modal sering hanya merupakan gejala dari persoalan yang lebih besar.

Karena itu, solusi dapat berupa penguatan organisasi, pemasaran, teknologi, akses pasar, pembelian bahan baku bersama, koperasi, atau pembiayaan.

Artinya, yang dibangun bukan hanya kemampuan memperoleh modal.

Yang dibangun adalah kemampuan masyarakat memahami dan mengelola sistem kehidupannya.

Dari Bantuan kepada Kemampuan

Di sinilah terjadi pergeseran penting dalam metodologi PPM:

dari bantuan kepada kemampuan.

Bantuan dapat menyelesaikan persoalan hari ini.

Kemampuan memungkinkan masyarakat menghadapi persoalan hari esok.

Memberikan ikan mungkin menyelesaikan kebutuhan makan.

Memberikan pancing mungkin belum tentu menyelesaikan persoalan.

Tetapi membantu seseorang menemukan cara untuk memahami sumber daya, menentukan pilihan, mengorganisasi diri, dan bertanggung jawab atas kehidupannya akan menghasilkan sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan.

Karena itu, PPM tidak menolak bantuan.

Yang dipersoalkan adalah posisi bantuan dalam proses pemberdayaan.

Bantuan seharusnya menjadi pemantik, bukan pengganti daya masyarakat.

Masyarakat sebagai Universitas Kehidupan

Dalam metodologi PPM, proses pemberdayaan sekaligus merupakan proses belajar.

Masyarakat belajar dari apa yang mereka lakukan sendiri.

Petani belajar dari lahannya.

Pedagang belajar dari pasar.

Pelaku UMKM belajar dari konsumennya.

Koperasi belajar dari praktik organisasinya.

Komunitas belajar dari keberhasilan dan kegagalannya.

Karena itu, masyarakat dapat menjadi universitas kehidupan.

Prosesnya sederhana:

melakukan → mengalami → merefleksikan → belajar → memperbaiki → melakukan kembali.

Di sinilah pengalaman berubah menjadi pengetahuan.

Dan pengetahuan berubah menjadi kemampuan.

Metodologi Jalan Tengah

Pengalaman tersebut membawa PPM pada apa yang dapat disebut sebagai Metodologi Jalan Tengah.

Jalan Tengah bukan berarti mengambil posisi kompromi.

Ia adalah upaya mempertemukan berbagai kekuatan tanpa menghilangkan masyarakat sebagai subjek.

Negara mempunyai kewenangan.

Dunia usaha mempunyai modal dan teknologi.

Perguruan tinggi mempunyai pengetahuan.

Lembaga keuangan mempunyai instrumen pembiayaan.

Sementara masyarakat mempunyai pengalaman, kebutuhan, potensi, dan kepentingan langsung terhadap perubahan.

PPM dapat menjadi penghubung di antara berbagai kekuatan tersebut.

Tetapi prinsipnya harus tetap:

kemitraan memperkuat masyarakat, bukan menggantikannya.

Dari Ideologi kepada Ideopraxis

Pada titik inilah konsep ideopraxis menjadi penting.

Ideopraxis adalah gagasan atau ideologi yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata, diuji melalui pengalaman, direfleksikan, kemudian dikembangkan menjadi perubahan.

Dengan demikian:

ideologi memberi arah,
metodologi memberi cara,
praksis menghadirkan tindakan,
refleksi melahirkan pembelajaran,
dan pembelajaran menghasilkan transformasi.

Ideologi kerakyatan mengatakan bahwa masyarakat harus menjadi subjek.

Ideopraxis bertanya:

Bagaimana masyarakat benar-benar menjadi subjek?

Ideologi mengatakan masyarakat harus mandiri.

Ideopraxis bertanya:

Kemampuan apa yang harus dibangun agar kemandirian itu tumbuh?

Di sinilah metodologi PPM memperoleh relevansinya.

Dari Individu kepada Kekuatan Kolektif

Proses pemberdayaan juga tidak berhenti pada perubahan individu.

Seorang pedagang mungkin menjadi lebih terampil.

Tetapi jika ia tetap sendirian menghadapi pasar, posisi tawarnya tetap lemah.

Seorang petani mungkin memahami teknologi baru.

Tetapi jika ia tetap menjual sendiri kepada pasar yang dikuasai pihak lain, persoalannya belum selesai.

Karena itu, kemampuan individu perlu berkembang menjadi kekuatan kolektif.

Kelompok usaha, komunitas, koperasi, organisasi sosial, dan berbagai kelembagaan masyarakat menjadi penting.

Organisasi memungkinkan masyarakat berbagi pengetahuan, mengonsolidasikan sumber daya, membangun jaringan, dan memperkuat posisi tawar.

Di sinilah proses pemberdayaan mulai bergerak dari perubahan personal menuju perubahan sosial.

Kaderisasi adalah Bukti Proses

Ada ukuran sederhana untuk melihat apakah sebuah proses pemberdayaan benar-benar berjalan:

Apakah lahir orang-orang baru yang mampu melanjutkan?

Kaderisasi bukan sekadar regenerasi kepengurusan.

Kaderisasi adalah proses transfer pengalaman, pengetahuan, nilai, dan kemampuan.

Masyarakat belajar memimpin.

Belajar mengorganisasi.

Belajar mengelola kegiatan.

Belajar mengambil keputusan.

Belajar membangun jaringan.

Dan akhirnya belajar melahirkan kader berikutnya.

Jika proses tersebut terjadi, maka pemberdayaan mulai memiliki kehidupan sendiri.

PPM tidak lagi menjadi pusat gerakan.

Masyarakatlah yang menjadi pusatnya.

Dari Kegiatan kepada Sejarah

Metodologi PPM pada akhirnya menempatkan sejarah sebagai ukuran yang paling adil.

Bukan sekadar berapa kegiatan yang dilaksanakan.

Bukan sekadar berapa orang yang hadir.

Bukan sekadar berapa rupiah yang dibelanjakan.

Tetapi:

Apa yang berubah?

Apa yang tumbuh?

Apa yang tetap hidup?

Jika sebuah kegiatan selesai dan semuanya kembali seperti semula, mungkin program telah selesai tetapi proses belum berhasil.

Namun jika masyarakat terus bergerak, organisasi semakin kuat, kader tumbuh, pengetahuan berkembang, dan kemampuan masyarakat meningkat, maka kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari proses sejarah.

Program adalah Kendaraan, Proses adalah Perjalanan

Mungkin di sinilah kita perlu membaca kembali posisi program dalam gerakan PPM.

Program bukan tujuan. Program adalah kendaraan.

Kendaraan diperlukan agar perjalanan dapat berlangsung.

Tetapi kendaraan bukanlah perjalanan itu sendiri.

Pelatihan adalah kendaraan.

Pendampingan adalah kendaraan.

Bantuan modal adalah kendaraan.

Pembangunan fasilitas adalah kendaraan.

Teknologi adalah kendaraan.

Semua itu penting.

Tetapi pertanyaan akhirnya tetap:

Ke mana masyarakat bergerak setelah semua kendaraan tersebut digunakan?

Jika menuju kemandirian, maka program telah menemukan maknanya.

Jika justru menghasilkan ketergantungan, maka metodologinya perlu ditinjau kembali.

Membaca Kembali Metodologi PPM

Membaca kembali metodologi PPM berarti mengingat kembali bahwa pemberdayaan masyarakat bukan pekerjaan untuk masyarakat, tetapi pekerjaan bersama masyarakat.

PPM tidak harus menjadi pihak yang paling banyak bekerja.

PPM justru harus mampu membuat masyarakat semakin mampu bekerja untuk dirinya sendiri.

Tidak harus menjadi pihak yang paling banyak memberikan.

PPM harus mampu membuat masyarakat semakin mampu menghasilkan.

Tidak harus menjadi pusat perhatian.

PPM harus mampu membuat masyarakat menemukan kekuatan dirinya.

Karena itu, ukuran keberhasilan PPM bukan:

“Berapa banyak yang telah kita lakukan?”

Tetapi:

“Berapa banyak kemampuan masyarakat yang telah tumbuh?”

Dan pertanyaan berikutnya:

“Apakah kemampuan itu akan tetap hidup setelah kita pergi?”

Jika jawabannya ya, maka program telah berubah menjadi proses.

Proses telah berubah menjadi pembelajaran.

Pembelajaran telah berubah menjadi kemampuan.

Kemampuan telah berubah menjadi kemandirian.

Dan kemandirian telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat.(ppmindonesia)

Example 120x600