Jakarta|PPMIndonesia.com– Empat puluh satu tahun lalu, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) lahir bukan sebagai organisasi biasa. Ia lahir dari kegelisahan sejarah, dari keberanian mahasiswa dan aktivis sosial yang menolak diam ketika ruang gerakan masyarakat dipersempit.
PPM dibangun bukan oleh kekuasaan, bukan oleh modal besar, tetapi oleh idealime, keberanian, dan pengabdian.
Hari ini pertanyaannya sederhana namun mendasar:
Apakah ruh itu masih hidup di dalam tubuh PPM?
Kita Melahirkan Banyak Tokoh — Tetapi Siapa Merawat Organisasi?
Sejarah mencatat, PPM telah melahirkan banyak kader terbaik bangsa.
Ada yang menjadi politisi nasional.
Ada yang duduk di elit partai besar.
Ada yang menjadi pengusaha sukses.
Ada yang memimpin koperasi, lembaga sosial, hingga jaringan UMKM di berbagai daerah.
Mereka tumbuh dari proses panjang di PPM—belajar hidup bersama rakyat, memahami pemberdayaan, dan menempa kepemimpinan sosial.
Namun kita harus berani berkata jujur:
ketika kader-kader itu berhasil, organisasi yang melahirkannya justru tertinggal.
PPM hari ini menghadapi kenyataan pahit:
- kaderisasi melemah,
- program pemberdayaan menurun,
- sumber pembiayaan terbatas,
- dan konsolidasi gerakan belum kuat.
Ironinya, bukan karena PPM tidak memiliki kader hebat, tetapi karena banyak kader hebat tidak lagi kembali ke PPM.
Ini Bukan Kritik — Ini Panggilan Moral
Organisasi besar bertahan karena kadernya memiliki ikatan moral.
Di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, kader yang sukses tetap kembali membesarkan organisasi. Mereka memahami satu hal:
keberhasilan pribadi adalah hutang sejarah kepada gerakan.
PPM membutuhkan kesadaran yang sama.
PPM bukan hanya tempat singgah masa muda.
PPM adalah rumah gerakan.
Dan rumah tidak akan hidup jika penghuninya hanya datang saat membutuhkan, lalu pergi ketika berhasil.
Krisis PPM Adalah Krisis Kepemilikan
Masalah terbesar PPM hari ini bukan struktur organisasi.
Bukan juga kekurangan gagasan.
Masalah terbesar kita adalah hilangnya rasa memiliki.
Tanpa rasa memiliki:
- kaderisasi berhenti,
- kepemimpinan melemah,
- organisasi kehilangan energi sosialnya.
PPM tidak kekurangan sejarah.
PPM tidak kekurangan tokoh.
Yang kita butuhkan adalah kader yang kembali mengambil tanggung jawab sejarahnya.
PENAS 2026: Titik Balik atau Titik Senyap?
Pertemuan Nasional (PENAS) 2026 bukan sekadar agenda memilih pemimpin baru.
Ini adalah momentum kebangkitan atau titik penurunan terakhir.
Jika PENAS hanya menjadi pergantian struktur tanpa perubahan gerakan, maka PPM akan semakin menjauh dari sejarah kelahirannya.
Tetapi jika PENAS menjadi ruang rekonsolidasi kader, maka PPM bisa memasuki era baru.
Karena sesungguhnya PPM tidak membutuhkan pemimpin yang hanya memimpin organisasi.
PPM membutuhkan pemimpin yang:
- menghidupkan kader,
- membangun sistem,
- menggerakkan ekonomi pemberdayaan,
- dan menyatukan kembali jejaring alumni gerakan.
Saatnya Generasi Baru Maju
Regenerasi bukan berarti mengganti yang lama.
Regenerasi berarti menyatukan pengalaman dan energi baru.
Generasi senior adalah penjaga nilai.
Generasi muda adalah penggerak masa depan.
Tanpa keduanya, PPM tidak akan bergerak.
Seorang tokoh pendiri PPM pernah mengingatkan:
“Gerakan mati bukan karena kekurangan ide, tetapi karena kader berhenti bergerak.”
Kalimat itu hari ini terasa semakin relevan.
Seruan untuk Seluruh Kader PPM
Tajuk ini bukan sekadar tulisan.
Ini adalah panggilan.
Kepada seluruh kader PPM di mana pun berada:
- yang kini menjadi pejabat,
- yang menjadi pengusaha,
- yang memimpin lembaga,
- yang dahulu ditempa oleh PPM.
PPM memanggil kalian kembali.
Bukan untuk nostalgia.
Tetapi untuk memastikan gerakan pemberdayaan masyarakat tetap hidup di tengah zaman yang semakin individualistik dan materialistik.
Jika bukan kita yang merawat PPM, siapa lagi?
Jika bukan sekarang, kapan lagi?
PPM Harus Bangkit
PPM pernah menjadi pelopor gerakan dakwah pembangunan.
PPM pernah hadir di desa, kampus, pesantren, dan komunitas rakyat.
Sejarah itu belum selesai.
PENAS 2026 harus menjadi awal kebangkitan baru:
- kebangkitan kaderisasi,
- kebangkitan ekonomi gerakan,
- kebangkitan solidaritas,
- dan kebangkitan peranserta masyarakat.
Karena PPM bukan sekadar organisasi.
PPM adalah amanat sejarah.
Dan amanat sejarah tidak boleh kita biarkan hilang.(emha)



























