Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apa yang Salah dengan Cara Kita Mewarisi Islam?

4
×

Apa yang Salah dengan Cara Kita Mewarisi Islam?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Islam: Warisan atau Kesadaran?

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Sebagian besar umat Islam lahir sebagai Muslim. Kita mewarisi syahadat, tata cara ibadah, tradisi keagamaan, bahkan cara memahami Al-Qur’an dari keluarga dan lingkungan. Pewarisan ini merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun Al-Qur’an mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: apakah iman cukup diwarisi, ataukah harus dipahami dan dipertanggungjawabkan secara sadar?

Dalam banyak ayat, Al-Qur’an mengajak manusia untuk tidak sekadar menerima apa yang diwariskan, melainkan menguji semuanya dengan wahyu yang diturunkan Allah. Inilah semangat Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an), yaitu membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri dan menjadi tolok ukur bagi seluruh pemahaman keagamaan.

Ketika Tradisi Menjadi Pengganti Wahyu

Salah satu kritik paling konsisten dalam Al-Qur’an adalah sikap manusia yang lebih mengutamakan tradisi daripada petunjuk Allah.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikutinya walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini tidak mengajarkan penolakan terhadap tradisi sebagai tradisi. Yang dikritik adalah ketika tradisi diterima tanpa diuji oleh wahyu.

Seruan yang Selalu Diulang: Ikutilah Wahyu

Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan perhatian umat kepada sumber utama petunjuk.

Allah berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pelindung-pelindung selain Dia. Sangat sedikit kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf [7]: 3)

Ayat ini menempatkan wahyu sebagai rujukan utama. Dalam perspektif Kajian Syahida, seluruh pemahaman keagamaan semestinya selalu diuji kembali kepada Al-Qur’an sebagai standar.

Mengapa Banyak Orang Tidak Bertanya?

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir, merenung, dan menggunakan akalnya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)

Demikian pula Allah berfirman:

أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Tidakkah mereka menggunakan akal?”

Ungkapan ini dan bentuk-bentuk serupa berulang dalam banyak ayat Al-Qur’an, menunjukkan bahwa penggunaan akal merupakan bagian dari tanggung jawab seorang mukmin.

Warisan keagamaan menjadi semakin kokoh apabila disertai proses tadabbur dan pencarian ilmu, bukan sekadar penerimaan pasif.

Setiap Orang Bertanggung Jawab Sendiri

Al-Qur’an tidak menggambarkan keselamatan sebagai sesuatu yang diwariskan secara otomatis.

Allah berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am [6]: 164)

Dan firman-Nya:

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Setiap orang akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat secara sendiri-sendiri.” (QS. Maryam [19]: 95)

Pada hari itu, tidak ada yang dapat berlindung di balik nama kelompok, organisasi, mazhab, atau tokoh yang diikuti. Yang dipertanggungjawabkan adalah pilihan dan amal setiap individu.

Al-Qur’an Mengajak, Bukan Memaksa

Keimanan menurut Al-Qur’an lahir dari kesadaran.

Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

Dan juga:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka siapa yang ingin, hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin, hendaklah ia ingkar.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 29)

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki keimanan yang lahir dari pilihan sadar, bukan sekadar identitas yang diwariskan.

Mewarisi Islam dengan Cara yang Hidup

Mewarisi Islam bukan berarti mengulang semua yang dilakukan generasi sebelumnya tanpa proses belajar. Sebaliknya, warisan terbaik adalah mewarisi semangat untuk terus kembali kepada wahyu, memperdalam pemahaman, dan mengoreksi diri ketika ditemukan kekeliruan.

Dalam kerangka Kajian Syahida, proses itu dilakukan dengan membandingkan ayat dengan ayat, sehingga Al-Qur’an menjadi saksi atas dirinya sendiri.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17)

Kemudahan yang dinyatakan Allah menjadi undangan agar setiap Muslim membangun hubungan yang lebih dekat dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya.

Refleksi Syahida

Warisan terbesar dalam Islam bukanlah sekadar kumpulan kebiasaan keagamaan, melainkan komitmen untuk terus mencari petunjuk Allah melalui wahyu-Nya. Tradisi, pendapat ulama, dan khazanah keilmuan merupakan kekayaan yang sangat berharga dalam sejarah Islam. Namun, dalam perspektif Kajian Syahida, seluruh ikhtiar itu senantiasa diarahkan agar semakin mendekatkan manusia kepada Al-Qur’an sebagai petunjuk utama.

Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah, “Apakah aku telah mewarisi Islam?” Melainkan, “Apakah cara aku mewarisi Islam membuatku semakin dekat kepada Al-Qur’an, atau justru membuatku berhenti untuk terus mentadabburinya?”

Sebab Allah telah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad [38]: 29)

Mungkin, di situlah letak warisan Islam yang paling hidup: bukan hanya mewarisi identitas, tetapi mewarisi semangat untuk terus belajar dari wahyu yang diturunkan Allah.(syahida)

Example 120x600