Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

PPM: Belajar dari Masyarakat PPM sebagai Universitas Kehidupan

3
×

PPM: Belajar dari Masyarakat PPM sebagai Universitas Kehidupan

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Di tengah kehidupan rakyat, pengetahuan tidak hanya diajarkan. Ia dialami, dikerjakan, diuji, dan diwariskan melalui pengalaman.

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada pengetahuan yang lahir dari buku.

Ada pengetahuan yang lahir dari ruang kelas.

Ada pula pengetahuan yang hanya dapat ditemukan ketika seseorang berjalan bersama masyarakat, mendengar keluhannya, menyaksikan perjuangannya, ikut bekerja, mengalami kegagalan, merasakan keberhasilan, dan kemudian bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Di sanalah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menempatkan salah satu akar penting metodologi gerakannya.

Bagi PPM, masyarakat bukan sekadar tempat untuk menjalankan program. Masyarakat adalah ruang belajar.

Kampung adalah ruang kelas.

Pasar adalah ruang belajar.

Sawah adalah ruang praktik.

Kelompok usaha adalah laboratorium.

Musyawarah adalah ruang akademik.

Konflik sosial adalah bahan kajian.

Kegagalan adalah guru.

Dan pengalaman masyarakat adalah pengetahuan yang tidak boleh diabaikan.

Karena itu, PPM pada hakikatnya bukan hanya organisasi yang bekerja untuk masyarakat, tetapi juga organisasi yang belajar dari masyarakat.

Inilah yang menjadikan PPM sebagai sebuah universitas kehidupan—university of life.

Belajar Bukan Hanya dari yang Berhasil

Dalam kehidupan masyarakat, proses belajar tidak selalu hadir dalam bentuk keberhasilan.

Kadang-kadang justru kegagalan memberikan pelajaran yang lebih jujur.

Sebuah kelompok usaha yang berhenti mungkin sedang menunjukkan bahwa model bisnisnya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sebuah koperasi yang tidak berkembang mungkin sedang memperlihatkan persoalan kepercayaan, tata kelola, akses pasar, atau kepemimpinan.

Sebuah kelompok tani yang tidak bertahan mungkin sedang memberi pelajaran tentang hubungan antara produksi, distribusi, harga, teknologi, dan struktur pasar.

Sebuah kampung yang kesulitan mengelola sampah mungkin sedang menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kurangnya tempat sampah, tetapi menyangkut perilaku, kelembagaan, ekonomi, dan kebiasaan sosial.

Masyarakat sebenarnya terus-menerus menghasilkan pengetahuan.

Persoalannya adalah: apakah kita mau mendengarkannya?

PPM berusaha menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses belajar.

Sebab bagi gerakan masyarakat, keberhasilan tidak cukup hanya dirayakan. Ia harus dipelajari.

Kegagalan juga tidak perlu disembunyikan. Ia harus dibaca.

Dari sanalah metodologi berkembang.

Masyarakat Bukan Laboratorium Eksperimen

Ada perbedaan penting antara belajar tentang masyarakat dan belajar bersama masyarakat.

Belajar tentang masyarakat sering menempatkan masyarakat sebagai objek penelitian.

Orang luar datang, mengamati, mencatat, mengambil data, menyusun laporan, lalu pergi.

Belajar bersama masyarakat berbeda.

Di dalamnya terdapat hubungan yang lebih dialogis.

Masyarakat membawa pengalaman.

Pendamping membawa pengetahuan dan metodologi.

Keduanya bertemu.

Keduanya berdialog.

Keduanya menguji gagasan melalui kenyataan.

Keduanya belajar.

Karena itu masyarakat tidak boleh diperlakukan sebagai laboratorium tempat sebuah teori diuji tanpa mempertimbangkan pengalaman dan martabat manusia yang hidup di dalamnya.

Masyarakat adalah mitra belajar.

PPM hadir bukan sebagai orang yang datang membawa kebenaran tunggal, tetapi sebagai bagian dari proses untuk menemukan kebenaran bersama melalui pengalaman kehidupan.

Di sinilah prinsip peranserta memperoleh maknanya.

Dari Mendengar kepada Memahami

Dalam gerakan pengembangan masyarakat, mendengar bukan pekerjaan sederhana.

Mendengar berarti bersedia menunda kesimpulan.

Ketika masyarakat mengatakan, “Kami tidak punya modal,” PPM tidak berhenti pada kalimat tersebut.

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa tidak punya modal?

Ketika masyarakat mengatakan, “Kami tidak punya pekerjaan,” pertanyaannya bukan sekadar bagaimana menyediakan pekerjaan, tetapi mengapa kesempatan kerja tidak tersedia?

Ketika masyarakat mengatakan, “Kami tidak punya air,” pertanyaannya bukan langsung teknologi apa yang harus diberikan, tetapi bagaimana sejarah persoalan air tersebut terbentuk?

Ketika petani mengatakan, “Hasil panen kami murah,” pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menentukan harga, bagaimana rantai distribusinya, dan di mana posisi petani dalam sistem tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membawa kita dari gejala menuju akar persoalan.

Dan proses itulah yang membuat masyarakat sekaligus menjadi guru.

Universitas yang Tidak Memiliki Gedung

Universitas kehidupan tidak memiliki gedung yang megah.

Ia tidak memiliki pagar.

Tidak ada ruang rektorat.

Tidak ada jadwal kuliah yang kaku.

Namun, setiap hari masyarakat menyelenggarakan “perkuliahan” melalui kehidupannya.

Pagi hari, seorang petani belajar membaca tanah, cuaca, benih, air, dan pasar.

Pedagang kecil belajar membaca kebutuhan konsumen, harga, persaingan, dan risiko.

Pengurus koperasi belajar tentang kepercayaan, organisasi, administrasi, dan tanggung jawab.

Ibu-ibu belajar mengelola ekonomi rumah tangga sekaligus membangun solidaritas sosial.

Pemuda belajar menggunakan teknologi digital untuk membuka ruang ekonomi dan kreativitas baru.

Tokoh masyarakat belajar bahwa keputusan bersama tidak selalu mudah, tetapi harus diperjuangkan melalui dialog.

Semua itu adalah pengetahuan.

Dan pengetahuan tersebut tidak selalu tertulis di buku.

Ia tersimpan dalam pengalaman hidup masyarakat.

Tugas PPM adalah membantu agar pengalaman itu tidak hilang begitu saja, tetapi diolah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari, direfleksikan, dan dikembangkan.

Belajar Melalui Perbuatan

Metodologi PPM menempatkan tindakan sebagai bagian penting dari proses belajar.

Masyarakat melakukan sesuatu.

Dari tindakan muncul pengalaman.

Pengalaman melahirkan refleksi.

Refleksi menghasilkan pengetahuan.

Pengetahuan kemudian digunakan untuk memperbaiki tindakan.

Demikian proses itu berulang.

Tindakan → pengalaman → refleksi → pengetahuan → tindakan baru.

Siklus tersebut membuat pemberdayaan bukan sekadar transfer pengetahuan dari orang yang dianggap pintar kepada orang yang dianggap tidak tahu.

Sebaliknya, pengetahuan dibangun melalui pertemuan antara pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Di sinilah learning community menjadi penting.

Komunitas tidak hanya menjadi tempat orang hidup bersama.

Komunitas menjadi tempat orang belajar bersama untuk memperbaiki kehidupannya.

PPM Juga Harus Mau Belajar

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembicaraan mengenai pemberdayaan.

Orang yang datang untuk memberdayakan masyarakat juga harus bersedia diberdayakan oleh pengalaman masyarakat.

Pendamping bukan manusia yang sudah selesai belajar.

Aktivis bukan manusia yang memiliki semua jawaban.

Organisasi bukan pemilik seluruh pengetahuan.

Justru ketika seseorang merasa sudah mengetahui semuanya, saat itulah proses belajar mulai berhenti.

PPM harus terus belajar.

Belajar dari petani.

Belajar dari pedagang kecil.

Belajar dari pekerja.

Belajar dari perempuan yang mengelola ekonomi keluarga.

Belajar dari pemuda.

Belajar dari kebudayaan lokal.

Belajar dari masyarakat yang pernah gagal.

Belajar dari komunitas yang berhasil bangkit.

Belajar dari perubahan teknologi.

Dan bahkan belajar dari kritik terhadap dirinya sendiri.

Sebab gerakan yang berhenti belajar akan kehilangan kemampuan membaca zaman.

Dari Pengetahuan Menjadi Kemandirian

Tujuan akhir dari universitas kehidupan bukan menghasilkan masyarakat yang pandai berbicara tentang pemberdayaan.

Tujuannya adalah melahirkan masyarakat yang mampu bertindak.

Pengetahuan harus menjadi kekuatan.

Kekuatan harus menjadi kemampuan.

Kemampuan harus menjadi kemandirian.

Karena itu, PPM tidak cukup hanya membuat masyarakat mengetahui apa masalah mereka.

Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengorganisasikan diri dan mengambil tindakan.

Di sinilah konsep peranserta menemukan makna yang sesungguhnya.

Peranserta bukan sekadar hadir dalam sebuah pertemuan.

Bukan sekadar mengisi daftar hadir.

Bukan sekadar ikut gotong royong ketika ada program.

Peranserta adalah kemampuan mengambil bagian dalam menentukan, menjalankan, dan mempertanggungjawabkan kehidupan bersama.

Dari Komunitas Menuju Qaryah Thayyibah

Universitas kehidupan pada akhirnya tidak hanya membentuk individu.

Ia membentuk komunitas.

Masyarakat yang terus belajar akan semakin mampu membaca dirinya sendiri.

Mereka mengetahui kekuatannya.

Mereka memahami kelemahannya.

Mereka mengenali potensi lingkungan.

Mereka memahami ancaman.

Mereka mampu membangun kerja sama.

Mereka belajar menyelesaikan konflik.

Mereka mengembangkan ekonomi.

Mereka menjaga lingkungan.

Mereka merawat kebudayaan.

Dan mereka membangun sistem kehidupan yang lebih baik.

Proses semacam inilah yang menjadi landasan bagi gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera dan Qaryah Thayyibah.

Masyarakat sejahtera bukan hanya masyarakat yang menerima banyak bantuan.

Masyarakat sejahtera adalah masyarakat yang memiliki kemampuan mengorganisasikan kehidupannya sendiri.

Di dalamnya terdapat berbagai dimensi: sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi tepat, lingkungan hidup, sosial budaya, kependudukan, dan emansipasi sosial.

Semua bidang tersebut menjadi ruang belajar.

Dan semua ruang belajar itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: manusia yang lebih berdaya dan masyarakat yang lebih berkeadaban.

Sejarah Adalah Ruang Ujian

Setiap gerakan pada akhirnya akan diuji oleh sejarah.

Bukan oleh slogan.

Bukan oleh banyaknya dokumen.

Bukan oleh banyaknya kegiatan.

Melainkan oleh perubahan nyata yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Apakah masyarakat semakin tergantung atau semakin mandiri?

Apakah mereka semakin pasif atau semakin berani mengambil keputusan?

Apakah mereka semakin menunggu bantuan atau semakin mampu mengorganisasikan sumber daya?

Apakah mereka hanya menjadi penerima program atau telah menjadi pelaku perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab oleh sejarah.

Karena itu, sejarah adalah ruang ujian bagi metodologi PPM.

Apa yang dipelajari PPM dari masyarakat hari ini akan menentukan bagaimana PPM bergerak esok hari.

Universitas Kehidupan Tidak Pernah Wisuda

Ada universitas yang memiliki wisuda.

Universitas kehidupan tidak.

Seseorang tidak pernah benar-benar selesai belajar dari kehidupan.

Demikian pula masyarakat.

Setiap perubahan menghadirkan persoalan baru.

Setiap keberhasilan menghadirkan tantangan baru.

Setiap teknologi menghadirkan peluang sekaligus risiko.

Setiap generasi membawa cara pandang baru.

Karena itu, gerakan PPM juga harus menjadi gerakan yang terus belajar.

Belajar bukan berarti kehilangan prinsip.

Sebaliknya, belajar adalah cara menjaga agar prinsip tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

  • PPM boleh berubah dalam cara.
  • PPM boleh memperbarui metode.
  • PPM boleh menggunakan teknologi baru.
  • PPM boleh memasuki ruang digital.
  • PPM boleh membangun jaringan baru.

Tetapi satu hal tidak boleh hilang: keberpihakan kepada peranserta dan kemandirian masyarakat.

Belajar Bersama untuk Membangun Peradaban

Pada akhirnya, PPM bukan hanya tentang bagaimana membantu masyarakat menyelesaikan persoalan hari ini.

PPM adalah tentang bagaimana masyarakat belajar menjadi lebih mampu menghadapi hari esok.

Karena itu, belajar dari masyarakat bukan sikap romantis terhadap rakyat.

Ia adalah sebuah metodologi gerakan.

Masyarakat adalah sumber pengalaman.

Pengalaman menjadi pengetahuan.

Pengetahuan menjadi kesadaran.

Kesadaran melahirkan tindakan.

Tindakan melahirkan perubahan.

Dan perubahan yang terus dipelajari akan menjadi kebudayaan.

Di situlah gerakan kebudayaan bekerja.

PPM tidak datang kepada masyarakat sebagai guru yang telah selesai belajar.

PPM datang untuk belajar bersama masyarakat.

Sebab boleh jadi, di antara ruang-ruang kelas formal yang kita bangun dengan megah, terdapat satu universitas yang paling tua dan paling jujur: kehidupan itu sendiri.

  • Di sanalah rakyat mengajarkan arti kerja keras.
  • Di sanalah gotong royong mengajarkan arti kebersamaan.
  • Di sanalah kegagalan mengajarkan kerendahan hati.
  • Di sanalah keberhasilan mengajarkan tanggung jawab.
  • Dan di sanalah manusia belajar mengenali dirinya sendiri.

PPM adalah bagian dari universitas itu.

Bukan untuk menggurui masyarakat.

Bukan untuk menggantikan masyarakat.

Tetapi untuk berjalan bersama, belajar bersama, berkarya bersama, dan membangun kesadaran bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku utama dalam perjalanan sejarahnya sendiri.

Dari masyarakat kita belajar.
Bersama masyarakat kita berkarya.
Dari pengalaman kita membangun pengetahuan.
Dan dengan peranserta masyarakat kita membangun peradaban. (ppmindonesia)

Example 120x600